Bunuh Diri atau Pembunuhan??



Bunuh diri kalo menurut wikipedia adalah suatu tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri. Penyebabnya sering kali karena putus asa, gangguan jiwa, alkoholisme dan ketergantungan pada obat.

Sejauh ini, saya tahu bunuh diri kalo search di google. Dari hari ke hari selalu ada berita bahwa ada aja orang yang meninggal karena bunuh diri, baik berita dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan WHO menyebutkan sekitar 800.000 orang meninggal per tahunnya karena bunuh diri. Dengan di Indonesia sekitar 10.000 per tahunnya.

Begitulah, dunia yang semakin gila ini rasanya menjadi wadah yang asyik untuk hal nekat satu ini. Bahkan sampe ada challenge-nya loh. Kalo teman-teman tahu Momo Challenge atau Blue Whale Challenge, nah itu challenge yang mendorong orang untuk melakukan bunuh diri.

Meskipun begitu, ternyata tidak semua “kesempitan hidup” merupakan alasan untuk melakukan bunuh diri. Kim Jong Hyun SHINEE dan Chung Mong Hun pemilik Hyundai merupakan contoh orang nyaris sempurna yang memilih cara mati tidak keren : bunuh diri. Tentu saja, spesies manusia macam mereka ya tidak sedikit.

Tapi berbicara tentang bunuh diri, saya jadi ingat film India berjudul 3 Idiots. Ni film best loh, saya sudah menonton 2 kali tapi tetap saja membuat saya menangis pada adegan-adegan tertentunya.

Sebenarnya film ini bukan tentang bunuh diri, bahkan menurut saya pelajaran yang bisa diambil dari film ini adalah “orang yang berijazah belum tentu belajar, dan bahwa keilmuan dan kemampuan seseorang tidak ditentukan dari selembar kertas yang bernama ijazah.” Yah, kira-kira begitu ya, soalnya si Rancho, pemeran utama menggantikan majikannya untuk menuntut ilmu di sebuah universitas ternama. Rancho hanya ingin “menuntut ilmu” sementara anak majikannya hanya ingin “selembar ijazah” untuk pencitraan.

Adegan yang bikin saya nangis justru sebuah dialog yang diucapkan oleh Pia, putri ketiga Virus ketika dengan emosional menjelaskan kenapa kakak laki-laki tertua mereka akhirnya memilih untuk bunuh diri. Jadi, si kakak sebenarnya pengin jadi penulis, tapi Virus ingin ia jadi insinyur dan harus kuliah di ICE yang keras. Si kakak sudah ikut ujian sebanyak 3x tapi tidak ada yang lolos. Akhirnya karena stress didesak ayahnya, diapun memilih bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke kereta. Si Virus tahunya si anak meninggal karena kecelakaan.

“Apa Ayah tahu kakak ingin menjadi apa? Apa Ayah pernah bertanya apa sebenarnya keinginan kakak? Dia tidak ingin jadi insinyur Yah, dia ingin jadi penulis. Tapi gara-gara Ayah, satu-satunya yang dia tulis seumur hidupnya hanyalah sepucuk surat sebelum kematiannya.” Kata Pia

“Ya, ayah benar, itu bukan bunuh diri. Tapi pembunuhan, dan ayah adalah pembunuhnya!” lanjut Pia.

Oke, adegan bunuh diri dan dialog tadi mungkin bukan teladan yang baik. Tapi saya berpikir bahwa bunuh diri sebenarnya “tidak pernah benar-benar ada”. Semua orang mati karena pembunuhan. Dengan alasan mereka sendiri-sendiri. Tapi ya dosanya sama lah.

Bukan berarti saya membenarkan bunuh diri, tetap saja itu perbuatan yang terlarang, sama seperti terlarangnya mantra Avada Kadavra oleh Voldemort. Hanya saja banyak sekali alasan-alasan yang memicu orang untuk bunuh diri tumbuh subur secara tersistem.

Bukankah ada banyak berita di internet orang yang bunuh diri karena faktor ekonomi. Seseorang miskin kan bukan cita-cita dia (kalo ada yang bercita-cita seperti ini atau dia males, ya udah ga usah dibahas) tapi bisa jadi karena dimiskinkan oleh sistem. Kapitalis memang bikin sengsara. Ga ada makan siang gratis, bahkan bila itu seharusnya hak rakyat yang menjadi kewajiban negara.

Yang bikin miris hati lagi, bila fakta itu dekat dengan kita. Dag-dig-dug rasanya tidak cukup menggambarkan perasaan yang bersenandung.

