SKY CASTLE : Ketika Orang Tua Korea Tidak Bisa Mengubah Sistem Pendidikan


Tahun 2018 kemarin, ada drama korea yang hits banget. Judulnya Sky Castle, awal dengar judulnya, aku pikir drama ini semacam Arthdal Chronicles yang ceritanya fantasi. Tapi ternyata Sky Castle di sini merujuk pada sebuah pemukiman elite di Korea.


Cerita berpusat pada 4 (empat) keluarga yang begitu terobsesi dengan pendidikan putra-putrinya. Beberapa dari mereka lahir dari keluarga professor, pengacara, dokter dari generasi ke generasi. Sehingga seperti menjadi “kewajiban” bagi sang anak untuk bisa mencapai profesi yang sama.

Sayangnya tantangan pendidikan di Korea tidak seindah drama korea yang seringkali melejit hingga ke mancanegara. Tak heran bila di sana sering dijumpai fakta mengenai pelajar yang bunuh diri, tersebab tekanan dan tuntutan prestasi tinggi hingga rasanya tak masuk akal, baik dari sistem maupun dari orang tuanya. Tentu saja ini kemudian diperparah karena tak semua memiliki “keimanan” seperti dalam keimanan Islam.

Kapitalisme menemukan banyak celah untuk hidup di dalam negeri ginseng ini. Salah satu hal yang digambarkan dalam drama SKY CASTLE ini adalah bagaimana obsesi bisa menjadi objek industri.


SINOPSIS

**
Han Seo Jin berusaha keras agar putrinya, Kang Yeh Suh masuk fakultas kedokteran UNS (Universitas Negeri Seoul). Ia melakukan banyak cara untuk membujuk seorang tetangga yang berhasil “membimbing” putranya masuk ke sana. Hal inilah yang mengantarkan ia bertemu dengan seorang tutor (semacam guru les) bernama Ny. Kim.

Ny. Kim tampak profesional, genius dan bertekad membuat Kang Yeh Suh diterima di fakultas kedokteran UNS, dan ia dibayar ribuan dollar untuk itu.

Kang Yeh Suh pun mulai menampakkan prestasi yang semakin baik, ia mulai mengalahkan pesaingnya di sekolah, Kim Hye Na. Bersamaan dengan ini masalah pun bermunculan, yang membuat Han Seo Jin maju-mundur mempertahankan Ny. Kim.

**
Sementara itu di keluarga lain, No Seung He harus ‘melindungi’ kedua putra kembarnya dari obsesi suaminya yang ingin mereka belajar keras hampir setiap waktu dengan cara yang tidak menyenangkan.

Ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa anak tertua mereka, Cha Se Ri menipu mereka. Putri mereka itu yang mereka anggap telah menjadi mahasiswa Harvard ternyata tidak pernah datang ke sana untuk kuliah. Ia bahkan menghabiskan semua uang kuliah yang dikirim ayahnya untuk pergi ke club.

**
Jin Jin Hee kepayahan setengah mati menghadapi anak semata wayangnya, Woo So Han yang kurang antusias dalam belajar, sama seperti Kang Ye Bin, adik Kang Yeh Suh. Ia (awalnya) mengekor pada Han Seo Jin karena menganguminya sebelum ia menemukan fakta bahwa Han Seo Jin selama ini menyembunyikan identitasnya yang ternyata berasal dari keluarga miskin.

**
Lee So Im adalah satu-satunya ibu normal di antara mereka, yang tidak terobsesi dengan prestasi Hwang Woo Joo (anaknya juga emang udah genius, jadi ga perlu ikut les dengan Ny. Kim dia udah pinter. Hehe). Ia juga kurang setuju dengan pendidikan privat yang kebanyakan “dikejar-kejar” oleh ibu-ibu yang lainnya. Lee So Im membebaskan putranya untuk mengikuti kelas (tambahan) yang dia suka.

**
Satu persatu fakta yang melingkupi mereka saling terkait dan menjadi konflik. Kim Myung Joo, tetangga yang berhasil membimbing anaknya, Park Young Jae masuk ke Fakultas Kedokteran UNS tiba-tiba ditemukan mati bunuh diri, sementara putranya menghilang entah kemana, dan Park Soo Chang mengundurkan diri dari jabatan tinggi di rumah sakit kemudian mengasingkan diri. Ternyata tragedi keluarga ini berkaitan dengan Ny. Kim.

Lee So Im sendiri, ternyata adalah teman SMA Han Seo Jin, dialah yang mengungkap identitas asli Han Seo Jin yang merupakan anak penjual –seperti- darah beku di pasar. Padahal selama ini Han Seo Jin mengaku kepada semua orang bahwa dia putri chaebol dan memiliki kakak seorang direktur bank dunia, orang tuanya menghabiskan masa tua di Australia. Fakta yang selama ini hanya diketahui oleh suami dan mertuanya itupun akhirnya menyebar ke seluruh Sky Castle, bahkan membuat Kang Yeh Suh Shock.

