Antara Pujian Internasional dan Pujian Pemilik Semesta



Sebagai orang Jember, rasanya mustahil bila tak kenal JFC (Jember Fashion Carnival). Event tahunan yang selalu nongol di bulan Agustus ini sukses menyedot perhatian hingga ke tingkat Internasional.

.
Buat yang belum tahu apa itu JFC. Secara singkat acara ini adalah arak-arakan peragaan busana, yang bahasa Inggrisnya sering disebut Fashion Show. #Hehe
Bedanya JFC menggunakan jalanan 3,6 KM sebagai jalan kucingnya (catwalk). Dan busana yang diperagakan jelas bukan busana muslimah syar'i seperti kebanyakan. Di sana hanya akan diperagakan busana yang tidak bisa dipakai sehari-hari, bahkan harus mikir ribuan kali kalau mau dijadikan baju pengantin.
.
Di tahun 2018, acara ini dihelat tanggal 7-12 Agustus. Meskipun begitu, jauh sebelum hari pelaksanaannya, artikel terkait JFC ini sudah bisa ditemukan dengan mudah di lapak mbok Google.
.
JFC terkadang pun menjadi semakin heboh dengan bintang tamunya yang bikin takjub. Terkadang pak Presiden datang, artis kondang, sampe ratu kecantikan pun hadir. Rasanya mustahil bin mustahal kalo JFC ga kedatangan orang beken. Secara, ini event internasional begitu loohh..
.
Pertama kali mengenal JFC, ketika masih duduk di bangku SMA. Itu sekitar 10 tahun lalu. Ada seorang teman yang memang berprofesi sebagai model, dia semampai, kaya dan tentu saja cantik. JFC bagi dia, tentu tak ubahnya ajang biasa untuk diikuti.

Sumber Foto : Faiqotul Himmah

“Kamu bikin sendiri baju yang ga bisa dipake tiap hari itu? Habis berapa?” Pertanyaan tembakan dari saya padanya ketika dia menunjukkan foto “bakal” baju yang akan dia pakai untuk acara itu.
.
Tak dinyana dia pun menjawab dengan santai, “Iya, emang harus ngerancang sendiri. Belajar. Tapi ntar di koreksi ama Dynand Fariz-nya. Habis berapa ya ini? Sekian ratus ribu gituu..”.
.
Sengaja sekiannya saya sensor, selain lupa tepatnya berapa. Yang jelas angka itu melebihi jatah saya selama 1 bulan. Padahal jatah bulanan saya sudah termasuk uang kost, SPP, uang transport dan uang makan. Untuk anak SMA pada kala itu, uang segitu besar bagi saya. Dan saya yakin banyak orang pun (sampai detik ini) beranggapan begitu.
.
Carnival, di berbagai belahan dunia memang kerap kali dilaksanakan dalam rangka pesta perayaan. Di Indonesia umum sekali terjadi di bulan Agustus karena merupakan bulan kemerdekaan. Jangankan setingkat JFC, karnaval tingkat desa saja bertebaran di mana-mana.

Sumber Foto : Faiqotul Himmah

Menjadi peserta carnival itu menyenangkan. Setiap kali melewati jalanan, kita akan difoto-foto, orang-orang melambaikan tangan. Tak jarang ada orang minta selfie. Tergantung seberapa besar, heboh dan menarik kostum yang kita pakai. Semakin kostum itu heboh, semakin pula orang tertarik pada kita. Terlebih untuk event JFC, perhatian dan pujian internasional sangat membius sekali. Memang, salah satu fitrah dan naluri manusia adalah ingin menjadi pusat perhatian.
.
Tapi meskipun begitu, bila dipikir lebih jauh lagi, sebenarnya kegiatan ini merupakan kegiatan yang tidak ada gunanya. Tidak lebih seperti debu yang beterbangan. Apalagi kalo mengingat pelajaran Ihsanul Amal. Wah, apa pula hubungannya dengan ini? Sukanya kok bawa-bawa agama? #Eyaaaa
.
Setiap perbuatan/aktifitas/amalan seorang muslim mulai dari yang paling kecil hingga besar, mulai dari bangun tidur hingga dia tidur lagi, mulai dari bangun tidur hingga bangun negara. Tak kan luput satupun dicatat dan dinilai oleh Allah SWT. Suatu perbuatan dikatakan diterima oleh Allah bila memenuhi dua syarat : Pertama, Ikhlas karena Allah. Kedua, cara pelaksanaan sesuai dengan tuntunan Rasulullah.
Bila tidak memenuhi keduanya dan atau salah satunya, maka tak ubahnya perbuatan yang dilakukan itu akan menjadi debu yang beterbangan ketika di akhirat kelak alias ternyata kita melakukan hal yang sia-sia. Malah bisa jadi bertambah dosa.
.
Apa niat orang ikut carnival? Selain ingin membuat dirinya eksis. Dimana eksis ini diartikan untuk mendapatkan perhatian. Dipandang beken dan oke. Oleh siapa? Tak lain dan tak bukan oleh khalayak, targetnya khalayak sekala internasional pula. Adakah Allah dalam niatnya? Rasanya tidak mungkin. 
Belum lagi banyak kemaksiatan yang bisa saja terjadi dalam event-event seperti ini.


