Antara Pete dan Poligami



Tidak semua orang suka pete. Entah karena merasa baunya yang tak sedap, tidak bisa mengolah atau merasa rasa pete tidak pas di lidah. Bagi saya pete itu enak, asal jangan banyak-banyak, yang di kantong bisa demo sampe sesak. #Loh

Berbeda dengan yang suka pete, di tangannya bisa menjadi olahan bercita rasa tinggi seperti teri pete buatan mbak @merygunawan ini 😊. Dibuat dengan modal cinta kali yah, padahal doi katanya modal belajar masak otodidak dari youtube.. oke deh pokoknya..

Tapi bagi yang membenci pete tidak lantas menjadi pantas bila mengatakan pete itu haram. Ya udahlah santai aja cin, ga suka pete ga usah makan. Pilihan makanan lain yang bukan pete itu banyak banget, jengkol misalnya haha 😁

Meskipun juga bagi orang yang suka atau tidak memiliki masalah dengan makan pete, tidak lantas pula menjadi pantas hingga harus sesumbar tentang pete secara berlebihan. Apalagi kalo sampe lebih lebay dari kampanye capres dan cawapres. Apa-apa sampe di solusi dengan pete. Misal nih, sakit gigi disuruh makan pete, lagi diare disuruh makan pete, kalo dah parah bisa jadi punya utang riba disolusi dengan makan pete. Oopss 🤭

Pun begitu dengan poligami yang merupakan pilihan. Ada suami yang bisa dan mau berpoligami. Ada pula yang tak. Rumah tangga apapun memiliki biduk prahara yang pasti sama-sama bikin pusing. Baik poligami maupun monogami. Tidak bisa dikatakan poligami lebih baik daripada monogami, begitu pula sebaliknya. Rumah tangga yang baik ya rumah tangga yang di dalamnya terwujud ketaatan kepada Allah SWT.

Tetapi bagi yang TIDAK suka poligami, tidak bisa juga kemudian mengatakan bahwa poligami itu HARAM. Bisa jadi kalo ada yang begini, dia kebanyakan nonton iklan absurd PSI. Toh poligami itu juga pilihan. Rumah tangga monogami juga ada contohnya dari Rasulullah SAW.

Pun begitu dengan yang sudah praktisi, tidak lantas menjadi pantas kalo sampe lebay perkara rumah tangga poligaminya. Sampe apa-apa disolusi dengan poligami. LGBT merebak disolusi dengan poligami, Palestina menjerit disolusi dengan poligami dsb. Jangan-jangan kalau kuota habis disolusi dengan poligami. Kan wadaw kalo begitu..

Khilafah itu baru solusi yess.. 😊

Baik suami maupun istri juga sebaiknya jangan petantang-petenteng dalam bersikap dan berucap tentang poligami. Salah-salah bisa menjurus pada provokasi yang tidak baik, baik itu oleh yang kontra maupun yang sudah praktisi.

Sesuatu itu (seperti poligami misalnya) bila berhasil untuk seseorang, tidak berarti akan berhasil untuk semua orang. Begitu pula bila gagal untuk seseorang, tidak berarti akan gagal pula untuk semua orang.

Udah gitu aja..

Jember, 17 April 2019
Helmiyatul Hidayati


Selandia Baru dan ‘Efek Kupu-kupu’nya



Lebih dari seminggu lalu, umat Islam berduka, khususnya umat Islam di Selandia Baru. Memang sudah berlalu, tapi kisah ini tidak akan bisa dilupakan. Sejarah telah mencatatnya.

Di hari yang baik itu (Jumat), di tempat yang baik itu (masjid), iblis laknat dalam bentuk manusia menjadikan nyawa manusia tak ubahnya benda yang tak berharga. Pembunuhan tidak berperikemanusiaan itu bahkan ditayangkan secara “live” di media sosial. Lebih gila daripada orang gila yang tidak bisa disembuhkan!

Kita berduka, amarah membuncah. Namun di balik semua itu pastilah ada berkah.

Bila Edward Norton Lorenz memakai istilah “Efek Kupu-kupu” (Butterfly Effects) untuk merujuk pada sebuah pemikiran bahwa sebuah kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil, secara teori dapat menghasilkan badai Tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Hal ini maksudnya, perubahan kecil pada suatu tempat dalam suatu sistem (tak linear) dapat mengakibatkan perubahan besar di tempat lain (wikipedia).