Hidup itu adalah pemberian dari Allah SWT. Maka yang berhak mencabutnya adalah Allah juga. Tapi untuk menjelaskan ini, tidak hanya butuh pengertian pada mereka yang berputus asa. Ada sistem yang harus kita tebas. Lalu kembali ke Sistem Islam.. kapan ya??

Jember, 17 Feb 19
Helmiyatul Hidayati




Balas Dendam


Revenge (Dendam) yang saya tahu adalah sebuah drama dari Amerika. Pemeran utamanya bernama Amanda, yang berusaha balas dendam atas kematian ayahnya pada sebuah keluarga kaya. Dengan membuat sang Pewaris jatuh cinta. Awal nonton drama ini terasa bagus, lama-lama kok jadi seperti drama Tersanjung (terlalu panjang). Saya alergi dengan drama type begini.

Tapi drama dengan latar belakang cerita seperti ini ada buanyaaakkk.. Di jagat pertelevian berbagai negara di dunia, produksinya udah bejibun. Korea, Mandarin, Thailand, Indonesia de el el. Di Korea paling suka drama oppa Lee Min Ho dalam City Hunter. Doi kan jadi “alat” balas dendam si ayah tiri yang merasa dikhianti oleh negara. Begitulah ya negara-negara yang menganut sistem kapitalis, suka bikin rakyatnya mendendam. #Eh kok jadi ngomongin drakor..


Di Indonesia, ada sebuah film (yang katanya based on true story) dengan tema balas dendam yang sampai sekarang saya ingat ceritanya meskipun baru sekali nonton dan itu sudah lama sekali. Judulnya "School", pemeran utamanya adalah seorang anak laki-laki yang di rumahnya hanya melihat orang tuanya bertengkar, kakak yang tidak peduli padanya, sementara di rumahnya ia dibully oleh teman-temannya, dianggap tidak pintar oleh gurunya. Akhirnya ia membeli sebuah senjata api dan menyandera seluruh teman-temannya. ketika polisi datang untuk bernegosiasi, akhirnya ia berakhir dengan menembak diri sendiri dengan pistolnya.



Ada sebuah cerita yang pernah saya baca, tentang wanita yang diceraikan oleh suaminya karena dia tidak pintar dalam urusan dapur. Wanita itu begitu mencintai suaminya hingga ia terpuruk karena perceraiannya. Ketika akhirnya ia bangkit ia dikenal sebagai pemilik toko kue terbesar dan terlezat di daerahnya. Dimana toko kue itu selalu dilewati oleh suaminya setiap pagi ketika ia berangkat bekerja. Nama toko itu ia beri nama “Sweet Revenge”, meskipun tanpa kata, itu adalah isyarat dari sang Istri bahwa toko kue itu adalah usahanya untuk balas dendam kepada mantan suaminya.
Saya selalu yakin sefiksi-fiksinya sebuah cerita pasti terinspirasi dari kisah nyata. Karena informasi-informasi para penulisnya memang adalah kisah-kisah kehidupan nyata. Ga ada yang lain.

Di dunia nyata pun, orang mendendam tak kalah banyak dari jumlah dramanya. Setiap orang memiliki dendam. Tapi tidak semua orang bisa balas dendam dengan cara yang manis (Sweet Revenge)

Ketika saya membaca cerita ini, saya berasa ingin makan kue yang manis. #Apasih


Ali bin Abi Thalib pun pernah berkata, “balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik.”

Kalo saya bilang orang yang hijrah adalah orang-orang yang suka balas dendam dengan cara yang manis.

Orang yang hijrah, meninggalkan masa lalunya di belakang. Masa dia merasa tidak baik-baik saja. Menjemput masa yang lebih baik, supaya memiliki masa depan lebih cerah. Sedapat mungkin supaya mendapatkan Surga sebagai masa depan terbaik dari sebaik-baiknya masa depan.

Kejahiliyahan atau butanya kita pada aturan Sang Maha Pencipta adalah alasan paling tepat dan benar bagi seseorang yang melakukan balas dendam bagi dirinya sendiri. Cara terbaik melaksanakan dendam adalah dengan hijrah.

Bagi kamu yang memiliki masa lalu tak sedap. Mungkin dulu dirimu adalah orang tua yang buruk untuk anak-anakmu, istri yang tak taat pada suamimu, anak yang tidak berbakti pada orang tua. Teman yang suka menusuk dari belakang, bahkan bila kau merasa hidup ini tidak adil dll. Lakukanlah balas dendam!

