Katanya Cinta, Tapi Kok Kamu Gitu Sih??


Normalnya, ibu pasti mencintai anaknya. Kalo ada yang tidak, fix ga usah dibahas.


Pernah ketemu kan ama temen, tetiba kalo cerita tentang anaknya ngalir gitu aja. "Anakku kemarin ujian, tapi dia ketiduran, jadi ga belajar. Alhamdulillah dia ga remidi." Bla bla bla.

Jangan salah, kadang saya pun begitu. Bangga terhadap anak saya. Meskipun "behind the scene" di rumah membuat saya sering mengerutkan dahi atau tetiba pengin ngelumpar jumroh 😁🤭

Yah namanya juga cinta, pasti yang baik2 yg kita ceritain. Kecuali ketika kita ingin mencari solusi. Misalnya, "Anakku rembes, gmn ya caranya biar dia ga rembes lg?" Nah, ini tanya ama temen, kali aja dia punya resep jitu tentang mengatasi 'pe-rembes-an' pada anak.

Masa iya ada ibu cinta anaknya terus bangga dia rembes? Jangan2 ntar begini, "Anak saya rembes. Kenapa ya? Apa jangan2 salah milih bapak?" Nah loh!!

Jangan-jangan malah si bapak yang marah2 sama istri karena ngebiarin anaknya rembes.

Cinta seorang ibu pastilah akan memberikan yang terbaik bagi sang buah hati. Termasuk penjagaan yang terbaik pula. Penjagaan terhadap kemanan, makanan, pendidikan, pakaian, badan dsb. Ye kan??


Normalnya (lagi), sebagai umat muslim, sejahil-jahilnya manusia terhadap agama. Seharusnya memiliki cinta pada Allah dan Rasull lebih dari cinta ibu kepada anaknya. Sekalipun sekedar lisan, tidak sampai ke hati atau setuju penerapan syariat Islam Kaffah. Minimal akan berhati-hati sekali lidahnya ketika bicara tentang Rasulullah.

Jadi, sekalipun seorang muslim tidak melaksanakan rukun Islam selain syahadat, harusnya dia ga pernah berpikiran untuk membanding-bandingkan bahkan mengolok2 bentuk fisik Rasulullah. Apalagi kalo ngomongnya pake ilmu kira-kira bukan ilmu muthawatir. Saya curiga, orang2 begitu terlalu lama hidup dalam tempurung kura-kura 😐

Makanya seorang muslim sekalipun tidak pernah bertemu dengan Rasulullah atau membaca hadits tentang segala keindahan pada diri Rasulullah normalnya tidak akan menganggap bahwa Rasulullah itu sama dengan kebanyakan manusia, apalagi dengan mengatakan Rasulullah masa kecilnya rembes. Seperti anak-anak zaman sekarang.

Bukankah Muhammad bin Abdullah lah pria yang ia sebut dalam syahadatnya?? Yang kemudian menjadikan ia sebagai muslim, predikat paling mulia sejagat raya. Terlepas setelah itu ia melaksanakan syariat yang dibawa oleh beliau atau tidak.

Tau lah ya maksud saya? Anak-anak zaman sekarang berada dalam perlindungan ibunya, yang bisa jadi ada keluputan dalam penjagaannya. Tapi Rasulullah memiliki penjagaan terbaik sepanjang masa : Allah SWT.

Udah deh mak.. ngaku aja pasti ketika ada orang mu(?)afiq yg mengolok2 Rasulullah yg mulia pada geleng2 kepala kan? Kok bisa ada manusia spesies begitu? Dilihat dari sudut pandang manapun bertentangan dengan teori bahwa cinta haruslah memberikan yang terbaik.

Katanya cinta, tapi kok kamu gitu sih??

Jember, 7 des 19

Nb. Sebagian dari kesempurnaan iman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah mengimani bahwa Allah ta'ala menjadikan penciptaan tubuhnya yang mulia dengan bentuk yang tak pernah dilihat sebelumnya atau sesudahnya pada penciptaan manusia.

Dalil lengkapnya bisa dibaca di Pak Muwafiq, Sampeyan Ngaji Nang Endi?

MONSTRUM : Ketika Penguasa Memburu Tahta Membabi Buta


Kali ini merambah ke layar lebar negeri Ginseng ya. Nemu nih film ga sengaja, biasa nongol gitu aja di beranda youtube. Ceilehh.. kayak jelangkung, datang tak diundang, pulang pun tak di antar.


Ini salah satu drama ngeri, karena bagi wanita lemah lelembut seperti saya, film ini sarat dengan adegan kekerasan dan pembantaian. Lebih dari sekedar penusukan juga, dan ga pake kunai. #Eh

Sebenarnya ceritanya sederhana, bahkan setelah menonton selama 20 menit, saya bisa menebak jalan cerita. Macam nonton drama di Indonesia. Hehehe..

No romance, paling banter sih ada adegan lirik-lirikan. Karena fokus dengan jalan cerita, saya tidak ingat sama sekali nama pemerannya. Jadi kemungkinan di sinopsis nanti, nama pemeran saya karang. Huhuhu..

Setting cerita adalah di era Joseon/Goryeo, entah yang mana, bisa jadi fiksi juga. Secara keseluruhan adalah bagaimana ‘gilanya’ seseorang kalo udah dibutakan tahta. Bahkan nyawa rakyat pun tak ada harganya. Mengingatkan saya pada sebuah negeri.. #Ops


SINOPSIS

Film ini diawali dengan pembantaian sekelompok rakyat yang ‘dianggap’ memiliki penyakit menular, atas titah kerajaan tentunya. Padahal sebenarnya tidak semua rakyat yang dibantai itu memiliki penyakit. Seorang jenderal pasukan merasa iba, dan menyelamatkan seorang anak perempuan dari pembantaian tersebut. Sejak saat itu sang Jenderal menghilang dari istana dan hiruk pikuk di dalamnya.

