Pelangi Memang Indah, Tapi Ia Hanya Sesaat



Temans, hari ini bagimu tanggal berapa??

Tepat Sabtu 8 Juni 19 ini bagi saya adalah hari ke-5 di bulan Syawal dalam kalender Islam. Yups, saya sudah berhari raya Selasa 04 Juni kemarin. Bagi yang berhari raya Idul Fitri keesokan harinya, maka hari ini masih tanggal 4 Syawal.

Bukan pertama kalinya pristiwa seperti ini terjadi (perbedaan tanggal hari raya), bahkan ini juga menjadi perbincangan hangat layaknya tiket pesawat yang melambung bak roket. Tapi itu membuat saya bersyukur suami saya kerja dan dakwahnya di luar negeri, tiket pesawat tidak ada perubahan. Setidaknya jauh lebih murah dari penerbangan domestik yang per tiket bisa sampai lebih dari 21 jeti. He he he..

Sekilas terlihat sepele dan tak ada masalah. Apalagi kalo ada yang bilang ‘perbedaan itu indah seperti warna pelangi.’ Namun terkadang kita lupa, bahwa pelangi hanya muncul sesaat sebelum ia menghilang. Ditambah lagi dengan banyaknya dalil yang dikeluarkan. Merasa hujahnya paling kuat, atau malah merasa yang paling taat pada ulil amri, merasa paling Indonesia.

Pada Selasa pagi, tulisan saya tentang idul fitri sudah bergerilya di grup WA, wajar dong kan udah hari raya. Tapi ada juga nih yang komen, “Kalo saya taat pemerintah mbak, jadi hari rayanya baru besok.”

Eh, seakan-akan saya pemberontak apa, padahal saya juga salah satu penyumbang pajak dan aktif tipis-tipis memuhasabahi penguasa.

Coba bayangkan bila perbedaan ini terletak dalam sebuah keluarga. Suami sudah membatalkan puasa pada hari Selasa, sementara istri masih berpuasa. Keesokan harinya ketika suami puasa Syawal, istri haram berpuasa. Dengan dalih saling menghargai pilihan masing-masing, memang terlihat tak ada masalah.

Tapi bukankah lebih baik bila suami dan istri sama-sama berangkat Shalat Ied ke masjid, makan bersama di hari raya yang sama dll. Iya kan??

Kebanyakan orang terjebak pada 2 (dua) pilihan yang sebenarnya tidak pas. Saya pernah menuliskan ini dalam bentuk analogi. Misalkan ada seorang gadis yang dilamar oleh 2 (dua) orang pemuda, pemuda pertama memiliki jabatan mentereng tapi koruptor, pemuda kedua mengandalkan hidup dengan kekuatan alias preman kasar. Manakah yang lebih di pilih??

Kebanyakan orang mungkin akan berpikir akan mengambil yang paling sedikit mudharatnya, misal si Preman, kali aja karena Cinta suatu saat nanti dia akan berubah.

Padahal selalu ada pilihan ketiga, yaitu pria yang baik akhlak dan agamanya, sesuai dengan tuntunan Allah dalam memilih pendamping hidup. Tapi kalo ga nemu cowok begini gimana? Masa iya ga nikah-nikah, padahal jomblo itu kegentingan yang memaksa. Haha

Bila sampai pada posisi ini, maka pentinglah untuk piknik lebih jauh dan ngopi lebih kentel. Pria yang baik akhlak dan agamanya tidak bisa dicari di tempat yang buruk, juga tidak akan memilih pendamping hidup yang buruk. Semuanya (SISTEM) harus dirubah, baik tempat pencarian maupun pribadi yang menginginkan si shalih/shalihah sebagai pasangan halal, sampai di akhirat pun kekal.

Sama dengan menanggapi banyak perbedaan. Termasuk perbedaan penetepan hari raya. Setiap negara jadi berbeda salah satunya karena mengambil metode rukyat hilal yang berbeda-beda. Menandakan bahwa TERITORIAL itu adalah akar masalahnya. Teritorial inilah yang kita sebut sekat nasionalisme.

Padahal, umat Islam itu harusnya satu, sama seperti bulan yang juga hanya satu dan mathla’ yang juga cuma satu. Kamu juga cuma satu di hatiku. #Eh

Solusi yang bisa diambil dalam keadaan ini adalah membuat kesepakatan bersama untuk mengambil metode yang sama. Tapi mungkin ini sulit, karena sudah tersekat-sekat nasionalisme itu tadi.