Di Selandia Baru sendiri, agama Islam merupakan agama minoritas. Kebanyakan adalah para imigran di antara imigran lainnya.


Selandia Baru, karena panorama alam yang indah dan menakjubkan, selain menjadi pilihan tempat shooting berbagai film box office dunia, juga menjadi rumah multikultural bagi banyak orang termasuk bagi populasi muslim.

Ketika 50 (lima puluh) orang meninggal dengan tidak adil karena gagal pahamnya segelintir teroris akan Islam, karena Islamofobia yang menjangkiti mereka. Pada saat itulah efek kupu-kupu mulai berjalan. Perbedaanya, efek kupu-kupu kali ini bukan menghasilkan kekacauan. Dengan izin Allah, efek yang terjadi adalah semakin meluasnya cahaya Islam.

Tidak lama setelah Brentont Tarrant dan kroni membantai puluhan muslim di dua masjid Selandia Baru, ayat suci dibacakan di parlemen, pusat kekuasaan Selandia Baru, yang mungkin saja, ini adalah awal kekuasaan Islam.

Kumandang suara adzan, yang oleh ibu Sukmawati di Indonesia dianggap tak lebih indah dari kidung ibu, dikumandangkan dan disiarkan secara langsung oleh televisi nasional dan disiarkan ke seluruh dunia. Suatu hal yang tidak biasa terjadi sebelumnya. Bagaimana seruan yang menggetarkan jiwa itu dengan mudah masuk ke telinga-telinga manusia yang bahkan mungkin tidak mengerti apa maknanya.

Khutbah Jum’at dihadiri oleh ribuan muslim di Selandia Baru, layaknya shalat hari raya Idul Fitri. Penguasanya (PM Jacinda Ardern) hadir di kala itu dan membacakan hadits baginda Rasulullah SAW, “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]. Suatu hal yang mungkin tidak akan pernah dia lakukan seumur hidupnya, dan semoga Allah menunjukinya jalan Islam.


Seketika Selandia Baru juga ‘terserang’ demam mode baru, ketika wanita-wanita mereka berlomba-lomba memakai hijab. Siapa yang akan tahu solidaritas itu akan membawa siapapun di antara mereka tertunjuki pada jalan Islam.

Orang-orang kafir yang tak ada permusuhan dengan muslim atau yang bersih hati dan pikirannya berbondong-bondong datang ke masjid, berbela sungkawa atau menjadi ‘pelindung dadakan’ bagi tetangga muslimnya. Bunga bertebaran dari hati-hati yang tulus. Karena keindahan Islam begitu susah untuk dinafikkan.

Tidak hanya di Selandia Baru, efek samping dari teror ini menular hingga berbagai belahan dunia dalam waktu yang singkat.

Di Australia, seorang remaja tiba-tiba mendunia ketika melempar telur ke kepala Anning, senator rasis yang justru menyalahkan muslim sebagai penyebab terjadinya pembataian di Christchurch, Selandia Baru. Will Connolly menjadi ‘pahlawan muslim’ yang mendapat julukan “egg boy”

Mungkin kisah ini akan berlalu, tapi perubahan jelas saja sedang terjadi. Ada hati-hati yang tertunjuki pada jalan Islam. Ada yang kembali pulang pada Islam. Ada kaki-kaki yang mulai melangkah lagi ke masjid. Ada rasa-rasa penasaran pada Islam. Ada persatuan ummat (ukhuwah) yang sedang dimulai dari simpul yang lain.

Mungkin kisah ini akan berlalu, tapi benih-benih yang dihasilkan dari kisah ini akan terus tumbuh dan berkembang. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.”  (QS. 9:32).