Ternyata sang Jenderal bersama seorang teman seperjuangannya membesarkan anak perempuan itu di tengah hutan sebagai anaknya. Hingga suatu ketika Sang Raja memanggil kembali sang Jenderal karena ia butuh bantuan untuk menumpas monster yang sering memakan rakyat.

Sang Jenderal memulai penyelidikan tentang monster yang mengancam kehidupan dan keamanan rakyat, hingga ia sampai pada kenyataan bahwa selama ini rakyat ‘dibantai’ bukan oleh monster tapi oleh pasukan khusus perdana menteri yang ingin merebut tahta sang raja alias melakukan kudeta. Ia menggunakan isu monster yang ia ciptakan untuk menjatuhkan pamor raja.

Namun, siapa sangka, di samping ’monster buatan’ sang perdana menteri, monster sungguhan berupa hewan jadi-jadian yang menjadikan manusia sebagai makanannya benar-benar nyata. Ia merupakan hewan “eksperimen” yang tercipta dari hobi raja terdahulu. Dan kandang hewan itu ternyata berada di bawah tanah istana.

Film ini berakhir happy ending, monster sungguhan menelan banyak korban termasuk perdana menteri dan pasukannya, juga menghancurkan istana yang merupakan simbol pemerintahan. Sementara monster itu meninggal di tangan sang Jenderal.

Sang Jenderal kembali menjadi pria biasa di gunung, sementara anak perempuannya menjadi ‘tenaga kesehatan’ di istana.

SISI LAIN

Adegan ngeri dalam cerita ini adalah tentu ketika terjadi pembantaian terhadap rakyat. Pertama, dengan dalih ‘membinasakan’ penyakit menular. Kedua, pembantaian sekelompok shaman (semacam peramal) hanya untuk pencitraan, menanam ketakutan pada masyarakat. Ketiga, pembantaian untuk menghilangkan bukti oleh oposisi dan semakin memberi citra buruk pada petahana.

Mungkin karena setting jaman dalam cerita itu adalah Joseon/Goryeo maka pembantaian terhadap rakyat adalah dengan jalan berdarah-darah, licik, licin dan beringas. Tapi jangan salah, zaman sekarang pun penguasa bisa melakukan pembantaian terhadap rakyatnya. Endingnya sama : penderitaan bagi rakyat. Penguasa menjadi monster bagi rakyatnya sendiri.

Hanya saja di jaman modern, penjajahan tak lagi berupa fisik namun berupa penjajahan pemikiran. Akibat segelintir manusia yang menyalahgunakan amanah kepemimpinannya. Keikhlasan yang seharusnya menjadi landasan seseorang dalam hidupnya telah jauh dari mereka. Benarlah bila Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, Sungguh, seandainya anak Adam memiliki satu lembah dari emas, niscaya ia sangat ingin mempunyai dua lembah (emas). Dan tidak akan ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah.’ Kemudian Allâh mengampuni orang yang bertaubat.

Perzinahan meraja-lela, pembunuhan jadi berita sehari-hari, disintegrasi bangsa menjadi ancaman negeri. Bencana alam silih berganti, penistaan agama meningkat, ketidakadilan semakin nampak di depan mata, kemiskinan yang menyakitkan, kesulitan hidup yang tak tertangani. Hilangnya ketakwaan, persekusi terhadap ulama dan ajaran Islam. Hingga rasanya sudah biasa sesuatu yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal. Belum lagi penjajahan dan genosida atas negeri-negeri muslim di belahan negara lain.. Oohh..

Dalam sistem kehidupan kapitalis-sekuler sekarang ini, memang berkembang subur penguasa-penguasa dholim yang tidak memenuhi hak rakyatnya. Juga hak Rabb-Nya agar pengaturan Bumi berdasarkan hukum-Nya. Sehingga dicabutlah segala keberkahan baik di langit maupun di bumi. Tak ayal penderitaan rakyat seakan tak ketemu ujungnya. Padahal di dalam Islam, seharusnya “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

Mudah-mudahan sistem yang menyuburkan penguasa-penguasa monster segera tumbang, digantikan sistem Islam yang telah terbukti secara dalil, akal dan empiris mampu menyejahterakan. Wallhu a’alam bisshowab.


Kisah Bumi, Bulan dan Bintang ll Ep. 6 – Menghindar


Bintang serasa menjadi tikus yang dikejar-kejar oleh kucing kelaparan. Bukan karena ia benar-benar dikejar, tapi karena begitu besarnya usaha yang dia lakukan untuk menghindari atasan yang sudah melamarnya menjadi istri kedua dan istrinya yang masih suka membuka komunikasi.


Ya, bayangkan saja bila kau adalah karyawati yang begitu bergantung dengan pekerjaanmu, sementara kau baru menolak lamaran dari pria yang setiap bulan memberi gaji.

“Mbak Aci.. kalo kutawarin mutasi kerja gimana?” Tanya Bintang pada salah seorang rekan kerjanya. “Mbak Aci kan lagi hamil tua tuh, sementara kerjaan mbak Aci jadi admin sales kan kadang harus ikut supervisor ke lapangan. Kalo akhir bulan lembur mulu demi kejar target. Kasian deh aku liatnya..”