Solusi lainnya adalah dengan adanya satu Khalifah di tengah-tengah ummat. Tidak hanya akan menghapus perbedaan awal dan akhir Ramadan, namun juga mempersatukan ummat Islam seluruh dunia, tidak ada batas nasionalisme dan perpecahan karena masalah mazhab atau furu’ (cabang).

Semoga tahun ini adalah tahun terakhir tanpa adanya Khalifah yaa.. Bukan hanya agar bisa hari raya bersama, tapi juga agar saudara-saudara kita yang tidak bisa berhari raya karena konflik juga merasakan manisnya hari kemenangan.

Happy Ramadan. Mohon maaf lahir dan batin..






Teman itu Ngajak Bener Bareng, Bukan Gila Bareng


Kelas Blogging Khusus Perempuan bersama kak Prita HW Minggu kemarin (19/05) sebenarnya adalah tentang berbagi. Bukan hanya ilmu seputar perbloggingan, namun juga berbagi inspirasi.


Berlalunya banyak waktu membuat kita masing-masing menyadari bahwa kita telah bertumbuh, meskipun juga banyak yang masih diam di tempat (dan itu mungkin saya). Haha

Lama tidak terlibat dengan kelas blog di dunia nyata, karena biasanya saya mengisi kelas blog di dunia maya bersama Revowriter. Selain bertemu dengan orang baru, masing-masing orang juga memiliki cerita yang luar biasa.

Benar kata seseorang, “Teman itu ngajak benar bareng, bukan gila bareng.” Berapa banyak teman yang kita miliki? Tapi tentu tak semuanya akan mengajak kita pada sesuatu yang benar, kebanyakannya diam, seperti prinsip kapitalisme zaman sekarang. Loe-loe, gue-gue. Ah, repot..

Bila ini tentang blog, kelas ini adalah permulaan tepat bagi pemula untuk memulai langkah pertama dengan benar. insyaAllah ga akan tersesat. Hehe.. Alhamdulillah juga ketika saya mencari Rozy Collection 2 yang merupakan lokasi tempat kelas berlangsung juga tidak tersesat. Alamatnya ada Jln Matrip 4/68A. Gampang kok nyarinya. Meskipun ketika sampai di sana, saya yang membawa jagoan kecil jadi salfok. Yup, jagoan kecilnya jadi belanja baju lebaran di sini. Alhamdulillah (lagi) hal ini membuat saya terhindar dari keramaian mall yang suka bikin pusing kepala.


Kelas ini memang khusus pemula, dan mengingatkan saya ketika ikut kelas blog untuk pertama kalinya. Tentang “WHY” memilih blog?? Dan rasanya mulai tertampar karena hampir setengah tahun ini “kurang merawat” blog ini. Ga usah tanya alasannya, intinya males. Hihi

Padahal kalau dipikir-pikir banyak hal sudah di dapat dari blog. Memang bukan materi, tapi paling tidak menulis di blog seringkali (dahulu) menenangkan saya dari kemelut sulitnya menata hati dan menata hidup. Dan tetap saya usahakan menjadi wasilah dakwah. Tahu kan? Kehidupan zaman sekarang masih amat sangat edan dan beringasan. Mudah-mudahan ini menjadi kontribusi, meskipun amat kecil bagi kehidupan ini, untuk kebangkitan Islam kembali.

Seringkali memang kita kehilangan semangat menggebu yang muncul di awal ketika kita memulai sesuatu, seiring berjalannya waktu, semangat itu timbul tenggelam seperti lilin yang mulai meleleh. Saat-saat seperti ini kita perlu teman untuk mengajak kita kembali menemukan semangat itu, dan semangat untuk “benar” bersama tentunya. Banyak-banyak terlibat dalam kegiatan blog begini membuat saya sedikit-banyak mendapat semangat dan saudari baru.


Jadi, benar adanya bila kita dekat dengan penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberi kita minyak wangi, atau kita bisa membeli minyak wangi darinya. Bila tidak keduanya, maka paling tidak dapat bau harum darinya.

Mau semangat blog kembali, sering-seringlah berinteraksi dengan blogger dan ikutan kelas blog untuk memperbarui ilmu. 

