Antara M dan R




Antara M dan R
.
.
Adik trainee (ceileh sebutan rada K-Pop yess, buat adik-adik kuliahan yang ikutan ngaji) bila ditanya seperti apa kriteria cowok yang diinginkan oleh mereka untuk menjadi suami, mereka akan menjawab 3 (tiga) hal : tampan, mapan dan sholih. Langsung aja saya nyeletuk, “Berharap Lee Min Ho jadi muslim yaa??” Hehe
.
Jawaban mereka adalah jawaban komplit spesial pake telor, bahkan kalo disuruh memberi penilaian, maka jawaban mereka mendapat skor 99 dari 100. Yah, di dunia ini tak ada yang sempurna bukan? Biarlah nilai 100 milik Sang Maha Sempurna saja.
.
Sebenarnya, kebanyakan wanita memiliki jawaban yang hampir sama, terutama di bagian mapan dan tampannya, sementara bagian sholih bisa saja berganti menjadi baik, perhatian, penyayang, penyabar dsb.
.
Tidak ada yang salah dengan harapan wanita yang seperti itu. Berharap seorang pria yang akan memiliki mereka adalah adalah yang bisa menopang hidupnya, menyenangkan hati dan pandangannya, juga menentramkan hidupnya. Sejatinya, ini adalah bagian dari ikhtiar mereka untuk mempertahankan hidup dan memperbaiki keturunan. Bahkan, terlepas dia itu seorang muslimah ataupun bukan.
.
Lalu, bagaimana nasib pria tidak tampan dan tidak kaya? Jawaban seperti ini memang terasa mengintimidasi pria, karena tidak semua rezeki manusia itu sama. Ada yang banyak, ada yang sedikit. Meskipun begitu tak lantas kita memberi cap materialistis pada wanita yang menginginkan pria mapan dan tampan sebagai pasangan hidupnya.
.
Seorang muslimah yang baik bila diminta hanya menyebutkan 2 (dua) kriteria saja yang boleh dipilih, maka mereka pasti akan membuang (tidak lagi memilih) antara mapan dan tampan. Bahkan jika harus memilih 1 (satu) saja, pasti kriteria pria ‘sholih’ akan menjadi yang terakhir bertahan.
Dalam sebuah hadits berbunyi, Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung. –Dan ini berlaku pula bagi wanita ketika memilih pria-
.
Dalam hadits yang lain disebutkan, “Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian
ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.”
(HR. Tirmidzi)
Jadi, hendaknya memang memilih pasangan yang diridhai agama dan akhlaknya, bukan harta dan atau tampangnya.
.
Sebenarnya pria pun berharap bisa memiliki wanita yang cantik dan seksi, ahli mengurus anak dan keluarga serta pintar mengurus rumah dan keuangan (kurang lebihnya seperti ini, tidak bisa menemukan kata yang lebih ringkas).
.
Keinginan laki-laki yang seperti itu tidak salah. namun, di dunia ini tak ada wanita yang benar-benar sempurna, karena itu Islam pun memberi pengaturan agar memilih wanita shalihah sebagai pendamping hidup. Allah berfirman, Sebab itu maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)…” [An-Nisaa : 34]
.
Jadi, tidak masalah bagaimana kriteria calon pria dan wanita yang ingin dijadikan pasangan hidup. Selama itu tidak melanggar perintah Allah maka itu sah-sah saja. Rumah tangga tidak bisa dibangun tanpa cinta, untuk itu perlu kecenderungan hati dari kedua belah pihak. Karena harapannya pernikahan adalah sekali untuk seumur hidup.
.
.
Jember, 15 Sept 2018
Helmiyatul Hidayati

Antara Orbit Planet dan Kalamullah



Setiap perbuatan selalu ada tujuannya. Manusia melakukan segala sesuatu untuk memenuhi kepentingan dan potensi kehidupannya. Potensi fisik dan nalurinya. Secara kasar, visi dan misi manusia di bumi ini adalah untuk bertahan hidup dari hari ke hari. Hingga tiba ajalnya nanti.
.
Namun orang beriman memiliki gaya bertahan hidup yang ‘tidak biasa’, karena ada pelibatan Sang Maha Kuasa dalam segala tindak tanduknya. Diawalilah segala perbuatan atau amal itu dengan niat mengingat bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban atas segalanya.
.
Selayaknya hidup manusia pun memiliki orbit dan hanya berjalan melalui orbit itu. Termasuk dalam urusan memenuhi teriakan perut, juga hasrat ini dan itu. Bila tidak, maka tak ubahnya seperti tata surya yang melenceng ke sana ke mari hingga akhirnya hancur tak punya bentuk diri. Kisah kehidupan pun hanya soal tentang kemenangan bagi yang terkuat. Kuat dan besar hartanya, kekuasaan hingga kelicikannya.