“Ya maulah Bin kalo ada lowongan. Kenapa? Kamu tau ada posisi yang pas buat aku ga? Kan kamu sekertarisnya pak Bumi, gercep kalo informasi beginian.” Jawab Aci.

“Ada mbak. Gantiin aku yah.. mbak Aci jadi sekretaris pak Bumi, aku jadi admin sales.”

“Lah kenapa? Bukannya posisimu udah enak?”

Bintang menelan ludah, berharap alasannya ‘diterima’ oleh Aci. “Hmm.. Banyak sih mbak alasannya. Lagi di titik jenuh juga, kan biasa karyawan kaya kita mah. Ya kasian juga ama mbak Aci yang lagi hamil tua. Terus sebenarnya juga pengin dapet bonus sales gede, biar bisa buat beli sepeda motor. Kalo mbak Aci kan udah ada tuh, ada suamik pula. Hehe Gimana mbak Aci? Mau lah yaa..”

“Hmm.. aku sih mau aja Bin. Tapi pak Bumi-nya setuju apa gak?” Aci bertanya balik tanpa menaruh curiga.

“Gampang dah..”

Selesai perbincangan makan siang itu, dengan cepat Bintang menulis surat permohonan mutasi dengan diplomatis. Mengajukan Aci sebagai sekretaris dan mengajukan dirinya sendiri sebagai admin sales. Sengaja ia tambahi “alasan pribadi” dalam surat tersebut agar Bumi mengerti bahwa dirinya benar-benar tidak nyaman berhubungan langsung dengannya meskipun itu adalah hubungan pekerjaan. Tidak setelah penolakan yang sudah ia berikan.

Bumi jelas memahami surat permohonan mutasi itu dengan baik. Dan ia juga memahami betapa Bintang merasa tidak enak dalam kondisinya yang saat ini. Sehingga surat itu langsung disetujui pada sore yang sama. Dalam diam dan tanpa kata. 

“Eh, mutasi aktif mulai besok. Ya ampun kok bisa cepet banget ya? Bukannya kita baru ngobrol tadi siang ya? Aku malah ga siap Bin..” seru Aci tiba-tiba menyerbu ke ruangan Bintang.

“Ihh mbak Aci udah di ACC kok malah bilang ga siap? Gimana dong? Kali aja ini rezeki dedek bayi mbak. Kerjaan kita itu mirip kok, Cuma beda ‘lahan’ aja. Lagian jobdesk kita kan udah tersistem semua SOP-nya,  apalagi mbak Aci senior, main program kaya pegang gadget dah. Hihi” Kata Bintang berusaha menyemangati. Tentu saja, ia tidak ingin rencananya “menghindar” menjadi gagal.

**

“Yah, kok bukan Bintang yang di ruangan sebelah? Kata mbak Aci, dia mutasi ama Bintang ya?” Tanya Bulan ketika siang itu ia berkunjung seperti biasa ke kantor suaminya.

“Iya bu, Bintang sendiri yang mengajukan mutasi..” jawab Bumi.

Bulan meringis, ia mengerti posisi Bintang, pasti merasa tak nyaman. “Mungkin kita yang terburu-buru ke Bintangnya Yah.. Dia blm kepikiran untuk nikah, tapi udah ditawarin jadi istri kedua. Oleh bossnya lagi,”

“Ibu ga cemburu?”

“Cemburu lah.. Sampe rasanya pengin lempar sendok nih ke ayah..”

“Dosa loh bu ama suami gitu..”

“Iyaa.. “ Jawab Bulan sambil menampakkan muka cemberut, Bumi menowel pipi istrinya dengan lembut, mengajaknya bercanda agar tersenyum. 

“Yah, apa harus Bintang? Gimana kalo ayah cari kandidat lain, yang lebih siap. Anak pondokan ustaz Amir mungkin..” tanya Bulan lagi.

“Duh tunggu dulu deh bun, ayah baru patah hati nih habis ditolak, luka blm sembuh, masa sudah disuruh cari lagi..”

“Ayahhhh.. “ Bulan berusaha mencubit-cubit perut suaminya, mukanya merah karena cemburu dan kesal dengan candaan Bumi. Bulan baru berhenti ketika Bumi memeluknya, menyuruh Bulan diam dan hanya mendengar suara detak jantung mereka masing-masing. Sama-sama berdetak tak menentu.

**

Setelah mutasi pekerjaannya berhasil, Bintang sukses tidak berhubungan secara langsung dengan Bumi. Meskipun tubuhnya lelah, tapi hatinya sedikit merasa nyaman. Ia tidak perlu berdiri di depan sendiri ketika briefing pagi. Ia ada di belakang bersama admin sales lainnya dan mengobrol dengan berbisik-bisik seperti murid yang tidak memperhatikan pelajaran dari gurunya.

Nyatanya meski Bintang telah “berhasil” menghindari Bumi di kantor, ia masih “tertangkap” oleh Bulan di luar kantor. Seperti saat ini ketika ia ternyata telah makan siang bersama, mengisi jam istirahat di kantornya.

“Kamuu.. pasti merasa kaget dan ga nyaman ya? Setelah kami datang ke rumah kamu kemarin?” tanya Bulan. Bintang merasa heran kenapa hal itu harus ditanyakan karena sebenarnya itu sudah jelas. Namun Bintang tetap mengangguk dengan lemah untuk mengiyakan.

“Maafin kita yaa.. tapi sungguh kami ga main-main kok.. Mas Bumi ingin membangun sebuah keluarga poligami yang sesuai dengan Islam.....”