Jember, 27 Mar 19
Helmiyatul Hidayati

Nb. Foto diambil di Masjid Ali - Australia



#Gemesda 
#GerakanMedsosUntukDakwah #DakwahTakMeluluCeramah
#Revowriter 
#WCWH6 
#MenyalaBersamaRevowriter 
#Blogger 
#BloggerIdeologis 
#StopIslamofobia



Dia yang Tak Bisa Diajak Kompromi


PEy2019Part7 #Day08
Dia yang Tak Bisa Diajak Kompromi
Oleh. Helmiyatul Hidayati


Dahulu kala. Entah berapa puluh tahun yang lalu. Saya pernah mengalami naik kereta api yang penuh sesak oleh penumpang. Suasana bising dan sampah berserakan. Pedagang asongan sibuk seliweran menawarkan dagangan 😮

Sekarang sudah jauh berbeda. Naik kereta api murah dan nyaman bisa dinikmati dengan santai kaya di pantai. Perjalanan 2,5 jam Jember-Rogojampi bisa disambi dengan internetan atau tidur lelap walau sebentar. Terlebih lagi, tiket hanya seharga 8.000 perak. Camilan yang dibawa jadi lebih mehong 😅

Yang tidak berubah adalah tak ada kompromi dengan jadwal. Begitu kereta sudah berangkat, tak ada yang bisa menghentikan keputusannya untuk pergi, #eh keberangkatannya.

Awal tahun lalu saya pernah mengalami ini. Ketika akan kembali ke Jember setelah liburan di PMI (Pondok Mertua Indah). Mungkin keterlambatan saya hanya kurang dari 1 menit. Saya sdh di depan ketika keretanya mulai bergerak pelan, tapi pintu telah ditutup. Dan kereta tak bisa dihentikan, juga tak akan menunggu kita.

Bapak mertua saya yang hebat dan baik seperti anaknya 😍🤭🤭 mencoba 'mengejarkan' kereta ke stasiun terdekat. Tapi kami tetap kalah berpacu dengan kendaraan besi bak ular tersebut.

Akhirnya saya memutuskan beli tiket untuk keberangkatan kereta selanjutnya. Kereta berbeda, dengan tarif berbeda, lebih mahal dari camilan yang dibawa 😊. Tapi mau bagaimana lagi, kereta yang meninggalkan saya tak bisa diajak kompromi.

Hal itu memberi saya pelajaran, betapa pentingnya untuk tidak melalaikan waktu. Supaya tidak ketinggalan kereta lagi. Untunglah kali ini yang ketinggalan itu adalah jadwal kereta. Masih bisa beli tiket baru agar tetap bisa sampai tujuan.

Tapi bagaimana bila itu jadwal kematian? Bisakah kita bilang pada malaikat Izrail agar ikut jadwal kematian selanjutnya saja??

"Oh, BIG NO!! Emang saya ini Goblin yang bisa diajak kompromi. Kamu kebanyakan nonton drama korea sih!"

Mungkin begitu kali ya jawaban sang Malaikat Pencabut Nyawa.

Yap, jadwal kematian berbeda ya bu ama jadwal kereta. Meskipun sama-sama tak bisa dikompromi, tapi ketingggalan jadwal kereta masih memiliki kesempatan untuk bertaubat, eh beli tiket baru.

Tapi kalo jadwal kematian kita sudah tiba. Bahkan bersembunyi di lubang semut pun, malaikat akan tetap menemukan kita.

Kalo jadwal kematian sudah tiba, bahkan jubah gaib Harry Potter pun tak akan bisa membantu kita menundanya. Hey, itu artinya Allah sudah menyuruh kita pulang! Bukan karena waktunya tidur (selamanya), tapi untuk mempertanggung jawabkan apa yang sudah kita lakukan selama (menunggu) di dunia. Berat mak!!

Lebih berat lagi bila yang kita lakukan selama (menunggu) jadwal kematian diisi dengan banyak kelalaian terhadap perintah-perintah Allah.

Diberikan kewajiban oleh Allah, malah sibuk dengan yang mubah-mubah, sampai yang wajib terlantarkan.

Diberi kekuasaan tidak untuk menegakkan hukum Allah. Amboi.. lalai benar..


Semoga aku dan kamu ga begitu yaa.. Aamiin.. 😊

Sejarah yang Hilang


#Refleksi3Maret1924
Sejarah yang Hilang
Oleh Helmiyatul Hidayati

Masih ingat momen 212 akhir tahun 2018 kemarin? Aksi super massa dan super damai itu senyap pemberitaan. Hanya TVOne saja kala itu, media nasional yang rasanya masih memiliki akal sehat. Hingga tak salah juga kalau Rocky Gerung menyebutkan bahwa sedang ada upaya penggelapan sejarah.

Berbicara soal penggelapan sejarah. 3 Maret 1924 mengingatkan kembali betapa banyak umat yang menjadi korban penggelapan sejarah.