Maka, hancurlah segala teori romantika dunia yang berbunyi, “semua sah dalam hal perang maupun cinta”, nyatanya teori itu yang membuat dunia kacau balau. Ibarat tata surya bila tak punya orbit edar, maka semuanya akan berbenturan dan meledak tak tentu arah.
. .
Kita selalu berharap perubahan, juga berusaha melakukan perubahan. Tak lain dan tak bukan untuk hidup yang lebih baik –nyaman-. Namun terkadang banyak terlupa bahwa hidup tak sekedar tentang di sini atau bahkan tentang kita. Ada Sang Pencipta yang menanti di ujung hidup kita.
Dari zaman dahulu kala, manusia selalu ingin hijrah –pindah- dan memang selalu berpindah. Hari yang sibuk akan berakhir, kemudian berpindah ke hari sibuk di keesokan harinya. Masalah akan selesai, kemudian akan berpindah ke masalah lainnya. Di dalam semua itu ada ujian untuk meneguhkan, ada musibah untuk mengingatkan serta ada azab untuk membinasakan.
. . Sembilan planet di dunia ini, teratur di orbitnya bak tentara yang berbaris rapi dengan arahan dari sang panglima. Keteraturan pun tercipta, menunjukkan keagungan bagi orang-orang yang berpikir cemerlang. Mudah-mudahan itu adalah kamu dan aku. .
Pada dasarnya hidup ini adalah kisah tentang perjalanan kita dalam memenuhi potensi kehidupan kita sendiri. Tentang bagaimana menjaga agar kita bisa makan setiap hari, tentang bagaimana hasrat kita bisa terpenuhi dengan baik sekali, meskipun seringkali kita sering gigit jari. Karena itu Sang Pengatur Segala, sejatinya memberikan orbit bagi manusia, yaitu Kalamullah dan Sunnah. Hanya dengan tetap berjalan di orbit itu hidup manusia akan mengalami keteraturan. Terlebih, tidak merusak semesta yang membuat Sang Pemilik tak akan suka.
Satu dari sembilan planet itu, manusia berdesakan di bumi. Iya, termasuk aku, dirimu, dia dan mereka. Kita bertentangan tak tentu arah layaknya planet yang kehilangan orbitnya. Seakan-akan ada serangan dari negara Api. Menunggu ledakan atau peperangan terjadi. Ah, sungguh tak enak di hati!!
. . Maka, cacatlah jiwa manusia bila ia tak mau berjalan pada orbit yang telah ditentukan. Kesombongan menggelegak saja yang memenuhinya bila merasa mampu membuat orbit sendiri. Sementara keterbatasan melekat padanya, dan kebutuhan pada yang lain adalah kepastian. .
.
Lalu, bila planet tanpa orbit bisa hancur, maka manusia tanpa orbit akan hancur di hari pembalasan. Itulah hari dimana aku tak mengenalmu, kau pun tak mengenalku. Hubungan di Bumi serasa tak pernah ada sekalipun kita dekat bak jari-jari. . Ah saudari, mari kita kembali ke orbit kita saja.. . Jember, 10 Sept 18 Helmiyatul Hidayati
#GerakanMedsosUntukDakwah
#OPEy
#OnePostingEveryDay
#OPEyDay01
#Revowriter8
#Revowriter

Kisah Seruni dan Serina – Bag. 2 [ Uluran Tangan yang Mengubah Nasib ]



Kisah Seruni dan Serina – Bag. 2
[ Uluran Tangan yang Mengubah Nasib ]

Bila reinkarnasi itu ada, Runi akan beranggapan bahwa di kehidupan sebelumnya dia adalah ratu kerajaan yang kejam. Tersebab ia mengalami banyak sial sekarang. Rumah tangga dan pekerjaan mapannya ia lepas, kini ia tak ubahnya janda pengangguran yang tak bisa bergerak, bak penulis tanpa pena.