“Mbak Bulan apa ga cemburu?? Suami ingin menikah lagi?” Tanya Bintang memotong pembicaraan Bulan. Sementara yang ditanya sedikit terhenyak, adakah wanita yang tidak cemburu, bila suaminya menikah lagi? Tidak. Cemburu itu fitrah, maka Bulan pun mengakui betapa cemburunya dia. Membuat hati Bintang mencelos, karena merasa telah membuat Bulan sakit (cemburu).

“Menurut kamu Mas Bumi itu gmn? Mas Bumi bukan tipe kamu ya? Karena itu kamu menolak lamaran kami. Kamu ingin suami seperti apa?” pertanyaan Bulan seperti kereta api.

Bintang bingung dengan pertanyaan itu, selama ini ia tidak pernah menganggap Bumi lebih dari atasannya. “Pak Bumi atasan yang baik, semua karyawan bertahan separuh alasannya pasti karena memiliki atasan seperti pak Bumi. Tapi itu tidak ada hubungannya dengan suami seperti apa yang saya inginkan. Saya hanyaa....”

“Gimana kalo kamu, mbak jodohkan dengan sepupu mbak? insyaAllah dia adalah tipe suami idaman..” Bintang melongo mendengar pernyataan Bulan, apalagi dibarengi dengan ditunjukkan foto seorang lelaki kepadanya. Bintang yang tidak menduga, hanya bisa menggelengkan kepala sebagai ekspresi terbaik yang bisa ia lakukan di depan Bulan. 

“Sepupu mbak baik, tapi belum ‘teruji’ jadi suami dan ayah. Kalo mas Bumi itu seorang ayah yang penyayang. Meski sibuk, selalu berusaha berperan dalam urusan anak-anak kami. Beliau punya cita-cita memiliki banyak anak. Tapi saat ini Allah baru kasih kami dua. Alhamdulillah.. semoga ada rezeki dari istrinya yang lain untuk kami.. bla bla bla..” Bulan bercerita tentang suaminya tanpa Bintang bisa beranjak.

Semakin banyak Bintang mendengar, semakin terasa ada yang berbeda di hatinya. Hingga tanpa sadar ia ingin Bulan terus berbicara tentang Bumi. Dan itu membuat Bintang takut..

Bintang.. apakah mungkin berubah pikiran??

Bersambung..

Guillotines : Habis Manis Sepah Dibuang (oleh Negara)



Oke, bukan berarti saya sekarang pro-cina karena me-review film ini ya. Saya tetep gemes parah kalo ingat bagaimana Cina memperlakukan saudara-saudara Uyghur kita.


Guillotines ini film lawas, release tahun 2012. Tahun kelahiran anak saya. Hehe
Daripada ngendon di kepala mulu saya tuangin deh dalam tulisan. Sebenarnya kalo drama soal “habis manis sepah dibuang oleh negara” itu banyak yaa.. kisahnya seputar bagaimana abdi negara yang setia akhirnya ‘dibuang’ oleh negaranya, demi tujuan tertentu. Kalo drama korea ada tuh CITY HUNTER, tapi saya ga bakal review itu drama. Udah lupa :D

Eh iya film ini menurut saya horror alias banyak adegan sadisnya, pas nonton dulu di salah satu channel TV kabel sambil tutup mata karena ngeri. Jadi banyak sekali adegan pemenggalan kepala, perkelahian dan darah yang berceceran. Kalo ga kuat jangan nonton deh ya makk..


SINOPSIS


Guillotines adalah pasukan elit yang dibentuk oleh Kaisar Dinasti Qing, Kaisar Yongzheng. Tujuannya untuk melenyapkan siapapun musuh politik kaisar (rezim dzalim inih ya, kaya mirip2 dimana gitu). Guillotines dilatih untuk setia, jadi mereka tidak pernah bertanya alasan kenapa disuruh membunuh target mereka. Dengan kata lain sebenarnya Guillotines ini adalah sekelompok pasukan pembunuh bayaran.

Kaisar Yongzheng wafat digantikan oleh anaknya, Kaisar Qianlong, dengan menyisakan misi (terakhir) untuk Guillotines yaitu membunuh pemberontak Wolf. Wolf adalah orang Cina Han yang mengharapkan “keadilan”, oleh kaumnya (gembala Gang) ia dianggap nabi alias juru selamat (kalo lihat bagaimana penampilan Wolf pasti temen2 akan tahu ini mengarah ke agama apa ya. Hehe)

Sayangnya kaisar Qianlong berbeda dengan ayahnya. Ia sangat terbuka dengan teknologi barat terutama senjata-senjatanya, ia berusaha merevolusi militernya menjadi pasukan bersenjata api. Sehingga ia tidak membutuhkan guillotines lagi. Dari awalnya menjadi pasukan kesayangan, akhirnya guillotines pun diburu oleh pemerintah. Musen dan Leng, 2 (dua) orang anggota Guillotines “nyasar” ke kelompok Gembala Gang yang membuat mereka menemukan kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan selama ini salah dan merekapun jadi berbalik memihak Wolf.

Wolf mengorbankan nyawanya hanya agar Leng bisa berbicara dengan kaisar Qianlong agar ia memberikan kesetaraan antara Manchuria dan Han (di sini nih keliatan banget bagaimana paham komunis berusaha dimasukkan).


SISI LAIN


Zaman sekarang karena perang (kebanyakan) tak lagi dengan senjata, tapi dengan kata, tiap rezim biasanya punya Guillotinesnya sendiri, lebih akrab kita sebut buzzer. Lokasi perang pun terjadi di dunia maya, via media massa dan media sosial. Sama seperti Guillotines, saking setianya kadang meskipun jelas-jelas dzalim ya dibela aja. Padahal sebenarnya hanya dijadikan alat untuk dimanfaatkan saja.

