Kisah yang Dimulai 3 Tahun Lalu

Ada banyak cerita atau kisah yang kita percayai kenyataannya namun perasaan kita tidak turut terhanyut. Semata karena kita tidak mengalaminya. Misal, cerita tentang mafia. Yes, mafia itu ada, tapi karena tidak terlibat, mengenal dan tidak banyak pengetahuan tentang mafia, maka sikap kita akan biasa saja. Beda rasanya kalau tiba-tiba kita diberi tahu sebuah kenyataan tersembunyi, pasangan kita membongkar identitasnya yang ternyata seorang mafia. Waduhh.. Oke ini analogi saja, jangan dipikirkan apalagi dimasukin kantong. Bukan duit! #Eh

.
Di dalam hidup saya, poligami memiliki posisi yang sama dengan “mafia” di atas. Saya tahu poligami itu apa, dan siapa kerabat saya yang berpoligami, juga seburuk apa rumah tangga tersebut. Intinya, itu bukan rumah tangga yang akan saya pilih.
.
Suatu hari di siang yang cerah, sekitar 3 (tiga) tahun lalu. Entah bagaimana mulanya, saya terlibat sebuah pembicaraan serius dengan seorang rekan kerja. Tentang poligami. Saya ingat saat itu saya menceritakan sekilas tentang betapa buruknya rumah tangga poligami beberapa orang yang saya kenal.
.
Rekan saya memberikan jawaban yang tidak di sangka. Kebanyakan para wanita akan mencak-mencak ngomongin topik satu ini. Tapi dia tenang dan kalem. Hingga usil saya pun bertanya, “Mbak, kalo suaminya mau poligami emang dibolehin?”
.
She said YES buddy! Oh, untunglah saya termasuk pandai menyembunyikan ekspresi wajah meskipun rasanya mata ingin melotot mendengar jawabannya. Akhirnya saya sukses mengernyitkan sebelah alis saja.
.
“Kenapa?” tanya saya waktu itu. Dia menjawab dengan baik, karena suami bukanlah milik istri tapi milik Allah.
.
“Hmm.. Kayanya saya ga nyampe deh mikir ke situ.” Itu komentar akhir saya. Setelah itu kami tidak membicarakan tentang poligami lagi.
.
Tapi rupanya saya masih gemas dan tidak tahan. Akhirnya “mengadulah” saya pada seorang sahabat lain. Sebut saja namanya Belia, atau akrab disapa Lia. Saya ceritakan padanya, bahwa saya bertemu dengan istri yang mau dipoligami.
.
“Lah kamu kan sekarang temenannya sama yang kerudungnya lebar, kaya gitu kayanya wes biasa deh.” Begitu komentarnya.
“Makanya jangan lama-lama di situ, nanti ada suami orang naksir kamu.” Cerocosnya lagi.
.
“Eh, maksudnya kamu doain aku jadi istri kedua gitu?”
.
“Ya enggaklah! Bla bla bla..” komentar selanjutnya dari Lia ternyata tak semanis gula, apalagi semanis madu. Seperti kebanyakan wanita, dia adalah salah satu yang tidak mau dipoligami. Tapi membuat saya jadi ingin menggodanya.
.
“Etapi kalo istrinya baik dan ikhlas kaya temenku barusan, boleh aja kali ya jadi istri kedua.” Kataku sambil cekikikan yang dibalas dengan ceramah lebih panjang dari Lia. Akhirnya itupun menjadi pembicaraan terakhir kami tentang poligami.
.
Sekitar 3 (tiga) tahun pun berlalu, saya dan Lia menjalani hidup kami masing-masing. Alhamdulillah, saya bertemu dengan momen ‘hijrah’ lebih dulu. Kegagalan pernikahan pertama membuat saya benar-benar menikmati masa sendiri dengan baik. Rencana-rencana tersusun rapi : selama 4 (empat) tahun saya akan mengulang kuliah, sampai itu selesai saya tidak ingin memikirkan tentang rumah tangga baru; sampai anak saya selesai SD (Sekolah Dasar) paling tidak saya akan tetap di Jember, tapi bila dia telah masanya SMP, saya ingin dia ke boarding school di luar kota dan saya akan berusaha untuk mengikutinya.
.
Rencana yang terlihat sempurna bukan?
.
Rencana saya berubah karena sebelum lulus kuliah pun saya telah mengirimkan sebuah undangan pada Lia. Undangan pernikahan.
.
“Eh tunggu, undanganmu aneh deh! Kok ada nama cewek lain. Itu siapa?” tanya Lia waktu itu.
.
“Istri pertama calon suamiku.” Jawabku santai.
.
Kalau pada waktu itu kami bertatapan muka, mungkin matanya akan melotot, untung komunikasi kami hanya lewat chatting. Kami memang tinggal 1 (satu) kota, tapi dia nun jauh di pelosok sana, sehingga kami jarang bertemu lagi.
.
Percakapan kami tiga tahun lalu yang telah terlupakan tiba-tiba menyeruak kembali. Tapi kali ini tak ada komentar pedas lagi dari Lia. Dia bilang, saya telah berubah, jadi yang terjadi pastilah yang terbaik. (Aamiin)
.
 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(QS. Al Baqarah: 216).
.
.
Jember, 11 Juli 18

Helmiyatul Hidayati

Anak adalah Mesin Perekam. Sudahkah Kita Mengawasi?