Peserta karnaval yang membludak dan kostum yang menghebohkan tentu membutuhkan riasan yang tak biasa. Riasan yang tidak akan selesai hanya dalam hitungan di bawah 10 menit. Tak jarang mereka sudah bersiap bahkan sebelum adzan Subuh berkumandang. Ketika telah masuk waktu sholat kebanyakan akan lupa melaksanakan kewajiban yang satu itu karena ‘eman’ dengan make up yang sudah menempel. Belum lagi adanya ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan bukan mahrom), potensi LGBT yang bermunculan. Naudzubillah..
.
Jangan sampai demi pujian internasional kita melalaikan diri dari kewajiban yang akan membuat hilang pujian pemilik semesta. Naudzubillah..
.
Peningkatan ekonomi dan pengembangan Pariwisata menjadi salah satu alasan diselenggarakannya carnaval level internasional ini. Ekonomi masyarakat bisa meningkat, karena dengan adanya event ini para penjual memiliki kesempatan memiliki omset yang lebih besar daripada hari-hari tanpa JFC. Seakan-akan lupa bahwa hari-hari tanpa JFC jauh dan jauh lebih banyak, dan mereka menjalani hari yang sama. Sama-sama mencari makan, sama-sama bekerja keras supaya anaknya bisa sekolah, sama-sama harus berobat jika sakit dll.
.
Bukan dengan JFC masalah utama rakyat bisa teratasi, bila memang ingin mengentaskan kesusahan rakyat, beri saja pengobatan gratis, pendidikan gratis, tempat tinggal gratis, memperluas lapangan kerja dsb.
.
Sangat tidak tepat pula bila menjadikan pariwisata sebagai sumber pemasukan daerah. Dan JFC dijadikan visual dalam memasarkan Jember ke kancah internasional. Pariwisata umumnya lekat dengan kemaksiatan yang tentu tidak dapat ditolerir. Industri wisata dalam masyarakat liberal kapitalistik tidak bisa dipisahkan dari bisnis miras, seksual dan hiburan. Padahal hakikatnya pariwisata di dalam Islam adalah untuk meningkatkan kesadaran akan Kemahabesaran Allah SWT.
.
.
Jember, 08 Agustus 2018
Helmiyatul Hidayati


===================================
#1000StatusPeduliJember
#StopLiberalisasiJember
#IslamSelamatkanJember

Perlukah Memiliki Sahabat Akrab??




Kuantitas pertemanan dalam dunia maya memiliki jumlah yang lebih tinggi daripada kuantitas pertemanan di dunia nyata. Coba saja tengok berapa jumlah akun media sosial kita dan berapa jumlah teman atau followers di tiap-tiap akun tersebut. Yang jelas, seluruh jari akan “kemeng” kalo disuruh menghitungnya.
.
Tapi, karena manusia zaman sekarang memang hidup di antara dua dunia, memiliki teman di kedua dunia tersebut memang mutlak adanya.
.
Namun, bila berbicara kualitas, rata-rata pertemanan di dunia nyata memiliki rating yang lebih tinggi daripada pertemanan di dunia maya. Hal itu karena ada satu kelebihan yang tidak ada pada pertemanan di dunia maya dan hanya dimiliki oleh pertemanan di dunia nyata, yaitu interaksi fisik dan pertemuan. Meskipun tidak jarang, siapa saja bisa menyeberang dari dunia maya menuju dunia nyata. Begitu pula sebaliknya.
.
Yang penting tidak melibatkan dunia gaib aja.. #Haha
.
Pertemanan ini merupakan salah satu proses dalam menjalani kehidupan. Suka tidak suka, mau tidak mau, interaksi kita akan menimbulkan pertemanan, meskipun ada yang ‘asli aja’ dan ada pula yang ‘asli tapi palsu’. #Eaaaa
.
Teman asli biasanya disebut sahabat akrab, teman aspal biasanya disebut ‘si penusuk dari belakang.’ Macam judul novel thriller saja yaa.. #Hihi

Ilustrasi. Sumber : Ar-Risalah

Definisi sahabat akrab pun ternyata tidak tunggal. Bisa berbeda antara persepsi satu orang dengan orang lainnya. Ada yang menganggap sahabat akrab adalah yang selalu bertemu setiap hari entah karena bekerja di kantor yang sama atau menuntut ilmu di institusi yang sama. Frekuensi interaksi yang tinggi memiliki potensi terciptanya saling membutuhkan yang lebih kental daripada dengan orang lain. Kemana-mana pun bareng, jogging bareng, nongkrong bareng, lunch bareng, shopping bareng meskipun bayar sendiri-sendiri.
.
Namun sahabat akrab macam begini adalah tipe rapuh yang bisa meluruh dengan mudah. Tak selamanya orang bisa jogging, nongkrong, lunch atau shopping bareng. Pemanfaatan hubungan hanya untuk kepentingan-kepentingan ini tidak lebih dari ikatan kemaslahatan yang akan memudar seiring berjalannya waktu.
.
Ada juga yang mengatakan sahabat akrab itu adalah yang menemani di saat suka dan duka. Ini tidak sepenuhnya salah. Namun, jika hanya menemani tanpa ada tujuan yang jelas, maka hubungan seperti ini mirip seperti hubungan balas budi, yang akan berakhir bila telah selesai urusannya.
.
Islam menawarkan konsep persahabatan yang dapat mengikat manusia dalam kehidupannya, bahkan mengajak bersama-sama menuju kebangkitan dan kemajuan. Persahabatan seperti ini memiliki ikatan akidah yang kuat.


