RAID : Memburu Pajak yang Hilang

Sumber Foto : Sacnilk


Sudah lama tidak menjamah film India. Sekalinya menjamah, dijodohkan dengan RAID nih. Film yang dibintangi oleh Ajay Devgan ini berlatar era tahun 80-an. Dan diangkat dari kisah nyata loh, yang termasuk peristiwa bersejarah di India. Sebuah penggerebakan penggelapan pajak terbesar di sana.


Sudah kebayang kan? Film ini jelas bukan soal romansa yang umumnya menjadi tema-tema film kebanyakan. Ini adalah perlawanan antara yang baik dan yang buruk. Tapi bukan juga drama action, pertarungan antara pemain antagonis dan protagonis berlangsung dengan cara bermain kata dan strategi.

Mr. Amay Patnaik yang merupakan tokoh sentral dalam film ini adalah seorang Komisaris di Kantor Pajak Penghasilan dan sudah dimutasi sebanyak 49 kali selama tujuh tahun terakhir. Ia memiliki kredibilitas sebagai pejabat yang bersih, jujur dan tidak kenal takut. Dalam kisah ini ia ditugaskan di kota LuckNow.

Mungkin divisi Amay Patnaik ini lebih seperti KPK kalau di Indonesia, tugasnya mencari penggelapan pajak yang menimbulkan kerugian pada negara. Eh, jadi ingat kasus Gayus Tambunan nih..

SINOPSIS

Tidak lama setelah sampai di kota LuckNow, Amay Patnaik mendapat surat kaleng yang memberikan bocoran informasi akurat mengenai penggelapan pajak sebesar 4,2 milyar rupee yang dilakukan oleh seorang senator sekaligus orang terpandang di kota tersebut, Rameshwar Singh alias Rajaji.

Adegan selanjutnya adalah berisi petualangan Amay Patnaik dalam menyelidiki kebenaran dari isi surat kaleng tersebut. Setelah dirasa mendapatkan bukti yang cukup, maka dia pun merencanakan sebuah penggerebekan.

Dari sini, mulailah Amay merancang strategi, seakan-akan tahu bahwa salah satu anak buahnya akan membocorkan penggerebekan, ia membagikan amplop pada masing-masing anak buahnya. Amplop itu hanya boleh dibuka atas perintah Amay, di tempat dan waktu tertentu.

Penggerebekan pun dilakukan di rumah Rameshwar Singh yang bak istana, bahkan disebutnya Gedung Putih (macam gedung pemerintahan ya). Adegan paling keren ada di rumah ini. Bagaimana seluruh harta yang berupa uang tunai, perhiasan, lantakan emas, barang antik dll sedemikian rupa disimpan. Ada yang ditanam di dalam tembok, di pilar penyangga rumah, di dalam tangga, di halaman, di ruang bawah tanah bakan lantakan emas ditemukan di langit-langit rumah. Kalau menurut saya, disinilah adegan “killing part”nya berada.

Rajaji berusaha menyelamatkan diri, ia berusaha melobi kesana-kemari hingga sampai ke Perdana Menteri, bahkan ia juga berusaha mencelakakan istri Amay Patnaik. Namun semua usahanya tidak berhasil, Amay Patnaik tidak berhenti “mengobrak-abrik” rumahnya. Hingga akhirnya ia mengerahkan warga untuk menyerang Amay di rumahnya sendiri, namun untunglah polisi yang dikirim oleh PM India datang tepat waktu.



SISI LAIN


Dialog paling ‘mendalam’ di film ini menurut saya ketika para saksi yang dipilih oleh Rajaji menandatangani sebuah dokumen (semacam pernyataan bahwa mereka memang melihat “harta haram” di rumah tsb) kemudian berkata, “Aku sudah menandatanganinya, tapi ini tidak ada gunanya. Ketika semua uang ini dikembalikan kepada pemerintah, pejabat lain akan menggelapkannya.”

Kemudian dijawab oleh Amay, “Pak, apakah jika murid anda bodoh dan nakal, anda akan berhenti mengajar?”