Buat misi untuk melakukan balas dendam sesegera mungkin, supaya hati menjadi tenang dan akalmu tetap sehat dan terpuaskan. Sebenarnya banyak orang tidak waras akhir-akhir karena kebanyakan memendam rasa, eh memendam dendam.

Belajarlah balas dendam pada mereka yang telah sukses berhijrah. Karena benar-benar serius menjadikan diri mereka lebih baik.

Engganlah berbalik pada masa lalu yang jahiliyah. Masa dimana, bahkan kita tidak tahu bahwa Allah pula Sang Pengatur Kehidupan.

Belajar Islam yang kaffah, bukan setengah-setengah. Biar ga salah paham.

Jember, 15 Feb 19
Helmiyatul Hidayati

Tas Hermione Granger dan Rezim Boneka

// Tas Hermione Granger dan Rezim Boneka //
.
.
Kata dek @maha.raninew kalo kita pengin memiliki sesuatu, sholawatin aja, biar segera jadi milik kita. Nah, kalo fotonya aja, kaya gini, kira2 mustajab ga ya dek?? 😂 


Ngomongin soal tas, jadi inget kisah Harry Potter yang pernah saya baca. Entah buku keberapa saya lupa. Tentang Harry dan 2 sahabatnya yang memutuskan melanglang buana untuk mencari horcrux. Dengan kata lain mereka lari karena menjadi buronan rezim.
.
Kenapa saya bilang mereka buronan rezim, krn pada saat itu kementrian sihir sudah dikuasai oleh "Dia Yang Namanya Tak Boleh Disebut". Perdana mentri (saya lupa siapa 😅) dikabarkan berada di bawah pengaruh kutukan Imperius.
.
Kutukan Imperius menempatkan korbannya dalam 'mimpi', membuatnya berada dalam kontrol penuh (mematuhi perintah apapun) si pemberi kutukan. Dengan kata lain perdana mentri adalah rezim boneka.
.
Tuduhan yg diberikan pada Harry dkk antara lain Harry terlibat dalam pembunuhan Dumbledore, Hermione dianggap sebagai pencuri sihir (krn dia muggle/manusia yg menurut rezim seharusnya tidak memiliki kemampuan sihir), membawa kabur salah 1 harta berharga Hogwarts yakni pedang Godric Griffindors.

Tentu saja semua tuduhan ini hoax. Padahal intinya petahana ingin melanggengkan kekuasaan aja, dengan berusaha menyingkirkan siapapun yang berbahaya bagi kekuasaannya.

Jadi bener tuh kata Rocky Gerung, bahwa "pembuat hoax terbaik adalah penguasa. Karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen dia punya, data statistik dia punya, media pun dia punya. Orang marah. Tapi itu faktanya. Hanya pemerintah yang mampu berbohong secara sempurna. Saya tidak ingin dia berbohong tapi potentially dia bisa lakukan itu."

Hermione sebagai teman tercerdas berinisiatif membawa tas tangan ajaib yang sudah dia mantrai sedemikian rupa hingga muat banyak hal. Kalo saya bilang, kantong doraemon mah bukan apa-apanya.

Tas tangan itu banyak membantu mereka selama dalam perjalanan kejar-kejaran dengan pengikut "Kau Tahu Siapa" dan pencarian horcrux ke berbagai belahan dunia.


Hingga akhirnya mereka kembali ke Hogwarts untuk menghancurkan horcrux dan menghadapi Voldemort.

Begitu Voldemort tumbang, jatuh pula segala sistem pertahanan pendukungnya. Tercerai berai, hilang, sirna tak dapat bangkit lagi seperti runtuhnya sosialisme-komunisme.

Harry dkk tahu betul bagaimana membalikkan keadaan di dunia sihir agar menjadi 'normal kembali' adalah dengan menjatuhkan Voldemort (sistem) bukan dengan mengganti perdana menteri (rezim boneka), krn siapapun yang menggantikan perdana menteri, selama Voldemort masih hidup, dia akan selalu bisa meluncurkan kutukan Imperius.

Intinya #2019GantiRezim #2019GantiSistem.

Sekian.

Jember, 06 Feb 19
Helmiyatul Hidayati


Nb. Foto tas hanya ilustrasi, tapi bisa dibeli di @hijabmalika_ yess 😋😘

Rumput Tetangga Lebih Hijau dari Rumput Sendiri

Sumber Foto : Islampos


Manusia itu aneh. Iya.. kamu dan aku adalah salah satunya. Kebanyakan dari kita selalu melihat ke atas tapi enggan melihat ke bawah.