Memaknai akidah, berarti memaknai hidup. Mengerti akidah (Islam) nya sendiri berarti mengerti tentang hakikat hidupnya, darimana – untuk apa – dan akan kemana diri kita dalam putaran kehidupan ini.
.
Sehingga sahabat akrab di dalam Islam tidak hanya sebatas kemasalahatan di dunia, atau menemani di saat suka dan duka. Lebih dari itu, sahabat akrab di dalam Islam adalah yang sama-sama mengerti hakikat hidup dan bersama-sama dalam perahu perjuangan menggapai Ridho Illahi.
.
Sahabat akrab di dalam Islam adalah yang mengingatkan di kala kita salah (melanggar perintah Allah) dan selalu mengajak kita kepada kebaikan-kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah.
.
“Teman-teman akrab pada hari itu (hari kiamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. (QS. AZ-Zukhruf : 67)
.
.
Jember, 04 Jul 2018
Helmiyatul Hidayati

Menyelamatkan Diri Sendiri


Ada yang bilang hijrah itu mudah, yang sulit adalah istiqomah. Seseorang bisa hijrah seperti menekan tombol baik dan buruk di dalam tubuh. Namun berusaha untuk tetap membuat tombol itu menyala (baik) –istiqomah- tidak semudah membalikkan telapak tangan.

.
Terkadang momen hijrah itu datang di saat manusia berada pada suatu titik (rendah) tertentu. Wajar sih, karena itu adalah salah satu cara Allah menyanyangi hamba-Nya, dengan memberi peringatan agar kembali ke tujuan penciptaan.
.
Setelah memutuskan hijrah, ternyata aral melintang datang menghadang. Tak jarang kita jumpai satu-persatu pun memutuskan kembali pulang, berbalik ke masa lalu yang kelam. Bisa jadi, salah satunya adalah orang-orang yang kita kenal. Tuh kan, istiqomah itu berat, makanya jangan hijrah sendirian! Kamu ga akan kuat! #Eaaa
.
Hijrah juga bukan hanya soal datang ke kajian sebulan sekali. Tiap hari mantengin YouTube dengarin ceramah ustad beken. Tampilan berubah jadi trendy Islami. Semua itu tidak salah, namun itu hanya sebagian kecil dari banyak hal yang seharusnya dilakukan oleh muslim sejati.


Seseorang menuntut ilmu agar ia mengetahui sesuatu. Setelah tahu maka tiba masanya untuk dipraktekkan, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk ditularkan kepada orang lain.
.
Tak lama setelah saya mengenal dunia dakwah ada baper dan patah hati baru yang dirasa. Terjerumus dalam hal baik tak berarti semua jalan menjadi mulus dan baik. Nyatanya banyak duri siap menancap di kaki, eh hati..
.
Excited dan keterkejutan menghampiri ketika menyadari bahwa selama ini ilmu agama yang saya miliki tidak ada seujung kuku jari. Tidak mengherankan orang yang baru hijrah, biasanya kurang ‘lihai’ bila ingin menyampaikan sebuah kebenaran yang baru dia tahu. Tidak punya strategi, hingga sampai ke hati tiap orang dengan rasa perih bertalu-talu.
.
Apa pasal? Dalam masyarakat kita ada banyak kesalahan-kesalahan yang sudah mendarah daging sehingga terlalu biasa untuk dipikirkan bahwa hal-hal tersebut ternyata tidak sesuai dengan hukum Allah. Di sinilah urgent-nya menuntut ilmu agama. Karena tanpa itu kita bagai orang buta di dalam ruangan gelap dan pekat.