Beberapa hari yang lalu, saat lelah mendekap di sore hari, ingin rasanya merebahkan tubuh di atas tumpukan bahan empuk yang disebut kasur. Apalagi dapet rejeki, anak semata wayang bermain di luar rumah bersama teman-teman barunya. Anak tetangga.

.
Namun tak sampai 1 (satu) jam, anak lanang tiba-tiba datang sambil menangis meraung-raung. “Gunting.. gunting.. aku mau gunting..” begitu katanya. Teranglah naluri ke-emak-an saya menyala, seperti alarm kebakaran yang baru saja mengendus asap kebakaran.
.
Oh tidak, bukan berarti saya melarang anak saya berdekatan dengan gunting. Gunting baginya adalah salah satu mainan, digunakan untuk menggunting kertas lipat. Tentunya dia bisa saya percaya dengan alat satu itu setelah melalui serangkaian tes dan pengawasan. #Eyaaa
.
Namun kali itu, saya tak yakin, gunting itu akan digunakan untuk bermain. Bicaranya tidak jelas ketika ia menangis. Karena ia termasuk anak dengan gharizah baqo’ (naluri mempertahankan diri) yang tinggi, maka sesuai tips para bunda kece yang saya kenal, menghadapinya harus dengan memberikan nau’ (kasih sayang) yang tinggi pula.
.
Setelah dia dibujuk-bujuk, dirayu, dipeluk dan dicium, akhirnya pria kecil saya pun berbicara, bahwa teman-teman barunya mengatakan hal-hal yang membuat dia takut. Dia bilang, bahwa teman-teman itu akan memotong-motongnya (membunuh) sehingga ia ingin mempertahankan diri dengan gunting.
.
“Astaghfirullah, kasihan mereka kak, mungkin mereka ga tahu kalo mereka mengatakan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah.” Kata saya mencoba menenangkan, tentu saja aslinya kata-kata saya lebih panjang nan lebar. Masih menjelaskan bahwa perbuatan seperti itu akan berat pertanggungjawabannya saat di akhirat, termasuk salah satu dosa besar yang tidak akan diampuni, persidangan di sana berat dsb. Entah dia mengerti atau tidak, karena ia tidak menggeleng, tidak juga mengangguk.
.
Pada akhirnya ia pun tidak keluar rumah lagi, kembali bermain dengan kertas lipat dan legonya. Sambil sesekali mengganggu saya yang sedang mengawasinya sambil tiduran. Haha


Ketika mendengar ceritanya ingin sekali saya mendatangi anak-anak itu, sayangnya mereka sudah tidak ada dan anak saya juga ga tahu mereka anak dari tetangga mana, karena kami termasuk baru di perumahan yang kami tempati. Akhirnya biarlah menguap di dalam hati saja.
.
Namun, hal inipun menjadi pemikiran saya, bukan karena ini terjadi pada anak saya. Tapi bagaimana kata-kata kasar seperti itu bisa keluar dari mulut anak-anak yang belum baligh. Darimana mereka mendapat maklumat seperti itu? apakah orang tua mereka tahu? Dsb.
.
‘Ah, itu kan hanya kata-kata bercanda, anak kecil ga tahu apa-apa.’
.
Ish, saya benci dengan pembelaan seperti ini. Jika setiap kesalahan disepelekan karena alasan ketidaktahuan, lalu dimanakah urgensi menuntut ilmu? Apa pentingnya pendidikan yang selalu digadang-gadang dan dikejar-kejar? Bahkan di dalam Islam menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban bagi individu.
.
Anak-anak belajar di rumah, bersama guru utamanya, orang tua terutama ibunya. Adalah salah bila menganggap pendidikan atau menuntut ilmu bagi anak dianggap telah dilakukan ketika seorang anak mulai masuk ke sebuah lembaga pendidikan (Mulai dari tingkat PAUD hingga universitas).
.
Supaya anak menjadi tahu maka dia harus belajar di madrasah pertamanya, dan untuk bisa menjadi pendidik bagi anak, madrasah tersebut harus menuntut ilmu dan mengkaji. Di sinilah letak urgensi menuntut ilmu. Bila madrasah berjalan dengan baik, maka seharusnya anak-anak sudah tahu mana perkataan yang baik dan mana yang menyakiti.
.
Anak-anak mudah belajar, layaknya mesin perekam yang tak pernah OFF. Terkadang mereka bisa menghafal hanya karena mendengar, bagus ingatannya akan janji manis orang dewasa. Karena itu penting sekali bagi orang tua yang merawatnya untuk memperhatikan apa yang anak kita dengar dan  dilihat oleh mereka.


