Naga Ikut BPJS??


Naga memang mahluk mitologi, tapi kalo buah naga itu adalah buah yang tampak dan nyata adanya. Entah tahun berapa buah ini pernah booming sekali, padahal saat itu saya yakin tidak lagi diambil dari sudut kamera yang pas (Haha). Saya suka buahnya kala itu, terutama yang warna putih, tapi kalo sekarang sih biasa aja.



Di Jember ada beberapa kebun buah naga yang dijadikan sebagai taman Agrowisata. Salah satunya di Kebun Gading Asri yang letaknya di dalam perumahan Taman Gading Jember. Kemarin (15/01) saya ke sana bersama seorang teman sekaligus ‘mantan’ kakak kelas saya, Isti Kartikasari.

Taman seluas 2 hektar itu terlihat masih dalam proses pembangunan, banyak pak tukang bekerja di sana-sini. Belum ada pohon rindang yang menemani seperti di Alun-alun Banyuwangi, jadi udaranya terasa panas. Namun meskipun begitu, tempat ini termasuk indah menurut saya, ada gubuk-gubuk, villa, ruang meeting, taman bermain dll. Katanya juga akan dibangun kolam renang, kalo sudah jadi mungkin akan jadi tempat favorit buat anak-anak.

Lebih penting lagi, taman ini instagramable banget, spot fotonya banyaakk.. Hihi

Dan Alhamdulillah saat kami ke sana kemarin, tidak ada tiket masuk, bayar denda perkara pembakaran bendera Tauhid aja. Eh, bayar parkir sepeda motor maksudnya, 2ribu perak. Hehe


Yah, tentunya ke sana tidak hanya sekedar datang, kebetulan juga saya punya misi rahasia. Misi itu adalah melakukan LIVE INSTAGRAM. Wkwkwkwk
Katakanlah misi ini tidak penting, udah lama punya instagram, baru kali ini Live pemirsah.. (etapi, emang siapa saya pake penting yang mau live segala)

Eksperimen Live waktu itu dibantu mbak Isti, kami membicarakan tentang BPJS. Karena kami (saya dan mbak Isti) sama-sama merupakan mantan karyawan, kami tahu bahwa BPJS itu dibayarkan oleh perusahaan. Sekarang karena mbak Isti sudah resign, yang membayar jaminan tersebut adalah perusahaan tempat dimana suaminya bekerja.

“Mbak pernah dipake ga itu BPJS? Gimana pengalamannya??” Tanya saya.

“Dipake. Ya gratis, ga usah bayar kalo berobat, tapi kalo sakitnya yang ringan-ringan. Flu, batuk, pilek itu pake BPJS, tapi kalo sakitnya parah, ga berani pake BPJS.” Jawabnya.

Pipi saya langsung bersemu merah kaya habis digombalin oleh mas suami. Geli dengar jawabannya. Tapi ini memang gambaran umum kebanyakan orang sih, pelayanan kesehatan BPJS memang memiliki citra yang buruk, obat yang diberikan kelas receh, proses pelayanan pun rumit.

Bahkan tidak lama berlalu ini, pak dan bu dokter mendapat biaya parkir, eh jasa medis sebesar 2ribu perak per pasien. Bagi saya ini miris loh guys,, kita taulah ya, mau jadi dokter itu otak kudu encer, hafalan harus kuat kaya hafidz or hafidzoh, menempuh pendidikan rumit bin lama. Keluar-keluar cuma jadi tukang parkir, eh dokter yang dibayar setarif tukang parkir (nasional.kompas.com).

Dan.. masih banyak lagi berita terkait dengan BPJS yang bikin ‘tuing-tuing’ di kepala. BPJS Defisit, pemutusan kerjasama beberapa rumah sakit dengan BPJS, utang BPJS pada rumah sakit yang tak terbayar dsb.

Dalam suatu kesempatan pula, teman saya ini pernah mengunjungi salah satu rumah sakit di Jember guna mendapatkan pengobatan. Bertemulah dia dengan seorang bapak-bapak yang akan pulang karena tidak bisa mendapatkan perawatan dari dokter. Setelah diusut ternyata bapak itu adalah pasien BPJS, namun dokter hanya mau menerima 1 (satu) orang pasien per hari. Iyahh,, berasa ada dentingan gelas pecah ya makk..

Terus BPJS itu kan maksudnya jaminan kesehatan ya mak. Pemikiran saya yang sederhana ini sebenarnya beranggapan bahwa kalo sesuatu yang benama jaminan itu seharusnya tidak memberatkan orang yang dijamin.


Misalnya, saya menjamin uang kuliah adek saya, kira-kira saya bakal minta duit (premi) bulanan ga sama dia?? Ga mungkin dong ya, namanya juga saya menjamin dan adek saya dijamin oleh saya. Permasalahan yang membuat saya menjamin dia : biaya kuliah.

Mudah-mudahan ga bingung ya mak.. slow sambil ngeteh deh..

Tapi yang namanya asuransi, termasuk BPJS yang meskipun klaimnya adalah jaminan kesehatan, malah mewajibkan pembayaran premi bulanan. Ini sebenarnya niat ngasih jaminan ga sih?? Atau sebenarnya rakyat (nasabah) adalah sekedar target pasar untuk meraih pundi-pundi?? Ah, kapitalis..

Padahal seharusnya pelayanan kesehatan kalo di dalam Islam harus memiliki empat sifat. Pertama, tidak ada pengkelasan dan pembedaan dalam pemberian layanan kepada rakyat, bahasa kerennya universal.