Demi memahamkan bahwa menutup aurat itu wajib, saya terkadang korban khimar dan jilbab untuk dibagi-bagi. Tentulah yang masih layak pakai. Tapi karena prolog-nya langsung nendang bukan dengan mengubah pemikirannya dahulu, tak jarang apa yang saya beri dioper ke orang lain atau jilbabnya dipotong jadi 2 (dua), dibuat atasan dan bawahan. Hayo loh..
.
Gimana rasanya? Patah hati iya. Bonus baper pula. Padahal yang kita berikan atau sampaikan bukan hal yang salah. Salah strategi aja. Sayangnya pula, itu bukan kali terakhir terjadi. Meskipun lama-lama saya belajar bahwa sia-sia saya merasa seperti itu, karena Allah melihat proses, bukan hasil. Jadi sebenarnya tak ada yang sia-sia bila itu untuk dakwah.
.
Tidak jarang, dalam suatu waktu kita akan melihat teman mengaji kita satu per satu akan mengundurkan diri dari kancah persilatan. Alasannya bisa macem-macem; karena guru ngaji yang ga asyik; ngaji terlalu menyita waktu; sibuk bekerja; bahkan hingga hujan pun akan menjadi alasan. Padahal Ibnu Qayyim Al Jauziyah ra berkata, “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal baik, pasti akan disibukkan dalam hal bathil.”
.
Mengkaji ilmu Islam adalah gerbang untuk hijrah, tanpa melakukan itu mustahil untuk istiqomah. Bahkan sekalipun telah mengkaji tidak menutup kemungkinan akan menjadi keder ketika ‘disentil’ oleh Sang Maha Kuasa. Sentilan itu bisa jadi adalah komentar orang lain atau sohib nongkrong yang tidak ingin dilepas, hingga merasa tidak lagi memiliki waktu untuk datang ke majelis ilmu.
.
Sejatinya kita mengkaji Islam itu untuk menyelamatkan diri sendiri, berdakwah pun untuk menyelamatkan diri sendiri. Supaya Allah melihat proses kita, bagaimana kita berjuang untuk agama-Nya.
.
Right??
.
.
Jember, 28 Jul 18
Helmiyatul Hidayati

Kisah yang Dimulai 3 Tahun Lalu

Ada banyak cerita atau kisah yang kita percayai kenyataannya namun perasaan kita tidak turut terhanyut. Semata karena kita tidak mengalaminya. Misal, cerita tentang mafia. Yes, mafia itu ada, tapi karena tidak terlibat, mengenal dan tidak banyak pengetahuan tentang mafia, maka sikap kita akan biasa saja. Beda rasanya kalau tiba-tiba kita diberi tahu sebuah kenyataan tersembunyi, pasangan kita membongkar identitasnya yang ternyata seorang mafia. Waduhh.. Oke ini analogi saja, jangan dipikirkan apalagi dimasukin kantong. Bukan duit! #Eh

.
Di dalam hidup saya, poligami memiliki posisi yang sama dengan “mafia” di atas. Saya tahu poligami itu apa, dan siapa kerabat saya yang berpoligami, juga seburuk apa rumah tangga tersebut. Intinya, itu bukan rumah tangga yang akan saya pilih.
.
Suatu hari di siang yang cerah, sekitar 3 (tiga) tahun lalu. Entah bagaimana mulanya, saya terlibat sebuah pembicaraan serius dengan seorang rekan kerja. Tentang poligami. Saya ingat saat itu saya menceritakan sekilas tentang betapa buruknya rumah tangga poligami beberapa orang yang saya kenal.
.
Rekan saya memberikan jawaban yang tidak di sangka. Kebanyakan para wanita akan mencak-mencak ngomongin topik satu ini. Tapi dia tenang dan kalem. Hingga usil saya pun bertanya, “Mbak, kalo suaminya mau poligami emang dibolehin?”
.
She said YES buddy! Oh, untunglah saya termasuk pandai menyembunyikan ekspresi wajah meskipun rasanya mata ingin melotot mendengar jawabannya. Akhirnya saya sukses mengernyitkan sebelah alis saja.
.
“Kenapa?” tanya saya waktu itu. Dia menjawab dengan baik, karena suami bukanlah milik istri tapi milik Allah.
.
“Hmm.. Kayanya saya ga nyampe deh mikir ke situ.” Itu komentar akhir saya. Setelah itu kami tidak membicarakan tentang poligami lagi.
.
Tapi rupanya saya masih gemas dan tidak tahan. Akhirnya “mengadulah” saya pada seorang sahabat lain. Sebut saja namanya Belia, atau akrab disapa Lia. Saya ceritakan padanya, bahwa saya bertemu dengan istri yang mau dipoligami.
.
“Lah kamu kan sekarang temenannya sama yang kerudungnya lebar, kaya gitu kayanya wes biasa deh.” Begitu komentarnya.
“Makanya jangan lama-lama di situ, nanti ada suami orang naksir kamu.” Cerocosnya lagi.
.
“Eh, maksudnya kamu doain aku jadi istri kedua gitu?”
.
“Ya enggaklah! Bla bla bla..” komentar selanjutnya dari Lia ternyata tak semanis gula, apalagi semanis madu. Seperti kebanyakan wanita, dia adalah salah satu yang tidak mau dipoligami. Tapi membuat saya jadi ingin menggodanya.
.
“Etapi kalo istrinya baik dan ikhlas kaya temenku barusan, boleh aja kali ya jadi istri kedua.” Kataku sambil cekikikan yang dibalas dengan ceramah lebih panjang dari Lia. Akhirnya itupun menjadi pembicaraan terakhir kami tentang poligami.
.
Sekitar 3 (tiga) tahun pun berlalu, saya dan Lia menjalani hidup kami masing-masing. Alhamdulillah, saya bertemu dengan momen ‘hijrah’ lebih dulu. Kegagalan pernikahan pertama membuat saya benar-benar menikmati masa sendiri dengan baik. Rencana-rencana tersusun rapi : selama 4 (empat) tahun saya akan mengulang kuliah, sampai itu selesai saya tidak ingin memikirkan tentang rumah tangga baru; sampai anak saya selesai SD (Sekolah Dasar) paling tidak saya akan tetap di Jember, tapi bila dia telah masanya SMP, saya ingin dia ke boarding school di luar kota dan saya akan berusaha untuk mengikutinya.
.
Rencana yang terlihat sempurna bukan?
.
Rencana saya berubah karena sebelum lulus kuliah pun saya telah mengirimkan sebuah undangan pada Lia. Undangan pernikahan.
.
“Eh tunggu, undanganmu aneh deh! Kok ada nama cewek lain. Itu siapa?” tanya Lia waktu itu.
.
“Istri pertama calon suamiku.” Jawabku santai.
.
Kalau pada waktu itu kami bertatapan muka, mungkin matanya akan melotot, untung komunikasi kami hanya lewat chatting. Kami memang tinggal 1 (satu) kota, tapi dia nun jauh di pelosok sana, sehingga kami jarang bertemu lagi.
.
Percakapan kami tiga tahun lalu yang telah terlupakan tiba-tiba menyeruak kembali. Tapi kali ini tak ada komentar pedas lagi dari Lia. Dia bilang, saya telah berubah, jadi yang terjadi pastilah yang terbaik. (Aamiin)
.
 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(QS. Al Baqarah: 216).
.
.
Jember, 11 Juli 18