Ada yang bilang “manusia bukan malaikat yang selalu benar, bukan pula setan yang selalu salah, ia adalah manusia yang bisa benar, namun juga bisa salah.” Saat kita merasa benar, sudahkah kita menyadari bahwa kesalahan kitapun tak kalah banyak. Namun begitu, kitapun selalu jatuh dalam perselisihan yang menyebabkan air mata berderai-derai. Tak jarang iman pun tergerus kerasnya kehidupan.

Tak jarang pula ada yang ‘selingkuh’ dari tuhan. Ketika sholat kau menyembah-Nya, selayaknya Dia memang adalah tempat bersandar. Namun ketika hantaman ujian menghadang, kepanikan membuatmu kalang-kabut tak karuan hingga tak melihat ke arah mana lagi kau berjalan, kemana disandarkan lelah dan letih yang membahana.

Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri artinya apa yang dimiliki oleh orang lain, biasanya terlihat lebih indah (lebih baik) dari apa yang kita miliki. Bahkan termasuk dalam urusan ujian kehidupan. Seseorang akan menganggap ujiannya jauh lebih berat daripada ujian orang lain dst. Endingnya : dunia ini tidak adil, tuhan itu tidak adil.

Padahal Allah tidak akan pernah salah menakar. Juga tak akan pernah salah menukar. Baik itu nikmat maupun ujian.

Kawan.. kuberi tahu kau tentang suatu ujian, yang mungkin bila ia sampai padamu, kau bisa jadi tak menginginkan hidup lagi. Bisa jadi kau akan mensyukuri sekedar diberi ujian kemiskinan atau cinta yang rumit.

Saudarimu di Palestine, Samah Zuheir Mubaarak, gadis penghafal Al-Qur’an berusia 16 tahun ditembak mati oleh zionis kejam Israel.

Jika ia adalah kamu, jika ia adalah putrimu, jika ia adalah adikmu, jika ia adalah istrimu, jika ia adalah ibumu. Masihkah kau keluhkan hal lain kecuali meratapinya??

“Samah Mubaarak, umurnya 16 tahun. Ya 16 tahun. 10 hari sebelumnya dia telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya. Dengan telah hafal seluruh Al-Qur’an (kitabullah) dan dia mendapat hadiah berangkat ibadah umrah. Maka 10 hari ia berumrah di Baitullah Al-Haram. Lalu ia pulang ke kampung halamannya di Ramallah, Palestine.

Lalu pada saat ia pulang sekolah, ia harus melewati salah satu pos pemeriksaan Yahudi. Dia diminta paksa untuk melepas cadarnya, namun ia menolak. Tak ingin lepas cadar di depan tentara zionis ini. Maka tentara ini melepaskan tembakannya ke tubuh remaja ini hingga ia tergeletak di atas tanah dan gugur syahid.

Peristiwa ini baru kemarin. Namun saya ragu, 1.5 milyar muslim hari ini sudah tahu bahwa ada remaja putri penghafal Qur’an, umurnya masih 16 tahun telah dibunuh oleh keturunan kera dan babi kemarin. Hingga tergeletak syahid, jatuh ke atas tanah dan jatuh bersamanya sisa-sisa kemuliaan kita. Saat remaja ini jatuh, jatuh bersamanya kemuliaan umat ini.

Laa haula wala quwwata illa billah. Demi Allah, kita hanya bisa membacakan Alfatihah untuk sisa-sisa ini. Demi Allah, kita tinggal takbirkan 4x untuk apa yang tersisa ini. Hanya itu. headline berita kita, di cetak, elektronik dan TV si fulan menang, si fulan kalah tanpa tahu bahwa masjid Al-Aqsha kemarin kehilangan seorang remaja bercadar.

Ia kembali ke Allah SWT, mengadukan kita kepada Allah SWT. Ia kembali ke sisi Allah SWT, mengadukan para penguasa kita, ia kembali ke sisi Allah SWT, mengadukan pasukan bersenjata kita. Karena mereka semua akan menghadap Allah SWT dan remaja ini dengan keadaan darahnya yang mengalir menuntut para penguasa dan pasukan ini, yang membiarkan darahnya tumpah dan cadarnya dilepas dengan zalim dan tanpa haq.” (Mahmud Hasanat – Da’i Gaza)

Dan setiap harinya, selalu ada syuhada yang mengadukan kita ke hadapan Allah SWT. Tak terhitung berapa banyak saudara kita yang sedang menunggu untuk bertemu kita dan menuntut kita.
Sementara di sini apa yang kita lakukan? Hanya bergelut dengan masalah pribadi yang tak kunjung habis, bahkan untuk sekedar memperbaiki diri pun tak pernah finish. Berangkat kajian saja masih meringis.