Tidak percaya? Coba saja generasi X, Y, Z hingga generasi milenial periksa buku pelajaran sejarah masing-masing. Adakah ditulis tentang 3 Maret 1924?? Padahal kita membahas sangat banyak tentang Revolusi Industri.

3 Maret 1924 adalah hari naas hilangnya Khilafah. Namun akibat penggelapan sejarah, bahkan hingga detik ini masih banyak orang yang belum tahu apa itu Khilafah. Masih banyak pula yang menentang Khilafah. Padahal Khilafah itu ajaran Islam.

Penggelapan sejarah itu terjadi dengan pelabelan penuh manipulasi pada Khilafah. Stigma negatif melekat pada Khilafah, disebutlah ia sumber perpecahan, penyebab perang, intoleran, radikal, anarkis bla bla bla.

Belum cukup sampai di situ, bahkan umat atau sekelompok umat yang menyeru penegakan Khilafah seringkali mengalami diskriminasi-persekusi. Tanda betapa butanya banyak orang akan Khilafah yang sesungguhnya.

Khilafah adalah satu kepemimpinan yang menyatukan dunia Islam berlandaskan syariat Islam. Sejarah telah mencatat bahwa Khilafah telah berdiri selama 13 abad dan menguasai 2/3 dunia hingga akhirnya runtuh 95 tahun lalu.

Banyak kegemilangan yang tercatat selama masa kejayaan Islam. Salah satu yang terkenal adalah di masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, dimana rasanya rakyat tak ada yang miskin. Berbeda dengan zaman sekarang, dimana bahkan 1 (satu) negara bisa mengalami krisis kelaparan parah.

Khalifah Umar Bin Khattab tercatat memberikan guru gaji yang sangat tinggi. 

Penemuan-penemuan besar banyak terjadu di dunia Islam. Al-Khawarismi penemu algoritma. Maryam Asturlabi penemu kompas (navigasi).

Az-Zahrawi mengarang sebuah buku tentang ilmu bedah yang berjudul at-Tashrif Liman Ajiza an Ta'lif. Buku ini dijadikan dasar-dasar ilmu bedah di Eropa hingga 5 abad lamanya antara abad ke-12 hingga abad ke -16.

Bahkan selama Khilafah berdiri, kriminalitas atau kejahatan yang terjadi bisa dihitung dengan jari tiap tahunnya (sangat sedikit sekali). Berbeda dengan kehidupan di sistem kapitalisme, dimana bahkan kejahatan per hari sudah tak terhitung jumlahnya.

Tapi sekali lagi, karena sejarah yang 'hilang' jarang sekali orang mengenal nama-nama atau fakta-fakta tsb. Seakan-akan Khilafah (dibuat) tidak ada beserta sederet kegemilangannya. 

Untuk apa? Untuk mengubur bukti, agar kita menganggapnya sebagai mimpi di siang bolong. Dan melanjutkan tidur, sementara musuh sedang menyedot darah kita.

#MenolakLupa bahwa #KhilafahAjaranIslam

Sekian dan terima kasih. #SelamatMalam 😊

#Revowriter #WCWH6 #MenyalaBersamaRevowriter #OPEy2019Part6 #Day07 #SosmedForDakwah #Gemesda #GerakanMedsosUntukDakwah #DakwahTakMeluluCeramah

Hijab Adalah Pilihan??


Selain hijrah, trend sekarang adalah pakaian syar'i. Gamis (Jilbab) dan Khimar menjadi barang yg lazim dijual di lapak online maupun offline.

Terlepas dari orang yang menggunakannya karena ketaatan atau karena mengikuti trend saja. Kebanyakan orang ketika mendengar kata "pakaian syar'i" / "baju syar'i" akan tergambar di benaknya berupa gamis (jilbab - yang menjulur ke seluruh tubuh) dan khimar (kerudung yang lebar-lebar menutup dada atau bahkan lebih).

Sementara bagi yang masih belum berupa pakaian di atas (misal celana ketat dan kaos tapi berkerudung) tidak akan disebut berhijab syar'i.