Sebuah gelengan kepala untungnya masih mampu mengembalikan akal sehatnya. Mencegah dari ketidakwarasan yang barusan akan menerjangnya. Bukan karena sial ia tak mendapat pekerjaan baru, tapi memang lapangan pekerjaan begitu sulit di dapat. Kuota pribumi makin rapat, sayangnya pekerja asing makin padat. Di negerinya, di mana kemaksiatan tak pernah senyap.

Hampir sebulan Runi mencari pekerjaan baru, sayang belum bertemu jodohnya. Rina menjadi tempat ia menopang hidup, bersama putra semata wayangnya, yang tak mengerti betapa kejamnya dunia.

Benarlah bila ada yang mengatakan bahwa sesuatu akan terasa lebih berharga ketika ia menghilang dari pandangan, meluncur dari genggaman. Runi menyadari betapa pekerjaannya berharga ketika ia menganggur atau betapa berarti keluarganya sekalipun ia menderita.

“Lalu apa kau menyesal?” Pertanyaan yang meluncur dari bibir Rina di suatu petang. Kala lelah membekap keduanya tanpa ampun. Yah, menghadapi dunia itu tak mudah Nyonya!

Runi menggelengkan kepalanya. Bukan karena ia senang, tapi bohong rasanya bila tak tersungkur di saat seperti ini. Diceraikan suami melalui telepon, kehilangan pekerjaan dan menanggung seorang anak sendirian. Bahkan menutup mata pun, belum sanggup menghentikan derasnya air mata.

“Aku. Tak akan kembali pada yang kutinggalkan.” Runi menjawab dengan harapan tekad. Agar membantu kakinya melangkah maju, membuat matanya menatap ke depan.

Menanti memang tak mudah, juga tak enak, ibarat makanan, ini seperti merasakan pedas level setan. Dan Runi tidak tahan makanan pedas, bisa bolak-balik berak di kamar mandi seharian. Semakin berlalunya waktu, uangnya pun semakin menipis, tergerus keharusan bertahan hidup. Dalam batin, Runi bertekad, ia tak akan menunggu apapun dan siapapun lagi di dalam hidupnya.

Runi berseloroh, ia akan menerima pekerjaan apapun yang datang padanya sekalipun menjadi pembantu rumah tangga. Ia hampir menyerah, 8 tahun lalu ijazah SMA-nya bisa menembus perusahaan multinasional, sekarang menjadi office girl di perkantoran saja rasanya tak laku. Ia tak menyangka selembar kertas yang menandakan seseorang telah sarjana kini menentukan apakah ia bisa mencari makan atau tidak. Terbit penyesalan Runi, kenapa ia dulu berhenti kuliah demi pria yang akhirnya mencampakkannya.

Meledak ledekan Rina di telinganya, Runi menjadi asisten rumah tangga seperti membaca ketikan pada kertas buram yang telah dicolek rinai hujan. Selama hidupnya ia hanya tahu tentang mengetik, bukan tentang rumah tangga.

“Karena itu, aku harus putar balik sangat jauh bukan?” Runi mendesah. Petang yang semakin dingin tak menyurutkan kakinya menuju balkon, mengintip keriuhan yang masih belum surut di bangunan seberang jalan.
“Mereka adalah orang yang paling suka ikut campur urusan orang lain dan selalu mengulurkan tangan kepada siapa saja.” Rina mengeluarkan suara seakan-akan tahu bahwa Runi ingin bertanya siapa dan sedang apa orang-orang di seberang. “Mereka menyebut itu dakwah.” Rina menyambung perkataannya dengan sinis.

“Jika kau tidak suka pada mereka, maka mereka pasti benar-benar baik.”

Rina berdecih dan melotot pada sahabatnya. Runi hanya tersenyum dan mendesah pelan.

“Ada sesuatu yang salah di dalam hidupku. Aku ingin tahu apa itu, agar bisa memperbaiki masa depan.” Kata Runi.

Agak lama hening, hingga akhirnya Runi pun berkata kembali, “Jika seseorang mengulurkan tangannya padamu, kau harus menerimanya, maka nasibmu akan berubah.” Rina memandang Runi tidak mengerti.

“Aku.. akan mengambil tangan mereka. Aku ingin tahu nasibku yang mana yang akan berubah. Aku akan menyeberang Rina..” Runi menatap ke seberang, seakan menandai bahwa esok ia akan berada di sana.
*
*
*
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d/13:11].