Pada zaman dinasti Qing, suku Han Cina ini pernah menjadi kelompok strata bawah. Rezim Mancuria membuat mereka kehilangan banyak tanah, harta dan akhirnya rata-rata berakhir menjadi budak. Kalo zaman sekarang mereka menindas saudara-saudara Uyghur kita. Sedih akutu..

Adegan paling bagus dalam film ini adalah adegan terakhirnya, ketika Leng menyerahkan kepala Wolf pada Kaisar Qianlong. Kurang lebih Leng ngomong kaya gini, Yang Mulia, seperti apa Era Emas (kejayaan) itu? Selama orang-orang masih mempunyai makanan, perlindungan dan kedamaian. Mereka tidak peduli pada hal lain. Entah itu Wolf atau kelompok pemberontak lain, rakyat hanya memberontak saat mereka tidak punya tempat untuk mengadu. Jika mereka hidup di Era Kejayaan, menikmati kedamaian dan kemakmuran, mereka tidak akan pernah memberontak. Mereka memberontak melawan ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Saat semua orang setara seperti rakyat Qing. Tidak akan ada pendapat yang menantang anda. Saat itulah Era Emas dimulai.”

Jauuuhhh sebelum film ini direlease, namanya rezim jahiliyah ya ada dimana-mana. Bahkan di Arab sana, hingga kemudian datang Islam dengan seperangkat aturannya yang mengatur segala aspek kehidupan, terutama soal politik nih, karena itulah bisa sampai ada masa kejayaan Islam, yakni selama tegaknya Khilafah kurang lebih 1400 tahun.

Dialog serupa yang diucapkan Leng, juga pernah diucapkan oleh Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, ketika di suatu masa di pemerintahannya, Gubernur Khurasan meminta dikirimkan senjata dan lebih banyak tentara dengan alasan rakyat melakukan makar (pemberontakan). Apa jawab sang khalifah?? “Engkau dusta, rakyat akan tunduk dengan sendirinya jika kalian berlaku adil!”

Jadi, bila terjadi pemberontakan di suatu negeri, maka rezim harusnya muhasabah, sudahkah keadilan ditegakkan. Sudahkan aturan Allah ditegakkan? Jangan asal tuding kelompok sana-sini dengan tuduhan radikal, teroris, makar padahal sebenarnya akar masalahnya ada pada rezim yang tidak bisa memberikan kesejahteraan hakiki kepada rakyatnya. Gituu..



Kisah Bumi, Bulan dan Bintang ll Ep. 5 – Tidak Mau Tapi Tidak Tau



Review Ep. 4

“Saya ingin menikahi kamu. Saya ingin kamu menjadi istri kedua saya..”

Bintang shock, dijauhkan hape dari telinganya, memeriksa bahwa kontak yang menelponnya memang kontak Bumi sang atasan di tempatnya bekerja. Bintang segera berlari ke pintu untuk menguncinya, takut ada orang yang mendengar dan berpikir yang bukan-bukan. Tiba-tiba tangan yang memegang hapenya bergetar. 

Jawaban apa yang harus Bintang berikan??


**

Sekian lama Bintang berpikir, entah berapa menit berlalu, sementara telpon Bumi masih terhubung. Bintang terdiam seribu bahasa. Rasanya raganya entah lari kemana. Bukan, bukan karena Bintang bingung menentukan pilihan. Ia bingung bagaimana menyampaikan keputusan itu tanpa ada efek sampingnya.

Pikiran Bintang berkelana segera, nun jauh ke sana tapi entah dimana. Pada putri Roro Jonggrang yang menolak lamaran pangeran Bandung Bondowoso. Putri itu jelas tak mau menikah dengan pembunuh ayahnya dan penjajah negaranya. Tak mungkin cinta tumbuh di antara dendam. Namun ia juga tak berdaya, kala Kerajaan Baka bertekuk lutut di bawah kaki sang Pangeran yang gagah dan sakti itu.

Akhirnya dengan penuh harap, Putri Roro Jonggrang mengajukan syarat berat. Syarat yang sudah ia pikirkan matang-matang dan berpikir bahwa sang Pangeran tak akan mampu memenuhinya. Sayangnya satu hal yang belum dipikir oleh sang putri dan juga merupakan kesalahan terbesarnya adalah, bahwa dia tidak mengenal siapa sebenarnya sang pangeran.

“Kalo bapak serius, silakan langsung datang pada orang tua saya saja besok.” Bintang pikir ia telah menolak dengan baik. Ia bukan penduduk kota S, jadi Bumi tidak akan menemukan orang tua atau bahkan satupun kerabatnya di kota ini. Bintang berasal dari kota M yang sepi, masih harus melewati sebuah hutan untuk ke sana. Tapi seperti Roro Jonggrang, Bintang sebenarnya tidak mengenal siapa dan apa yang bisa dilakukan oleh Bumi.

Usia Bintang masih 19 tahun, tak ada rencana pernikahan di benaknya, bahkan jika yang datang melamar adalah seorang perjaka (singgle). Terlebih, tidak terbersit sedikitpun bila pria yang akan melamar adalah Bumi. Seorang pria yang ia hormati tidak lebih dari seorang atasan, dan kebaikan istrinya yang telah membuat ia terpesona, membuatnya tidak memiliki alasan untuk menerima. Pikirannya penuh dengan prasangka bahwa Bulan mungkin akan tersakiti. Bintang takut kehilangan pekerjaan bila menolak, tapi ia lebih takut menyakiti wanita baik-baik seperti Bulan.