Kedua, bebas biaya alias gratis. Jadi mak, jangan keder kalo ada yang bilang kita ngelunjak karena ga sanggup bayar premi BPJS yang katanya ga seberapa itu, karena emang kalo di dalam Sistem Islam itu harusnya gratis. Mungkin yang ngomong begitu belum pernah disembur naga api, eh makan buah naga. J

Ketiga, seluruh rakyat bisa mengasksesnya dengan mudah. Saya pernah diceritakan oleh seorang teman yang terpaksa opname tapi tidak mendapatkan kamar karena full. Kira-kira sampe 2 hari dia kesakitan di rumah karena menunggu kabar dari rumah sakit apakah kamarnya sudah tersedia tapi jawaban rumah sakit selalu sama. Akhirnya teman saya itu pun memutuskan untuk ‘upgrade’ kamar, barulah dia bisa opname. Intinya = ribet.

Keempat, pelayanan mengikuti kebutuhan medis bukan dibatasi oleh plafon.

Duh, kurang keren apa lagi sih kalo sistem Islam diterapkan??

NB. Live-nya sukses sih pas recording, tapi setelah diupload, suaranya tidak ada. hasil akhir = gagal. 


Kota Seribu Pesantren, 18 Jan 18
Helmiyatul Hidayati

#SosmedForDakwah
#BloggerIdeologis

Begitu Cepat Waktu Berlalu. Dimana Kita Sekarang??





10 tahun berlalu.. tak ada foto kala itu yang menemani, jadi biarlah kata yang bercerita.

Waktu itu mungkin saya masih karyawan kontrak. Dan mungkin 2009 adalah tahun dimana pertama kali saya mengenakan hijab. Tentu saja tidak seperti sekarang, model hijab yang dimasukkan ke dalam baju πŸ˜…

Gaji tidak besar, tapi karena berhasil ambil cicilan motor rasanya bangga 🀭. Padahal itu riba 😒
Tapi tetap yang namanya materi (uang) tidak pernah cukup. Kata pepatah besar pasak daripada tiang.

Saya pikir apakah saya yg boros?? Saya glamor?? Saya pikir dari dulu sampai sekarang saya bukan orang seperti itu. Sejak saat itu saya selalu mencatat pengeluaran saya setiap hari, kemudian saya ketik di Excell 😎. Eh tapi kalo sekarang pake aplikasi dong, pan kemajuan πŸ˜ƒ

Sekarang kalo dipikir-pikir kebanyakan orang ya begitu, bahkan ada yang hanya punya pasak tapi ga ada tiang, alias banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Menjadi janda zaman sekarang pun sulit. Anak hasil pernikahan menjadi tanggungan orang tua yang mengasuhnya, padahal kalo masih kecil akan ikut ibunya. Ayahnya?? Ya udah bebas kembali ke alam liar, tanpa memberi nafkah.

Tau kenapa?? Kadang bukan karena lupa atau tidak mampu, tapi karena tidak tahu bahwa kewajiban menafkahi anak tidak luntur hanya karena tidak lagi menikahi ibunya. Sementara ibunya kelimpungan setengah mati. Jangankan seorang singgle mom yang harus “fight” menghadapi dunia, terkadang yang lengkap keluarganya pun masih belum cukup penghasilan untuk sekeluarga.

Kebetulan kemarin ada kesempatan ketemu dengan seorang kenalan, pemilik usaha @donat_waloh yang enak pake banget. Pencipta resep dan penjualnya adalah couplepreneur mbak @sucianggraini dan suaminya. Eh mereka pengantin baru dan sekarang mbak Suci lagi hamil muda anak pertama. Semoga selalu sehat ya mbakk.. Kawan mesti cobain ini donat yahh..


Kalau boleh saya bilang, meskipun singkat dan santai, saya dan mbak Suci sempat bertukar pikiran, tentang kehidupan zaman sekarang, dimana setiap orang itu harus usaha pake mati-matian untuk menyambung hidup, kalo ga kerja ga ada duit, kalo ga ada duit ga bisa makan. Kalo lo ga makan lo bakal END. Serem?? Bangett.. Jadi berasa kalo hidup ini cuma kerja untuk makan gitu yaa..

Bahkan terkadang seorang istri bekerja bukan karena gaya hidup, tapi ya karena tuntutan hidup. Dituntut bayar listrik, bayar sekolah anak, bayar cicilan rumah, bayar biaya kesehatan yang selangit kalo sakit, kebutuhan pokok yang tak lagi murah, bahkan mungkin untuk pipis pun dituntut untuk bayar.

Eh iya sih ada yang bekerja demi gaya hidup, yang sebenarnya lebih mahal daripada kebutuhan pokok. Cek aja di lapak sebelah, gaji 80juta semalam, menjadi tidak berharga karena tak memiliki “nilai” (yang inih kapan2 aja bahasnya kalo mbak blogger yang sok rempong ini gak amnesia) Haha

Karena sulitnya belantara kehidupan ini pun, akhirnya banyak pula wanita yang tidak tega beban nafkah ada di pundak suami seutuhnya. Keluarlah mereka dari ranah domestik, bekerja pula demi sesuap nasi. Dan sebongkah berlian. Hehe

Setelah saya mengkaji Islam, saya tahu itu kurang keren. Bukan berarti istri tidak boleh bekerja yaa. Seorang wanita bebas berkarya asal tidak keluar dari syariat Islam dan tetap tahu skala awlawiyat-nya (skala prioritas). Maksudnya ini skala prioritas dalam beramal. Manusia tidak boleh menentukan prioritas beramal berlandaskan logika, fakta, manfaat-mudharat apalagi hawa nafsu.