Antara Pujian Internasional dan Pujian Pemilik Semesta



Sebagai orang Jember, rasanya mustahil bila tak kenal JFC (Jember Fashion Carnival). Event tahunan yang selalu nongol di bulan Agustus ini sukses menyedot perhatian hingga ke tingkat Internasional.

.
Buat yang belum tahu apa itu JFC. Secara singkat acara ini adalah arak-arakan peragaan busana, yang bahasa Inggrisnya sering disebut Fashion Show. #Hehe
Bedanya JFC menggunakan jalanan 3,6 KM sebagai jalan kucingnya (catwalk). Dan busana yang diperagakan jelas bukan busana muslimah syar'i seperti kebanyakan. Di sana hanya akan diperagakan busana yang tidak bisa dipakai sehari-hari, bahkan harus mikir ribuan kali kalau mau dijadikan baju pengantin.
.
Di tahun 2018, acara ini dihelat tanggal 7-12 Agustus. Meskipun begitu, jauh sebelum hari pelaksanaannya, artikel terkait JFC ini sudah bisa ditemukan dengan mudah di lapak mbok Google.
.
JFC terkadang pun menjadi semakin heboh dengan bintang tamunya yang bikin takjub. Terkadang pak Presiden datang, artis kondang, sampe ratu kecantikan pun hadir. Rasanya mustahil bin mustahal kalo JFC ga kedatangan orang beken. Secara, ini event internasional begitu loohh..
.
Pertama kali mengenal JFC, ketika masih duduk di bangku SMA. Itu sekitar 10 tahun lalu. Ada seorang teman yang memang berprofesi sebagai model, dia semampai, kaya dan tentu saja cantik. JFC bagi dia, tentu tak ubahnya ajang biasa untuk diikuti.

Sumber Foto : Faiqotul Himmah

“Kamu bikin sendiri baju yang ga bisa dipake tiap hari itu? Habis berapa?” Pertanyaan tembakan dari saya padanya ketika dia menunjukkan foto “bakal” baju yang akan dia pakai untuk acara itu.
.
Tak dinyana dia pun menjawab dengan santai, “Iya, emang harus ngerancang sendiri. Belajar. Tapi ntar di koreksi ama Dynand Fariz-nya. Habis berapa ya ini? Sekian ratus ribu gituu..”.
.
Sengaja sekiannya saya sensor, selain lupa tepatnya berapa. Yang jelas angka itu melebihi jatah saya selama 1 bulan. Padahal jatah bulanan saya sudah termasuk uang kost, SPP, uang transport dan uang makan. Untuk anak SMA pada kala itu, uang segitu besar bagi saya. Dan saya yakin banyak orang pun (sampai detik ini) beranggapan begitu.
.
Carnival, di berbagai belahan dunia memang kerap kali dilaksanakan dalam rangka pesta perayaan. Di Indonesia umum sekali terjadi di bulan Agustus karena merupakan bulan kemerdekaan. Jangankan setingkat JFC, karnaval tingkat desa saja bertebaran di mana-mana.

Sumber Foto : Faiqotul Himmah

Menjadi peserta carnival itu menyenangkan. Setiap kali melewati jalanan, kita akan difoto-foto, orang-orang melambaikan tangan. Tak jarang ada orang minta selfie. Tergantung seberapa besar, heboh dan menarik kostum yang kita pakai. Semakin kostum itu heboh, semakin pula orang tertarik pada kita. Terlebih untuk event JFC, perhatian dan pujian internasional sangat membius sekali. Memang, salah satu fitrah dan naluri manusia adalah ingin menjadi pusat perhatian.
.
Tapi meskipun begitu, bila dipikir lebih jauh lagi, sebenarnya kegiatan ini merupakan kegiatan yang tidak ada gunanya. Tidak lebih seperti debu yang beterbangan. Apalagi kalo mengingat pelajaran Ihsanul Amal. Wah, apa pula hubungannya dengan ini? Sukanya kok bawa-bawa agama? #Eyaaaa
.
Setiap perbuatan/aktifitas/amalan seorang muslim mulai dari yang paling kecil hingga besar, mulai dari bangun tidur hingga dia tidur lagi, mulai dari bangun tidur hingga bangun negara. Tak kan luput satupun dicatat dan dinilai oleh Allah SWT. Suatu perbuatan dikatakan diterima oleh Allah bila memenuhi dua syarat : Pertama, Ikhlas karena Allah. Kedua, cara pelaksanaan sesuai dengan tuntunan Rasulullah.
Bila tidak memenuhi keduanya dan atau salah satunya, maka tak ubahnya perbuatan yang dilakukan itu akan menjadi debu yang beterbangan ketika di akhirat kelak alias ternyata kita melakukan hal yang sia-sia. Malah bisa jadi bertambah dosa.
.
Apa niat orang ikut carnival? Selain ingin membuat dirinya eksis. Dimana eksis ini diartikan untuk mendapatkan perhatian. Dipandang beken dan oke. Oleh siapa? Tak lain dan tak bukan oleh khalayak, targetnya khalayak sekala internasional pula. Adakah Allah dalam niatnya? Rasanya tidak mungkin. 
Belum lagi banyak kemaksiatan yang bisa saja terjadi dalam event-event seperti ini.