Kata-kata yang meluncur dari teman-teman anak saya itu bisa jadi karena ia pernah mendapat maklumat (informasi) yang salah, yang dengan mudah bisa dilihat dan didengar dengan sangat mudah di zaman ini. Orang tuanya terpana akan kecanggihan teknologi, namun kemudian anaknya menjadi korban teknologi.
.
Sebuah hadits berbunyi, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
.
Sungguh perkara mengucapkan perkataan yang ahsan (baik) adalah perkara penting, apalagi kalau mengaku beriman. Hal ini perlu ditanamkan sejak kecil, jauh sebelum baligh.
.
Imam Syafi’i telah menjadi mufti dan berhak mengeluarkan fatwa ketika berumur 15 tahun. Jangan sampai anak-anak kita hanya bisa bermain tik tok dan berharap viral di usia itu. Betapa kemunduran itu nampak begitu nyata.
.
Maka, jangan remehkan tentang mengajarkan perkataan yang baik dan benar kepada anak kita. Standarnya harus jelas berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, supaya kelak tidak “mencla-mencle” ketika harus menghadapi berbagai warna kehidupan yang melukis dunia. Supaya ia bisa melukis dunia dengan keindahan Islam.
.
Kalau kata Batik Madrim,“Seorang ksatria itu tidak mencla-mencle, pagi merah, siang hijau, sore kuning.”
Duh jangan ya, kalau belum baligh saja kita tak bisa mengawasi, memperhatikan dan mendidik mengenai perkataan dan akhlak yang baik, membuatnya serampangan mengeluarkan kata-kata. Maka pilihan mereka di masa depan pun kemungkinan besar pasti lebih nyeleneh lagi. Jangan-jangan suka main sikat sama saudara sendiri hanya karena berbeda pandangan dan pilihan. Alamakk.. Apa kata dunia???
.
Jangan sampai stok calon pemimpin dunia berkurang karena lalainya kita memperhatikan apa saja yang direkam oleh anak-anak.
.
.
Jember, 05 Jul 18
Helmiyatul Hidayati

Poligami : Ikuti Sunnah Rasul Jangan Setengah-Setengah

Poligami masih jadi topik yang ‘bully-able’, tapi saya tergelitik saja, suatu ketika membaca sebuah artikel tentang poligami yang ditulis oleh seorang kawan blogger. Tak usahlah disebut siapa dia atau alamat web-nya. Saya membacanya dengan cermat dan beberapa kali agar ingat dan mendapat penegasan.

..
Fakta, memang dia sampaikan. Kita mengenal sosok Aa Gym, seorang ulama tersohor di negeri ini. Kemudian salah satu pengusaha yang usahanya cukup dikenal dimana-mana, pemilik resto ayam bakar wong solo. Atau Opick, penyanyi lagu tombo ati yang melegenda. Almost everybody know them!
..
Tapi, ‘rejeki’ mereka turun drastis begitu publik mengetahui mereka poligami alias menikah lagi. Pengajian AA Gym (katanya) sepi, salah satu usaha penginapan milik beliau pun kemudian menjadi tak seramai biasanya.
..
Yang terjadi pada pengusaha ayam bakar wong solo pun begitu, setelah ‘menggembar-gemborkan’ rumah tangga poligaminya, beberapa gerainya gulung tikar.
..
Opick?? Setelah istri pertama menggugat cerai, diragukan masa depan karirnya oleh sebagian netizen. Karena poligami dianggap ‘skandal’ yang menurunkan popularitas penyanyi lagu religi ini.
..
Itu bukan kata saya yess, itu yang saya baca di artikel tersebut. Saya tak terlalu mengikuti perkembangan mereka. Bukan pula orang dekat untuk tahu ‘perekonomian’ mereka.
..
Banyak orang yang mengambil pendapat bahwa hukum poligami itu sunnah, banyak juga yang berpendapat mubah. Terserah deh yang mana, yang menurut masing-masing adalah pendapat terkuat. Kalo saya pribadi lebih cenderung pada mubah.
..
Balik lagi ke topik, eh judul aja. Judul tersebut adalah judul dari artikel yang saya baca tsb. Judul itu memberikan pesan kepada kaum Adam, bahwa mereka bisa berpoligami bila istri pertama meninggal? Loh kok??
..
Ternyata dalilnya adalah kisah rumah tangga Rasulullah, dimana istri pertamanya adalah ibunda Siti Khadijah yang mulia. Setelah ibunda Khadijah meninggal dunia, barulah kemudian (setelah waktu yang lama) Rasulullah memulai rumah tangga poligami.
..
Padahal, dua rumah tangga yang Rasul jalani harusnya menjadi contoh bagi ummatnya, tidak mengapa memilih rumah tangga monogami, maka teladanilah rumah tangga Rasul ketika beristrikan ibunda Khadijah.