RAID : Memburu Pajak yang Hilang

Sumber Foto : Sacnilk


Sudah lama tidak menjamah film India. Sekalinya menjamah, dijodohkan dengan RAID nih. Film yang dibintangi oleh Ajay Devgan ini berlatar era tahun 80-an. Dan diangkat dari kisah nyata loh, yang termasuk peristiwa bersejarah di India. Sebuah penggerebakan penggelapan pajak terbesar di sana.


Sudah kebayang kan? Film ini jelas bukan soal romansa yang umumnya menjadi tema-tema film kebanyakan. Ini adalah perlawanan antara yang baik dan yang buruk. Tapi bukan juga drama action, pertarungan antara pemain antagonis dan protagonis berlangsung dengan cara bermain kata dan strategi.

Mr. Amay Patnaik yang merupakan tokoh sentral dalam film ini adalah seorang Komisaris di Kantor Pajak Penghasilan dan sudah dimutasi sebanyak 49 kali selama tujuh tahun terakhir. Ia memiliki kredibilitas sebagai pejabat yang bersih, jujur dan tidak kenal takut. Dalam kisah ini ia ditugaskan di kota LuckNow.

Mungkin divisi Amay Patnaik ini lebih seperti KPK kalau di Indonesia, tugasnya mencari penggelapan pajak yang menimbulkan kerugian pada negara. Eh, jadi ingat kasus Gayus Tambunan nih..

SINOPSIS

Tidak lama setelah sampai di kota LuckNow, Amay Patnaik mendapat surat kaleng yang memberikan bocoran informasi akurat mengenai penggelapan pajak sebesar 4,2 milyar rupee yang dilakukan oleh seorang senator sekaligus orang terpandang di kota tersebut, Rameshwar Singh alias Rajaji.

Adegan selanjutnya adalah berisi petualangan Amay Patnaik dalam menyelidiki kebenaran dari isi surat kaleng tersebut. Setelah dirasa mendapatkan bukti yang cukup, maka dia pun merencanakan sebuah penggerebekan.

Dari sini, mulailah Amay merancang strategi, seakan-akan tahu bahwa salah satu anak buahnya akan membocorkan penggerebekan, ia membagikan amplop pada masing-masing anak buahnya. Amplop itu hanya boleh dibuka atas perintah Amay, di tempat dan waktu tertentu.

Penggerebekan pun dilakukan di rumah Rameshwar Singh yang bak istana, bahkan disebutnya Gedung Putih (macam gedung pemerintahan ya). Adegan paling keren ada di rumah ini. Bagaimana seluruh harta yang berupa uang tunai, perhiasan, lantakan emas, barang antik dll sedemikian rupa disimpan. Ada yang ditanam di dalam tembok, di pilar penyangga rumah, di dalam tangga, di halaman, di ruang bawah tanah bakan lantakan emas ditemukan di langit-langit rumah. Kalau menurut saya, disinilah adegan “killing part”nya berada.

Rajaji berusaha menyelamatkan diri, ia berusaha melobi kesana-kemari hingga sampai ke Perdana Menteri, bahkan ia juga berusaha mencelakakan istri Amay Patnaik. Namun semua usahanya tidak berhasil, Amay Patnaik tidak berhenti “mengobrak-abrik” rumahnya. Hingga akhirnya ia mengerahkan warga untuk menyerang Amay di rumahnya sendiri, namun untunglah polisi yang dikirim oleh PM India datang tepat waktu.



SISI LAIN


Dialog paling ‘mendalam’ di film ini menurut saya ketika para saksi yang dipilih oleh Rajaji menandatangani sebuah dokumen (semacam pernyataan bahwa mereka memang melihat “harta haram” di rumah tsb) kemudian berkata, “Aku sudah menandatanganinya, tapi ini tidak ada gunanya. Ketika semua uang ini dikembalikan kepada pemerintah, pejabat lain akan menggelapkannya.”

Kemudian dijawab oleh Amay, “Pak, apakah jika murid anda bodoh dan nakal, anda akan berhenti mengajar?”