Kim Hye Na yang merupakan “musuh” Kang Yeh Suh ternyata adalah anak kandung ayahnya dari kekasihnya di masa lalu. Dia masuk ke rumah Kang Joon Sang dengan tujuan mendapatkan cinta ayahnya setelah ibunya meninggal karena sakit. Namun kemudian ia tewas dibunuh.

Kematian Kim Hye Na, membuat Hwang Woo Joo menjadi tersangka. Lee So Im berusaha keras membebaskan anaknya hingga sebuah fakta baru kemudian terungkap, bahwa Ny. Kim selama ini membuat Kang Yeh Suh “pintar” dengan cara curang, yakni selalu memberikan Kang Yeh Suh tes dengan soal-soal ujian yang dicuri. Kim Hye Na – lah yang bisa mengendus skandal ini yang berujung pada kematiannya.

Han Seo Jin menjadi kunci dalam membersihkan nama Hwang Woo Joo, namun dengan resiko putrinya dikeluarkan dari sekolah (karena berarti mengakui bahwa Kang Yeh Suh selama ini mengerjakan tes dengan ujian yang dicuri).

Sebagai endingnya, No Seung He berhasil mengalahkan suaminya dalam menentukan “cara belajar” bagi anak kembarnya. Dan akhirnya semua menerima kenyataan bahwa Cha Se Ri ingin menjadi pengusaha yang memiliki dan mengelola Club Malam (duh kok milihnya usaha beginian yakk..). Anak-anaknya belajar bersama Kang Yeh Suh yang telah dikeluarkan dari sekolah.

Jin Jin Hee akhirnya bisa “nyantai” menghadapi kemalasan Woo So Han dalam menghadiri kelas tambahan. Pandangannya berubah, dia hanya ingin anaknya hidup bahagia dan sehat tanpa tekanan.

Sementara Hwang Woo Joo, karena merasa kehilangan Kim Hye Na memutuskan untuk keluar dari sekolah dan menjelajahi dunia (enak bener hidupmu nakk..)

SISI LAIN

Tingkat kompetisi dalam dunia pendidikan Korea adalah hal biasa. Di sana merupakan pemandangan biasa bila anak sekolah masih belum pulang ke rumahnya ketika malam tiba karena masih harus mengikuti kelas tambahan ini dan itu. Tak ayal, angka bunuh diri pada umur remaja di negara ini tinggi, bahkan berita bunuh diri merupakan hal yang biasa di sana. Mirisnya lagi, data menunjukkan bahwa anak SD di sana pun tidak luput dari bunuh diri.

Sistem pendidikan sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) yang banyak “dianut” oleh berbagai negara (eh semua negara di dunia kali ya, termasuk Indonesia) kebanyakan selalu berakhir tragis. Moral remaja semakin ambruk dan tak punya jati diri. Selain membuat orang tua dan anak tertekan menghadapinya.

Khususnya di Indonesia, liberalisasi pendidikan “menimbulkan” kurikulum kaku (terpaku dengan pendidikan yang  menghasilkan individu yang hanya mampu menguasai satu bidang saja) dan tenaga pendidik yang tidak kompeten, sehingga terbentuk pendidikan yang hanya terpusat di sekolah dan tercipta dikotomi antara ilmu pengetahuan (sains) dengan agama. Padahal seharusnya di dalam sistem pendidikan Islam, agama harus masuk dalam setiap aspek pendidikan, baik guru, operasi pendidikan dan kurikulumnya.

Berbeda dengan pendidikan sekuler yang hanya membentuk manusia siap kerja (hanya menonjolkan aspek pengembangan intelektualnya saja –parsial-). Pendidikan Islam bekonsep integral (kully). Hal ini bertujuan untuk membentuk dan mewujudkan individu yang mengenal dirinya sebagai Abdullah dan Khalifah yang tujuan hidupnya adalah beribadah kepada Allah seperti yang telah difirmankan dalam QS. Adz-Dzariyat: 56 (hidayatullah.com).

Output dari sistem pendidikan Islam seharusnya adalah kelahiran para intelektual-intelektual muda yang selain menguasai ilmu pengetahuan juga membuatnya semakin taat kepada Allah SWT. Karena itu adalah hal yang biasa bila dahulu –pada masa kejayaan Islam- dokter, pakar matematika, ahli kimia juga merupakan ulama yang paham ilmu fiqh, tafsir Al-Qur’an dll.

Indonesia, dengan pendidikan karakternya sekarang memang masih mempertahankan pelajaran agama namun tidak terintegrasi dengan seluruh sistem pendidikan (akibat sekuler tadi) dan bisa kita lihat hasilnya adalah generasi yang tidak karu-karuan. Tentu saja keadaan ini akan semakin parah bila mata pelajaran agama dihapus, seperti wacana yang belum lama ini muncul. Maka, hanya sistem pendidikan Islam yang bisa menjawab tantangan pendidikan masa kini, baik di Indonesia maupun dunia.

Wallahu a’lam..


Patah Hati Gara-gara Rujak



Ada orang yang kalo badmood a.k.a stress malah suka makan. Tapi ada juga yang malah ga bisa makan.