Tidak mengapa pula memilih rumah tangga poligami, maka teladanilah rumah tangga Rasul ketika beristrikan Siti Aisyah, Hafsah, Safiyyah, dll. Tentu saja batasan istri untuk suami hanya sampai 4 (empat) istri saja.
..
Tidak dipungkiri memang, kita sering dipertontonkan dengan kehancuran rumah tangga karena wanita idaman lain, atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan pelakor. Namun salah besar bila mengaitkan hal ini dengan poligami. Fenomena kehancuran rumah tangga karena adanya pelakor terdapat faktor pelanggaran pada syariat Allah SWT. Namun, poligami adalah kebalikannya. Tidak ada istilah pelakor di dalam Islam, karena seharusnya pria tidak bisa disetir oleh wanita.
..
Makna mencintai karena Allah pun adalah tidak rela bila pasangan atau orang yang kita sayangi terlibat dalam kemaksiatan atau terdekap dalam buaian setan. Mencintai karena Allah artinya mencintai dia selama ia taat pada-Nya.
..
Aduh, banyak sih yang harus dibahas atau ditulis kalau sudah membicarakan poligami. Tentang apa itu adil? Bolehkah suami menikah lagi tanpa izin istri pertama? Apakah ada syarat dalam berpoligami? Dsb dsb.
..
Tapi kali ini rasanya ingin membahas singkat tentang rezeki saja. Benarkah seorang suami yang berpoligami akan mengurangi ‘rezeki’ keluarga? Di zaman sistem kapitalistik seperti sekarang ini, memang benar rasanya kalau menghitung rezeki berdasarkan materi dan matematika manusia. Dengan pendapatan sekian dan dari sumber tertentu, bertambahnya anggota keluarga akan membuat pengeluaran lebih banyak. Otomatis hasil yang didapat pun lebih sedikit.
..
Supaya datanya valid, maka pertanyaan ini memang wajar dan pantas bila ditujukan kepada praktisi poligami, yang tak lain dan tak bukan adalah suami saya sendiri.
..
Untunglah jawaban beliau adem, “Yang jelas tambah istri, tambah rejeki.” #Eyaaa
..
Dulu, memang pernah terbersit pikiran, apakah dengan masuknya saya ke rumah tangga poligami dengan menjadi istri kedua, akan membuat suami bekerja lebih keras, apakah kakak madu saya akan tetap merasa sama tanpa perubahan karena harus berbagi dengan saudarinya.
..
Tapi matematika Allah SWT ternyata berbeda, setiap manusia telah diciptakan lengkap bersama rezekinya, Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya(QS. Huud: 6).

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)”
..
Suami yang takut pada Allah dan memilih berpoligami, maka ia harusnya telah memiliki pengukuran sendiri terhadap kemampuannya dan memiliki rencana-rencana untuk masa depan dunia hingga akhirat bagi keluarganya.
..
Dan rejeki memiliki cakupan yang luas, bukan hanya berdasarkan materi seperti anggapan kebanyakan manusia materialistik. Anak yang sholih-sholihah, istri yang shalihah, kesehatan dll juga merupakan rejeki dari Yang Maha Kuasa.
..
Orang lain mungkin melihat, AA Gym; Pengusaha Ayam Bakar Wong Solo (maaf lupa namanya); atau Opick kehilangan banyak hal karena pemberitaan rumah tangga poligami-nya. Tapi kita tak akan pernah tahu seberapa banyak rejeki lain yang diberikan oleh Allah dari jalan lainnya.
.
.
Jember, 27 Jun 18

Helmiyatul Hidayati

RADIKAL




Banyak orang keki dengar kata Radikal. Apa pasal? Karena kata itu sekarang identik dengan banyak hal berkonotasi negatif, gandengannya pada serem, seperti terorisme, kekerasan, bom dll. Dari yang tua hingga muda, dari yang pinter hingga yang ga tahu apa-apa, dan dari rakyat kecil hingga segelintir rakyat dengan jabatan tinggi tak kalah kebagian keki dan grogi dengan kata ini. Bahkan sampe ada yang bikin program-program DERADIKALISASI.

Ada apa dengan cinta? Eh salah, ada apa dengan radikal?


Sebenarnya, Radikal adalah kata yang memiliki sifat netral. So, awalnya dia bukan sesuatu yang jahat. Asal katanya adalah bahasa latin yang diambil dari kata radix yang berarti akar. Bagi yang pernah sekolah di Farmasi macam saya, pasti tak asing dengan istilah ini, di lab Farmakognosi ini adalah makanan sehari-hari: mengindentifikasi simpilisia semacam Catharanthi Radix (Akar Tapak Dara), Deridis Radix (Akar Tuba), Ipecacuanhae Radix (Akar Muntah), Valerianae Radix (Akar Valerian) dll.

Duh namanya bikin rindu masa SMA dan seperti merapal mantra yaa.. Meskipun saya sudah lupa semua pelajaran itu. Tapi intinya radix itu memiliki makna akar.

Kembali di masa sekarang, KBBI pun memberikan kurang lebih 3 (tiga) makna yang (menurut saya) sejalan dengan kata asalnya (Bahasa latin > akar) yaitu :

1.       Secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip)
2.       Amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan)
3.       Maju dalam berpikir dan bertindak.

Istilah radikal adalah segala sesuatu yang sifatnya (1) mendasar sampai ke akar-akarnya atau sampai kepada hal yang prinsip. Hal ini dapat juga diartikan sebagai  (3) sifat maju dalam hal pola pikir atau tindakan.

Jadi, kalau radikal kemudian ditempel dengan Islam, maka pengertiannya menjadi: orang Islam yang melaksanakan ajaran agamanya sesuai prinsip ajaran Islam secara menyeluruh (sampai ke akar-akarnya). Tidak hanya ikut-ikutan atau sekedar identitas di kartu pengenal (Islam KTP). Islam radikal juga berarti adalah orang-orang Islam yang memiliki kemajuan dalam berpikir dan melakukan tindakan.