Skala Awlawiyat maksudnya kurang lebih mendahulukan yang wajib daripada sunnah, mendahulukan yang sunnah daripada mubah. Haram harus mutlak ditinggalkan, makruh berusaha ditinggalkan.

Dalam hal ini, karena hukum asal seorang wanita adalah seorang ibu dan pengatur urusan rumah tangga bukan sebagai pencari nafkah. Maka jangan sampai karena hal yang mubah, kewajiban malah tergadai.

Di zaman sulit, hal ini tidak mudah, yang bekerja saja masih kelaparan, apalagi yang tidak bekerja. Udah jadi tulang-belulang kali yaa..

Tapi berbeda ketika sistem Islam diterapkan, meskipun seorang janda ia akan menjadi tanggungan walinya, bila ada ‘wali’ yang mangkir bisa menjadi sebuah kriminalitas yang akan diadili oleh hakim. Bila sama sekali tidak ada wali yang bisa menanggung, maka hak nafkah-nya ada pada negara. Dalam sebuah hadits menyebutkan, “Pemimpin adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR. Al-Bukhari).

Selain itu, di dalam sistem Islam, orang tua tidak perlu pusing dengan biaya pendidikan, kesehatan, transportasi, pekerjaan dll. Karena semuanya seharusnya merupakan hak rakyat dan gratis, minimal murah sekali.

Bayangkan bila kita hidup di sistem yang seperti itu. kita pasti bisa lebih fokus menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita, menjadi istri yang shalihah untuk suami kita, menjadi anak yang berbakti untuk orang tua kita, menjadi saudari yang shalihah, menjadi bagian ummat yang berjuang di jalan Allah. Wah bisa mengeruk pahala dari mana-mana, “chance” masuk surga pun lebih banyak. Aamiin..

Mungkinkah ini?? Sulit bagi kita, tapi tidak bagi Allah.. karena sudah ada janji-Nya di dalam QS. An-Nur : 55 yang artinya, Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

10 tahun sudah berlalu, sudahkah hidup kita nyaman sekarang? Sudahkah saudara-saudara kita yang ditindas itu merdeka? Sudahkan kita tak perlu memikirkan biaya hidup? Sudahkan kita tidak perlu mengkhawatirkan kejahatan-kejahatan yang mungkin saja bisa terjadi? Sudahkah kita yakin suami kita tidak akan direbut pelakor?? Sudah idealkah dunia saat ini untuk anak-anak kita?? Dll

Begitu cepat waktu berlalu.. Dimanakah kita sekarang??

Jember, 16 Jan 18
Helmiyatul Hidayati

#10yearsChallenge
#SosmedForDakwah

Belajar Decoupage di Pelatihan Pemberdayaan Bersama Alfamart


Zaman sekarang kayanya hampir tidak mungkin kalau ada yang tidak tahu dengan minimarket yaa.. di Indonesia sendiri keberadaan minimarket ini bejibun. Coba saja ukur jalan di dekat rumah kita, sedikit-sedikit pasti akan kita temui itu minimarket pada berbaris rapi kaya tentara lagi apel.

Keberadaan minimarket ini bagi banyak orang memiliki makna tertentu, ada yang merasa “happy” karena menjadi mudah dalam menemukan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Meskipun ada juga yang merasa bahwa keberadaan minimarket ini mematikan usaha lokal yang serupa misalnya toko kelontong, warung kopi dll.

Kebetulan beberapa hari yang lalu atau tepatnya tanggal 26 Desember 2018, saya memiliki kesempatan ikutan acara alias Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat Khusus Perempuan yang digagas oleh teman-teman dari Alfamart. Itu tuh salah satu minimarket terkenal di Indonesiah tercintah.


Namanya juga pelatihan, ada juga dong sesi prakteknya. Sesi yang digawangi oleh mbak Mira Christina ini unik loh, yakni mengubah sesuatu yang ‘zero’ menjadi ‘hero’. Maksudnya mengubah sampah menjadi sesuatu yang menghasilkan.

Iya sampah itu kan udah ga ada nilainya, doi adalah barang-barang tidak terpakai yang ga boleh ditumpuk, apalagi dikoleksi. Tapi oleh mbak Mira dari komunitas Bank Sampah ini ternyata sesuatu yang tidak berharga itu bisa berubah menjadi duit pemirsah.




Adalah Decoupage yang waktu itu menjadi “materi kuliah” kita. Itulah pertama kalinya saya tahu jenis kerajinan ini. Aslinya saya kurang terampil terhadap hal-hal yang ‘keperempuan’, masak aja ga bisa gitu ya. Di sini kadang saya merasa sedih.. (eh kok jadi curhat ya??)
Tapi untungnya waktu itu saya ditemani oleh cowok ganteng, dan dia dengan senang hati mengerjakan ‘tugas’ saya. Meskipun harus dengan bayaran di bawa maen ke Mall sebelah. Hehe

Decoupage sendiri adalah seni menghias dengan sebuah tissue. Ini juga pertama kalinya saya tahu ada tissue bergambar, bikin sayang kalo buat nampung ingus. #Eh
Kebetulan tissue bergambar ini kita tempel atau hias di atas sampah berupa kaset CD, yang nantinya CD ini nanti bisa digunakan sebagai hiasan dinding atau gantungan yang manis di rumah. Nah, kalo udah manis, maka diapun jadi memiliki harga jual, bukan lagi sampah. Asyik kan??