Peserta karnaval yang membludak dan kostum yang menghebohkan tentu membutuhkan riasan yang tak biasa. Riasan yang tidak akan selesai hanya dalam hitungan di bawah 10 menit. Tak jarang mereka sudah bersiap bahkan sebelum adzan Subuh berkumandang. Ketika telah masuk waktu sholat kebanyakan akan lupa melaksanakan kewajiban yang satu itu karena ‘eman’ dengan make up yang sudah menempel. Belum lagi adanya ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan bukan mahrom), potensi LGBT yang bermunculan. Naudzubillah..
.
Jangan sampai demi pujian internasional kita melalaikan diri dari kewajiban yang akan membuat hilang pujian pemilik semesta. Naudzubillah..
.
Peningkatan ekonomi dan pengembangan Pariwisata menjadi salah satu alasan diselenggarakannya carnaval level internasional ini. Ekonomi masyarakat bisa meningkat, karena dengan adanya event ini para penjual memiliki kesempatan memiliki omset yang lebih besar daripada hari-hari tanpa JFC. Seakan-akan lupa bahwa hari-hari tanpa JFC jauh dan jauh lebih banyak, dan mereka menjalani hari yang sama. Sama-sama mencari makan, sama-sama bekerja keras supaya anaknya bisa sekolah, sama-sama harus berobat jika sakit dll.
.
Bukan dengan JFC masalah utama rakyat bisa teratasi, bila memang ingin mengentaskan kesusahan rakyat, beri saja pengobatan gratis, pendidikan gratis, tempat tinggal gratis, memperluas lapangan kerja dsb.
.
Sangat tidak tepat pula bila menjadikan pariwisata sebagai sumber pemasukan daerah. Dan JFC dijadikan visual dalam memasarkan Jember ke kancah internasional. Pariwisata umumnya lekat dengan kemaksiatan yang tentu tidak dapat ditolerir. Industri wisata dalam masyarakat liberal kapitalistik tidak bisa dipisahkan dari bisnis miras, seksual dan hiburan. Padahal hakikatnya pariwisata di dalam Islam adalah untuk meningkatkan kesadaran akan Kemahabesaran Allah SWT.
.
.
Jember, 08 Agustus 2018
Helmiyatul Hidayati


===================================
#1000StatusPeduliJember
#StopLiberalisasiJember
#IslamSelamatkanJember

Perlukah Memiliki Sahabat Akrab??




Kuantitas pertemanan dalam dunia maya memiliki jumlah yang lebih tinggi daripada kuantitas pertemanan di dunia nyata. Coba saja tengok berapa jumlah akun media sosial kita dan berapa jumlah teman atau followers di tiap-tiap akun tersebut. Yang jelas, seluruh jari akan “kemeng” kalo disuruh menghitungnya.
.
Tapi, karena manusia zaman sekarang memang hidup di antara dua dunia, memiliki teman di kedua dunia tersebut memang mutlak adanya.
.
Namun, bila berbicara kualitas, rata-rata pertemanan di dunia nyata memiliki rating yang lebih tinggi daripada pertemanan di dunia maya. Hal itu karena ada satu kelebihan yang tidak ada pada pertemanan di dunia maya dan hanya dimiliki oleh pertemanan di dunia nyata, yaitu interaksi fisik dan pertemuan. Meskipun tidak jarang, siapa saja bisa menyeberang dari dunia maya menuju dunia nyata. Begitu pula sebaliknya.
.
Yang penting tidak melibatkan dunia gaib aja.. #Haha
.
Pertemanan ini merupakan salah satu proses dalam menjalani kehidupan. Suka tidak suka, mau tidak mau, interaksi kita akan menimbulkan pertemanan, meskipun ada yang ‘asli aja’ dan ada pula yang ‘asli tapi palsu’. #Eaaaa
.
Teman asli biasanya disebut sahabat akrab, teman aspal biasanya disebut ‘si penusuk dari belakang.’ Macam judul novel thriller saja yaa.. #Hihi