Makna kedua, cocok dalam bidang politik. Dalam hal ini radikal diartikan sebagai sikap keras dalam menuntut perubahan, apakah itu perubahan dalam pemerintahan atau perubahan undang-undang. Jadi, politisi atau siapapun yang menentang suatu kebijakan pemerintah dan menolak dengan keras suatu kebijakan pemerintah, maka politisi itu bisa disebut Radikal. Tanpa memandang ia bawa-bawa Islam apa tidak.


Radikal dalam filsafat memiliki pengertian proses berpikir kompleks sampai ke akar-akarnya, sampai ke esensi, hakikat atau subtansi yang dipikirkan. (Ali Mudhofir : 2001)

Radikal dalam sejarah memiliki pengertian kelompok yang langsung mencari ke akar masalah, mempertanyakan segalanya, mengamati masalah secara keseluruhan dan kemudian membalikkan semua hal demi mencapai peradaban dan keadilan yang lebih baik. (Muhidin M. Dahlan : 2000)

Radikal kini memiliki pesan negatif tidak lepas dari pengaruh media yang seringkali menggunakan kata radikal ketika memberitakan berita-berita kekerasan sehingga secara otomatis kita pun memaknai radikal secara negatif pula.

Padahal kata radikal bermakna negatif hanya dalam bidang kesehatan saja : radikal bebas. Pengertian radikal bebas adalah molekul dengan elektron tidak berpasangan. Dalam pencarian mereka untuk menemukan elektron lain, mereka sangat reaktif dan menyebabkan kerusakan pada molekul sekitarnya.


Asap rokok; polusi udara; radiasi UV; pestisida; obat-obatan; olahraga berlebihan; radiasi; autoksidasi; oksidasi enzimatik dan respiratory burst adalah contoh 10 radikal bebas berbahaya di sekitar kita.


Henry Kissinger, politisi senior US, mantan Asisten President AS untuk urusan Keamanan Nasional tahun 1969-1975, pada November 2004 di koran Hindustan Times pernah menuliskan, “What we call terrorism in the United States but which is really the uprising of Radical Islam against the Secular World on behalf of reestablishing a sort of Caliphate.” (Apa yang dinamakan terorisme di Amerika sebenarnya adalah kebangkitan Islam Radikal terhadap dunia sekuler dan demokratis atas pendirian kembali semacam kekhalifahan).

Jadi, istilah radikal menjadi kejam macam sekarang ini sebenarnya adalah bentuk kepanikan pihak tertentu. George W. Bush  pernah mengatakan dalam pidatonya, “Either with us, or with terrorist.”
Pernyataan maksa ini memberikan pengertian, yang tidak sejalan dengan Paman Sam, berarti dia teroris. Kan ga mikir banget! Haha

Celakanya, banyak orang, bahkan muslim pun termakan oleh narasi ini. Jadilah kita takut-takut sendiri pada istilah radikal. Ketakutan itu mulai menyasar berbagai lini, tak terkecuali di kampus, menyerang mahasiswa, pula dosen. Mahasiswa diawasi, dosen di-nonaktivasi. Sehingga pantaslah bila ada yang mengatakan, “Kalau yang dimaksud Radikal adalah semangat para mahasiswa untuk mengkaji Islam, mengamalkan Islam, dan memperjuangkan Islam. Maka berarti kita sedang mengkhawatirkan sesuatu hal yang POSITIF.”

Padahal radikal itu maksudnya ramah, terdidik dan berakal. Dan cowok radikalis romantis itu adalah cowok idaman yang manis. #Loh

Jember, 22 Jun 18
Helmiyatul Hidayati









Kisah Seruni dan Serina – Bag. 1 [ Sampah yang Merasa Berlian ]



Seperti mangga dibelah dua. Serupa tapi tak sama, yang satu akan mendapat biji, satunya tidak, tapi berasal dari tubuh yang sama. Begitulah Seruni dan Serina, dua sahabat yang tak suka makan mangga, apalagi tanpa dikupas. Viral dan istana jelas bukan tujuan mereka. Mereka hanya ingin hidup dengan baik dan tenang.

Lain Seruni, lain pula Serina. Seruni adalah ibu muda yang produktif. Ibu muda yang tak pernah tahu sinar matahari. Keluar dari rumah pada pagi hari, memasukinya kembali ketika hari telah asyik bercumbu dengan sore. Suaminya adalah orang biasa yang hidup di kota lain. Membuat Runi kesepian dan kelelahan karena harus sibuk sendiri. Sibuk menata hati sendiri, dan sibuk mencari nafkah sendiri. Tentu saja, untuk dia dan putranya.

Sementara Serina berbeda, wanita yang masih melajang tanpa kenyang. Jika Seruni lemah, maka Serina adalah wanita yang kuat, baik fisik maupun mental emosinya. Melihat Seruni menangis adalah hal biasa bagi Serina, dan mendengar Serina berbicara tak ubahnya lagu bagi Seruni. Meskipun begitu mereka saling membutuhkan. Rina hidup dan bekerja sendiri, tapi tak pernah merasa kesepian, keberaniannya membuatnya tidak ragu untuk membentak siapapun bila ia kesal. Terkadang ia mengatakan banyak hal yang mainstream. Entah bagaimana ia bisa memiliki Runi sebagai sahabatnya.