Sebenarnya kalo kita kreatif, teguh, ulet, rajin dan disiplin dari sampah pun kita bisa mencari sumber penghasilan. Ini memberi kita pelajaran bahwa sebenarnya tidak ada alasan untuk bermalas ria, apalagi buat cowok ya, dimana mencari nafkah untuk keluarga merupakan kewajiban.



Beranjak di sesi kedua, masih di Rollas Cafe pada waktu itu. Taufik Hidayanto dari Alfamart membagikan info mengenai manajemen ritel modern ke pasar kelontong. Pada sesi ini, beliau meluruskan bahwa persepsi masyarakat tentang ‘terbununhnya’ kios-kios kecil karena kehadiran mereka itu tidak benar.

Singkatnya Alfamart memiliki semacam program ‘bedah warung’atau yang disebut Store Sales Point yakni toko yang support kebutuhan barang melalui transaksi penjualan ke member dengan harga khusus serta pembinaan pedagang mikro, kecil dan menengah di sekitar toko Alfamart.

Jadi, bukan hanya stasiun televisi atau pemerintah yang punya program bedah rumah buat rakyat. Program bedah warung yang dilakukan oleh Alfamart ini bertujuan untuk membantu kios-kios kecil agar lebih berdaya dan mampu bersaing dengan usaha ritel lainnya.

Emang sih kalo dipikir-pikir terkadang kios-kios kecil itu menjadi ‘tenggelam’ karena beberapa hal. Misalnya karena pelayanannya kurang bagus baik dari segi keramahan dan keahlian pegawai toko juga masalah jam buka. Ada toko yang kadang buka, kadang juga tutup. Bahkan hingga tersedianya duit receh sebagai kembalian itu kadang bisa menjadi penilaian tersendiri bagi pelanggan.

Di sesi ketiga dan terkahir, bu Vina selaku Manager MD dari Alfamart menjelaskan bahwa produk-produk UMKM sebenarnya banyak memiliki peluang untuk masuk Alfamart. Alias kita diajak menjadi pemasok di Alfamart. Pas di sesi ini nih saya kepikiran banget buat masukin produk Bross Pita-nya @hijabmalika_ kayanya cucok. Huhu

Tapi ya tentu ga semua barang bisa kita masukin Alfamart ya, karena mereka punya syarat dan ketentuan yang berlaku, misalnya barang tersebut tidak boleh sama dengan yang sudah ada di Alfamart, juga barang itu harus memiliki ketersediaan stok yang aman dsb.


Akhirnya acara itu pun berlalu dan berakhir dengan makan siang. Nasi gorang di cafe ini enak loh, meskipun porsinya dikit sih, mungkin emang begitu kali ya kalo di cafe, beda ma warung. Hehe Untunglah saya lagi masa diet, jadi ga merasa kurang. #Halah

Btw, Alfamart ini sering loh mengadakan acara seperti ini, kalo aku sih berharapnya pelatihan kaya gini gak hanya khusus perempuan, boleh tuh buat cowok juga. Apalagi kalo belum memiliki pekerjaan, siapa tahu bisa menjadi jalan mencari nafkah.

Perempuan?? Boleh aja dong berkarya, tapi tetap ingat bahwa hukum asal perempuan adalah ummun wa rabbatul bait alias menjadi ibu sekaligus manajer keluarga.

Udah gitu aja. J

Jember, 03 Jan 18
Helmiyatul Hidayati



Antara Drama Mandarin ‘Eternal Love’ dan Islam di China




Drama Mandarin Eternal Love yang tayang pada awal 2017 termasuk salah satu drama yang banyak direkomendasikan oleh pecinta drama Asia. Perpaduan cerita yang menarik, aktor dan aktris yang tampan serta cantik, setting yang megah merupakan daya tarik yang menarik penikmatnya.


Drama ini bergenre drama romantis alias percintaan yang mengharu-biru. Seorang gadis bernama Qu Xiao Tan dari masa depan ‘nyasar’ ke zaman kuno dan berbagi tubuh dengan seorang tuan putri yang dijodohkan dengan seorang pangeran. Konflik selanjutnya pun mengalir, perebutan tahta, intrik di dalam istana, kecemburuan selir pada permaisuri, peperangan dsb.

Seorang ‘pintar’ memberikan seruling pengembara jiwa yang kemungkinan bisa membawa Qu Xiao Tan kembali ke dunia modern. Seruling itu diberikan bersama dengan partiturnya, dimana partitur ini berisi not musik. Uniknya, not musik dalam partitur itu tidak lain dan tidak bukan adalah deretan angka-angka dalam bahasa Arab (Eternal Love Episode 13).

Sekalipun cerita fiksi, tapi segala cerita pastilah memiliki inspirasi dari kisah nyata. Misalnya cerita Harry Potter karya JK. Rowling. Cerita mengenai kehidupan di dunia sihir tersebut adalah imajinasi sang penulis, tapi sihir itu sendiri adalah hal yang nyata ada. Kita bisa melihat kembali kisah nabi Musa, ketika ia berdakwah ke Raja Fir’aun, ia harus menghadapi para penyihir kerajaan yang mengubah sebatang tongkat menjadi ular. Bukti bahwa sihir itu memang ada.