Saya tipe yang kedua. Ga bisa makan kalo lagi badmood. Kecuali ama makanan satu ini : rujak 😋. Dia selalu punya cara menawan rasa, lalu menautkannya pada hati yang luka. #Eh

Tapi gara2 rujak juga bisa jadi malah tambah patah hati. Ternyata tak cuma hati yg sensitif tapi perut juga bisa sensitif. Saya suka mules kalo makan pedas berlebih. Termasuk makan rujak. Jadi, kalo beli rujak biasanya ga pake cabe atau cabe 1-2 biji. Pedas seperti itu bisalah ditolerir oleh lidah 😁

Tapi terkadang meskipun kita pesan rujak tidak pedas sekalipun, rujak yang datang ke hadapan kita bisa jadi pedas. Apalagi kalo menu rujak mereka pake level2-an. Faktor perbedaan jenis cabe juga bisa menjadi biangnya. Misal warung A pake cabe setan dengan rating scoville (semacang rangking kepedasan) sampe 1jt dibanding warung B yang pake cabe rawit yang hanya punya rating scoville 30K-50K. Meskipun sama2 level 1, beli rujak di warung A akan terasa lebih pedas daripada di warung B🤣🤣

Ini pernah terjadi di suatu malam yang kelam. Tengah malam yang dingin ketika saya galau karena anak tak tidur di rumah. Perut keroncongan tak bisa dibendung, padahal makan nasi tak bisa dilakukan, akhirnya pesan rujak pake delivery order alias go-food.

Udah deal dengan warung dan pak go-food nya bahwa rujak yg saya mau level 1, kalo perlu ga pake cabe. Tapi air mata sampai meleleh begitu rujak itu dimakan. Lidah terbakar, perut sensitif pun terpapar 🤭🤭

Ah, kenapa ini bisa terjadi??

Setelah merenungkan dan menganalisa antara masa lalu, masa kini dan kemungkinan masa depan. Saya jadi ingat perkataan seseorang yang saya tidak ingat siapa dia. Bahwa tukang rujak hanya mencuci cobek dan ulekannya sekali sehari. Yakni, setelah tugas negara selesai terlaksana.

Sepanjang hari yang sibuk, tukang rujak melayani pelanggan yang silih datang berganti tanpa lelah dan menyerah. Iya lah, demi sesuap nasi dan sebongkah berlian #ApaSih 😆

Selama kurun waktu itu, cobek dan ulekan adalah senjata mutakhir tak terkalahkan. Ia membantu sang empu melayani pelanggan dengan aneka selera level kepedasannya. Setiap cabe yang diulek di sana, meskipun sedikit akan meninggalkan “bekas” pedas. Seperti dirimu yang selalu membekas di hatiku.. #Apalah

Mungkin karena saya memesan di jam kritis, “bekas-bekas” yang terkumpul pun bisa bikin meringis. Tentu saja ini bukan sepenuhnya salah tukang rujak, karena sebagai pengusaha pasti ia memikirkan untung dan rugi baik dari segi cost money maupun potential cost money-nya dengan jumpalitan.

Alhasil, wajar saja bila cobek dan ulekan tidak dilakukan “pencucian” per ganti pelanggan. Selain karena kebersihan bisa dijaga (karena yang menyentuh cobek hanya bahan rujak, sendok dan palet), pun mencuci terlalu sering bisa masuk kategori kegiatan kurang efisien. Hehe

Bagaimanapun ini menandakan bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini. Tersebab keterbatasan. Bisa saja tukang rujak menyediakan 2 buah perangkat cobek dan ulekan –selain solusi mencuci tadi-. Untuk ulekan pedas dan non-pedas. Tapi itu tergantung kemampuan dan kemauan perusahaan (warung).

 Manusia pun dikelilingi oleh keterbatasan. Keterbatasan ilmu, cinta hingga umur. Oleh karena itu ia memiliki bekas-bekas (dosa), yang bila terkumpul terlalu banyak akan bikin meringis di akhirat. Bukan hanya air mata saja yang meleleh, kelak tubuh pun akan melepuh juga.

Tidak seperti cobek rujak, manusia (sangat) butuh dicuci dan dijaga. Dengan begitu bekas-bekas itu tak membayang dan tak membuat meringis. Dengan memperkuat iman dan menyiramnya dengan ilmu.

Tetapi menyucikan dan menjaga diri dari kemaksiatan di zaman sekarang butuh usaha yang jumpalitan. Karena kita dikelilingi oleh budaya-budaya sekuler yang bikin blenger. Sistem yang terlahir (kapitalisme dan demokrasi) dari budaya ini pun bikin manusia teler.

Bekas-bekas itu harus dibersihkan. Sistem rusak harus diperbarui, pada yang menjamin terjaganya fitrah manusia, yang berasal dari-Nya : sistem kehidupan Islam.

Pelangi Memang Indah, Tapi Ia Hanya Sesaat



Temans, hari ini bagimu tanggal berapa??

Tepat Sabtu 8 Juni 19 ini bagi saya adalah hari ke-5 di bulan Syawal dalam kalender Islam. Yups, saya sudah berhari raya Selasa 04 Juni kemarin. Bagi yang berhari raya Idul Fitri keesokan harinya, maka hari ini masih tanggal 4 Syawal.