“Oh, ayolah.. memangnya apa salahku sampai tak bisa tidur, bukankah pak Bumi yang memulai?” Malam harinya Bintang tak bisa tidur hingga menjelang pagi, yang membuatnya mau tak mau tidur kembali setelah subuh. Tak pelak ia harus pula merapel sarapan dan makan siang. Untung hari ini adalah hari libur kerja.

Hati Bintang berharap bahwa Bumi berbohong tentang lamaran itu, atau minimal tidak serius. Tapi Bumi tidaklah memiliki kepribadian itu. Akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan hal tersebut pada orang tuanya.

“Bapak sama ibu mau ke tetangga. Mau rewang. Itu loh anaknya Mbok Lasemi menikah. Kan temen SD-mu dulu.” Jawab ayah Bintang di seberang sana setelah Bintang mengucap salam dan menanyakan kabar.

“Barakallah. Alhamdulillah. Sampaikan salam saya ya pak buat Nining, semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah.”

“Iyaa.. nikahnya minggu depan, kalo bisa kamu pulang, supaya bisa hadir juga.”

“InsyaAllah Bintang usahakan pakk..”

“Ada apa nduk?” Tanya ayah Bintang sekali lagi.

“Gini loh pak,, kemarin itu.. bla bla bla..” Bintang berusaha menceritakan dengan sedetil mungkin, juga tentang ketakutan dan harapannya. “Bintang takut kalo Bintang nolak nanti dipecat, tapi Bintang ga siap untuk nikah, apalagi jadi istri kedua. Jadi kalo pak Bumi ke rumah, tolong bapak tolak yaa..”

“Oalahh.. iyowes gampang nduk.. kayanya bossmu itu bercanda. Lah ngapain nikah lagi kalo sudah punya istri. Ga usah direken –dipedulikan- mungkin itu becandanya orang kota.”

Bintang lega bahwa ayahnya mau bekerjasama, meskipun ia merasa sedikit resah dengan pendapat ayahnya. Ia tahu, Bumi bukan orang yang akan bercanda tentang hal ini.

**

Ayah Bintang masih santai ketika menceritakan perihal telpon Bintang pada istrinya. Namun keadaan itu berlangsung sejenak sebelum seorang tamu berdiri di depan pintu rumah mereka : Bumi Ahmad Maliki.

Orang tua Bintang merasa gugup, dengan kedatangan tiba-tiba dari atasan anaknya. Dimana pekerjaan Bintang selama setahun terakhir juga ikut menyokong kebutuhan mereka di desa. Dan Bumi kini berada di rumah mereka sebagai pria yang akan meminta putri mereka.

“Nama saya Bumi Ahmad Maliki. Saya memang atasan di tempat Bintang bekerja. Mungkin Bintang sudah menceritakan maksud kedatangan saya. Saya datang untuk melamar putri bapak menjadi istri kedua saya.” Kata Bumi setelah merasa cukup berbasa-basi.

“Maksud nak Bumi.. Poligami??” tanya ayah Bintang memastikan. Dan Bumi mengiyakan dengan mantap tanpa keraguan. Ia pun kemudian menjelaskan tentang keluarganya, termasuk istri dan anak-anaknya.

“Begini.. Bintang itu masih kecil.. masih belum bisa apa-apa, ga cocok kayanya jadi istri nak Bumi ini. Jauh sekali kalo dibandingkan dengan Nak Bulan. Usia kalian terpaut 21 tahun, duh dia masih sangat kekanak-kanakan.” Ayah Bintang berusaha menolak secara halus sesuai dengan permintaan putrinya.

“Saya tidak masalah dengan itu. Justru itulah tugas saya nanti sebagai suami, mendidik istrinya.” 

Lama mereka berbicara, tapi sepertinya tekad Bumi tak bisa dihancurkan. Orang tua Bintang mulai bingung dan akhirnya mengajukan permintaan yang diharapkan tidak akan sanggup dilakukan oleh Bumi.

“Kami sebagai orang tua hanya berharap yang terbaik buat anak kami. Poligami lebih kompleks dari rumah tangga biasa. Dalam poligami tidak hanya anak kami yang akan menjadi istri nak Bumi, tapi ada wanita lain juga. Kalo nak Bumi serius, saya ingin istri pertama nak Bumi yang melamar Bintang. Supaya kami yakin bahwa dia nanti akan baik-baik saja.”

Bumi diam sejenak sebelum akhirnya menjawab mantap, “Kami akan datang lagi minggu depan.”

**

Seminggu berlalu begitu lambat bagi Bintang. Ia berusaha mati-matian menghindar dari Bumi dan Bulan. Bahkan dengan sengaja ia bolos bekerja selama beberapa hari. Namun ketakutan Bintang benar-benar terjadi. Minggu itu ketika Bintang pulang untuk menghadiri pernikahan teman masa kecilnya. Bumi dan Bulan telah datang di rumahnya.

Sebenarnya, ketika ayahnya menceritakan perihal kedatangan Bumi pada waktu yang lalu, Bintang tau bahwa mereka akan memenuhi permintaan ayahnya. Sejujurnya Bintang sangat terharu ketika Bulan datang untuk melamarnya menjadi adik madunya. Sempat terbersit takut menolak dalam hatinya, mengingat sebuah hadits yang pernah ia baca, “Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi)

Tapi ketidaksiapan Bintang mengalahkan segalanya. Kemarin dia menolak dengan “halus” karena tak tahu caranya, sekarang Bintang tau bahwa cara terbaik menolak lamaran mereka adalah mengatakannya secara langsung.