Tentang partitur yang bertuliskan bahasa Arab, maka bahasa Arab ini tidak bisa dipisahkan dari Islam. Semua orang tahu Nabi umat Islam adalah orang Arab, Al-Qur’an yang merupakan kitab orang Islam berbahasa Arab. Bahkan dalam keyakinan umat Islam, bahasa yang digunakan di dalam Surga adalah bahasa Arab.

Melihat drama ini menggunakan ‘property’ berbahasa Arab kita bisa berpikir bahwa sebenarnya China, yang kita kenal sebagai negara komunis kini sebenarnya memiliki sejarah yang berhubungan dengan Islam di masa lampau.

Kubilai Khan. Sumber Foto : Wikipedia

Adalah Dinasti Yuan atau yang sering kita kenal dengan sebutan Dinasti Kubilai Khan menguasai Cina selama 90 tahun pada tahun 1279-1368 M. Pada masa ini Islam memiliki pengaruh yang kuat, dinasti yang berpusat di ibu kota Peking (atau Beijing) ini pernah mengangkat seorang muslim, Abdurrahman sebagai menteri keuangan dan urusan pajak (1244 M).

Pada tahun 1258 M, Umar Syamsudin diangkat sebagai gubernur Yunan. Selanjutnya dibawah Dinasti Yuan, Islam ditetapkan sebagai agama besar dan murni.

Meskipun Islam berkembang pesat pada masa itu, para da’i sipil dan militer tidak meninggalkan ajaran Kong Fu Tsu dan Lao Tse. Para da’i tidak menampilkan tata busana yang berbeda dengan warga Cina (Sumber : Api Sejarah 1 hal. 83).

Namun di masa kini, seakan tak pernah tersentuh Islam barang setitik, China melakukan persekusi massal pada 16 juta suku Uyghur di Provinsi Xinjiang, barat laut negeri tirai bambu tersebut.


Wilayah Xinjiang pernah merdeka sebagai negara Turkistan Timur pada tahun 1949. Namun itu tak berlangsung lama sebelum akhirnya di kuasai Republik Rakyat China yang berhaluan komunis. Bagi warga Uyghur, Islam adalah bagian penting dari kehidupan dan identitas mereka, dimana ini sangat bertentangan dengan konsep komunis yang tidak mengakui adanya agama. (republika.co.id).

Dihimpun dari berbagai sumber, paling tidak ada 9 (sembilan) persekusi massal yang dihadapi oleh muslim Uyghur. Pertama, dilarangnya pemberian nama bayi yang berbau Islami, seperti “Muhammad” atau “Fatimah”, bagi pemilik nama berbau Islami terancam tidak akan bisa memiliki pekerjaan atau bisa dituduh separatis atau teroris.

Kedua, melarang penggunaan semua simbol Islam, sehingga Al-Qur’an, sajadah dll disita oleh pemerintah. Ketiga, ada aturan pelarangan bagi generasi muda atau anak-anak untuk belajar agama. Bahkan guru yang mengajarkan agama akan ditangkap, baik mengajarkan di dunia nyata maupun lewat dunia maya (media sosial). Mungkin bila di Indonesia kurang lebih seperti UU ITE.

Keempat, muslimah kehilangan hak berpakaian syar’i. Jubah mereka dipotong serta dilarang menggunakan kerudung dan atau cadar. Kelima, selain kehilangan hak berpakaian, muslimah Uyghur juga kehilangan hak menentukan pernikahannya, mereka dipaksa menikah dengan lelaki kafir dari suku Han dengan alasan asimilasi budaya. Dengan kata lain, dipaksa menentang aturan Allah SWT dalam hal larangan pernikahan beda agama. Hal ini merupakan langkah penghapusan suku Uyghur sementara para lelaki Uyghur dipaksa masuk kamp konsentrasi dan tidak kembali.

Keenam, banyak laki-laki Uyghur dijebloskan secara paksa ke kamp re-edukasi (kamp konsentrasi) hanya karena masalah memiliki jenggot atau melakukan kegiatan keagamaan lain. Di sana mereka di doktrin dengan pemahaman komunisme China, dipaksa makan babi dan minum alkohol. Tidak sedikit dari yang meninggal di kamp tersebut akan dibakar untuk menghilangkan jejak.

Ketujuh, ada program “Become Family” yang mengharuskan keluarga Uyghur menerima tamu dari partai komunis yang datang ke rumah mereka. Sementara tujuan kedatangan mereka adalah mendoktrin dan mengawasi segala tindak keagamaan seperti ibadah sholat dan puasa di rumah.

Kedelapan, Masjid diwajibkan mengibarkan bendera China atau spanduk bertuliskan slogan komunisme China. Tidak ada tulisan kalimat Tauhid di dinding dan harus melakukan upacara bendera serta kuliah patrotisme sebelum sholat. Kesembilan, dipasang ribuan kamera pendeteksi wajah untuk mengawasi gerak-gerik rakyat.

Sumber Foto : The Independent

Untuk kesekian kalinya, pertunjukan intoleransi terjadi karena Islam menjadi minoritas di sebuah negeri. Patutnya China belajar dari Indonesia bagaimana memperlakukan minoritas. Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia sama sekali tidak melakukan pemusnahan massal kepada rakyat penganut agama minoritas seperti yang dilakukan pemerintah China pada muslim Uyghur.

Seringkali banyak negara, termasuk China berbicara mengenai kedamaian global di hadapan dunia, tapi sebenarnya tangan mereka sendiri berhamburan darah manusia-manusia tak bersalah. Mereka berharap kebangkitan namun kebangkitan yang mereka bangun tidak benar dan tepat karena dibangun dengan cara yang dzalim.