Kita masih begitu sibuk dengan komentar orang lain, sementara setiap hari para syuhada yang gugur berkomentar tentang kita yang diam di hadapan Sang Maha Kuasa.

Sekali lagi, Jika ia adalah kamu, jika ia adalah putrimu, jika ia adalah adikmu, jika ia adalah istrimu, jika ia adalah ibumu. Masihkah kau keluhkan hal lain kecuali meratapinya??

Jember, 04 Jan 19
Helmiyatul Hidayati




Sibuk Itu Pasti. Sibuk Apa itu Pilihan


Di grup @revowriter kunang-kunang Revo5 heboh quotes dari emak kece @julak_farah 

"Artis aja udah hijrah, lu kapan?
Artis yang sebok aja ikut kajian. Nah lu artes mana?" 😜

Eyaaa kurang lebih begitulah yess.. 
Emang iya, kalo qt lihat para artis itu orang paling sibuk sedunia. Pejabat aja kalah. Buktinya masih aja ada yg sempet baca komik 😪

Seorang teman saya @siska_indr bilang quotes ini sempol, eh nampol. Kalo sempol mah jajanan yaa.. 😋

Jadi hijrah itu ga ada korelasinya ya bu ama profesi kita. Nah tuh artis aja pada banyak yg hijrah, udah kaya burung pada mau bermigrasi, berbondong-bondong.

Ikut kajian juga ga ada korelasinya ama aktivitas sehari2 ya guys. Itu artis yang sebok shoot dari pagi ampe ketemu pagi lagi, yg meskipun punya rumah, tapi tidurnya malah seringkali di mobil bisa aja ikut kajian.

Bersyukurlah ya yang jadi ibu rumah tangga, krn (seharusnya) pasti bisa ikut kajian. 
Bersyukurlah ya yang lagi jadi karyawan, krn (seharusnya) pasti bisa ikut kajian.
Bersyukurlah ya yang ngurusin usaha kecil2-an, krn (seharusnya) pasti bisa ikut kajian. 

Allah sudah memberikan qt kewajiban untuk menuntut ilmu. Itu artinya Allah sudah men-setting kita ya bisa dan mampu menuntut ilmu, siapapun kita, apapun profesi kita.

Haditsnya jelas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913)

Nah, kalo ada yang merasa ga bisa, bahkan mungkin sampai meninggalkannya. Sama aja kan meremehkan rahmat yang diberikan oleh Allah. Wong kita udah dipercaya kok sama Allah, lah kok malah ngeyel.

A long time ago, saya pernah pula baca tulisan mbak @alga_biru tentang muslimah yang merasa kesulitan memakai gamis saat berkendara sepeda motor. Padahal sebenarnya ada banyak solusi untuk mengatasi masalah itu. Dan sampe sekarang akhwat udah pada pinter "balapan" di jalanan dengan jilbabnya.
Intinya ketika seorang manusia fokus pada masalah yang dia miliki, ya ga bakal selesai itu masalah. Tapi kalo fokus pada solusi, maka ia akan menemukan jalan keluar.

Memang masalah apapun kalo dipikir pake logika manusia, ga ada yg kecil, ga ada yang bakal selesai. Tapi bagi Allah itu mudah. Apalagi kalo kita taat.

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS Ath-Thalaq : 2-3)

Sibuk itu pasti. Tapi sibuk mau ngapain itu pilihan. Sibuk melaksanakan kewajiban dari Allah atau sibuk mengabaikannya??

Nah say, kapan kita bisa kajian bareng?? 😊

Jember, 28 Jan 19
Helmiyatul Hidayati

Nb. Ditulis di pinggir jalan saat lagi ngaso sambil ngeteh seorang diri. Ehehe

Naga Ikut BPJS??


Naga memang mahluk mitologi, tapi kalo buah naga itu adalah buah yang tampak dan nyata adanya. Entah tahun berapa buah ini pernah booming sekali, padahal saat itu saya yakin tidak lagi diambil dari sudut kamera yang pas (Haha). Saya suka buahnya kala itu, terutama yang warna putih, tapi kalo sekarang sih biasa aja.