“Saya menolak lamaran ini. Saya belum ingin menikah, apalagi menjadi istri kedua. Saya tidak akan sanggup menjalaninya. Maafkan saya.” Kata Bintang akhirnya dengan tegas.

Bumi dan Bulan akhirnya pulang bersama awan. Awan kelabu yang bergelayut karena penolakan. Bintang tak membuka sesi diskusi. Ia sudah kebingungan dan ketakutan setengah mati. 

Pada hari itu, meski Nining bahagia karena pernikahannya. Bumi, Bulan dan Bintang sama-sama kehilangan semangat ketika menatap hujan.

Bersambung..

Kisah Bumi, Bulan dan Bintang ll Ep. 4 – Telpon Kejutan


Rumah Langit. Begitulah kebanyakan orang menyebut kediaman Bumi dan Bulan. Mudah menemukan lokasinya karena strategis dan semua orang di kawasan itu mengenal keluarga Bumi dengan baik. Rumah yang terlihat ramah itu, siapa yang tahu pemiliknya sedang membicarakan sesuatu yang serius.


Bulan menghampiri suaminya yang sedang bersiap tidur.

“Ayah.. Ada apa dengan Bintang?” tanya Bulan tiba-tiba. Sontak membuat Bumi terbangun, memandang istrinya antara kaget dan takjub. “Kita udah menikah 13 tahun. Liat ayah sama kaya liat telapak tangan ibu.” Bulan menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.

Bumi dengan lembut mulai mengelus-elus rambut istri yang telah memberikannya 2 (dua) orang anak tersebut. “Gimana menurut ibu? Bisa ya?”

“Allah bilang boleh. Masa ibu bilang ga? Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” [An-Nisaa’/4: 3].

“Kita bersama udah 13 tahun lamanya. Ibu tahu bagaimana ayah. Ibu tahu kalo ayah mampu. Ibu percaya ayah bisa berpoligami dengan baik. Kalo ayah merasa ini saatnya, ibu akan mendukung ayah.”

“Terima kasih bu, karena sudah percaya dengan ayah. Kamu memang istri terbaik di dunia. Bidadari surga.” Bumi memeluk istrinya dengan haru.

“Hanya saja karena kami wanita. Mungkin ada kalanya kami lalai menjadi istri yang baik untuk ayah. Ibu harap, ayah perluas sabar dan ikhlas untuk menghadapi kami nanti. Bagaimanapun ibu juga wanita dengan segala kefitrohannya.” Kata Bulan sambil menahan mata yang mulai berkaca-kaca.

Bagi Bulan pembahasan poligami bukanlah hal yang aneh. Dia dan suaminya telah mengenal sejak masih muda melalui guru-guru mereka. Sebagai sesama anak pesantren, Islam telah dekat dengan mereka.

Sejak awal menikah pembahasan ini pun telah dibawa Bumi dalam rumah tangga mereka, dengan tetap memperhatikan bagaimana perasaan Bulan. Bulan bersyukur karena itu. Tanpa terasa 13 tahun sudah berlalu, mereka bersama mengarungi bahtera rumah tangga. Dan kini angin sedang berubah arah di atas Rumah Langit.

**

Setiap pagi di BJT ada briefing. Dipimpin oleh Bumi sendiri bila ia tidak sedang ada agenda ke luar kota. Briefing ini bertujuan untuk menampung “uneg-uneg” karyawan seputar pekerjaan dan motivasi agar kegiatan hari itu berjalan lancar.

“Sebelum kita awali briefing dan pekerjaan kita hari ini. Mari kita awali dengan doa agar Allah memberikan berkah dan ridho atas jerih payah kita dalam menafkahi keluarga. Dibuka dengan bacaan Al Fatihah.. (dst)” kata Bumi.

Bintang yang berdiri di bagian kiri bersama karyawati lainnya selalu siap dengan buku di tangan untuk mencatat hasil briefing setiap hari. Yang nantinya ia melaporkannya secara tertulis sebelum jam istirahat. Biasanya Bumi akan menulis “komentar” atas hasil briefing yang kemudian dikirimkan ke masing-masing kepala bagian.

“Besok saya akan keluar kota untuk beberapa hari. Segala koordinasi nanti akan dipegang oleh Pak Riski yaa..” kata Bumi mengakhiri briefing pagi itu. semua orang kemudian kembali ke posnya masing-masing.

Karena banyaknya pekerjaan, Bintang menyelesaikan laporannya lebih lama. Hampir mendekati jam makan siang ia baru masuk ke ruangan Bumi. Dan di sana telah ada Bulan yang menyuapi Bumi makan siang.

“Maaf pak Bumi dan mbak Bulan, saya kembali nanti setelah selesai jam istirahat saja.” Kata Bintang yang benar-benar merasa canggung. Namun di luar dugaan, Bulan malah menyuruhnya untuk duduk menunggu karena Bumi sudah hampir selesai.

“Kamu mau ngasih laporan briefing?” tanya Bulan. Bintang menjawab dengan lirih. “Tunggu bentar yah, nanti kita keluar bareng, sekalian aku pulang.”

Begitu adegan selesai, Bintang langsung keluar. Mukanya merah seperti kepiting rebus. Meskipun kebersamaan mereka bertebaran dimana-mana, tapi mimpi apa Bintang semalam sampai berada di ruangan bersama mereka. Bintang seketika merasa seperti ‘obat nyamuk’ saja.

