Rohingya, keluarga yang tersingkirkan

Walau trending topic silih berganti setiap menitnya, Rohingya di sana tetap mengalami penderitaannya. Mereka tetap dibunuh, dimutilasi, dibakar, berlari dalam ketakutan, kegelapan dan kelaparan.
.
Sementara sebagian di dalam negeri kita sibuk meributkan aksi-aksi peduli Rohingya dan menganggap kurang bijak permintaan rakyat untuk bersikap tegas pada Myanmar.
Ya, selama korbannya adalah muslim, suara kita hanyalah angin lalu di tengah badai Katrina. Lihat saja bagaimana ramainya suara berbicara oleh suatu serangan bom di Paris, namun bungkam soal Rohingya. Lihat saja bagaimana tiba-tiba rakyat mendapat julukan sebagai tukang goreng dan tukang goyang karena menyuarakan #SaveRohingya, atau bagaimana Persib Bandung di denda 50jt karena koreo sederhana #SaveRohingya, namun berdoa untuk bom Paris malah menjadi seremoni –di lapangan sepak bola lain-
.
Rohingya, adalah keluarga kita, lebih dari itu mereka adalah bagian tubuh kita yang lainnya. “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]
.
Sudah jelas mengenai hadits ini, di sini tidak pernah disebutkan bahwa kalau itu masalah politik, kita para emak-emak tak bisa ikut bersuara. Memangnya siapa ulama Salafus Shaleh yang mengajarkan untuk memisahkan politik dari kehidupan kita? Ingatlah bahwa Nabi Muhammad SAW juga adalah pemimpin ummat. Bahkan garam yang sehari-hari ada di dapur kita adalah karena keputusan politik.
Perhatikanlah, jika bayi kita di rumah akan menangis jika bukan sang ibu yang dia lihat pertama kali ketika bangun tidur, betapa malangnya anak-anak Rohingya yang bahkan tak tahu dimana jasad orang tuanya?
.
Jika putra dan putri kita datang dengan ceria pada kita dan membicarakan betapa serunya hari-hari di sekolah mereka, betapa kasiahnnya anak-anak Rohingya yang bahkan tidak ingat kapan mereka memegang pensil sekedar untuk menulis sebuah huruf?
.
Bayangkan ketika kita memeluk pasangan kita karena kerinduan, bagaimana mereka, para ibu dan istri yang harus merelakan suaminya pergi menyabung nyawa tanpa ada jaminan bisa kembali! Mungkin beberapa para suami itu bahkan tidak tahu nama anak mereka yang lahir ketika mereka pergi meninggalkan istri dalam keadaan hamil.
.
Ketika kita dalam kehangatan dan kenyamanan sebuah keluarga, jangan lupakan saudara kita yang sedang kesakitan dan kepanasan. Karena saudara, juga adalah keluarga. Bukan karena bangsa, kita dijadikan saudara, tapi karena akidah yang sama. Bukan oleh darah, kita dijadikan keluarga, tapi oleh akidah yang sama.


Jika bukan karena akidah yang sama, maka cukuplah jadi manusia untuk peduli pada mereka. Jika pun sudah memiliki akidah yang sama namun tak terketuk hatinya, sungguh Allah akan mintai mereka dengan pertanggungjawaban yang pedih. Terlebih bila itu adalah seorang penguasa dan pemimpin.
.
Bersabarlah saudaraku di Rohingya,,
.
Jember, 21 September 17

YHH
.

2 comments:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)