Di Jember ada beberapa kebun buah naga yang dijadikan sebagai taman Agrowisata. Salah satunya di Kebun Gading Asri yang letaknya di dalam perumahan Taman Gading Jember. Kemarin (15/01) saya ke sana bersama seorang teman sekaligus ‘mantan’ kakak kelas saya, Isti Kartikasari.

Taman seluas 2 hektar itu terlihat masih dalam proses pembangunan, banyak pak tukang bekerja di sana-sini. Belum ada pohon rindang yang menemani seperti di Alun-alun Banyuwangi, jadi udaranya terasa panas. Namun meskipun begitu, tempat ini termasuk indah menurut saya, ada gubuk-gubuk, villa, ruang meeting, taman bermain dll. Katanya juga akan dibangun kolam renang, kalo sudah jadi mungkin akan jadi tempat favorit buat anak-anak.

Lebih penting lagi, taman ini instagramable banget, spot fotonya banyaakk.. Hihi

Dan Alhamdulillah saat kami ke sana kemarin, tidak ada tiket masuk, bayar denda perkara pembakaran bendera Tauhid aja. Eh, bayar parkir sepeda motor maksudnya, 2ribu perak. Hehe


Yah, tentunya ke sana tidak hanya sekedar datang, kebetulan juga saya punya misi rahasia. Misi itu adalah melakukan LIVE INSTAGRAM. Wkwkwkwk
Katakanlah misi ini tidak penting, udah lama punya instagram, baru kali ini Live pemirsah.. (etapi, emang siapa saya pake penting yang mau live segala)

Eksperimen Live waktu itu dibantu mbak Isti, kami membicarakan tentang BPJS. Karena kami (saya dan mbak Isti) sama-sama merupakan mantan karyawan, kami tahu bahwa BPJS itu dibayarkan oleh perusahaan. Sekarang karena mbak Isti sudah resign, yang membayar jaminan tersebut adalah perusahaan tempat dimana suaminya bekerja.

“Mbak pernah dipake ga itu BPJS? Gimana pengalamannya??” Tanya saya.

“Dipake. Ya gratis, ga usah bayar kalo berobat, tapi kalo sakitnya yang ringan-ringan. Flu, batuk, pilek itu pake BPJS, tapi kalo sakitnya parah, ga berani pake BPJS.” Jawabnya.

Pipi saya langsung bersemu merah kaya habis digombalin oleh mas suami. Geli dengar jawabannya. Tapi ini memang gambaran umum kebanyakan orang sih, pelayanan kesehatan BPJS memang memiliki citra yang buruk, obat yang diberikan kelas receh, proses pelayanan pun rumit.

Bahkan tidak lama berlalu ini, pak dan bu dokter mendapat biaya parkir, eh jasa medis sebesar 2ribu perak per pasien. Bagi saya ini miris loh guys,, kita taulah ya, mau jadi dokter itu otak kudu encer, hafalan harus kuat kaya hafidz or hafidzoh, menempuh pendidikan rumit bin lama. Keluar-keluar cuma jadi tukang parkir, eh dokter yang dibayar setarif tukang parkir (nasional.kompas.com).

Dan.. masih banyak lagi berita terkait dengan BPJS yang bikin ‘tuing-tuing’ di kepala. BPJS Defisit, pemutusan kerjasama beberapa rumah sakit dengan BPJS, utang BPJS pada rumah sakit yang tak terbayar dsb.

Dalam suatu kesempatan pula, teman saya ini pernah mengunjungi salah satu rumah sakit di Jember guna mendapatkan pengobatan. Bertemulah dia dengan seorang bapak-bapak yang akan pulang karena tidak bisa mendapatkan perawatan dari dokter. Setelah diusut ternyata bapak itu adalah pasien BPJS, namun dokter hanya mau menerima 1 (satu) orang pasien per hari. Iyahh,, berasa ada dentingan gelas pecah ya makk..

Terus BPJS itu kan maksudnya jaminan kesehatan ya mak. Pemikiran saya yang sederhana ini sebenarnya beranggapan bahwa kalo sesuatu yang benama jaminan itu seharusnya tidak memberatkan orang yang dijamin.


Misalnya, saya menjamin uang kuliah adek saya, kira-kira saya bakal minta duit (premi) bulanan ga sama dia?? Ga mungkin dong ya, namanya juga saya menjamin dan adek saya dijamin oleh saya. Permasalahan yang membuat saya menjamin dia : biaya kuliah.