Bukan pertama kalinya pristiwa seperti ini terjadi (perbedaan tanggal hari raya), bahkan ini juga menjadi perbincangan hangat layaknya tiket pesawat yang melambung bak roket. Tapi itu membuat saya bersyukur suami saya kerja dan dakwahnya di luar negeri, tiket pesawat tidak ada perubahan. Setidaknya jauh lebih murah dari penerbangan domestik yang per tiket bisa sampai lebih dari 21 jeti. He he he..

Sekilas terlihat sepele dan tak ada masalah. Apalagi kalo ada yang bilang ‘perbedaan itu indah seperti warna pelangi.’ Namun terkadang kita lupa, bahwa pelangi hanya muncul sesaat sebelum ia menghilang. Ditambah lagi dengan banyaknya dalil yang dikeluarkan. Merasa hujahnya paling kuat, atau malah merasa yang paling taat pada ulil amri, merasa paling Indonesia.

Pada Selasa pagi, tulisan saya tentang idul fitri sudah bergerilya di grup WA, wajar dong kan udah hari raya. Tapi ada juga nih yang komen, “Kalo saya taat pemerintah mbak, jadi hari rayanya baru besok.”

Eh, seakan-akan saya pemberontak apa, padahal saya juga salah satu penyumbang pajak dan aktif tipis-tipis memuhasabahi penguasa.

Coba bayangkan bila perbedaan ini terletak dalam sebuah keluarga. Suami sudah membatalkan puasa pada hari Selasa, sementara istri masih berpuasa. Keesokan harinya ketika suami puasa Syawal, istri haram berpuasa. Dengan dalih saling menghargai pilihan masing-masing, memang terlihat tak ada masalah.

Tapi bukankah lebih baik bila suami dan istri sama-sama berangkat Shalat Ied ke masjid, makan bersama di hari raya yang sama dll. Iya kan??

Kebanyakan orang terjebak pada 2 (dua) pilihan yang sebenarnya tidak pas. Saya pernah menuliskan ini dalam bentuk analogi. Misalkan ada seorang gadis yang dilamar oleh 2 (dua) orang pemuda, pemuda pertama memiliki jabatan mentereng tapi koruptor, pemuda kedua mengandalkan hidup dengan kekuatan alias preman kasar. Manakah yang lebih di pilih??

Kebanyakan orang mungkin akan berpikir akan mengambil yang paling sedikit mudharatnya, misal si Preman, kali aja karena Cinta suatu saat nanti dia akan berubah.

Padahal selalu ada pilihan ketiga, yaitu pria yang baik akhlak dan agamanya, sesuai dengan tuntunan Allah dalam memilih pendamping hidup. Tapi kalo ga nemu cowok begini gimana? Masa iya ga nikah-nikah, padahal jomblo itu kegentingan yang memaksa. Haha

Bila sampai pada posisi ini, maka pentinglah untuk piknik lebih jauh dan ngopi lebih kentel. Pria yang baik akhlak dan agamanya tidak bisa dicari di tempat yang buruk, juga tidak akan memilih pendamping hidup yang buruk. Semuanya (SISTEM) harus dirubah, baik tempat pencarian maupun pribadi yang menginginkan si shalih/shalihah sebagai pasangan halal, sampai di akhirat pun kekal.

Sama dengan menanggapi banyak perbedaan. Termasuk perbedaan penetepan hari raya. Setiap negara jadi berbeda salah satunya karena mengambil metode rukyat hilal yang berbeda-beda. Menandakan bahwa TERITORIAL itu adalah akar masalahnya. Teritorial inilah yang kita sebut sekat nasionalisme.

Padahal, umat Islam itu harusnya satu, sama seperti bulan yang juga hanya satu dan mathla’ yang juga cuma satu. Kamu juga cuma satu di hatiku. #Eh

Solusi yang bisa diambil dalam keadaan ini adalah membuat kesepakatan bersama untuk mengambil metode yang sama. Tapi mungkin ini sulit, karena sudah tersekat-sekat nasionalisme itu tadi.

Solusi lainnya adalah dengan adanya satu Khalifah di tengah-tengah ummat. Tidak hanya akan menghapus perbedaan awal dan akhir Ramadan, namun juga mempersatukan ummat Islam seluruh dunia, tidak ada batas nasionalisme dan perpecahan karena masalah mazhab atau furu’ (cabang).

Semoga tahun ini adalah tahun terakhir tanpa adanya Khalifah yaa.. Bukan hanya agar bisa hari raya bersama, tapi juga agar saudara-saudara kita yang tidak bisa berhari raya karena konflik juga merasakan manisnya hari kemenangan.

Happy Ramadan. Mohon maaf lahir dan batin..






Teman itu Ngajak Bener Bareng, Bukan Gila Bareng


Kelas Blogging Khusus Perempuan bersama kak Prita HW Minggu kemarin (19/05) sebenarnya adalah tentang berbagi. Bukan hanya ilmu seputar perbloggingan, namun juga berbagi inspirasi.