Pemberantasan pada korupsi, seperti kata Amay, memang harus dilakukan tanpa ada kata menyerah. Namun lebih efektif lagi bila sistem sebuah negara membuat praktek seperti ini kecil hingga tidak ada. Tentu tidak ada sistem buatan manusia yang bisa seperti ini. Hanya sistem Islam yang bisa. Karena standar dalam sistem Islam bukan lagi materi seperti sistem kapitalisme saat ini, namun standar halal-haram yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

RAID ini memberi tahu kita bahwa pajak itu adalah salah satu sumber penghasilan terbesar. Termasuk di negeri kita tercinta, pajak dan utang merupakan sumber pendapatan negara yang utama. Yah zaman sekarang, apa sih yang ga ada pajaknya, bahkan kita makan pun dipajak kan? Dimana nantinya uang hasil pajak digunakan untuk kesejahteraan rakyat, mengalir pada pembangunan infrastruktur, subsidi bahan bakar, kesehatan, pendidikan dll

Tapi, kalo mau dianalogikan, sebenarnya negara tak ubahnya individu. Tidak seharusnya mengandalkan pendapatan dari pajak, apalagi utang. Iya kali kita hidup malakin orang mulu, terus ama ngutang mulu. Ga enak banget kan..
Cari nafkah itu ya kerja.. kerja yang halal, supaya berkah dan barokah. Itu baru namanya HIDUP..

Di dalam Islam, pajak memiliki syarat yang ketat. Pertama, Pajak tidak bersifat kontinu, hanya dipungut bila kas negara kosong. Kedua, digunakan untuk pembiayaan yang merupakan kewajiban dan sebatas jumlah yang diperlukan, semisal untuk jihad, gaji ASN dll. Ketiga, hanya diambil dari kaum muslim, tidak non-muslim. Keempat, dipungut dari kaum muslim yang kaya. Kelima, dipungut sesuai jumlah pembiayaan yang diperlukan tidak boleh lebih (mtaufiknt).

Dengan kata lain, pajak diberlakukan bila negara dalam keadaan DARURAT. Hingga kas negara terisi kembali. Bagaimana bila kas negara selalu kosong atau defisit? Bisa jadi ada kesalahan dalam sistem perekonomiannya. Semisal, sumber pemasukan negara dari sektor sumber daya alam TIDAK ADA karena sektor tersebut diserahkan pada asing. Ya jelas kita ga akan dapat apa-apa..

Pajak yang ditarik di luar ketentuan-ketentuan tersebut, maka itu merupakan kezaliman atas rakyat dan tidak boleh dilakukan. sebagaimana dikatakan oleh adz-Dzahabi dalam al-Kabair, “Pemungut pajak adalah salah satu pendukung tindak kezhaliman, bahkan dia merupakan kezhaliman itu sendiri, karena dia mengambil sesuatu yang bukan haknya dan memberikan kepada orang yang tidak berhak.

Terlebih lagi di zaman sekarang, pajak diwajibkan oleh beberapa pemerintahan dan digunakan untuk kepentingan-kepentingan elit yang sebenarnya tidak perlu. Misalnya menjamu tamu dari kalangan para raja dan pemimpin negara lain dengan dana yang fantastis. Mendanai berbagai kegiatan atau ajang-ajang yang mengandung kemaksiatan semisal konser, pesta, festival dll.

Pajak seperti inilah yang oleh sebagian ulama disebut, “Pajak dipungut dari kalangan miskin dikembalikan ke kalangan elit.” Padahal menurut sabda Rasulullah SAW, seharusnya “Diambil dari kalangan elit dan dikembalikan kepada kalangan fakir.”

Wallahu a’lam

Ada Bagian Bumi yang Bukan Ciptaan Allah??

Eh iya dulu juga sempat berpikir begitu, kenapa sih situ2 (pengemban dakwah) pada suka tereak perubahan.

Perubahan extrim lagi : Semua aturan harus Syariah!! Bukan hanya ibadah yang harus sesuai syariah, politik dan ekonomi juga harus syariah. Bla bla bla

Padahal kita itu udah hidup di negara yang  dr zaman emak-bapak kita belum ketemu udah ada aturan sendiri.

Tapi guys.. sebenernya bukan mereka yg ingin merubah tatanan yang ada. Justru kita2 yang terlena dengan aturan jahiliyah inilah yang sebenernya sudah melakukan perubahan pada aturan dasar kehidupan, yaitu aturan dari Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Pengatur.