Mudah-mudahan ga bingung ya mak.. slow sambil ngeteh deh..

Tapi yang namanya asuransi, termasuk BPJS yang meskipun klaimnya adalah jaminan kesehatan, malah mewajibkan pembayaran premi bulanan. Ini sebenarnya niat ngasih jaminan ga sih?? Atau sebenarnya rakyat (nasabah) adalah sekedar target pasar untuk meraih pundi-pundi?? Ah, kapitalis..

Padahal seharusnya pelayanan kesehatan kalo di dalam Islam harus memiliki empat sifat. Pertama, tidak ada pengkelasan dan pembedaan dalam pemberian layanan kepada rakyat, bahasa kerennya universal.

Kedua, bebas biaya alias gratis. Jadi mak, jangan keder kalo ada yang bilang kita ngelunjak karena ga sanggup bayar premi BPJS yang katanya ga seberapa itu, karena emang kalo di dalam Sistem Islam itu harusnya gratis. Mungkin yang ngomong begitu belum pernah disembur naga api, eh makan buah naga. J

Ketiga, seluruh rakyat bisa mengasksesnya dengan mudah. Saya pernah diceritakan oleh seorang teman yang terpaksa opname tapi tidak mendapatkan kamar karena full. Kira-kira sampe 2 hari dia kesakitan di rumah karena menunggu kabar dari rumah sakit apakah kamarnya sudah tersedia tapi jawaban rumah sakit selalu sama. Akhirnya teman saya itu pun memutuskan untuk ‘upgrade’ kamar, barulah dia bisa opname. Intinya = ribet.

Keempat, pelayanan mengikuti kebutuhan medis bukan dibatasi oleh plafon.

Duh, kurang keren apa lagi sih kalo sistem Islam diterapkan??

NB. Live-nya sukses sih pas recording, tapi setelah diupload, suaranya tidak ada. hasil akhir = gagal. 


Kota Seribu Pesantren, 18 Jan 18
Helmiyatul Hidayati

#SosmedForDakwah
#BloggerIdeologis

Begitu Cepat Waktu Berlalu. Dimana Kita Sekarang??





10 tahun berlalu.. tak ada foto kala itu yang menemani, jadi biarlah kata yang bercerita.

Waktu itu mungkin saya masih karyawan kontrak. Dan mungkin 2009 adalah tahun dimana pertama kali saya mengenakan hijab. Tentu saja tidak seperti sekarang, model hijab yang dimasukkan ke dalam baju 😅

Gaji tidak besar, tapi karena berhasil ambil cicilan motor rasanya bangga 🤭. Padahal itu riba 😢
Tapi tetap yang namanya materi (uang) tidak pernah cukup. Kata pepatah besar pasak daripada tiang.

Saya pikir apakah saya yg boros?? Saya glamor?? Saya pikir dari dulu sampai sekarang saya bukan orang seperti itu. Sejak saat itu saya selalu mencatat pengeluaran saya setiap hari, kemudian saya ketik di Excell 😎. Eh tapi kalo sekarang pake aplikasi dong, pan kemajuan 😃

Sekarang kalo dipikir-pikir kebanyakan orang ya begitu, bahkan ada yang hanya punya pasak tapi ga ada tiang, alias banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Menjadi janda zaman sekarang pun sulit. Anak hasil pernikahan menjadi tanggungan orang tua yang mengasuhnya, padahal kalo masih kecil akan ikut ibunya. Ayahnya?? Ya udah bebas kembali ke alam liar, tanpa memberi nafkah.

Tau kenapa?? Kadang bukan karena lupa atau tidak mampu, tapi karena tidak tahu bahwa kewajiban menafkahi anak tidak luntur hanya karena tidak lagi menikahi ibunya. Sementara ibunya kelimpungan setengah mati. Jangankan seorang singgle mom yang harus “fight” menghadapi dunia, terkadang yang lengkap keluarganya pun masih belum cukup penghasilan untuk sekeluarga.

Kebetulan kemarin ada kesempatan ketemu dengan seorang kenalan, pemilik usaha @donat_waloh yang enak pake banget. Pencipta resep dan penjualnya adalah couplepreneur mbak @sucianggraini dan suaminya. Eh mereka pengantin baru dan sekarang mbak Suci lagi hamil muda anak pertama. Semoga selalu sehat ya mbakk.. Kawan mesti cobain ini donat yahh..