Juga bagi yang hanya menggunakan jilbab dan khimar di waktu2 tertentu, misal hanya saat pergi ke kajian, kondangan, ke masjid namun berpakaian 'biasa' (tetap berhijab) di luar waktu-waktu tertentu tsb, tidak jarang orang pun akan mengatakan kurang lebih seperti ini, "Eh syar'i-nya kalo ngaji aja bla bla bla"


Seakan-akan mau syar'i atau tidak itu pilihan, dan menyesuaikan situasi, kondisi, toleransi, pandangan dan jangkauan. #Apasih 😂

Padahal lawan kata syar'i (taat pada hukum Allah -dalam hal ini soal hijab-) adalah maksiat loh 😳

Dalam hal apapun, bila itu berkaitan dengan hukum syara' termasuk soal berpakaian bagi muslimah akan mendapat pertentangan kaum pemikir liberal bin sekuleris kolaborasi dengan mbak feminis yang sama sekali ga manis.

Dihembuskanlah opini lembut nan syahdu,
"Hijabin dulu hatinya, baru badannya.."
"Suka-suka aku mau pake hijab atau ga, ini kan hidupku.. bla bla bla.."
"Munafik tuh pake hijab tp kelakuan bejat. Mending gue, ga berhijab tapi jujur ga nusuk dr belakang bla bla bla.."
Dan sederet narasi racun berbalut madu lainnya.

Setan memang paling jago dalam memainkan propaganda. Manipulasinya lebih halus daripada sutra, lebih lembut dari bangsa lelembut. Perlahan-lahan diciptakan narasi yang menggeser-geser banyak sekali hukum perbuatan di dalam Islam.

Tengok saja LGBT, sesuatu hal yang haram kini mulai minta ‘dibolehkan’ dengan alasan hak asasi manusia, seakan-akan yang menentang LGBT tidak menghargai hak asasi manusia, dengan kata lain jelas-jelas menunjuk (monodong) syariat Islam yang jelas-jelas mengharamkan LGBT.

Pun soal hijab, akhirnya ia pun mulai digeser-geser hukumnya. Kewajiban yang datangnya dari Allah untuk muslimah ini kini mulai menjadi ‘pilihan’ (mubah). Mau berhijab silakan, mau tidak berhijab silakan. Mau berhijab sesuai tuntunan Rasul silakan, mau berhijab sesuai tutorial online juga silakan.

Intinya, Freedom is Everything.


Sombong, menjadi salah penyebab hal ini terjadi. Sombong bukan hanya soal merendahkan orang lain, namun juga tidak mengakui kebenaran bahwa manusia tidak lebih dari seorang hamba (budak) ciptaan Allah SWT. Dimana taat, tunduk dan patuh pada-Nya adalah suatu keharusan.

Manusia yang sombong tidak mau mengakui bahwa dirinya lemah, terbatas dan bergantung kepada sesuatu yang lain. Tidak mau mengakui bahwa manusia itu hidup butuh Allah dan butuh pengaturan Allah. Termasuk dalam soal berpakaian.

Bahkan manusia yang sombong tidak menyadari bahwa dia tidak mengenal dirinya sendiri, karena dia tidak bisa menciptakan dirinya sendiri. Yang mengenal kita tentu saja adalah Dzat yang sama yang menciptakan kita, karena itu segala pengaturan darinya adalah yang paling sesuai dengan kita. Termasuk soal berpakaian.

Tapi, ada juga sih yang berpendapat bahwa hijab untuk muslimah itu adalah pilihan. Dan saya setuju dengan Syekh satu ini. Simak deh.. J





Bunuh Diri atau Pembunuhan??



Bunuh diri kalo menurut wikipedia adalah suatu tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri. Penyebabnya sering kali karena putus asa, gangguan jiwa, alkoholisme dan ketergantungan pada obat.

Sejauh ini, saya tahu bunuh diri kalo search di google. Dari hari ke hari selalu ada berita bahwa ada aja orang yang meninggal karena bunuh diri, baik berita dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan WHO menyebutkan sekitar 800.000 orang meninggal per tahunnya karena bunuh diri. Dengan di Indonesia sekitar 10.000 per tahunnya.

Begitulah, dunia yang semakin gila ini rasanya menjadi wadah yang asyik untuk hal nekat satu ini. Bahkan sampe ada challenge-nya loh. Kalo teman-teman tahu Momo Challenge atau Blue Whale Challenge, nah itu challenge yang mendorong orang untuk melakukan bunuh diri.

Meskipun begitu, ternyata tidak semua “kesempitan hidup” merupakan alasan untuk melakukan bunuh diri. Kim Jong Hyun SHINEE dan Chung Mong Hun pemilik Hyundai merupakan contoh orang nyaris sempurna yang memilih cara mati tidak keren : bunuh diri. Tentu saja, spesies manusia macam mereka ya tidak sedikit.