Islam menawarkan konsep kedamaian global melampaui semua wacana dari negara-negara manapun. Sejatinya seluruh muslim diikat oleh ikatan akidah, ukhuwah Islamiyah yang erat. Jauh melampaui sekat nasionalisme, dimana sekat inilah yang membuat penguasa-penguasa negeri muslim seperti Indonesia tidak berkutik ketika saudaranya di Uyghur menjerit dan sekarat. Jangankan membebaskan muslim Uyghur dari penjajahan yang mereka rasakan, sementara menekan dan mengusir dubes China dari negeri nusantara ini pun masih berbelit-belit.

Maka di sinilah pentingnya seorang Khalifah yang menerapkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai undang-undangnya. Persatuan umat Islam sangat ditunggu tidak hanya untuk membebaskan Uyghur, tapi untuk tegaknya Islam yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam. Allahu A’lam

Napak Tilas 212


// Napak Tilas 212 //

Tak dapat dielakkan, 212 kali ini memiliki banyak makna bagi siapa saja. Ada yang ketakutan hingga sembarang menuduhnya makar. Ada yang menganggapnya sebagai peluang bisnis, kesempatan mengenalkan produknya kepada ummat yang datang dari segala penjuru dunia.

Mungkin, ada pula yang merasa diuntungkan secara politik. Tapi yang jelas bagi saya, ini adalah moment Bela Kalimat Tauhid, Bela Islam, Bela Agama. 😍😘

Gegara 212 kali ini ada beberapa hal yang baru pertama kali saya lakukan. Yah, orang bilang memang akan selalu ada hal untuk pertama kalinya kan..

Pertama kalinya saya safar dengan waktu terlama. Meskipun tak selama menunggu datangnya cintamuu.. (Ooppss, tolong ini disensor, ditulis pas ngantuk2 gmn gituu 😁).

Perjalanan Jember-Jakarta memakan waktu lebih dari 20 jam cukup membuat jumpalitan bertingkah di dalam kereta. Untung ada yang menemani.. πŸ˜‹

Pertama kalinya juga, jalan kaki terjauh setelah jalan kaki terakhir kali ketika pelajaran olahraga zaman masih imut dulu.. πŸ˜‚

Jalan kaki dari stasiun pasar senen menuju Monas yang mengharu-biru. #Eyaaa
Berasa napak tilas sepanjang jalan kenangan. Ada banyak moment yang terekam, terutama moment ketika melirik babang-babang penjual makanan, diliat doang tapi gak dibeli. Hehe

Eh bukan ding, tapi bagaimana kami dan orang lain yang tidak pernah bertemu atau saling mengenal tiba2 berbaur menuju tujuan yang sama. Sebuah moment persatuan yang jarang sekali terjadi di dunia selain ibadah haji. Setuju kan gaess?? Haha

Yah meskipun sayang tidak bisa merangsek lebih dekat ke Monas karena memang kami datang kesiangan.

Sayang sekali selama aksi berlangsung internet tidak bisa digunakan. Alhasil, batal nyamperin temen-temen revowriter 😁😊. Tapi tak apalah, meskipun kita tak berjumpa, tapi hati kita terpaut ke Masjid, eh ke persatuan ummat 😊

Pertama kalinya juga saya naik commuter line. Kereta cepat satu ini udah berasa mirip ama yang ada di drama2 Korea sana, kecuali bagian harus "sumpel-sumpelan" nya. Sebenernya agak bikin risih karena laki-laki dan perempuan campur. Baru tahu kalo ada gerbong khusus wanita setelah masuk πŸ˜…, begini deh ya pentingnya berilmu sebelum beramal. Cieee.. 😊

Pada akhirnya 212 juga bermakna bagi dunia. Suatu pesan bagi dunia, bahwa Islam bisa bersatu tanpa memandang perbedaan harakah, organisasi, mazhab, kalangan, negara, suku dan bangsa. 8 juta orang bro!! Islam bersatu tak kan terkalahkan!! Semangat melanjutkan perjuangan hingga tegaknya hukum Allah!!

Nb. (1) Ketika acara telah selesai senang melihat banyak foto-foto tentang indahnya momen 212 ini, berseliweran di media sosial menutup media2 mainstream yang tetiba hilang sinyal.

02 Des 18
Ditulis di dalam kereta menuju Purwokerto.

Artikel ini bisa dibaca pula di https://www.helmiyatulhidayati.com/2018/12/napak-tilas-212.html?m=1

#ReuniAkbar212 #BelaTauhid212 #Spirit212

Ketidakadilan


#CintaNala
// Ketidakadilan //
Oleh. Helmiyatul Hidayati


Waktu begitu cepat berlalu, seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Nala dan Rani kini telah memasuki babak baru dalam hidupnya sebagai mahasiswi.

“Eh.. eh itu kan si Dani??” Rani menyikut lengan Nala saat mereka sedang asyik makan bakso di kantin.

Rani menoleh sebentar pada orang yang dimaksud, “Dani siapa??”

“Eh itu lohh.. Kejadian ulangan Fisika-nya Pak toto..”

=============

(Flashback)

Danu meremas kertas ulangannya dengan geram. Baru saja nilai sempurna di kertas itu telah batal demi hukum. Nilai sempurna ulangan Fisika yang sejatinya ingin ia tunjukkan pada ayahnya, agar ia mendapatkan hadiah berupa sepeda motor baru. Kini, sepeda motor baru hanya menjadi mimpi saja.