Berlalunya banyak waktu membuat kita masing-masing menyadari bahwa kita telah bertumbuh, meskipun juga banyak yang masih diam di tempat (dan itu mungkin saya). Haha

Lama tidak terlibat dengan kelas blog di dunia nyata, karena biasanya saya mengisi kelas blog di dunia maya bersama Revowriter. Selain bertemu dengan orang baru, masing-masing orang juga memiliki cerita yang luar biasa.

Benar kata seseorang, “Teman itu ngajak benar bareng, bukan gila bareng.” Berapa banyak teman yang kita miliki? Tapi tentu tak semuanya akan mengajak kita pada sesuatu yang benar, kebanyakannya diam, seperti prinsip kapitalisme zaman sekarang. Loe-loe, gue-gue. Ah, repot..

Bila ini tentang blog, kelas ini adalah permulaan tepat bagi pemula untuk memulai langkah pertama dengan benar. insyaAllah ga akan tersesat. Hehe.. Alhamdulillah juga ketika saya mencari Rozy Collection 2 yang merupakan lokasi tempat kelas berlangsung juga tidak tersesat. Alamatnya ada Jln Matrip 4/68A. Gampang kok nyarinya. Meskipun ketika sampai di sana, saya yang membawa jagoan kecil jadi salfok. Yup, jagoan kecilnya jadi belanja baju lebaran di sini. Alhamdulillah (lagi) hal ini membuat saya terhindar dari keramaian mall yang suka bikin pusing kepala.


Kelas ini memang khusus pemula, dan mengingatkan saya ketika ikut kelas blog untuk pertama kalinya. Tentang “WHY” memilih blog?? Dan rasanya mulai tertampar karena hampir setengah tahun ini “kurang merawat” blog ini. Ga usah tanya alasannya, intinya males. Hihi

Padahal kalau dipikir-pikir banyak hal sudah di dapat dari blog. Memang bukan materi, tapi paling tidak menulis di blog seringkali (dahulu) menenangkan saya dari kemelut sulitnya menata hati dan menata hidup. Dan tetap saya usahakan menjadi wasilah dakwah. Tahu kan? Kehidupan zaman sekarang masih amat sangat edan dan beringasan. Mudah-mudahan ini menjadi kontribusi, meskipun amat kecil bagi kehidupan ini, untuk kebangkitan Islam kembali.

Seringkali memang kita kehilangan semangat menggebu yang muncul di awal ketika kita memulai sesuatu, seiring berjalannya waktu, semangat itu timbul tenggelam seperti lilin yang mulai meleleh. Saat-saat seperti ini kita perlu teman untuk mengajak kita kembali menemukan semangat itu, dan semangat untuk “benar” bersama tentunya. Banyak-banyak terlibat dalam kegiatan blog begini membuat saya sedikit-banyak mendapat semangat dan saudari baru.


Jadi, benar adanya bila kita dekat dengan penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberi kita minyak wangi, atau kita bisa membeli minyak wangi darinya. Bila tidak keduanya, maka paling tidak dapat bau harum darinya.

Mau semangat blog kembali, sering-seringlah berinteraksi dengan blogger dan ikutan kelas blog untuk memperbarui ilmu. 

RAID : Memburu Pajak yang Hilang

Sumber Foto : Sacnilk


Sudah lama tidak menjamah film India. Sekalinya menjamah, dijodohkan dengan RAID nih. Film yang dibintangi oleh Ajay Devgan ini berlatar era tahun 80-an. Dan diangkat dari kisah nyata loh, yang termasuk peristiwa bersejarah di India. Sebuah penggerebakan penggelapan pajak terbesar di sana.


Sudah kebayang kan? Film ini jelas bukan soal romansa yang umumnya menjadi tema-tema film kebanyakan. Ini adalah perlawanan antara yang baik dan yang buruk. Tapi bukan juga drama action, pertarungan antara pemain antagonis dan protagonis berlangsung dengan cara bermain kata dan strategi.

Mr. Amay Patnaik yang merupakan tokoh sentral dalam film ini adalah seorang Komisaris di Kantor Pajak Penghasilan dan sudah dimutasi sebanyak 49 kali selama tujuh tahun terakhir. Ia memiliki kredibilitas sebagai pejabat yang bersih, jujur dan tidak kenal takut. Dalam kisah ini ia ditugaskan di kota LuckNow.

Mungkin divisi Amay Patnaik ini lebih seperti KPK kalau di Indonesia, tugasnya mencari penggelapan pajak yang menimbulkan kerugian pada negara. Eh, jadi ingat kasus Gayus Tambunan nih..

SINOPSIS

Tidak lama setelah sampai di kota LuckNow, Amay Patnaik mendapat surat kaleng yang memberikan bocoran informasi akurat mengenai penggelapan pajak sebesar 4,2 milyar rupee yang dilakukan oleh seorang senator sekaligus orang terpandang di kota tersebut, Rameshwar Singh alias Rajaji.

Adegan selanjutnya adalah berisi petualangan Amay Patnaik dalam menyelidiki kebenaran dari isi surat kaleng tersebut. Setelah dirasa mendapatkan bukti yang cukup, maka dia pun merencanakan sebuah penggerebekan.