Tapi berbicara tentang bunuh diri, saya jadi ingat film India berjudul 3 Idiots. Ni film best loh, saya sudah menonton 2 kali tapi tetap saja membuat saya menangis pada adegan-adegan tertentunya.

Sebenarnya film ini bukan tentang bunuh diri, bahkan menurut saya pelajaran yang bisa diambil dari film ini adalah “orang yang berijazah belum tentu belajar, dan bahwa keilmuan dan kemampuan seseorang tidak ditentukan dari selembar kertas yang bernama ijazah.” Yah, kira-kira begitu ya, soalnya si Rancho, pemeran utama menggantikan majikannya untuk menuntut ilmu di sebuah universitas ternama. Rancho hanya ingin “menuntut ilmu” sementara anak majikannya hanya ingin “selembar ijazah” untuk pencitraan.

Adegan yang bikin saya nangis justru sebuah dialog yang diucapkan oleh Pia, putri ketiga Virus ketika dengan emosional menjelaskan kenapa kakak laki-laki tertua mereka akhirnya memilih untuk bunuh diri. Jadi, si kakak sebenarnya pengin jadi penulis, tapi Virus ingin ia jadi insinyur dan harus kuliah di ICE yang keras. Si kakak sudah ikut ujian sebanyak 3x tapi tidak ada yang lolos. Akhirnya karena stress didesak ayahnya, diapun memilih bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke kereta. Si Virus tahunya si anak meninggal karena kecelakaan.

“Apa Ayah tahu kakak ingin menjadi apa? Apa Ayah pernah bertanya apa sebenarnya keinginan kakak? Dia tidak ingin jadi insinyur Yah, dia ingin jadi penulis. Tapi gara-gara Ayah, satu-satunya yang dia tulis seumur hidupnya hanyalah sepucuk surat sebelum kematiannya.” Kata Pia

“Ya, ayah benar, itu bukan bunuh diri. Tapi pembunuhan, dan ayah adalah pembunuhnya!” lanjut Pia.

Oke, adegan bunuh diri dan dialog tadi mungkin bukan teladan yang baik. Tapi saya berpikir bahwa bunuh diri sebenarnya “tidak pernah benar-benar ada”. Semua orang mati karena pembunuhan. Dengan alasan mereka sendiri-sendiri. Tapi ya dosanya sama lah.

Bukan berarti saya membenarkan bunuh diri, tetap saja itu perbuatan yang terlarang, sama seperti terlarangnya mantra Avada Kadavra oleh Voldemort. Hanya saja banyak sekali alasan-alasan yang memicu orang untuk bunuh diri tumbuh subur secara tersistem.

Bukankah ada banyak berita di internet orang yang bunuh diri karena faktor ekonomi. Seseorang miskin kan bukan cita-cita dia (kalo ada yang bercita-cita seperti ini atau dia males, ya udah ga usah dibahas) tapi bisa jadi karena dimiskinkan oleh sistem. Kapitalis memang bikin sengsara. Ga ada makan siang gratis, bahkan bila itu seharusnya hak rakyat yang menjadi kewajiban negara.

Yang bikin miris hati lagi, bila fakta itu dekat dengan kita. Dag-dig-dug rasanya tidak cukup menggambarkan perasaan yang bersenandung.

Hidup itu adalah pemberian dari Allah SWT. Maka yang berhak mencabutnya adalah Allah juga. Tapi untuk menjelaskan ini, tidak hanya butuh pengertian pada mereka yang berputus asa. Ada sistem yang harus kita tebas. Lalu kembali ke Sistem Islam.. kapan ya??

Jember, 17 Feb 19
Helmiyatul Hidayati




Balas Dendam


Revenge (Dendam) yang saya tahu adalah sebuah drama dari Amerika. Pemeran utamanya bernama Amanda, yang berusaha balas dendam atas kematian ayahnya pada sebuah keluarga kaya. Dengan membuat sang Pewaris jatuh cinta. Awal nonton drama ini terasa bagus, lama-lama kok jadi seperti drama Tersanjung (terlalu panjang). Saya alergi dengan drama type begini.