Kalau boleh saya bilang, meskipun singkat dan santai, saya dan mbak Suci sempat bertukar pikiran, tentang kehidupan zaman sekarang, dimana setiap orang itu harus usaha pake mati-matian untuk menyambung hidup, kalo ga kerja ga ada duit, kalo ga ada duit ga bisa makan. Kalo lo ga makan lo bakal END. Serem?? Bangett.. Jadi berasa kalo hidup ini cuma kerja untuk makan gitu yaa..

Bahkan terkadang seorang istri bekerja bukan karena gaya hidup, tapi ya karena tuntutan hidup. Dituntut bayar listrik, bayar sekolah anak, bayar cicilan rumah, bayar biaya kesehatan yang selangit kalo sakit, kebutuhan pokok yang tak lagi murah, bahkan mungkin untuk pipis pun dituntut untuk bayar.

Eh iya sih ada yang bekerja demi gaya hidup, yang sebenarnya lebih mahal daripada kebutuhan pokok. Cek aja di lapak sebelah, gaji 80juta semalam, menjadi tidak berharga karena tak memiliki “nilai” (yang inih kapan2 aja bahasnya kalo mbak blogger yang sok rempong ini gak amnesia) Haha

Karena sulitnya belantara kehidupan ini pun, akhirnya banyak pula wanita yang tidak tega beban nafkah ada di pundak suami seutuhnya. Keluarlah mereka dari ranah domestik, bekerja pula demi sesuap nasi. Dan sebongkah berlian. Hehe

Setelah saya mengkaji Islam, saya tahu itu kurang keren. Bukan berarti istri tidak boleh bekerja yaa. Seorang wanita bebas berkarya asal tidak keluar dari syariat Islam dan tetap tahu skala awlawiyat-nya (skala prioritas). Maksudnya ini skala prioritas dalam beramal. Manusia tidak boleh menentukan prioritas beramal berlandaskan logika, fakta, manfaat-mudharat apalagi hawa nafsu.

Skala Awlawiyat maksudnya kurang lebih mendahulukan yang wajib daripada sunnah, mendahulukan yang sunnah daripada mubah. Haram harus mutlak ditinggalkan, makruh berusaha ditinggalkan.

Dalam hal ini, karena hukum asal seorang wanita adalah seorang ibu dan pengatur urusan rumah tangga bukan sebagai pencari nafkah. Maka jangan sampai karena hal yang mubah, kewajiban malah tergadai.

Di zaman sulit, hal ini tidak mudah, yang bekerja saja masih kelaparan, apalagi yang tidak bekerja. Udah jadi tulang-belulang kali yaa..

Tapi berbeda ketika sistem Islam diterapkan, meskipun seorang janda ia akan menjadi tanggungan walinya, bila ada ‘wali’ yang mangkir bisa menjadi sebuah kriminalitas yang akan diadili oleh hakim. Bila sama sekali tidak ada wali yang bisa menanggung, maka hak nafkah-nya ada pada negara. Dalam sebuah hadits menyebutkan, “Pemimpin adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR. Al-Bukhari).

Selain itu, di dalam sistem Islam, orang tua tidak perlu pusing dengan biaya pendidikan, kesehatan, transportasi, pekerjaan dll. Karena semuanya seharusnya merupakan hak rakyat dan gratis, minimal murah sekali.

Bayangkan bila kita hidup di sistem yang seperti itu. kita pasti bisa lebih fokus menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita, menjadi istri yang shalihah untuk suami kita, menjadi anak yang berbakti untuk orang tua kita, menjadi saudari yang shalihah, menjadi bagian ummat yang berjuang di jalan Allah. Wah bisa mengeruk pahala dari mana-mana, “chance” masuk surga pun lebih banyak. Aamiin..

Mungkinkah ini?? Sulit bagi kita, tapi tidak bagi Allah.. karena sudah ada janji-Nya di dalam QS. An-Nur : 55 yang artinya, Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

10 tahun sudah berlalu, sudahkah hidup kita nyaman sekarang? Sudahkah saudara-saudara kita yang ditindas itu merdeka? Sudahkan kita tak perlu memikirkan biaya hidup? Sudahkan kita tidak perlu mengkhawatirkan kejahatan-kejahatan yang mungkin saja bisa terjadi? Sudahkah kita yakin suami kita tidak akan direbut pelakor?? Sudah idealkah dunia saat ini untuk anak-anak kita?? Dll

Begitu cepat waktu berlalu.. Dimanakah kita sekarang??

Jember, 16 Jan 18
Helmiyatul Hidayati

#10yearsChallenge
#SosmedForDakwah