Helmiyatul Hidayati

Anak adalah Mesin Perekam. Sudahkah Kita Mengawasi?


Beberapa hari yang lalu, saat lelah mendekap di sore hari, ingin rasanya merebahkan tubuh di atas tumpukan bahan empuk yang disebut kasur. Apalagi dapet rejeki, anak semata wayang bermain di luar rumah bersama teman-teman barunya. Anak tetangga.

.
Namun tak sampai 1 (satu) jam, anak lanang tiba-tiba datang sambil menangis meraung-raung. “Gunting.. gunting.. aku mau gunting..” begitu katanya. Teranglah naluri ke-emak-an saya menyala, seperti alarm kebakaran yang baru saja mengendus asap kebakaran.
.
Oh tidak, bukan berarti saya melarang anak saya berdekatan dengan gunting. Gunting baginya adalah salah satu mainan, digunakan untuk menggunting kertas lipat. Tentunya dia bisa saya percaya dengan alat satu itu setelah melalui serangkaian tes dan pengawasan. #Eyaaa
.
Namun kali itu, saya tak yakin, gunting itu akan digunakan untuk bermain. Bicaranya tidak jelas ketika ia menangis. Karena ia termasuk anak dengan gharizah baqo’ (naluri mempertahankan diri) yang tinggi, maka sesuai tips para bunda kece yang saya kenal, menghadapinya harus dengan memberikan nau’ (kasih sayang) yang tinggi pula.
.
Setelah dia dibujuk-bujuk, dirayu, dipeluk dan dicium, akhirnya pria kecil saya pun berbicara, bahwa teman-teman barunya mengatakan hal-hal yang membuat dia takut. Dia bilang, bahwa teman-teman itu akan memotong-motongnya (membunuh) sehingga ia ingin mempertahankan diri dengan gunting.
.
“Astaghfirullah, kasihan mereka kak, mungkin mereka ga tahu kalo mereka mengatakan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah.” Kata saya mencoba menenangkan, tentu saja aslinya kata-kata saya lebih panjang nan lebar. Masih menjelaskan bahwa perbuatan seperti itu akan berat pertanggungjawabannya saat di akhirat, termasuk salah satu dosa besar yang tidak akan diampuni, persidangan di sana berat dsb. Entah dia mengerti atau tidak, karena ia tidak menggeleng, tidak juga mengangguk.
.
Pada akhirnya ia pun tidak keluar rumah lagi, kembali bermain dengan kertas lipat dan legonya. Sambil sesekali mengganggu saya yang sedang mengawasinya sambil tiduran. Haha


Ketika mendengar ceritanya ingin sekali saya mendatangi anak-anak itu, sayangnya mereka sudah tidak ada dan anak saya juga ga tahu mereka anak dari tetangga mana, karena kami termasuk baru di perumahan yang kami tempati. Akhirnya biarlah menguap di dalam hati saja.
.
Namun, hal inipun menjadi pemikiran saya, bukan karena ini terjadi pada anak saya. Tapi bagaimana kata-kata kasar seperti itu bisa keluar dari mulut anak-anak yang belum baligh. Darimana mereka mendapat maklumat seperti itu? apakah orang tua mereka tahu? Dsb.
.
‘Ah, itu kan hanya kata-kata bercanda, anak kecil ga tahu apa-apa.’
.
Ish, saya benci dengan pembelaan seperti ini. Jika setiap kesalahan disepelekan karena alasan ketidaktahuan, lalu dimanakah urgensi menuntut ilmu? Apa pentingnya pendidikan yang selalu digadang-gadang dan dikejar-kejar? Bahkan di dalam Islam menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban bagi individu.
.
Anak-anak belajar di rumah, bersama guru utamanya, orang tua terutama ibunya. Adalah salah bila menganggap pendidikan atau menuntut ilmu bagi anak dianggap telah dilakukan ketika seorang anak mulai masuk ke sebuah lembaga pendidikan (Mulai dari tingkat PAUD hingga universitas).
.
Supaya anak menjadi tahu maka dia harus belajar di madrasah pertamanya, dan untuk bisa menjadi pendidik bagi anak, madrasah tersebut harus menuntut ilmu dan mengkaji. Di sinilah letak urgensi menuntut ilmu. Bila madrasah berjalan dengan baik, maka seharusnya anak-anak sudah tahu mana perkataan yang baik dan mana yang menyakiti.
.
Anak-anak mudah belajar, layaknya mesin perekam yang tak pernah OFF. Terkadang mereka bisa menghafal hanya karena mendengar, bagus ingatannya akan janji manis orang dewasa. Karena itu penting sekali bagi orang tua yang merawatnya untuk memperhatikan apa yang anak kita dengar dan  dilihat oleh mereka.