Dari sini, mulailah Amay merancang strategi, seakan-akan tahu bahwa salah satu anak buahnya akan membocorkan penggerebekan, ia membagikan amplop pada masing-masing anak buahnya. Amplop itu hanya boleh dibuka atas perintah Amay, di tempat dan waktu tertentu.

Penggerebekan pun dilakukan di rumah Rameshwar Singh yang bak istana, bahkan disebutnya Gedung Putih (macam gedung pemerintahan ya). Adegan paling keren ada di rumah ini. Bagaimana seluruh harta yang berupa uang tunai, perhiasan, lantakan emas, barang antik dll sedemikian rupa disimpan. Ada yang ditanam di dalam tembok, di pilar penyangga rumah, di dalam tangga, di halaman, di ruang bawah tanah bakan lantakan emas ditemukan di langit-langit rumah. Kalau menurut saya, disinilah adegan “killing part”nya berada.

Rajaji berusaha menyelamatkan diri, ia berusaha melobi kesana-kemari hingga sampai ke Perdana Menteri, bahkan ia juga berusaha mencelakakan istri Amay Patnaik. Namun semua usahanya tidak berhasil, Amay Patnaik tidak berhenti “mengobrak-abrik” rumahnya. Hingga akhirnya ia mengerahkan warga untuk menyerang Amay di rumahnya sendiri, namun untunglah polisi yang dikirim oleh PM India datang tepat waktu.



SISI LAIN


Dialog paling ‘mendalam’ di film ini menurut saya ketika para saksi yang dipilih oleh Rajaji menandatangani sebuah dokumen (semacam pernyataan bahwa mereka memang melihat “harta haram” di rumah tsb) kemudian berkata, “Aku sudah menandatanganinya, tapi ini tidak ada gunanya. Ketika semua uang ini dikembalikan kepada pemerintah, pejabat lain akan menggelapkannya.”

Kemudian dijawab oleh Amay, “Pak, apakah jika murid anda bodoh dan nakal, anda akan berhenti mengajar?”

Pemberantasan pada korupsi, seperti kata Amay, memang harus dilakukan tanpa ada kata menyerah. Namun lebih efektif lagi bila sistem sebuah negara membuat praktek seperti ini kecil hingga tidak ada. Tentu tidak ada sistem buatan manusia yang bisa seperti ini. Hanya sistem Islam yang bisa. Karena standar dalam sistem Islam bukan lagi materi seperti sistem kapitalisme saat ini, namun standar halal-haram yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

RAID ini memberi tahu kita bahwa pajak itu adalah salah satu sumber penghasilan terbesar. Termasuk di negeri kita tercinta, pajak dan utang merupakan sumber pendapatan negara yang utama. Yah zaman sekarang, apa sih yang ga ada pajaknya, bahkan kita makan pun dipajak kan? Dimana nantinya uang hasil pajak digunakan untuk kesejahteraan rakyat, mengalir pada pembangunan infrastruktur, subsidi bahan bakar, kesehatan, pendidikan dll

Tapi, kalo mau dianalogikan, sebenarnya negara tak ubahnya individu. Tidak seharusnya mengandalkan pendapatan dari pajak, apalagi utang. Iya kali kita hidup malakin orang mulu, terus ama ngutang mulu. Ga enak banget kan..
Cari nafkah itu ya kerja.. kerja yang halal, supaya berkah dan barokah. Itu baru namanya HIDUP..

Di dalam Islam, pajak memiliki syarat yang ketat. Pertama, Pajak tidak bersifat kontinu, hanya dipungut bila kas negara kosong. Kedua, digunakan untuk pembiayaan yang merupakan kewajiban dan sebatas jumlah yang diperlukan, semisal untuk jihad, gaji ASN dll. Ketiga, hanya diambil dari kaum muslim, tidak non-muslim. Keempat, dipungut dari kaum muslim yang kaya. Kelima, dipungut sesuai jumlah pembiayaan yang diperlukan tidak boleh lebih (mtaufiknt).

Dengan kata lain, pajak diberlakukan bila negara dalam keadaan DARURAT. Hingga kas negara terisi kembali. Bagaimana bila kas negara selalu kosong atau defisit? Bisa jadi ada kesalahan dalam sistem perekonomiannya. Semisal, sumber pemasukan negara dari sektor sumber daya alam TIDAK ADA karena sektor tersebut diserahkan pada asing. Ya jelas kita ga akan dapat apa-apa..

Pajak yang ditarik di luar ketentuan-ketentuan tersebut, maka itu merupakan kezaliman atas rakyat dan tidak boleh dilakukan. sebagaimana dikatakan oleh adz-Dzahabi dalam al-Kabair, “Pemungut pajak adalah salah satu pendukung tindak kezhaliman, bahkan dia merupakan kezhaliman itu sendiri, karena dia mengambil sesuatu yang bukan haknya dan memberikan kepada orang yang tidak berhak.

Terlebih lagi di zaman sekarang, pajak diwajibkan oleh beberapa pemerintahan dan digunakan untuk kepentingan-kepentingan elit yang sebenarnya tidak perlu. Misalnya menjamu tamu dari kalangan para raja dan pemimpin negara lain dengan dana yang fantastis. Mendanai berbagai kegiatan atau ajang-ajang yang mengandung kemaksiatan semisal konser, pesta, festival dll.