“Semua ini gara-gara Dani.” Begitu pikir Danu menyalahkan saudara kembarnya.

Beberapa jam lalu, Pak Toto melaksanakan ulangan dadakan. Sebenarnya tidak bisa juga dibilang dadakan, karena ia sudah pasti akan memberikan ulangan begitu materi dan tugas pertama telah selesai diberikan.

Danu terkenal sebagai anak pintar, soal Fisika mudah sekali baginya. Tapi Dani adalah kebalikannya, ia akan panik setiap kali ujian tiba, apalagi yang bersifat dadakan. Namun pada ulangan Fisika tadi ia berhasil membujuk Danu memberikan contekan. Nilainya yang sempurna malah membuat curiga pak Toto.

“Nilai Dani sama persis dengan Danu kali ini. Hebat.. mudah-mudahan bukan karena nyontek yaa??” kata Pak Toto.

Kelas tiba-tiba berdengung, anak-anak menggumamkan ketidakpercayaan terhadap hasil ulangan Dani dan langsung menuduh dia mencontek pada Danu. Itu membuat Danu salah tingkah.

“Selama tidak ada bukti bahwa Dani mencontek, ya nilai ini benar milik dia.” Kata Pak Toto lagi.

“Nala kan duduk di belakang mereka. Masa kamu ga liat mereka Nal??” Tanya Rani, gadis yang memiliki suara paling keras sekaligus ketua kelas, juga sahabat Nala. Mendapat pertanyaan itu Nala sedikit kaget, sementara Danu menelan ludah pahit.

“Hmm.. Sebenarnya saya melihat kalo Dani mencontek pada Danu pak.. Saya sudah peringatkan mereka tapi mereka tidak mendengar.” Kata Nala disambut gemuruh teman-teman sekelas.

Pak Toto menggeleng-gelengkan kepala, ia mendekati bangku Danu dan Dani untuk mengambil hasil ujian mereka. Biasanya pak Toto akan langsung memberi nilai nol pada anak-anak yang ketahuan mencontek, baik yang meminta atau memberi contekan.

Danu terbayang akan janji ayahnya, bahwa bila ia mendapat nilai sempurna pada setiap ulangan minggu itu, ia akan mendapatkan sepeda motor baru, sebagai ganti sepeda motor lamanya yang dirusak oleh Dani. Namun jika nilainya kali ini berubah menjadi nol maka itu akan kehilangan kesempatan itu. Tanpa sepeda rasanya ia tak bisa kemana-mana.

“Tunggu pak.. ini tidak adil bagi saya. Saya kan bisa mengerjakan semua soal, yang tidak bisa itu Dani, karena itu dia mencontek pekerjaan saya. Seharusnya dia saja yang nilainya jadi nol.” Danu membela diri.

“Tapi memberi contekan dan meminta contekan itu sama-sama perbuatan yang salah. Jadi, memang keduanya harus dihukum.” Kata Panji, si atlet sekolah.

“Benar, kamu pasti tahu kan kalo mencontek itu salah kan? Membiarkan saudaramu mencontek sama saja dengan membiarkan dia melakukan kejahatan. Kalian berdua sama-sama salah.” tambah Maya yang duduk di bangku samping mereka.

“Tolong menolong itu boleh. Tapi hanya dalam kebaikan, seperti dalam firman Allah QS. Al-Maidah ayat 2, Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya’.” Kata Nala kemudian menimpali, yang dijawab anggukan oleh banyak teman mereka.

“INI TIDAK ADIL PAK” seru Danu masih tidak terima.

Pak Toto melangkah perlahan menuju Danu dan memegang pundaknya, “Kamu tahu hukum apa yang tidak adil Danu??”

Pak Toto mengalihkan padangan kepada seluruh kelas, seakan-akan melemparkan pertanyaan itu kepada siapapun yang mau menjawabnya.

Nala kemudian berbicara, “Hukum buatan manusia pak, tidak sempurna seperti hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah. Sehingga banyak terjadi ketidakadilan selama manusia tidak berpegang pada hukum Allah.”

Pak Toto mengangguk dan sekali lagi mengedarkan pandangan pada anak didiknya yang lain.

“Misalnya guru honorer Baiq Nuril di Mataram yang merekam pembicaraan mesum atasannya dihukum 6 (enam) bulan penjara dan denda 500jt rupiah dan dianggap melanggar UU ITE. Padahal dia adalah korban pelecehan seksual.” Sahut Rani lagi.

“Dan hukuman untuk penista agama yang membakar bendera Tauhid hanya kurungan penjara 10 hari dan denda 2rb rupiah pak. Itu ga adil, hukuman kok setara bayar parkir. Hukuman seharusnya membuat jera dan menebus dosa.” Tambah Panji.

Pak Toto mengangguk-angguk, kemudian meraih kertas ulangan Danu dan Dani. Mencoret angka 100 yang tertera di atasnya kemudian menggantinya dengan nol.

“Oke, jam pelajaran sudah selesai, kalian silakan pulang.”

Bel berbunyi, suasana kelas pun hening dengan cepat. Semua anak kembali ke rumahnya masing-masing dengan cerita yang berbeda hari ini.

==========

(Back To)

“Udah inget sekarang neng?” Tanya Rani lagi.

Nala akan menjawab ketika tiba-tiba orang yang mereka maksud sudah duduk di depan mereka.