Pemberantasan pada korupsi, seperti kata Amay, memang harus dilakukan tanpa ada kata menyerah. Namun lebih efektif lagi bila sistem sebuah negara membuat praktek seperti ini kecil hingga tidak ada. Tentu tidak ada sistem buatan manusia yang bisa seperti ini. Hanya sistem Islam yang bisa. Karena standar dalam sistem Islam bukan lagi materi seperti sistem kapitalisme saat ini, namun standar halal-haram yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

RAID ini memberi tahu kita bahwa pajak itu adalah salah satu sumber penghasilan terbesar. Termasuk di negeri kita tercinta, pajak dan utang merupakan sumber pendapatan negara yang utama. Yah zaman sekarang, apa sih yang ga ada pajaknya, bahkan kita makan pun dipajak kan? Dimana nantinya uang hasil pajak digunakan untuk kesejahteraan rakyat, mengalir pada pembangunan infrastruktur, subsidi bahan bakar, kesehatan, pendidikan dll

Tapi, kalo mau dianalogikan, sebenarnya negara tak ubahnya individu. Tidak seharusnya mengandalkan pendapatan dari pajak, apalagi utang. Iya kali kita hidup malakin orang mulu, terus ama ngutang mulu. Ga enak banget kan..
Cari nafkah itu ya kerja.. kerja yang halal, supaya berkah dan barokah. Itu baru namanya HIDUP..

Di dalam Islam, pajak memiliki syarat yang ketat. Pertama, Pajak tidak bersifat kontinu, hanya dipungut bila kas negara kosong. Kedua, digunakan untuk pembiayaan yang merupakan kewajiban dan sebatas jumlah yang diperlukan, semisal untuk jihad, gaji ASN dll. Ketiga, hanya diambil dari kaum muslim, tidak non-muslim. Keempat, dipungut dari kaum muslim yang kaya. Kelima, dipungut sesuai jumlah pembiayaan yang diperlukan tidak boleh lebih (mtaufiknt).

Dengan kata lain, pajak diberlakukan bila negara dalam keadaan DARURAT. Hingga kas negara terisi kembali. Bagaimana bila kas negara selalu kosong atau defisit? Bisa jadi ada kesalahan dalam sistem perekonomiannya. Semisal, sumber pemasukan negara dari sektor sumber daya alam TIDAK ADA karena sektor tersebut diserahkan pada asing. Ya jelas kita ga akan dapat apa-apa..

Pajak yang ditarik di luar ketentuan-ketentuan tersebut, maka itu merupakan kezaliman atas rakyat dan tidak boleh dilakukan. sebagaimana dikatakan oleh adz-Dzahabi dalam al-Kabair, “Pemungut pajak adalah salah satu pendukung tindak kezhaliman, bahkan dia merupakan kezhaliman itu sendiri, karena dia mengambil sesuatu yang bukan haknya dan memberikan kepada orang yang tidak berhak.

Terlebih lagi di zaman sekarang, pajak diwajibkan oleh beberapa pemerintahan dan digunakan untuk kepentingan-kepentingan elit yang sebenarnya tidak perlu. Misalnya menjamu tamu dari kalangan para raja dan pemimpin negara lain dengan dana yang fantastis. Mendanai berbagai kegiatan atau ajang-ajang yang mengandung kemaksiatan semisal konser, pesta, festival dll.

Pajak seperti inilah yang oleh sebagian ulama disebut, “Pajak dipungut dari kalangan miskin dikembalikan ke kalangan elit.” Padahal menurut sabda Rasulullah SAW, seharusnya “Diambil dari kalangan elit dan dikembalikan kepada kalangan fakir.”

Wallahu a’lam

Ada Bagian Bumi yang Bukan Ciptaan Allah??

Eh iya dulu juga sempat berpikir begitu, kenapa sih situ2 (pengemban dakwah) pada suka tereak perubahan.

Perubahan extrim lagi : Semua aturan harus Syariah!! Bukan hanya ibadah yang harus sesuai syariah, politik dan ekonomi juga harus syariah. Bla bla bla

Padahal kita itu udah hidup di negara yang  dr zaman emak-bapak kita belum ketemu udah ada aturan sendiri.

Tapi guys.. sebenernya bukan mereka yg ingin merubah tatanan yang ada. Justru kita2 yang terlena dengan aturan jahiliyah inilah yang sebenernya sudah melakukan perubahan pada aturan dasar kehidupan, yaitu aturan dari Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Pengatur.