Ilustrasi. Sumber : Ar-Risalah

Definisi sahabat akrab pun ternyata tidak tunggal. Bisa berbeda antara persepsi satu orang dengan orang lainnya. Ada yang menganggap sahabat akrab adalah yang selalu bertemu setiap hari entah karena bekerja di kantor yang sama atau menuntut ilmu di institusi yang sama. Frekuensi interaksi yang tinggi memiliki potensi terciptanya saling membutuhkan yang lebih kental daripada dengan orang lain. Kemana-mana pun bareng, jogging bareng, nongkrong bareng, lunch bareng, shopping bareng meskipun bayar sendiri-sendiri.
.
Namun sahabat akrab macam begini adalah tipe rapuh yang bisa meluruh dengan mudah. Tak selamanya orang bisa jogging, nongkrong, lunch atau shopping bareng. Pemanfaatan hubungan hanya untuk kepentingan-kepentingan ini tidak lebih dari ikatan kemaslahatan yang akan memudar seiring berjalannya waktu.
.
Ada juga yang mengatakan sahabat akrab itu adalah yang menemani di saat suka dan duka. Ini tidak sepenuhnya salah. Namun, jika hanya menemani tanpa ada tujuan yang jelas, maka hubungan seperti ini mirip seperti hubungan balas budi, yang akan berakhir bila telah selesai urusannya.
.
Islam menawarkan konsep persahabatan yang dapat mengikat manusia dalam kehidupannya, bahkan mengajak bersama-sama menuju kebangkitan dan kemajuan. Persahabatan seperti ini memiliki ikatan akidah yang kuat.


Memaknai akidah, berarti memaknai hidup. Mengerti akidah (Islam) nya sendiri berarti mengerti tentang hakikat hidupnya, darimana – untuk apa – dan akan kemana diri kita dalam putaran kehidupan ini.
.
Sehingga sahabat akrab di dalam Islam tidak hanya sebatas kemasalahatan di dunia, atau menemani di saat suka dan duka. Lebih dari itu, sahabat akrab di dalam Islam adalah yang sama-sama mengerti hakikat hidup dan bersama-sama dalam perahu perjuangan menggapai Ridho Illahi.
.
Sahabat akrab di dalam Islam adalah yang mengingatkan di kala kita salah (melanggar perintah Allah) dan selalu mengajak kita kepada kebaikan-kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah.
.
“Teman-teman akrab pada hari itu (hari kiamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. (QS. AZ-Zukhruf : 67)
.
.
Jember, 04 Jul 2018
Helmiyatul Hidayati

Menyelamatkan Diri Sendiri


Ada yang bilang hijrah itu mudah, yang sulit adalah istiqomah. Seseorang bisa hijrah seperti menekan tombol baik dan buruk di dalam tubuh. Namun berusaha untuk tetap membuat tombol itu menyala (baik) –istiqomah- tidak semudah membalikkan telapak tangan.

.
Terkadang momen hijrah itu datang di saat manusia berada pada suatu titik (rendah) tertentu. Wajar sih, karena itu adalah salah satu cara Allah menyanyangi hamba-Nya, dengan memberi peringatan agar kembali ke tujuan penciptaan.
.
Setelah memutuskan hijrah, ternyata aral melintang datang menghadang. Tak jarang kita jumpai satu-persatu pun memutuskan kembali pulang, berbalik ke masa lalu yang kelam. Bisa jadi, salah satunya adalah orang-orang yang kita kenal. Tuh kan, istiqomah itu berat, makanya jangan hijrah sendirian! Kamu ga akan kuat! #Eaaa
.
Hijrah juga bukan hanya soal datang ke kajian sebulan sekali. Tiap hari mantengin YouTube dengarin ceramah ustad beken. Tampilan berubah jadi trendy Islami. Semua itu tidak salah, namun itu hanya sebagian kecil dari banyak hal yang seharusnya dilakukan oleh muslim sejati.