Sebelum manusia zaman now pada sibuk cari-cari cara untuk menyelesaikan masalah kehidupan. Dari zaman Baheula, Allah bukan hanya ngasih "kisi-kisi" jawaban atas segala problematika ummat. Ga tanggung-tanggung Allah langsung kasih contekan melalui para nabi dan rasul yang diutusnya.

Terkhusus utusan bernama Nabi Muhammad emang beda. Do'i bukan hanya diutus oleh Allah untuk kaum tertentu tapi untuk seluruh ummat manusia. 

Risalah yang dibawa ga spesifik, global men.. Segala sesuatu diatur dan ga ada expired di zaman apapun. Cocok buat semua golongan darah, eh golongan manusia dengan warna, bentuk, bahasa, ras, suku dan rasa apa saja. #Eh

Risalah Sang Rasulullah terakhir ini juga ga mengenal teritorial. Karena dasarnya memang bumi dan segala isinya adalah milik Allah. 

Mustahal manusia bisa mengatur dan membuat pengaturan kehidupan karena Sang Pencipta Manusia sendiri sudah mendesain manusia dengan akal yang lemah, terbatas dan tergantung pada yang lain. Untuk menyadarkan kita bahwa hanya Allah tempat bersandar segala sesuatu.

Tapi..

Masalah muncul ketika negara api menyerang. Perisai (khilafah) itu runtuh dan pemikiran sekuler menjadi racun yang menggeroti setiap muslim. Kini, bukan amannya iman yang dicari, tapi terkadang hanya tentang mencari amannya nyaman.

Salah satu efek sekulerisme (selain kapitalisme) ini adalah menganggap bahwa aturan Allah mengenal teritorial. 

Seakan-akan Allah hanya menciptakan Arab, tapi tidak menciptakan Indonesia. Seakan-akan Allah hanya menciptakan Adam, tapi tidak menciptakan Hawa. Seakan-akan Allah hanya menciptakan kamu, tapi tidak menciptakan aku. Padahal Allah tahu, kamu tak bisa hidup tanpaku.. #eyaaa..

Begitu pula Allah, selain menciptakan, juga mengatur. Manusia menjaga agar aturan itu tetap di jalur syariah. Jangan lengah. Nanti susah.

Nyatanya tidak ada satu wilayahpun yang muncul tanpa ada peran Allah sebagai Sang Maha Pencipta di sana. Termasuk wilayah kecil yang ada pada kita, hatiku dan hatimu. #ApaSih #Eyaaa 

*
**
***

Gimana kalau kita Bilang, kalau yang gak suka syariat Allah..
Silahkan Hengkang dari Bumi Allah.. 😏😏😏😏😏
.
.
Gimana gimana menurut temen-temen .😎😎.
.
.
Follow IG @pecelyes 
Follow IG @pecelyes 
Follow IG @pecelyes


Ramadan : Momen Menggapai Takwa Hakiki




Ramadan hampir tiba, begitu dekat di pelupuk mata, alias tinggal beberapa hari lagi. Tapi apa sih persiapan kita menyambut Ramadan? Jangan-jangan kita hanya akan menganggap momen ini akan berlalu begitu saja, hanya saja kali ini ditambah dengan kegiatan-kegiatan berbeda.

Yang biasanya sarapan dan makan siang, kali ini selama sebulan ditiadakan. Yang biasanya malam hari berleha-leha di rumah, (sesekali) ke masjid untuk tarawih. Yang biasanya tidak bangun di sepertiga malam, kali ini bangun untuk ‘sarapan’. Yang biasanya jam dinner tak tentu, kali ini selama sebulan teratur begitu adzan Maghrib dikumandangkan.

Banyak yang memahami bahwa puasa di bulan Ramadan itu wajib. Tapi sedikit yang memahami makna di balik perintah puasa Ramadan. Jangan salah, ketidakpahaman inilah yang banyak membuat kita ‘gagal paham’ betapa makna Ramadan lebih istimewa daripada si doi yang dinanti-nanti. #Eh

Sama, banyak pula yang mengetahui bahwa perintah puasa Ramadan disebutkan dalam QS. Al-Baqarah 183 yang artinya, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.”

Tapi, tidak banyak yang tahu apa arti makna takwa (hakiki) dalam ayat tersebut. Bagi yang ketemu saya hari Ahad tanggal 28 April di Cafe FoodGasm  dalam acara kopdar #2 Info Muslimah Jember kemarin, mungkin sudah tahu jawabannya, apa yang dimaksud dengan ketakwaan hakiki. Tapi buat yang ga datang ke sana, ya udah baca tulisan ini aja. Haha


Semua tahu bahwa arti takwa itu adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa perintah-Nya bukan hanya tentang sholat, zakat, haji dan ibadah mahdoh lainnya.