Pajak seperti inilah yang oleh sebagian ulama disebut, “Pajak dipungut dari kalangan miskin dikembalikan ke kalangan elit.” Padahal menurut sabda Rasulullah SAW, seharusnya “Diambil dari kalangan elit dan dikembalikan kepada kalangan fakir.”

Wallahu a’lam

Ada Bagian Bumi yang Bukan Ciptaan Allah??

Eh iya dulu juga sempat berpikir begitu, kenapa sih situ2 (pengemban dakwah) pada suka tereak perubahan.

Perubahan extrim lagi : Semua aturan harus Syariah!! Bukan hanya ibadah yang harus sesuai syariah, politik dan ekonomi juga harus syariah. Bla bla bla

Padahal kita itu udah hidup di negara yang  dr zaman emak-bapak kita belum ketemu udah ada aturan sendiri.

Tapi guys.. sebenernya bukan mereka yg ingin merubah tatanan yang ada. Justru kita2 yang terlena dengan aturan jahiliyah inilah yang sebenernya sudah melakukan perubahan pada aturan dasar kehidupan, yaitu aturan dari Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Pengatur.

Sebelum manusia zaman now pada sibuk cari-cari cara untuk menyelesaikan masalah kehidupan. Dari zaman Baheula, Allah bukan hanya ngasih "kisi-kisi" jawaban atas segala problematika ummat. Ga tanggung-tanggung Allah langsung kasih contekan melalui para nabi dan rasul yang diutusnya.

Terkhusus utusan bernama Nabi Muhammad emang beda. Do'i bukan hanya diutus oleh Allah untuk kaum tertentu tapi untuk seluruh ummat manusia. 

Risalah yang dibawa ga spesifik, global men.. Segala sesuatu diatur dan ga ada expired di zaman apapun. Cocok buat semua golongan darah, eh golongan manusia dengan warna, bentuk, bahasa, ras, suku dan rasa apa saja. #Eh

Risalah Sang Rasulullah terakhir ini juga ga mengenal teritorial. Karena dasarnya memang bumi dan segala isinya adalah milik Allah. 

Mustahal manusia bisa mengatur dan membuat pengaturan kehidupan karena Sang Pencipta Manusia sendiri sudah mendesain manusia dengan akal yang lemah, terbatas dan tergantung pada yang lain. Untuk menyadarkan kita bahwa hanya Allah tempat bersandar segala sesuatu.

Tapi..

Masalah muncul ketika negara api menyerang. Perisai (khilafah) itu runtuh dan pemikiran sekuler menjadi racun yang menggeroti setiap muslim. Kini, bukan amannya iman yang dicari, tapi terkadang hanya tentang mencari amannya nyaman.

Salah satu efek sekulerisme (selain kapitalisme) ini adalah menganggap bahwa aturan Allah mengenal teritorial. 

Seakan-akan Allah hanya menciptakan Arab, tapi tidak menciptakan Indonesia. Seakan-akan Allah hanya menciptakan Adam, tapi tidak menciptakan Hawa. Seakan-akan Allah hanya menciptakan kamu, tapi tidak menciptakan aku. Padahal Allah tahu, kamu tak bisa hidup tanpaku.. #eyaaa..

Begitu pula Allah, selain menciptakan, juga mengatur. Manusia menjaga agar aturan itu tetap di jalur syariah. Jangan lengah. Nanti susah.

Nyatanya tidak ada satu wilayahpun yang muncul tanpa ada peran Allah sebagai Sang Maha Pencipta di sana. Termasuk wilayah kecil yang ada pada kita, hatiku dan hatimu. #ApaSih #Eyaaa 

*
**
***

Gimana kalau kita Bilang, kalau yang gak suka syariat Allah..
Silahkan Hengkang dari Bumi Allah.. 😏😏😏😏😏
.
.
Gimana gimana menurut temen-temen .😎😎.
.
.
Follow IG @pecelyes 
Follow IG @pecelyes 
Follow IG @pecelyes


Ramadan : Momen Menggapai Takwa Hakiki




Ramadan hampir tiba, begitu dekat di pelupuk mata, alias tinggal beberapa hari lagi. Tapi apa sih persiapan kita menyambut Ramadan? Jangan-jangan kita hanya akan menganggap momen ini akan berlalu begitu saja, hanya saja kali ini ditambah dengan kegiatan-kegiatan berbeda.

Yang biasanya sarapan dan makan siang, kali ini selama sebulan ditiadakan. Yang biasanya malam hari berleha-leha di rumah, (sesekali) ke masjid untuk tarawih. Yang biasanya tidak bangun di sepertiga malam, kali ini bangun untuk ‘sarapan’. Yang biasanya jam dinner tak tentu, kali ini selama sebulan teratur begitu adzan Maghrib dikumandangkan.