Serina tak menikah, ia lelah melihat pernikahan Seruni. Katanya, penuh prahara dan Runi sama sekali tidak (bisa) memperbaiki itu. Ingin rasanya ia meminjamkan jiwa pada Runi agar sedikit saja mau bertindak, bukannya asyik dengan pikiran dan dunianya yang penuh kesibukan. Berusaha menutupi lembaran-lembaran depresi yang semakin menebal.
.
. 
“Apalagi sekarang?” Seru Rina pada Runi, ketika suatu sore ia datang menerobos rumahnya dengan tangisan berderai-derai.

Runi tak segera menjawab, ia menghambur dalam pelukan Rina. Tubuhnya bergetar karena tak bisa berhenti menangis. Rina mulai berpikir untuk memberinya paracetamol dosis tinggi, karena suhu tubuh Runi tak ubahnya sedang demam tinggi.

“Dia bilang akan melepasku.” Suara Runi tersendat-sendat. Rina tak segera menjawab. Dipapahnya Runi di Sofa, agar mereka tenang berbicara.

“Aku sudah menduga.” Hanya itu jawaban Rina. Dengan santai seakan tanpa belas kasihan. Ciri khasnya. Rina kemudian sibuk, mencari tissue hingga membuat teh hangat. Diangsurkannya mereka pada Runi, tapi Runi hanya menerima tissue, menyeka air matanya yang turun tanpa henti. Sementara teh hangat itu setia menjadi penonton mereka hingga didekap dingin.

“Apa yang harus kulakukan?” Kali ini Runi bertanya, matanya penuh harap, seakan Rina akan memberikan solusi yang bisa menyenangkan pihak A hingga Z.

“Tidak ada. Jika dia melepasmu, kau hanya harus melakukan bagianmu. Pergi.” Tak ada kesedihan dari raut Rina ketika mengatakan itu. Membuat Runi semakin sesenggukan, kini kepalanya mulai pusing. Rina hanya bisa menepuk bahunya.

“Aku tidak mau menjadi janda. Bayiku tidak akan punya sosok ayah.” Lanjut Runi.

Rina mendengus, ada ketidaksabaran di wajahnya, “Lalu apa kau bahagia?”

“Aku akan minta maaf. Aku akan menganggapnya tidak terjadi apa-apa. Aku tidak mau melakukan sesuatu yang begitu dibenci oleh Allah.” Runi tidak menjawab, ia membuat pernyataan. Setelah itu ia berusaha menenangkan diri, kemudian bersiap akan pergi, untuk pulang ke rumah itu. Rina hanya mengamati dengan lelah.

“Aku sudah bilang padamu untuk tidak menikah dengannya. Dia bukan imam yang bisa kau jadikan sandaran. Dia bahkan tidak bisa sholat, tidak memberi tapi malah meminta, tidak berbicara denganmu tapi berbicara apa saja dengan orang lain, menyuruhmu menjadi keluarganya tapi tidak menganggapmu keluarga. Dia tidak peduli denganmu, apakah yang kau lakukan salah atau benar, Dia tidak menganggapmu ibu tapi pembantu. Tidak bisakah kau melihat?” Itu seruan panjang Rina yang pertama hari ini. Runi hanya memandang datar pada Rina, tidak membantah karena semuanya benar. Tapi Runi tetap memutuskan untuk pergi.

“Apa yang dia lakukan saat di tengah malam kau tidur di pos keamanan sambil menggendong bayimu? Dia tidur di kasurnya yang hangat. Apa yang dia lakukan saat bayimu menangis? Dia membentakmu, sementara dia melanjutkan tidurnya. Apa yang dia lakukan saat dia butuh uang? Dia mencarimu, tapi memarahimu ketika kau yang meminta. Apa yang dia katakan ketika dia ditanya tentang pasangannya? Baginya hal seperti itu tidak ada.” Teriak Rina lagi, membuat Runi tercekat.

“Apa dia tahu kau berpuasa hanya demi menghemat pengeluaran? Apa dia tahu kau meminta sepiring nasi pada tetangga hanya untuk membuat bubur untuk bayimu? Apa dia tahu bahwa kau pernah tidak bisa membeli bahkan 1 kg beras? Oh, untung saja waktu itu belum ada beras sachet. Aku pastikan dia pasti akan menyuruhmu membeli itu. Ide itu konyol total!” Rina kini berapi-api, ia sudah tak tahan lagi. Runi berbalik dan memandang Rina dengan sendu.

“Mungkin ada yang salah..” Lirih Runi.

“Apa?” Tanya Rina

“Aku..”

“Setelah aku berbicara panjang lebar, kau bilang kau yang salah? Apa kau seorang pembohong? “ Cerca Rina.

“Aku tidak berbohong, semua yang kau katakan itu benar. Mungkin, aku salah mengira saja.”

“Mengira apa?”

“Aku kira aku berlian, nyatanya aku adalah sampah.”

BLAM! Pintu rumah Rina ditutup dengan keras, dibaliknya Runi berlari dengan masih menangis.


==========================
Jember, 09 Juni 18
Helmiyatul Hidayati




Tiga Hal Biasa di Bulan Ramadan yang Bisa Bikin Berdosa. Apa Saja??

Tiga Hal Biasa di Bulan Ramadan yang Bisa Bikin Berdosa. Apa Saja??