Kata-kata yang meluncur dari teman-teman anak saya itu bisa jadi karena ia pernah mendapat maklumat (informasi) yang salah, yang dengan mudah bisa dilihat dan didengar dengan sangat mudah di zaman ini. Orang tuanya terpana akan kecanggihan teknologi, namun kemudian anaknya menjadi korban teknologi.
.
Sebuah hadits berbunyi, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
.
Sungguh perkara mengucapkan perkataan yang ahsan (baik) adalah perkara penting, apalagi kalau mengaku beriman. Hal ini perlu ditanamkan sejak kecil, jauh sebelum baligh.
.
Imam Syafi’i telah menjadi mufti dan berhak mengeluarkan fatwa ketika berumur 15 tahun. Jangan sampai anak-anak kita hanya bisa bermain tik tok dan berharap viral di usia itu. Betapa kemunduran itu nampak begitu nyata.
.
Maka, jangan remehkan tentang mengajarkan perkataan yang baik dan benar kepada anak kita. Standarnya harus jelas berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, supaya kelak tidak “mencla-mencle” ketika harus menghadapi berbagai warna kehidupan yang melukis dunia. Supaya ia bisa melukis dunia dengan keindahan Islam.
.
Kalau kata Batik Madrim,“Seorang ksatria itu tidak mencla-mencle, pagi merah, siang hijau, sore kuning.”
Duh jangan ya, kalau belum baligh saja kita tak bisa mengawasi, memperhatikan dan mendidik mengenai perkataan dan akhlak yang baik, membuatnya serampangan mengeluarkan kata-kata. Maka pilihan mereka di masa depan pun kemungkinan besar pasti lebih nyeleneh lagi. Jangan-jangan suka main sikat sama saudara sendiri hanya karena berbeda pandangan dan pilihan. Alamakk.. Apa kata dunia???
.
Jangan sampai stok calon pemimpin dunia berkurang karena lalainya kita memperhatikan apa saja yang direkam oleh anak-anak.
.
.
Jember, 05 Jul 18
Helmiyatul Hidayati

Poligami : Ikuti Sunnah Rasul Jangan Setengah-Setengah

Poligami masih jadi topik yang ‘bully-able’, tapi saya tergelitik saja, suatu ketika membaca sebuah artikel tentang poligami yang ditulis oleh seorang kawan blogger. Tak usahlah disebut siapa dia atau alamat web-nya. Saya membacanya dengan cermat dan beberapa kali agar ingat dan mendapat penegasan.

..
Fakta, memang dia sampaikan. Kita mengenal sosok Aa Gym, seorang ulama tersohor di negeri ini. Kemudian salah satu pengusaha yang usahanya cukup dikenal dimana-mana, pemilik resto ayam bakar wong solo. Atau Opick, penyanyi lagu tombo ati yang melegenda. Almost everybody know them!
..
Tapi, ‘rejeki’ mereka turun drastis begitu publik mengetahui mereka poligami alias menikah lagi. Pengajian AA Gym (katanya) sepi, salah satu usaha penginapan milik beliau pun kemudian menjadi tak seramai biasanya.
..
Yang terjadi pada pengusaha ayam bakar wong solo pun begitu, setelah ‘menggembar-gemborkan’ rumah tangga poligaminya, beberapa gerainya gulung tikar.
..
Opick?? Setelah istri pertama menggugat cerai, diragukan masa depan karirnya oleh sebagian netizen. Karena poligami dianggap ‘skandal’ yang menurunkan popularitas penyanyi lagu religi ini.
..
Itu bukan kata saya yess, itu yang saya baca di artikel tersebut. Saya tak terlalu mengikuti perkembangan mereka. Bukan pula orang dekat untuk tahu ‘perekonomian’ mereka.
..
Banyak orang yang mengambil pendapat bahwa hukum poligami itu sunnah, banyak juga yang berpendapat mubah. Terserah deh yang mana, yang menurut masing-masing adalah pendapat terkuat. Kalo saya pribadi lebih cenderung pada mubah.
..
Balik lagi ke topik, eh judul aja. Judul tersebut adalah judul dari artikel yang saya baca tsb. Judul itu memberikan pesan kepada kaum Adam, bahwa mereka bisa berpoligami bila istri pertama meninggal? Loh kok??
..
Ternyata dalilnya adalah kisah rumah tangga Rasulullah, dimana istri pertamanya adalah ibunda Siti Khadijah yang mulia. Setelah ibunda Khadijah meninggal dunia, barulah kemudian (setelah waktu yang lama) Rasulullah memulai rumah tangga poligami.
..
Padahal, dua rumah tangga yang Rasul jalani harusnya menjadi contoh bagi ummatnya, tidak mengapa memilih rumah tangga monogami, maka teladanilah rumah tangga Rasul ketika beristrikan ibunda Khadijah.