Bumi tersenyum melihat salah tingkah Bintang. Tapi melihat senyum itu, hati Bulan seperti tertusuk belati dingin. Bumi yang melihat perubahan istrinya segera menyadari apa yang terjadi. Segera ia memeluk dang mengecup kening istrinya.

“Ibuu.. Ibu tau kan bahwa ayah cinta banget sama ibu?..” Bumi meredakan cemburu Bulan dengan lembut. Bulan bersyukur suaminya tidak menanggapinya dengan meledek dan meledak, karena sebenarnya ialah yang meminta Bintang menunggui mereka. Mungkin bila ia bukan Bumi, pasti akan menyalahkannya dan menyuruh menanggung ‘akibat’nya sendiri, tanpa bersusah payah menenangkan. Ya dengan kata lain ialah yang sengaja membuat Bintang salah tingkah untuk meledek suaminya. Ah, wanita memang rumit.

Dan pergaulilah istrimu dengan (akhlak yang) baik. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allâh menjadikan padanya kebaikan yang banyak [An-Nisâ’/4:19]

**

Lusa keesokan harinya, tidak ada Bumi di kantor, suasana pun menjadi santai. Memang alamiah hampir semua karyawan dimana saja akan lebih rileks bila tak ada atasan, namun di BJT bukan karena Bumi menakutkan, tapi karena rasa sungkan padanya.

Bintang saja sudah berkeliling ke banyak divisi hanya untuk menyapa pada teman-teman wanitanya atau sekedar untuk ‘mencicipi’ camilan yang dibawa oleh mereka. Ketika ia kembali ke ruangannya, ia tidak percaya bahwa Bumi telah menelponnya sebanyak 5x.

“Eh, baru kali ini pak Bumi telpon? Tumben.” Bintang tidak merasa itu adalah telpon penting, karena ia memang tidak pernah berkomunikasi dengan atasannya tersebut lewat HP. Jam pulang telah dekat, segera saja ia membersihkan meja dan berkemas-kemas. Saat itulah Hp-nya berdering kembali. Dari Bumi. Refleks Bintang pun mengangkatnya.

“Bintang.. Hmm.. Begini saya menelpon kamu kali ini karena saya ingin mengutarakan sesuatu. Alasan saya karena ini memang diperbolehkan dalam agama kita. Dan istri saya tidak keberatan pula. Saya rasa kita bisa bersama-sama membangun keluarga yang sakinah.. bla bla bla.”

Bintang merasa seperti mendengar suara alien berbicara dalam bahasa asing. Otaknya tiba-tiba tidak mampu menangkap maksud Bumi. Apakah Bumi sedang bicara pernikahan?? Siapa dengan siapa?

“Pak.. Bisa anda lebih simple mengatakannya? Dengan Bahasa Indonesia yang sederhana?” Bintang memotong “ceramah” Bumi seakan-akan ia lupa bahwa Bumi adalah atasannya.

“Saya ingin menikahi kamu. Saya ingin kamu menjadi istri kedua saya..”

Bintang shock, dijauhkan hape dari telinganya, memeriksa bahwa kontak yang menelponnya memang kontak Bumi sang atasan di tempatnya bekerja. Bintang segera berlari ke pintu untuk menguncinya, takut ada orang yang mendengar dan berpikir yang bukan-bukan. Tiba-tiba tangan yang memegang hapenya bergetar.

Jawaban apa yang harus Bintang berikan??

Bersambung..

Kunci Kebahagiaan




Kebahagiaan adalah sesuatu yang diinginkan oleh setiap orang. Namun tak banyak yang tau arti kebahagiaan itu sendiri. Kesalahan pemberian makna bisa jadi akan membuat manusia salah pula dalam mengambil langkah guna menggapai impian.


Kebahagiaan sejati hanya akan digapai bila setiap manusia mengenali dirinya sendiri sebagai hamba Allah. 

Karena itu bisa dikatakan bahwa dengan mengenal siapa sejatinya diri kita, maka kita akan mengenal siapa Pencipta kita. Inilah kunci kebahagiaan.


Allah mengeluarkan kita dari rahim ibu kita, dalam keadaan alpha akan ilmu. Belum mengenal apapun. Tapi kemudian Allah beri perangkat-perangkat untuk mengenal jati diri kita. Allah beri akal untuk berpikir. Allah beri penglihatan, pendengaran, hati agar kita bersyukur.

Hari ini tidak lepas dari Kisah Ibrahim AS. Keimanan dan ketakwaan beliau seharusnya mampu menjadi teladan agar kita menyadari jati diri kita, Abdullah.

Ditinggalkannya Hajar dan Ismail di padang nan gersang tanpa adanya tanda-tanda kehidupan. Tetap tak membuatnya memiliki alasan untuk melanggar perintah-Nya.

Bunda Hajar pun mengenal hakikat dirinya dan mengenal diri suaminya. Maka ketika Hajar bertanya, "Apakah ini perintah Allah?" Kemudian Nabi Ibrahim pun mengiyakan.

"Kalau ini perintah Allah, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami." kata Siti Hajar.

Di bukit Tsaniyah Ibrahim memanjatkan doa, "Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim: 38).

Ketika akhirnya Ibrahim kembali berkumpul dengan Ibunda Hajar dan Ismail. Allah memberi perintah untuk menyembelih putra kesayangannya tsb. Sedih tentu saja, tapi takwa di atas segalanya. Dan Allah selalu akan memberi pertolongan di waktu yang tepat.

Maka, kita mengenal ibadah kurban di hari raya Idul Adha.

Begitulah seharusnya. Ketika diberikan sebuah perintah atau larangan, maka langkah hamba hanya sami'na wa atho'na.