Sebelum manusia zaman now pada sibuk cari-cari cara untuk menyelesaikan masalah kehidupan. Dari zaman Baheula, Allah bukan hanya ngasih "kisi-kisi" jawaban atas segala problematika ummat. Ga tanggung-tanggung Allah langsung kasih contekan melalui para nabi dan rasul yang diutusnya.

Terkhusus utusan bernama Nabi Muhammad emang beda. Do'i bukan hanya diutus oleh Allah untuk kaum tertentu tapi untuk seluruh ummat manusia. 

Risalah yang dibawa ga spesifik, global men.. Segala sesuatu diatur dan ga ada expired di zaman apapun. Cocok buat semua golongan darah, eh golongan manusia dengan warna, bentuk, bahasa, ras, suku dan rasa apa saja. #Eh

Risalah Sang Rasulullah terakhir ini juga ga mengenal teritorial. Karena dasarnya memang bumi dan segala isinya adalah milik Allah. 

Mustahal manusia bisa mengatur dan membuat pengaturan kehidupan karena Sang Pencipta Manusia sendiri sudah mendesain manusia dengan akal yang lemah, terbatas dan tergantung pada yang lain. Untuk menyadarkan kita bahwa hanya Allah tempat bersandar segala sesuatu.

Tapi..

Masalah muncul ketika negara api menyerang. Perisai (khilafah) itu runtuh dan pemikiran sekuler menjadi racun yang menggeroti setiap muslim. Kini, bukan amannya iman yang dicari, tapi terkadang hanya tentang mencari amannya nyaman.

Salah satu efek sekulerisme (selain kapitalisme) ini adalah menganggap bahwa aturan Allah mengenal teritorial. 

Seakan-akan Allah hanya menciptakan Arab, tapi tidak menciptakan Indonesia. Seakan-akan Allah hanya menciptakan Adam, tapi tidak menciptakan Hawa. Seakan-akan Allah hanya menciptakan kamu, tapi tidak menciptakan aku. Padahal Allah tahu, kamu tak bisa hidup tanpaku.. #eyaaa..

Begitu pula Allah, selain menciptakan, juga mengatur. Manusia menjaga agar aturan itu tetap di jalur syariah. Jangan lengah. Nanti susah.

Nyatanya tidak ada satu wilayahpun yang muncul tanpa ada peran Allah sebagai Sang Maha Pencipta di sana. Termasuk wilayah kecil yang ada pada kita, hatiku dan hatimu. #ApaSih #Eyaaa 

*
**
***

Gimana kalau kita Bilang, kalau yang gak suka syariat Allah..
Silahkan Hengkang dari Bumi Allah.. 😏😏😏😏😏
.
.
Gimana gimana menurut temen-temen .😎😎.
.
.
Follow IG @pecelyes 
Follow IG @pecelyes 
Follow IG @pecelyes


Ramadan : Momen Menggapai Takwa Hakiki




Ramadan hampir tiba, begitu dekat di pelupuk mata, alias tinggal beberapa hari lagi. Tapi apa sih persiapan kita menyambut Ramadan? Jangan-jangan kita hanya akan menganggap momen ini akan berlalu begitu saja, hanya saja kali ini ditambah dengan kegiatan-kegiatan berbeda.

Yang biasanya sarapan dan makan siang, kali ini selama sebulan ditiadakan. Yang biasanya malam hari berleha-leha di rumah, (sesekali) ke masjid untuk tarawih. Yang biasanya tidak bangun di sepertiga malam, kali ini bangun untuk ‘sarapan’. Yang biasanya jam dinner tak tentu, kali ini selama sebulan teratur begitu adzan Maghrib dikumandangkan.

Banyak yang memahami bahwa puasa di bulan Ramadan itu wajib. Tapi sedikit yang memahami makna di balik perintah puasa Ramadan. Jangan salah, ketidakpahaman inilah yang banyak membuat kita ‘gagal paham’ betapa makna Ramadan lebih istimewa daripada si doi yang dinanti-nanti. #Eh

Sama, banyak pula yang mengetahui bahwa perintah puasa Ramadan disebutkan dalam QS. Al-Baqarah 183 yang artinya, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.”

Tapi, tidak banyak yang tahu apa arti makna takwa (hakiki) dalam ayat tersebut. Bagi yang ketemu saya hari Ahad tanggal 28 April di Cafe FoodGasm  dalam acara kopdar #2 Info Muslimah Jember kemarin, mungkin sudah tahu jawabannya, apa yang dimaksud dengan ketakwaan hakiki. Tapi buat yang ga datang ke sana, ya udah baca tulisan ini aja. Haha


Semua tahu bahwa arti takwa itu adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa perintah-Nya bukan hanya tentang sholat, zakat, haji dan ibadah mahdoh lainnya.