Dalam acara dimana saya sendiri sebagai MC-nya (uhuk.. uhuk..), pemateri pertama, ustazah Wardah Abeedah menyampaikan bahwa paling tidak ada 3 (aspek) dalam hidup manusia dimana Allah memberi pengaturan (berupa perintah-perintah) yang (seharusnya) dilaksanakan tanpa tapi dan tanpa nanti oleh manusia. Bahasa kerennya sami’na wa atho’na. Hehe

First, aspek yang mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Di sini nih ada pengaturan tentang ibadah mahdoh tadi. Ga bisa dong, kalo kita mau sholat sembarangan semisal bisa sholat tanpa wudhu dsb, udah pasti ibadahnya salah. Tata cara sholat harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Kalo salah bisa ga sah, tidak dilaksanakan sama aja bunuh diri dini.

Second, aspek yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Di sini ada pengaturan kenapa kita mesti punya akhlak yang baik, jadi akhwat yang manis, biar ga meringis menghadapi carut-marutnya dunia. Termasuk juga pengaturan tentang apa yang kita makan, dan apa yang kita pakai. Gitu yess..

Third, aspek yang mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain. Yah, namanya hidup ga bisa sendiri, kebayang gitu ga ada aturan yang mengatur manusia yang bejibun itu? yang ada kacau balau jadinya. Bukan aturan manusia yang seharusnya menjadi standar, karena manusia akalnya pun standar. Tapi pengaturan-Nya lah yang sempurna yang seharusnya diterapkan. Di aspek ini mengatur bagaimana seharusnya manusia bertransaksi (sistem ekonomi), berinteraksi (sistem pergaulan), edukasi (sistem pendidikan), bernegara (sistem pemerintahan), mengadili (sistem peradilan) de el el

Ga asyiknya tuh, aspek pertama dan kedua bisa aja kita lakukan, karena dalam jangkauan yang bisa kita usahakan sendiri. Etapi kalo aspek ketiga baru bisa terlaksana bila ada institusi negara yang mendukungnya. Dimana negara seperti ini runtuh pada tanggal 03 Maret 1924. Hiks..

Sampe sini, kebayang kan bagaimana susahnya kita mau bertakwa?? Mungkin ini yang sering orang bilang, masuk surga itu butuh usaha..

Nah, Ramadan itu sebenernya adalah sebaik-baik momen untuk mencapai takwa yang hakiki. Emang ga mudah, apalagi kalo jomblo (sendirian), berat.. kamu ga akan kuat. Makanya yuk berjamaah. Perlu peran keluarga dan juga negara. Hal ini disampaikan oleh ustazah Lailin Nadhifah pada sesi kedua.

Pemateri kedua yang kerap dipanggil mbak Nadz ini juga menyampaikan bahwa ujian berat yang suka bikin ga kuat itu justru pada pasca Ramadan. Bakal istiqomah ga ya? Bakal tetap dalam ketaatan ga ya?? Keluarga bakal makin samara ga ya??


Padahal selain bulan penuh berkah, dimana pahala amalan kebaikan dijadikan berlipat-lipat, dosa yang dibuat di bulan Ramadan juga akan dihitung berlipat-lipat. Ih, ngeri kan guys..

Dengan mengingat dosa berlipat-lipat yang tak sedikit itu, kemudian selalu alias senantiasa takwa, terus dan selamanya takwa, serta mengingat bahwa kehidupan dunia ini adalah fana. Maka di situlah akan diraih makna takwa yang hakiki.

Suatu negeri yang bertakwa pastilah akan menorehkan sejarah emas, bukan hanya kepada muslim, namun juga non-muslim. Mereka dibiarkan tetap dengan agamanya, keyakinan dan ibadah ritualnya, tempat ibadah mereka tidak dihancurkan. Syaratnya mereka menjadi ahlu dzimmah, tunduk kepada pemerintah dan hukum Islam serta membayar jizyah. Mereka dibiarkan beribadah, menikah, bercerai, makan, minum dan berpakaian sesuai dengan ajaran agama mereka.