Tapi drama dengan latar belakang cerita seperti ini ada buanyaaakkk.. Di jagat pertelevian berbagai negara di dunia, produksinya udah bejibun. Korea, Mandarin, Thailand, Indonesia de el el. Di Korea paling suka drama oppa Lee Min Ho dalam City Hunter. Doi kan jadi “alat” balas dendam si ayah tiri yang merasa dikhianti oleh negara. Begitulah ya negara-negara yang menganut sistem kapitalis, suka bikin rakyatnya mendendam. #Eh kok jadi ngomongin drakor..


Di Indonesia, ada sebuah film (yang katanya based on true story) dengan tema balas dendam yang sampai sekarang saya ingat ceritanya meskipun baru sekali nonton dan itu sudah lama sekali. Judulnya "School", pemeran utamanya adalah seorang anak laki-laki yang di rumahnya hanya melihat orang tuanya bertengkar, kakak yang tidak peduli padanya, sementara di rumahnya ia dibully oleh teman-temannya, dianggap tidak pintar oleh gurunya. Akhirnya ia membeli sebuah senjata api dan menyandera seluruh teman-temannya. ketika polisi datang untuk bernegosiasi, akhirnya ia berakhir dengan menembak diri sendiri dengan pistolnya.



Ada sebuah cerita yang pernah saya baca, tentang wanita yang diceraikan oleh suaminya karena dia tidak pintar dalam urusan dapur. Wanita itu begitu mencintai suaminya hingga ia terpuruk karena perceraiannya. Ketika akhirnya ia bangkit ia dikenal sebagai pemilik toko kue terbesar dan terlezat di daerahnya. Dimana toko kue itu selalu dilewati oleh suaminya setiap pagi ketika ia berangkat bekerja. Nama toko itu ia beri nama “Sweet Revenge”, meskipun tanpa kata, itu adalah isyarat dari sang Istri bahwa toko kue itu adalah usahanya untuk balas dendam kepada mantan suaminya.
Saya selalu yakin sefiksi-fiksinya sebuah cerita pasti terinspirasi dari kisah nyata. Karena informasi-informasi para penulisnya memang adalah kisah-kisah kehidupan nyata. Ga ada yang lain.

Di dunia nyata pun, orang mendendam tak kalah banyak dari jumlah dramanya. Setiap orang memiliki dendam. Tapi tidak semua orang bisa balas dendam dengan cara yang manis (Sweet Revenge)

Ketika saya membaca cerita ini, saya berasa ingin makan kue yang manis. #Apasih


Ali bin Abi Thalib pun pernah berkata, “balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik.”

Kalo saya bilang orang yang hijrah adalah orang-orang yang suka balas dendam dengan cara yang manis.

Orang yang hijrah, meninggalkan masa lalunya di belakang. Masa dia merasa tidak baik-baik saja. Menjemput masa yang lebih baik, supaya memiliki masa depan lebih cerah. Sedapat mungkin supaya mendapatkan Surga sebagai masa depan terbaik dari sebaik-baiknya masa depan.

Kejahiliyahan atau butanya kita pada aturan Sang Maha Pencipta adalah alasan paling tepat dan benar bagi seseorang yang melakukan balas dendam bagi dirinya sendiri. Cara terbaik melaksanakan dendam adalah dengan hijrah.

Bagi kamu yang memiliki masa lalu tak sedap. Mungkin dulu dirimu adalah orang tua yang buruk untuk anak-anakmu, istri yang tak taat pada suamimu, anak yang tidak berbakti pada orang tua. Teman yang suka menusuk dari belakang, bahkan bila kau merasa hidup ini tidak adil dll. Lakukanlah balas dendam!

Buat misi untuk melakukan balas dendam sesegera mungkin, supaya hati menjadi tenang dan akalmu tetap sehat dan terpuaskan. Sebenarnya banyak orang tidak waras akhir-akhir karena kebanyakan memendam rasa, eh memendam dendam.

Belajarlah balas dendam pada mereka yang telah sukses berhijrah. Karena benar-benar serius menjadikan diri mereka lebih baik.

Engganlah berbalik pada masa lalu yang jahiliyah. Masa dimana, bahkan kita tidak tahu bahwa Allah pula Sang Pengatur Kehidupan.

Belajar Islam yang kaffah, bukan setengah-setengah. Biar ga salah paham.

Jember, 15 Feb 19
Helmiyatul Hidayati