Dalam acara dimana saya sendiri sebagai MC-nya (uhuk.. uhuk..), pemateri pertama, ustazah Wardah Abeedah menyampaikan bahwa paling tidak ada 3 (aspek) dalam hidup manusia dimana Allah memberi pengaturan (berupa perintah-perintah) yang (seharusnya) dilaksanakan tanpa tapi dan tanpa nanti oleh manusia. Bahasa kerennya sami’na wa atho’na. Hehe

First, aspek yang mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Di sini nih ada pengaturan tentang ibadah mahdoh tadi. Ga bisa dong, kalo kita mau sholat sembarangan semisal bisa sholat tanpa wudhu dsb, udah pasti ibadahnya salah. Tata cara sholat harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Kalo salah bisa ga sah, tidak dilaksanakan sama aja bunuh diri dini.

Second, aspek yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Di sini ada pengaturan kenapa kita mesti punya akhlak yang baik, jadi akhwat yang manis, biar ga meringis menghadapi carut-marutnya dunia. Termasuk juga pengaturan tentang apa yang kita makan, dan apa yang kita pakai. Gitu yess..

Third, aspek yang mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain. Yah, namanya hidup ga bisa sendiri, kebayang gitu ga ada aturan yang mengatur manusia yang bejibun itu? yang ada kacau balau jadinya. Bukan aturan manusia yang seharusnya menjadi standar, karena manusia akalnya pun standar. Tapi pengaturan-Nya lah yang sempurna yang seharusnya diterapkan. Di aspek ini mengatur bagaimana seharusnya manusia bertransaksi (sistem ekonomi), berinteraksi (sistem pergaulan), edukasi (sistem pendidikan), bernegara (sistem pemerintahan), mengadili (sistem peradilan) de el el

Ga asyiknya tuh, aspek pertama dan kedua bisa aja kita lakukan, karena dalam jangkauan yang bisa kita usahakan sendiri. Etapi kalo aspek ketiga baru bisa terlaksana bila ada institusi negara yang mendukungnya. Dimana negara seperti ini runtuh pada tanggal 03 Maret 1924. Hiks..

Sampe sini, kebayang kan bagaimana susahnya kita mau bertakwa?? Mungkin ini yang sering orang bilang, masuk surga itu butuh usaha..

Nah, Ramadan itu sebenernya adalah sebaik-baik momen untuk mencapai takwa yang hakiki. Emang ga mudah, apalagi kalo jomblo (sendirian), berat.. kamu ga akan kuat. Makanya yuk berjamaah. Perlu peran keluarga dan juga negara. Hal ini disampaikan oleh ustazah Lailin Nadhifah pada sesi kedua.

Pemateri kedua yang kerap dipanggil mbak Nadz ini juga menyampaikan bahwa ujian berat yang suka bikin ga kuat itu justru pada pasca Ramadan. Bakal istiqomah ga ya? Bakal tetap dalam ketaatan ga ya?? Keluarga bakal makin samara ga ya??


Padahal selain bulan penuh berkah, dimana pahala amalan kebaikan dijadikan berlipat-lipat, dosa yang dibuat di bulan Ramadan juga akan dihitung berlipat-lipat. Ih, ngeri kan guys..

Dengan mengingat dosa berlipat-lipat yang tak sedikit itu, kemudian selalu alias senantiasa takwa, terus dan selamanya takwa, serta mengingat bahwa kehidupan dunia ini adalah fana. Maka di situlah akan diraih makna takwa yang hakiki.

Suatu negeri yang bertakwa pastilah akan menorehkan sejarah emas, bukan hanya kepada muslim, namun juga non-muslim. Mereka dibiarkan tetap dengan agamanya, keyakinan dan ibadah ritualnya, tempat ibadah mereka tidak dihancurkan. Syaratnya mereka menjadi ahlu dzimmah, tunduk kepada pemerintah dan hukum Islam serta membayar jizyah. Mereka dibiarkan beribadah, menikah, bercerai, makan, minum dan berpakaian sesuai dengan ajaran agama mereka.

Tuh kan..