Tuh kan..

Jadi, Ramadan kali ini siap meraih takwa hakiki dengan sepenuh hati? Jangan lupa tuntutlah ilmu (syar’i) untuk menyirami hati. Happy Ramadan..





Antara Pete dan Poligami



Tidak semua orang suka pete. Entah karena merasa baunya yang tak sedap, tidak bisa mengolah atau merasa rasa pete tidak pas di lidah. Bagi saya pete itu enak, asal jangan banyak-banyak, yang di kantong bisa demo sampe sesak. #Loh

Berbeda dengan yang suka pete, di tangannya bisa menjadi olahan bercita rasa tinggi seperti teri pete buatan mbak @merygunawan ini 😊. Dibuat dengan modal cinta kali yah, padahal doi katanya modal belajar masak otodidak dari youtube.. oke deh pokoknya..

Tapi bagi yang membenci pete tidak lantas menjadi pantas bila mengatakan pete itu haram. Ya udahlah santai aja cin, ga suka pete ga usah makan. Pilihan makanan lain yang bukan pete itu banyak banget, jengkol misalnya haha 😁

Meskipun juga bagi orang yang suka atau tidak memiliki masalah dengan makan pete, tidak lantas pula menjadi pantas hingga harus sesumbar tentang pete secara berlebihan. Apalagi kalo sampe lebih lebay dari kampanye capres dan cawapres. Apa-apa sampe di solusi dengan pete. Misal nih, sakit gigi disuruh makan pete, lagi diare disuruh makan pete, kalo dah parah bisa jadi punya utang riba disolusi dengan makan pete. Oopss 🤭

Pun begitu dengan poligami yang merupakan pilihan. Ada suami yang bisa dan mau berpoligami. Ada pula yang tak. Rumah tangga apapun memiliki biduk prahara yang pasti sama-sama bikin pusing. Baik poligami maupun monogami. Tidak bisa dikatakan poligami lebih baik daripada monogami, begitu pula sebaliknya. Rumah tangga yang baik ya rumah tangga yang di dalamnya terwujud ketaatan kepada Allah SWT.

Tetapi bagi yang TIDAK suka poligami, tidak bisa juga kemudian mengatakan bahwa poligami itu HARAM. Bisa jadi kalo ada yang begini, dia kebanyakan nonton iklan absurd PSI. Toh poligami itu juga pilihan. Rumah tangga monogami juga ada contohnya dari Rasulullah SAW.

Pun begitu dengan yang sudah praktisi, tidak lantas menjadi pantas kalo sampe lebay perkara rumah tangga poligaminya. Sampe apa-apa disolusi dengan poligami. LGBT merebak disolusi dengan poligami, Palestina menjerit disolusi dengan poligami dsb. Jangan-jangan kalau kuota habis disolusi dengan poligami. Kan wadaw kalo begitu..

Khilafah itu baru solusi yess.. 😊

Baik suami maupun istri juga sebaiknya jangan petantang-petenteng dalam bersikap dan berucap tentang poligami. Salah-salah bisa menjurus pada provokasi yang tidak baik, baik itu oleh yang kontra maupun yang sudah praktisi.

Sesuatu itu (seperti poligami misalnya) bila berhasil untuk seseorang, tidak berarti akan berhasil untuk semua orang. Begitu pula bila gagal untuk seseorang, tidak berarti akan gagal pula untuk semua orang.

Udah gitu aja..

Jember, 17 April 2019
Helmiyatul Hidayati


Selandia Baru dan ‘Efek Kupu-kupu’nya



Lebih dari seminggu lalu, umat Islam berduka, khususnya umat Islam di Selandia Baru. Memang sudah berlalu, tapi kisah ini tidak akan bisa dilupakan. Sejarah telah mencatatnya.

Di hari yang baik itu (Jumat), di tempat yang baik itu (masjid), iblis laknat dalam bentuk manusia menjadikan nyawa manusia tak ubahnya benda yang tak berharga. Pembunuhan tidak berperikemanusiaan itu bahkan ditayangkan secara “live” di media sosial. Lebih gila daripada orang gila yang tidak bisa disembuhkan!

Kita berduka, amarah membuncah. Namun di balik semua itu pastilah ada berkah.