Seseorang menuntut ilmu agar ia mengetahui sesuatu. Setelah tahu maka tiba masanya untuk dipraktekkan, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk ditularkan kepada orang lain.
.
Tak lama setelah saya mengenal dunia dakwah ada baper dan patah hati baru yang dirasa. Terjerumus dalam hal baik tak berarti semua jalan menjadi mulus dan baik. Nyatanya banyak duri siap menancap di kaki, eh hati..
.
Excited dan keterkejutan menghampiri ketika menyadari bahwa selama ini ilmu agama yang saya miliki tidak ada seujung kuku jari. Tidak mengherankan orang yang baru hijrah, biasanya kurang ‘lihai’ bila ingin menyampaikan sebuah kebenaran yang baru dia tahu. Tidak punya strategi, hingga sampai ke hati tiap orang dengan rasa perih bertalu-talu.
.
Apa pasal? Dalam masyarakat kita ada banyak kesalahan-kesalahan yang sudah mendarah daging sehingga terlalu biasa untuk dipikirkan bahwa hal-hal tersebut ternyata tidak sesuai dengan hukum Allah. Di sinilah urgent-nya menuntut ilmu agama. Karena tanpa itu kita bagai orang buta di dalam ruangan gelap dan pekat.


Demi memahamkan bahwa menutup aurat itu wajib, saya terkadang korban khimar dan jilbab untuk dibagi-bagi. Tentulah yang masih layak pakai. Tapi karena prolog-nya langsung nendang bukan dengan mengubah pemikirannya dahulu, tak jarang apa yang saya beri dioper ke orang lain atau jilbabnya dipotong jadi 2 (dua), dibuat atasan dan bawahan. Hayo loh..
.
Gimana rasanya? Patah hati iya. Bonus baper pula. Padahal yang kita berikan atau sampaikan bukan hal yang salah. Salah strategi aja. Sayangnya pula, itu bukan kali terakhir terjadi. Meskipun lama-lama saya belajar bahwa sia-sia saya merasa seperti itu, karena Allah melihat proses, bukan hasil. Jadi sebenarnya tak ada yang sia-sia bila itu untuk dakwah.
.
Tidak jarang, dalam suatu waktu kita akan melihat teman mengaji kita satu per satu akan mengundurkan diri dari kancah persilatan. Alasannya bisa macem-macem; karena guru ngaji yang ga asyik; ngaji terlalu menyita waktu; sibuk bekerja; bahkan hingga hujan pun akan menjadi alasan. Padahal Ibnu Qayyim Al Jauziyah ra berkata, “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal baik, pasti akan disibukkan dalam hal bathil.”
.
Mengkaji ilmu Islam adalah gerbang untuk hijrah, tanpa melakukan itu mustahil untuk istiqomah. Bahkan sekalipun telah mengkaji tidak menutup kemungkinan akan menjadi keder ketika ‘disentil’ oleh Sang Maha Kuasa. Sentilan itu bisa jadi adalah komentar orang lain atau sohib nongkrong yang tidak ingin dilepas, hingga merasa tidak lagi memiliki waktu untuk datang ke majelis ilmu.
.
Sejatinya kita mengkaji Islam itu untuk menyelamatkan diri sendiri, berdakwah pun untuk menyelamatkan diri sendiri. Supaya Allah melihat proses kita, bagaimana kita berjuang untuk agama-Nya.
.
Right??
.
.
Jember, 28 Jul 18
Helmiyatul Hidayati

Kisah yang Dimulai 3 Tahun Lalu

Ada banyak cerita atau kisah yang kita percayai kenyataannya namun perasaan kita tidak turut terhanyut. Semata karena kita tidak mengalaminya. Misal, cerita tentang mafia. Yes, mafia itu ada, tapi karena tidak terlibat, mengenal dan tidak banyak pengetahuan tentang mafia, maka sikap kita akan biasa saja. Beda rasanya kalau tiba-tiba kita diberi tahu sebuah kenyataan tersembunyi, pasangan kita membongkar identitasnya yang ternyata seorang mafia. Waduhh.. Oke ini analogi saja, jangan dipikirkan apalagi dimasukin kantong. Bukan duit! #Eh