Jadi, Ramadan kali ini siap meraih takwa hakiki dengan sepenuh hati? Jangan lupa tuntutlah ilmu (syar’i) untuk menyirami hati. Happy Ramadan..





Antara Pete dan Poligami



Tidak semua orang suka pete. Entah karena merasa baunya yang tak sedap, tidak bisa mengolah atau merasa rasa pete tidak pas di lidah. Bagi saya pete itu enak, asal jangan banyak-banyak, yang di kantong bisa demo sampe sesak. #Loh

Berbeda dengan yang suka pete, di tangannya bisa menjadi olahan bercita rasa tinggi seperti teri pete buatan mbak @merygunawan ini 😊. Dibuat dengan modal cinta kali yah, padahal doi katanya modal belajar masak otodidak dari youtube.. oke deh pokoknya..

Tapi bagi yang membenci pete tidak lantas menjadi pantas bila mengatakan pete itu haram. Ya udahlah santai aja cin, ga suka pete ga usah makan. Pilihan makanan lain yang bukan pete itu banyak banget, jengkol misalnya haha 😁

Meskipun juga bagi orang yang suka atau tidak memiliki masalah dengan makan pete, tidak lantas pula menjadi pantas hingga harus sesumbar tentang pete secara berlebihan. Apalagi kalo sampe lebih lebay dari kampanye capres dan cawapres. Apa-apa sampe di solusi dengan pete. Misal nih, sakit gigi disuruh makan pete, lagi diare disuruh makan pete, kalo dah parah bisa jadi punya utang riba disolusi dengan makan pete. Oopss 🤭

Pun begitu dengan poligami yang merupakan pilihan. Ada suami yang bisa dan mau berpoligami. Ada pula yang tak. Rumah tangga apapun memiliki biduk prahara yang pasti sama-sama bikin pusing. Baik poligami maupun monogami. Tidak bisa dikatakan poligami lebih baik daripada monogami, begitu pula sebaliknya. Rumah tangga yang baik ya rumah tangga yang di dalamnya terwujud ketaatan kepada Allah SWT.

Tetapi bagi yang TIDAK suka poligami, tidak bisa juga kemudian mengatakan bahwa poligami itu HARAM. Bisa jadi kalo ada yang begini, dia kebanyakan nonton iklan absurd PSI. Toh poligami itu juga pilihan. Rumah tangga monogami juga ada contohnya dari Rasulullah SAW.

Pun begitu dengan yang sudah praktisi, tidak lantas menjadi pantas kalo sampe lebay perkara rumah tangga poligaminya. Sampe apa-apa disolusi dengan poligami. LGBT merebak disolusi dengan poligami, Palestina menjerit disolusi dengan poligami dsb. Jangan-jangan kalau kuota habis disolusi dengan poligami. Kan wadaw kalo begitu..

Khilafah itu baru solusi yess.. 😊

Baik suami maupun istri juga sebaiknya jangan petantang-petenteng dalam bersikap dan berucap tentang poligami. Salah-salah bisa menjurus pada provokasi yang tidak baik, baik itu oleh yang kontra maupun yang sudah praktisi.

Sesuatu itu (seperti poligami misalnya) bila berhasil untuk seseorang, tidak berarti akan berhasil untuk semua orang. Begitu pula bila gagal untuk seseorang, tidak berarti akan gagal pula untuk semua orang.

Udah gitu aja..

Jember, 17 April 2019
Helmiyatul Hidayati


Selandia Baru dan ‘Efek Kupu-kupu’nya



Lebih dari seminggu lalu, umat Islam berduka, khususnya umat Islam di Selandia Baru. Memang sudah berlalu, tapi kisah ini tidak akan bisa dilupakan. Sejarah telah mencatatnya.

Di hari yang baik itu (Jumat), di tempat yang baik itu (masjid), iblis laknat dalam bentuk manusia menjadikan nyawa manusia tak ubahnya benda yang tak berharga. Pembunuhan tidak berperikemanusiaan itu bahkan ditayangkan secara “live” di media sosial. Lebih gila daripada orang gila yang tidak bisa disembuhkan!

Kita berduka, amarah membuncah. Namun di balik semua itu pastilah ada berkah.