Oleh : Helmiyatul Hidayati
(Editor dan Blogger Profesional, Member Revowriter)

Ramadan memang berbeda. Bukan karena di bulan ini adanya kewajiban untuk berpuasa, atau obral pahala dari Sang Maha Pencipta. Namun ada beberapa hal yang muncul sebagai kebiasaan dari Ramadan ke Ramadan, yang biasanya tidak akan atau jarang ditemui di bulan selain ramadan.

Terkadang hal ini pun telah dinanti-nanti bahkan dipersiapkan jauh-jauh hari, agar rencana sukses terealisasi. Namun meskipun begitu, banyak orang terkadang salah kaprah. Hal-hal ini bisa saja melanggar syari’at dan berbuah dosa bila dilakukan tanpa pemahaman yang benar. Apa saja hal tersebut?

Sumber Foto : KanalPonorogo


1.       Tukar uang baru


Setelah hari raya, atau setelah selesai menunaikan ibadah sholat Id, biasanya akan ada sesi “maaf-maafan” baik di dalam keluarga ataupun dengan tetangga, yang dikenal hingga yang tidak dikenal sekalipun. Dalam sesi ini anak-anak biasanya memiliki peran penting.

Peran penting anak-anak adalah sebagai penerima angpao (uang), peraturan ini sudah ada di masyarakat, tidak tertulis namun sudah menjadi kebiasaan. Para orang tua akan menyiapkan uang baru untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak, siapapun itu, yang datang ke rumah untuk bersalaman (silaturrahmi).

Uang baru ini didapatkan dengan melakukan penukaran di bank atau membeli kepada pihak penyedia uang baru. Namun siapa sangka, kalau transaksinya salah akan menjadi transaksi yang “ngeRIBAnget” alias mengandung riba.

Hal ini, tentu tidak diinginkan oleh kaum muslim manapun karena ancaman Allah SWT sudah sangat nyata dalam QS. Al-Baqarah (2) : 275 yang berbunyi, Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” 

Tukar-menukar uang merupakan pertukaran jenis barang yang sama, persyaratannya pertukaran ini harus dilakukan dengan nilai yang sama dan wajib tunai. Bila dalam transaksi ini ada kelebihan, maka statusnya adalah riba sekalipun saling ridha. Nabi SAW bersabda, Siapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah melakukan transaksi riba. Baik yang mengambil maupun yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.”

Sumber Foto : YouthManual


      2.       Reuni
 

Kebanyakan acara reuni terjadi di bulan Ramadan. Karena ramadan dan Idul Fitri merupakan momen dimana anak rantau akan kembali ke kampung halaman. Kampung tempat dimana mereka bersekolah dari TK hingga SMA.

Sayangnya reuni di bulan Ramadan mengandung banyak kesulitan. Reuni yang identik dengan acara makan-makan tidak bisa dilakukan di siang hari, karena jelas di siang hari adalah waktu berpuasa, dilarangnya makan dan minum.

Kemungkinan waktu yang dipilih adalah waktu mendekati maghrib hingga malam. Padahal waktu-waktu tersebut adalah waktu dimana ada kewajiban yang harus ditunaikan, yaitu shalat maghrib dan shalat isya’, dan sangat sayang pula jika sampai melewatkan waktu shalat tarawih atau tadarus. Biasanya pulang malam dari reuni, akan langsung dilanjutkan dengan tidur. Belum lagi dengan adanya kemungkinan untuk Ikhtilat.

Padahal  bila hal ini sampai terjadi (meninggalkan shalat wajib), seorang muslim akan dianggap melakukan kesyirikan. Nabi SAW bersabda, Pemisah antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan. (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566)

Untuk mengatasi hal tersebut, lebih baik memilih waktu setelah idul Fitri atau jadikan kewajiban dan atau yang sunnah sebagai salah satu agenda reuni. Dan jangan lupa untuk membawa pasangan.

Sumber Foto : Moneter

3.       THR (tambahan)


Sudah lazim pula, dalam menyambut hari raya Idul Fitri untuk melakukan belanja extra. Karena anggapan kembali ke fitri (kembali suci), adalah dengan memakai baju baru, perabotan baru hingga melakukan renovasi rumah agar terlihat baru. Tentunya ini butuh biaya yang tidak sedikit, apalagi bila jumlah anggota keluarga juga banyak.

Bagi karyawan, biasanya akan mendapat THR (Tunjangan Hari Raya) dari kantor. Namun, terkadang hal ini pun masih belum cukup. Sehingga mau tidak mau ingin mendapatkan THR tambahan yang didapat dengan jalan membuka utang baru.

Utang di dalam Islam memang hukumnya mubah. Namun Rasulullah mencontohkan utang adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup bukan untuk memenuhi keinginan atau gaya hidup. Belum lagi, di zaman ekonomi kapitalisme seperti sekarang ini, hampir semua utang mengandung riba. Bukannya kembali fitri karena telah melewati bulan puasa, namun berkubang di dalam jurang dosa yang lebih dalam jika sampai terjerembab di dalam dosa riba.

Selain itu pula, utang karena memenuhi keinginan atau gengsi bisa menimbulkan berbagai tabiat buruk antara lain menyebabkan tagihan, kegelisahan dan masih banyak lainnya.