“Hai Dani..” sapa Rani.

“Aku kuliah di fakultas hukum..” kata Dani.

“Ga ada yang tanya..” sahut Rani.

“Aku cuma kasih tahu Nala..”

Rani dan Nala melongo. Sementara Dani dengan acuh beranjak dari situ, meninggalkan dua gadis itu dalam pikiran penuh teka-teki.

===============

(The End)

===============

#storychallenge
#story02
#proyekrevo8
#revowriter8
#gemesda
#gerakanmedsosuntukdakwah


Pendidikan Ideal : Memerdekakan atau Memenjarakan??



Sekolah adalah istilah yang tidak asing untuk manusia zaman now. Karena semua orang pasti sekolah, sekalipun tidak sampai lulus sempurna, atau paling tidak memiliki keinginan untuk sekolah. Bahkan banyak drama televisi yang mengambil setting masa-masa sekolah. (Nyambung ga sih??)
.

Tapi pernah terbayang ga sih, sekolah sebenarnya buat apa?? Di Indonesia normalnya orang sekolah selama 12 tahun. Dari SD sampai SMA. Selanjutnya terserah mau apa, kuliah, bekerja atau menikah. Salah satu atau ketiganya juga sah. Kamu yang mana nih??
.
Suatu sudut pandang baru tentang pendidikan saya dapatkan ketika mengikuti sebuah Talkshow yang diadakan oleh komunitas Masyarakat Tanpa Riba Jember kurang lebih tanggal 28 Agustus 2018 kemarin (lama amat baru ditulis yakk). Dimana pada waktu itu pembicaranya adalah Prof. Daniel M. Rosyid PhD, M. RINA.
.
Menurut pemaparan dosen ITS ini, pendidikan urusannya adalah membangun jiwa merdeka. Dimana hal ini bukan merupakan tujuan pendidikan sekuler zaman sekarang. Sampe sini ada yang baper ga sih??
.
Pendidikan zaman now memiliki visi dan misi kurang lebih menciptakan jiwa-jiwa yang memiliki daya saing, berjiwa mulia dengan iman dan takwa. Meskipun terdengar indah dan sejuk di hati, sebenarnya karakter-karakter ini hanya menyiapkan buruh atau pekerja yang bergaya hidup utang.
.
Pendidikan (zaman now) tak lebih seperti bisnis. Sun Tzu pernah berkata bahwa bisnis adalah perang. Sementara kita tahu perang adalah bisnis paling bagus. Coba saja kita lihat sejarah negara kita, Belanda awalnya datang untuk berbisnis rempah-rempah, sebelum akhirnya berubah untuk menjajah.
.
Penjajahan dan perang itu masih berlanjut hingga sekarang, meskipun tak lagi dengan senjata dan bukan Belanda atau Jepang yang menjajah. Perang ini bernama PROXY WAR yaitu suatu perang ketika lawan kekuatan menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti berkelahi satu sama lain secara langsung (wikipedia) alias penjajahan tidak secara terbuka.
.
Dan persekolahan merupakan instrumen proxy war yang paling berbahaya. Kurikulum sebagai alat pengendalinya. Akhirnya output persekolahan adalah masyarakat yang siap menjadi buruh terampil dan patuh. Bukan untuk mencerdaskan apalagi membebaskan.
.
Manusia yang terlalu lama bersekolah cenderung bergantung pada sekolah untuk belajar. Persekolahan akhirnya diam-diam mentransformasikan kebutuhan belajar masyarakat menjadi keinginan bersekolah. Di sinilah kita kemudian bisa menemui fenomena, sekolah untuk anak hanya merupakan kepanjangan ego orang tua, bahkan hingga menjadi status sosial. Sekolah favorit atau ‘bergengsi’ menjadi incaran para orang tua demi terjaganya harga diri.
.
Secara perlahan (oleh persekolahan), KEBUTUHAN (NEEDS) diubah menjadi KEINGINAN (WANTS) lalu menjadi PERMINTAAN (DEMANDS). Pada saat inilah, ketika keinginan tersistem, mendominasi kebutuhan, manusia dan atau pemerintah akan jatuh pada perangkap utang/riba.
.
Ketergantungan manusia pada sekolah akhirnya menjadi tidak ada bedanya dengan ketergantungan pada utang. Dan BANK adalah lembaga yang berbahaya karena hidup dari UTANG. Atau dengan kata lain kita bersekolah untuk menghidupi BANK.
.
Apakah ini bisa disebut jiwa merdeka?? TIDAK.
.
Nge-RIBA-nget kan??
.
Maka jangan heran, bila sering kali kita merancukan kompetensi dengan ijazah (tidak ada ijazah, tidak ada skill/kemampuan, tidak bisa bekerja dst); keamanan dengan pistol (memiliki pistol merasa bisa memiliki keamanan); kesehatan dengan rumah sakit (membeli kesehatan di rumah sakit) dsb.
.
Karakter yang jujur, amanah, peduli, cerdas tidak bisa tumbuh dalam jiwa yang terjajah. Padahal kemerdekaan adalah hak alamiah dari Allah SWT alias fitrah. Pendidikan sejatinya adalah untuk mengembalikan jiwa merdeka yang dirampas oleh lingkungan yang menjajah. Pembangunan seharusnya adalah perluasan kemerdekaan bukan pengurangan. Dan belajar adalah kegiatan untuk memupuk jiwa yang merdeka.
.
Jember, 03 Nov 2018
Helmiyatul Hidayati