.
Di dalam hidup saya, poligami memiliki posisi yang sama dengan “mafia” di atas. Saya tahu poligami itu apa, dan siapa kerabat saya yang berpoligami, juga seburuk apa rumah tangga tersebut. Intinya, itu bukan rumah tangga yang akan saya pilih.
.
Suatu hari di siang yang cerah, sekitar 3 (tiga) tahun lalu. Entah bagaimana mulanya, saya terlibat sebuah pembicaraan serius dengan seorang rekan kerja. Tentang poligami. Saya ingat saat itu saya menceritakan sekilas tentang betapa buruknya rumah tangga poligami beberapa orang yang saya kenal.
.
Rekan saya memberikan jawaban yang tidak di sangka. Kebanyakan para wanita akan mencak-mencak ngomongin topik satu ini. Tapi dia tenang dan kalem. Hingga usil saya pun bertanya, “Mbak, kalo suaminya mau poligami emang dibolehin?”
.
She said YES buddy! Oh, untunglah saya termasuk pandai menyembunyikan ekspresi wajah meskipun rasanya mata ingin melotot mendengar jawabannya. Akhirnya saya sukses mengernyitkan sebelah alis saja.
.
“Kenapa?” tanya saya waktu itu. Dia menjawab dengan baik, karena suami bukanlah milik istri tapi milik Allah.
.
“Hmm.. Kayanya saya ga nyampe deh mikir ke situ.” Itu komentar akhir saya. Setelah itu kami tidak membicarakan tentang poligami lagi.
.
Tapi rupanya saya masih gemas dan tidak tahan. Akhirnya “mengadulah” saya pada seorang sahabat lain. Sebut saja namanya Belia, atau akrab disapa Lia. Saya ceritakan padanya, bahwa saya bertemu dengan istri yang mau dipoligami.
.
“Lah kamu kan sekarang temenannya sama yang kerudungnya lebar, kaya gitu kayanya wes biasa deh.” Begitu komentarnya.
“Makanya jangan lama-lama di situ, nanti ada suami orang naksir kamu.” Cerocosnya lagi.
.
“Eh, maksudnya kamu doain aku jadi istri kedua gitu?”
.
“Ya enggaklah! Bla bla bla..” komentar selanjutnya dari Lia ternyata tak semanis gula, apalagi semanis madu. Seperti kebanyakan wanita, dia adalah salah satu yang tidak mau dipoligami. Tapi membuat saya jadi ingin menggodanya.
.
“Etapi kalo istrinya baik dan ikhlas kaya temenku barusan, boleh aja kali ya jadi istri kedua.” Kataku sambil cekikikan yang dibalas dengan ceramah lebih panjang dari Lia. Akhirnya itupun menjadi pembicaraan terakhir kami tentang poligami.
.
Sekitar 3 (tiga) tahun pun berlalu, saya dan Lia menjalani hidup kami masing-masing. Alhamdulillah, saya bertemu dengan momen ‘hijrah’ lebih dulu. Kegagalan pernikahan pertama membuat saya benar-benar menikmati masa sendiri dengan baik. Rencana-rencana tersusun rapi : selama 4 (empat) tahun saya akan mengulang kuliah, sampai itu selesai saya tidak ingin memikirkan tentang rumah tangga baru; sampai anak saya selesai SD (Sekolah Dasar) paling tidak saya akan tetap di Jember, tapi bila dia telah masanya SMP, saya ingin dia ke boarding school di luar kota dan saya akan berusaha untuk mengikutinya.
.
Rencana yang terlihat sempurna bukan?
.
Rencana saya berubah karena sebelum lulus kuliah pun saya telah mengirimkan sebuah undangan pada Lia. Undangan pernikahan.
.
“Eh tunggu, undanganmu aneh deh! Kok ada nama cewek lain. Itu siapa?” tanya Lia waktu itu.
.
“Istri pertama calon suamiku.” Jawabku santai.
.
Kalau pada waktu itu kami bertatapan muka, mungkin matanya akan melotot, untung komunikasi kami hanya lewat chatting. Kami memang tinggal 1 (satu) kota, tapi dia nun jauh di pelosok sana, sehingga kami jarang bertemu lagi.
.
Percakapan kami tiga tahun lalu yang telah terlupakan tiba-tiba menyeruak kembali. Tapi kali ini tak ada komentar pedas lagi dari Lia. Dia bilang, saya telah berubah, jadi yang terjadi pastilah yang terbaik. (Aamiin)
.
 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(QS. Al Baqarah: 216).
.
.
Jember, 11 Juli 18

Helmiyatul Hidayati