Karena gentingnya setiap muslim untuk memperhatikan perkara utang ini, Nabi SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)


Nah, itulah tiga hal biasa atau lazim di bulan puasa yang bila kita tidak berhati-hati akan bisa membuat kita melanggar syari’at Allah sehingga menjadikan kita sebagai manusia yang merugi. Sungguh sangat disayangkan!

Semoga kita semua terhindar dari segala marabahaya dosa tersebut, salah satu caranya adalah dengan menuntut ilmu mengenai tsaqofah Islam, dan melaksanakan amal perbuatan kita berdasarkan ilmu tersebut. Dan semoga kita bisa bertemu di Ramadan tahun depan dalam keadaan yang lebih baik lagi. J

Wassalam..

Jember, 01 Juni 18
Helmiyatul Hidayati




Hakikat Bahagia



/ Hakikat Bahagia /

Mei ini di negeri ginseng alias Korea Selatan lagi “comeback” boygrup SHINee, pertama kalinya setelah salah seorang anggotanya meninggal karena bunuh diri pada Desember 2017 lalu. Bisa ya idol terkenal, ganteng, tajir, almost perfect and everybody know him meninggalnya karena bunuh diri?? Doi meninggal karena dengan sengaja membakar batu briket di dalam ruangan.

Biasanya nih, orang memilih bunuh diri kalau dia ga gila, pasti terhimpit keras, pahit dan sempitnya kehidupan, entah itu karena faktor ekonomi atau cinta. Ada kan ya, yang bunuh diri gara-gara patah hati. Berasa rempeyek di bawah batu, ancur sist!

Ternyata kelapangan hidup bisa juga membuat manusia menderita, hingga memilih bunuh diri macam abang Jonghyun itu. Dan dia bukanlah publik figure yang pertama kali melakukannya. Di belakang Jonghyun sebenarnya ada berderet-deret lagi yang memiliki kisah yang sama.

Dulu, kala berita ini viral, saya teringat sebuah pelajaran tentang pertanyaan mendasar dalam hidup. Darimana kita berasal, untuk apa kita hidup dan kemana kita setelah mati nanti?
Saat itu terlintas di benak, kemana ya abang Jonghyun pergi. Apa ia menaiki tangga ke akhirat untuk selanjutnya menunggu giliran hidup kembali di bumi, dianterin malaikat maut macam Lee Dong Wok di drama Goblin? Ga lah yaa.. Itu kan drama fiksi.


Bunuh diri diasosiasikan sebagai solusi atas masalah pelik di dalam hidup manusia. Dengan mengakhiri hidup, penderitaan pun berakhir. Kira-kira begitu pikirnya. Padahal, dalam Islam jelas ini terlarang, terkutuk dan tak termaafkan. Jadi, kalau sampai ada yang bilang teror bom bunuh diri di Surabaya itu karena ajaran tertentu dalam Islam, berarti bacaannya kurang banyak. Mudah-mudahan mereka move on dari baca komik nano-nano. #Apasih

Sebenarnya kalo soal penderitaan, semua orang memang diberi “penderitaan”. Tempat tidak ada penderitaan itu ya di Surga.
Zaman sekarang banyak orang kelaparan, banyak pula yang tidak bisa dapat pekerjaan, tidak merasakan pendidikan, tidur di bawah dentuman bom, genosida, bahkan penjajahan masih ada di beberapa negara muslim. #TearDrops
Tidak punya waktu untuk bersantai dan cinta bertepuk sebelah tangan juga penderitaan. #Loh

Lawan kata menderita ya bahagia. Tapi bahagia yang hanya berdasar pada duniawi juga merupakan penderitaan. Hanya mengukur bahagia dari seberapa banyak harta, seberapa banyak teman, sebagus apa pasangan, setinggi apa karir, atau sampai di belahan negara mana kita di kenal.

Memiliki segalanya, tapi tidak mengenal Sang Maha Pencipta juga merupakan penderitaan. Memiliki iman Islam namun dengan mudahnya digadaikan juga merupakan penderitaan. Tidak taat syariat tapi begitu sombong merasa Allah menyayangi juga merupakan penderitaan.


Maka, Islam merumuskan suatu definisi bahagia yang tak terbantahkan, tak dapat diterjang badai serta karang. Bahagia yang hakiki adalah ketika seorang hamba Manusia mendapat Ridho Allah SWT, sang Maha Pencipta sekaligus Sang Maha Pengatur kehidupan.

Seandainya Jonghyun itu muslim dan tahu tentang bahagia ini, ia tidak akan memilih jalan bunuh diri. Karena sebesar apapun penderitaan yang ia hadapi, ia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allah SWT. Ia tahu bahwa ia akan lebih menderita lagi bila Ridho Allah tak didapatnya.

Manusia begitu mudah merasa menderita ketika terusik, baik fisik maupun hatinya. Padahal sejatinya, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al Baqarah: 286).

Semoga kita semua tidak lupa bahagia. Dan tidak lupa pula mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah ini. Menulis adalah berusaha mengingatkan diri sendiri, semoga saya ingat ini ketika “terusik”.

Jember, 22 Mei 2018
Helmiyatul Hidayati

#CatatanRamadan06
#RamadanBaper
#RamadanPenuhPerjuangan
#InspirasiRamadan
#RamadhanBersamaRevowriter