Tidak mengapa pula memilih rumah tangga poligami, maka teladanilah rumah tangga Rasul ketika beristrikan Siti Aisyah, Hafsah, Safiyyah, dll. Tentu saja batasan istri untuk suami hanya sampai 4 (empat) istri saja.
..
Tidak dipungkiri memang, kita sering dipertontonkan dengan kehancuran rumah tangga karena wanita idaman lain, atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan pelakor. Namun salah besar bila mengaitkan hal ini dengan poligami. Fenomena kehancuran rumah tangga karena adanya pelakor terdapat faktor pelanggaran pada syariat Allah SWT. Namun, poligami adalah kebalikannya. Tidak ada istilah pelakor di dalam Islam, karena seharusnya pria tidak bisa disetir oleh wanita.
..
Makna mencintai karena Allah pun adalah tidak rela bila pasangan atau orang yang kita sayangi terlibat dalam kemaksiatan atau terdekap dalam buaian setan. Mencintai karena Allah artinya mencintai dia selama ia taat pada-Nya.
..
Aduh, banyak sih yang harus dibahas atau ditulis kalau sudah membicarakan poligami. Tentang apa itu adil? Bolehkah suami menikah lagi tanpa izin istri pertama? Apakah ada syarat dalam berpoligami? Dsb dsb.
..
Tapi kali ini rasanya ingin membahas singkat tentang rezeki saja. Benarkah seorang suami yang berpoligami akan mengurangi ‘rezeki’ keluarga? Di zaman sistem kapitalistik seperti sekarang ini, memang benar rasanya kalau menghitung rezeki berdasarkan materi dan matematika manusia. Dengan pendapatan sekian dan dari sumber tertentu, bertambahnya anggota keluarga akan membuat pengeluaran lebih banyak. Otomatis hasil yang didapat pun lebih sedikit.
..
Supaya datanya valid, maka pertanyaan ini memang wajar dan pantas bila ditujukan kepada praktisi poligami, yang tak lain dan tak bukan adalah suami saya sendiri.
..
Untunglah jawaban beliau adem, “Yang jelas tambah istri, tambah rejeki.” #Eyaaa
..
Dulu, memang pernah terbersit pikiran, apakah dengan masuknya saya ke rumah tangga poligami dengan menjadi istri kedua, akan membuat suami bekerja lebih keras, apakah kakak madu saya akan tetap merasa sama tanpa perubahan karena harus berbagi dengan saudarinya.
..
Tapi matematika Allah SWT ternyata berbeda, setiap manusia telah diciptakan lengkap bersama rezekinya, Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya(QS. Huud: 6).

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)”
..
Suami yang takut pada Allah dan memilih berpoligami, maka ia harusnya telah memiliki pengukuran sendiri terhadap kemampuannya dan memiliki rencana-rencana untuk masa depan dunia hingga akhirat bagi keluarganya.
..
Dan rejeki memiliki cakupan yang luas, bukan hanya berdasarkan materi seperti anggapan kebanyakan manusia materialistik. Anak yang sholih-sholihah, istri yang shalihah, kesehatan dll juga merupakan rejeki dari Yang Maha Kuasa.
..
Orang lain mungkin melihat, AA Gym; Pengusaha Ayam Bakar Wong Solo (maaf lupa namanya); atau Opick kehilangan banyak hal karena pemberitaan rumah tangga poligami-nya. Tapi kita tak akan pernah tahu seberapa banyak rejeki lain yang diberikan oleh Allah dari jalan lainnya.
.
.
Jember, 27 Jun 18

Helmiyatul Hidayati

RADIKAL




Banyak orang keki dengar kata Radikal. Apa pasal? Karena kata itu sekarang identik dengan banyak hal berkonotasi negatif, gandengannya pada serem, seperti terorisme, kekerasan, bom dll. Dari yang tua hingga muda, dari yang pinter hingga yang ga tahu apa-apa, dan dari rakyat kecil hingga segelintir rakyat dengan jabatan tinggi tak kalah kebagian keki dan grogi dengan kata ini. Bahkan sampe ada yang bikin program-program DERADIKALISASI.

Ada apa dengan cinta? Eh salah, ada apa dengan radikal?


Sebenarnya, Radikal adalah kata yang memiliki sifat netral. So, awalnya dia bukan sesuatu yang jahat. Asal katanya adalah bahasa latin yang diambil dari kata radix yang berarti akar. Bagi yang pernah sekolah di Farmasi macam saya, pasti tak asing dengan istilah ini, di lab Farmakognosi ini adalah makanan sehari-hari: mengindentifikasi simpilisia semacam Catharanthi Radix (Akar Tapak Dara), Deridis Radix (Akar Tuba), Ipecacuanhae Radix (Akar Muntah), Valerianae Radix (Akar Valerian) dll.