Bila Edward Norton Lorenz memakai istilah “Efek Kupu-kupu” (Butterfly Effects) untuk merujuk pada sebuah pemikiran bahwa sebuah kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil, secara teori dapat menghasilkan badai Tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Hal ini maksudnya, perubahan kecil pada suatu tempat dalam suatu sistem (tak linear) dapat mengakibatkan perubahan besar di tempat lain (wikipedia).

Di Selandia Baru sendiri, agama Islam merupakan agama minoritas. Kebanyakan adalah para imigran di antara imigran lainnya.


Selandia Baru, karena panorama alam yang indah dan menakjubkan, selain menjadi pilihan tempat shooting berbagai film box office dunia, juga menjadi rumah multikultural bagi banyak orang termasuk bagi populasi muslim.

Ketika 50 (lima puluh) orang meninggal dengan tidak adil karena gagal pahamnya segelintir teroris akan Islam, karena Islamofobia yang menjangkiti mereka. Pada saat itulah efek kupu-kupu mulai berjalan. Perbedaanya, efek kupu-kupu kali ini bukan menghasilkan kekacauan. Dengan izin Allah, efek yang terjadi adalah semakin meluasnya cahaya Islam.

Tidak lama setelah Brentont Tarrant dan kroni membantai puluhan muslim di dua masjid Selandia Baru, ayat suci dibacakan di parlemen, pusat kekuasaan Selandia Baru, yang mungkin saja, ini adalah awal kekuasaan Islam.

Kumandang suara adzan, yang oleh ibu Sukmawati di Indonesia dianggap tak lebih indah dari kidung ibu, dikumandangkan dan disiarkan secara langsung oleh televisi nasional dan disiarkan ke seluruh dunia. Suatu hal yang tidak biasa terjadi sebelumnya. Bagaimana seruan yang menggetarkan jiwa itu dengan mudah masuk ke telinga-telinga manusia yang bahkan mungkin tidak mengerti apa maknanya.

Khutbah Jum’at dihadiri oleh ribuan muslim di Selandia Baru, layaknya shalat hari raya Idul Fitri. Penguasanya (PM Jacinda Ardern) hadir di kala itu dan membacakan hadits baginda Rasulullah SAW, “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]. Suatu hal yang mungkin tidak akan pernah dia lakukan seumur hidupnya, dan semoga Allah menunjukinya jalan Islam.


Seketika Selandia Baru juga ‘terserang’ demam mode baru, ketika wanita-wanita mereka berlomba-lomba memakai hijab. Siapa yang akan tahu solidaritas itu akan membawa siapapun di antara mereka tertunjuki pada jalan Islam.

Orang-orang kafir yang tak ada permusuhan dengan muslim atau yang bersih hati dan pikirannya berbondong-bondong datang ke masjid, berbela sungkawa atau menjadi ‘pelindung dadakan’ bagi tetangga muslimnya. Bunga bertebaran dari hati-hati yang tulus. Karena keindahan Islam begitu susah untuk dinafikkan.

Tidak hanya di Selandia Baru, efek samping dari teror ini menular hingga berbagai belahan dunia dalam waktu yang singkat.

Di Australia, seorang remaja tiba-tiba mendunia ketika melempar telur ke kepala Anning, senator rasis yang justru menyalahkan muslim sebagai penyebab terjadinya pembataian di Christchurch, Selandia Baru. Will Connolly menjadi ‘pahlawan muslim’ yang mendapat julukan “egg boy”

Mungkin kisah ini akan berlalu, tapi perubahan jelas saja sedang terjadi. Ada hati-hati yang tertunjuki pada jalan Islam. Ada yang kembali pulang pada Islam. Ada kaki-kaki yang mulai melangkah lagi ke masjid. Ada rasa-rasa penasaran pada Islam. Ada persatuan ummat (ukhuwah) yang sedang dimulai dari simpul yang lain.

Mungkin kisah ini akan berlalu, tapi benih-benih yang dihasilkan dari kisah ini akan terus tumbuh dan berkembang. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.”  (QS. 9:32).

Jember, 27 Mar 19
Helmiyatul Hidayati

Nb. Foto diambil di Masjid Ali - Australia



#Gemesda 
#GerakanMedsosUntukDakwah #DakwahTakMeluluCeramah
#Revowriter 
#WCWH6 
#MenyalaBersamaRevowriter 
#Blogger 
#BloggerIdeologis 
#StopIslamofobia