Banyak yang memahami bahwa puasa di bulan Ramadan itu wajib. Tapi sedikit yang memahami makna di balik perintah puasa Ramadan. Jangan salah, ketidakpahaman inilah yang banyak membuat kita ‘gagal paham’ betapa makna Ramadan lebih istimewa daripada si doi yang dinanti-nanti. #Eh

Sama, banyak pula yang mengetahui bahwa perintah puasa Ramadan disebutkan dalam QS. Al-Baqarah 183 yang artinya, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.”

Tapi, tidak banyak yang tahu apa arti makna takwa (hakiki) dalam ayat tersebut. Bagi yang ketemu saya hari Ahad tanggal 28 April di Cafe FoodGasm  dalam acara kopdar #2 Info Muslimah Jember kemarin, mungkin sudah tahu jawabannya, apa yang dimaksud dengan ketakwaan hakiki. Tapi buat yang ga datang ke sana, ya udah baca tulisan ini aja. Haha


Semua tahu bahwa arti takwa itu adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa perintah-Nya bukan hanya tentang sholat, zakat, haji dan ibadah mahdoh lainnya.

Dalam acara dimana saya sendiri sebagai MC-nya (uhuk.. uhuk..), pemateri pertama, ustazah Wardah Abeedah menyampaikan bahwa paling tidak ada 3 (aspek) dalam hidup manusia dimana Allah memberi pengaturan (berupa perintah-perintah) yang (seharusnya) dilaksanakan tanpa tapi dan tanpa nanti oleh manusia. Bahasa kerennya sami’na wa atho’na. Hehe

First, aspek yang mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Di sini nih ada pengaturan tentang ibadah mahdoh tadi. Ga bisa dong, kalo kita mau sholat sembarangan semisal bisa sholat tanpa wudhu dsb, udah pasti ibadahnya salah. Tata cara sholat harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Kalo salah bisa ga sah, tidak dilaksanakan sama aja bunuh diri dini.

Second, aspek yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Di sini ada pengaturan kenapa kita mesti punya akhlak yang baik, jadi akhwat yang manis, biar ga meringis menghadapi carut-marutnya dunia. Termasuk juga pengaturan tentang apa yang kita makan, dan apa yang kita pakai. Gitu yess..

Third, aspek yang mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain. Yah, namanya hidup ga bisa sendiri, kebayang gitu ga ada aturan yang mengatur manusia yang bejibun itu? yang ada kacau balau jadinya. Bukan aturan manusia yang seharusnya menjadi standar, karena manusia akalnya pun standar. Tapi pengaturan-Nya lah yang sempurna yang seharusnya diterapkan. Di aspek ini mengatur bagaimana seharusnya manusia bertransaksi (sistem ekonomi), berinteraksi (sistem pergaulan), edukasi (sistem pendidikan), bernegara (sistem pemerintahan), mengadili (sistem peradilan) de el el

Ga asyiknya tuh, aspek pertama dan kedua bisa aja kita lakukan, karena dalam jangkauan yang bisa kita usahakan sendiri. Etapi kalo aspek ketiga baru bisa terlaksana bila ada institusi negara yang mendukungnya. Dimana negara seperti ini runtuh pada tanggal 03 Maret 1924. Hiks..

Sampe sini, kebayang kan bagaimana susahnya kita mau bertakwa?? Mungkin ini yang sering orang bilang, masuk surga itu butuh usaha..

Nah, Ramadan itu sebenernya adalah sebaik-baik momen untuk mencapai takwa yang hakiki. Emang ga mudah, apalagi kalo jomblo (sendirian), berat.. kamu ga akan kuat. Makanya yuk berjamaah. Perlu peran keluarga dan juga negara. Hal ini disampaikan oleh ustazah Lailin Nadhifah pada sesi kedua.

Pemateri kedua yang kerap dipanggil mbak Nadz ini juga menyampaikan bahwa ujian berat yang suka bikin ga kuat itu justru pada pasca Ramadan. Bakal istiqomah ga ya? Bakal tetap dalam ketaatan ga ya?? Keluarga bakal makin samara ga ya??


Padahal selain bulan penuh berkah, dimana pahala amalan kebaikan dijadikan berlipat-lipat, dosa yang dibuat di bulan Ramadan juga akan dihitung berlipat-lipat. Ih, ngeri kan guys..

Dengan mengingat dosa berlipat-lipat yang tak sedikit itu, kemudian selalu alias senantiasa takwa, terus dan selamanya takwa, serta mengingat bahwa kehidupan dunia ini adalah fana. Maka di situlah akan diraih makna takwa yang hakiki.

Suatu negeri yang bertakwa pastilah akan menorehkan sejarah emas, bukan hanya kepada muslim, namun juga non-muslim. Mereka dibiarkan tetap dengan agamanya, keyakinan dan ibadah ritualnya, tempat ibadah mereka tidak dihancurkan. Syaratnya mereka menjadi ahlu dzimmah, tunduk kepada pemerintah dan hukum Islam serta membayar jizyah. Mereka dibiarkan beribadah, menikah, bercerai, makan, minum dan berpakaian sesuai dengan ajaran agama mereka.

Tuh kan..

Jadi, Ramadan kali ini siap meraih takwa hakiki dengan sepenuh hati? Jangan lupa tuntutlah ilmu (syar’i) untuk menyirami hati. Happy Ramadan..