Duh namanya bikin rindu masa SMA dan seperti merapal mantra yaa.. Meskipun saya sudah lupa semua pelajaran itu. Tapi intinya radix itu memiliki makna akar.

Kembali di masa sekarang, KBBI pun memberikan kurang lebih 3 (tiga) makna yang (menurut saya) sejalan dengan kata asalnya (Bahasa latin > akar) yaitu :

1.       Secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip)
2.       Amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan)
3.       Maju dalam berpikir dan bertindak.

Istilah radikal adalah segala sesuatu yang sifatnya (1) mendasar sampai ke akar-akarnya atau sampai kepada hal yang prinsip. Hal ini dapat juga diartikan sebagai  (3) sifat maju dalam hal pola pikir atau tindakan.

Jadi, kalau radikal kemudian ditempel dengan Islam, maka pengertiannya menjadi: orang Islam yang melaksanakan ajaran agamanya sesuai prinsip ajaran Islam secara menyeluruh (sampai ke akar-akarnya). Tidak hanya ikut-ikutan atau sekedar identitas di kartu pengenal (Islam KTP). Islam radikal juga berarti adalah orang-orang Islam yang memiliki kemajuan dalam berpikir dan melakukan tindakan.

Makna kedua, cocok dalam bidang politik. Dalam hal ini radikal diartikan sebagai sikap keras dalam menuntut perubahan, apakah itu perubahan dalam pemerintahan atau perubahan undang-undang. Jadi, politisi atau siapapun yang menentang suatu kebijakan pemerintah dan menolak dengan keras suatu kebijakan pemerintah, maka politisi itu bisa disebut Radikal. Tanpa memandang ia bawa-bawa Islam apa tidak.


Radikal dalam filsafat memiliki pengertian proses berpikir kompleks sampai ke akar-akarnya, sampai ke esensi, hakikat atau subtansi yang dipikirkan. (Ali Mudhofir : 2001)

Radikal dalam sejarah memiliki pengertian kelompok yang langsung mencari ke akar masalah, mempertanyakan segalanya, mengamati masalah secara keseluruhan dan kemudian membalikkan semua hal demi mencapai peradaban dan keadilan yang lebih baik. (Muhidin M. Dahlan : 2000)

Radikal kini memiliki pesan negatif tidak lepas dari pengaruh media yang seringkali menggunakan kata radikal ketika memberitakan berita-berita kekerasan sehingga secara otomatis kita pun memaknai radikal secara negatif pula.

Padahal kata radikal bermakna negatif hanya dalam bidang kesehatan saja : radikal bebas. Pengertian radikal bebas adalah molekul dengan elektron tidak berpasangan. Dalam pencarian mereka untuk menemukan elektron lain, mereka sangat reaktif dan menyebabkan kerusakan pada molekul sekitarnya.


Asap rokok; polusi udara; radiasi UV; pestisida; obat-obatan; olahraga berlebihan; radiasi; autoksidasi; oksidasi enzimatik dan respiratory burst adalah contoh 10 radikal bebas berbahaya di sekitar kita.


Henry Kissinger, politisi senior US, mantan Asisten President AS untuk urusan Keamanan Nasional tahun 1969-1975, pada November 2004 di koran Hindustan Times pernah menuliskan, “What we call terrorism in the United States but which is really the uprising of Radical Islam against the Secular World on behalf of reestablishing a sort of Caliphate.” (Apa yang dinamakan terorisme di Amerika sebenarnya adalah kebangkitan Islam Radikal terhadap dunia sekuler dan demokratis atas pendirian kembali semacam kekhalifahan).

Jadi, istilah radikal menjadi kejam macam sekarang ini sebenarnya adalah bentuk kepanikan pihak tertentu. George W. Bush  pernah mengatakan dalam pidatonya, “Either with us, or with terrorist.”
Pernyataan maksa ini memberikan pengertian, yang tidak sejalan dengan Paman Sam, berarti dia teroris. Kan ga mikir banget! Haha

Celakanya, banyak orang, bahkan muslim pun termakan oleh narasi ini. Jadilah kita takut-takut sendiri pada istilah radikal. Ketakutan itu mulai menyasar berbagai lini, tak terkecuali di kampus, menyerang mahasiswa, pula dosen. Mahasiswa diawasi, dosen di-nonaktivasi. Sehingga pantaslah bila ada yang mengatakan, “Kalau yang dimaksud Radikal adalah semangat para mahasiswa untuk mengkaji Islam, mengamalkan Islam, dan memperjuangkan Islam. Maka berarti kita sedang mengkhawatirkan sesuatu hal yang POSITIF.”

Padahal radikal itu maksudnya ramah, terdidik dan berakal. Dan cowok radikalis romantis itu adalah cowok idaman yang manis. #Loh

Jember, 22 Jun 18
Helmiyatul Hidayati