Bila Edward Norton Lorenz memakai istilah “Efek Kupu-kupu” (Butterfly Effects) untuk merujuk pada sebuah pemikiran bahwa sebuah kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil, secara teori dapat menghasilkan badai Tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Hal ini maksudnya, perubahan kecil pada suatu tempat dalam suatu sistem (tak linear) dapat mengakibatkan perubahan besar di tempat lain (wikipedia).

Di Selandia Baru sendiri, agama Islam merupakan agama minoritas. Kebanyakan adalah para imigran di antara imigran lainnya.


Selandia Baru, karena panorama alam yang indah dan menakjubkan, selain menjadi pilihan tempat shooting berbagai film box office dunia, juga menjadi rumah multikultural bagi banyak orang termasuk bagi populasi muslim.

Ketika 50 (lima puluh) orang meninggal dengan tidak adil karena gagal pahamnya segelintir teroris akan Islam, karena Islamofobia yang menjangkiti mereka. Pada saat itulah efek kupu-kupu mulai berjalan. Perbedaanya, efek kupu-kupu kali ini bukan menghasilkan kekacauan. Dengan izin Allah, efek yang terjadi adalah semakin meluasnya cahaya Islam.

Tidak lama setelah Brentont Tarrant dan kroni membantai puluhan muslim di dua masjid Selandia Baru, ayat suci dibacakan di parlemen, pusat kekuasaan Selandia Baru, yang mungkin saja, ini adalah awal kekuasaan Islam.

Kumandang suara adzan, yang oleh ibu Sukmawati di Indonesia dianggap tak lebih indah dari kidung ibu, dikumandangkan dan disiarkan secara langsung oleh televisi nasional dan disiarkan ke seluruh dunia. Suatu hal yang tidak biasa terjadi sebelumnya. Bagaimana seruan yang menggetarkan jiwa itu dengan mudah masuk ke telinga-telinga manusia yang bahkan mungkin tidak mengerti apa maknanya.

Khutbah Jum’at dihadiri oleh ribuan muslim di Selandia Baru, layaknya shalat hari raya Idul Fitri. Penguasanya (PM Jacinda Ardern) hadir di kala itu dan membacakan hadits baginda Rasulullah SAW, “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]. Suatu hal yang mungkin tidak akan pernah dia lakukan seumur hidupnya, dan semoga Allah menunjukinya jalan Islam.


Seketika Selandia Baru juga ‘terserang’ demam mode baru, ketika wanita-wanita mereka berlomba-lomba memakai hijab. Siapa yang akan tahu solidaritas itu akan membawa siapapun di antara mereka tertunjuki pada jalan Islam.

Orang-orang kafir yang tak ada permusuhan dengan muslim atau yang bersih hati dan pikirannya berbondong-bondong datang ke masjid, berbela sungkawa atau menjadi ‘pelindung dadakan’ bagi tetangga muslimnya. Bunga bertebaran dari hati-hati yang tulus. Karena keindahan Islam begitu susah untuk dinafikkan.

Tidak hanya di Selandia Baru, efek samping dari teror ini menular hingga berbagai belahan dunia dalam waktu yang singkat.

Di Australia, seorang remaja tiba-tiba mendunia ketika melempar telur ke kepala Anning, senator rasis yang justru menyalahkan muslim sebagai penyebab terjadinya pembataian di Christchurch, Selandia Baru. Will Connolly menjadi ‘pahlawan muslim’ yang mendapat julukan “egg boy”

Mungkin kisah ini akan berlalu, tapi perubahan jelas saja sedang terjadi. Ada hati-hati yang tertunjuki pada jalan Islam. Ada yang kembali pulang pada Islam. Ada kaki-kaki yang mulai melangkah lagi ke masjid. Ada rasa-rasa penasaran pada Islam. Ada persatuan ummat (ukhuwah) yang sedang dimulai dari simpul yang lain.

Mungkin kisah ini akan berlalu, tapi benih-benih yang dihasilkan dari kisah ini akan terus tumbuh dan berkembang. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.”  (QS. 9:32).

Jember, 27 Mar 19
Helmiyatul Hidayati

Nb. Foto diambil di Masjid Ali - Australia



#Gemesda 
#GerakanMedsosUntukDakwah #DakwahTakMeluluCeramah
#Revowriter 
#WCWH6 
#MenyalaBersamaRevowriter 
#Blogger 
#BloggerIdeologis 
#StopIslamofobia



Dia yang Tak Bisa Diajak Kompromi


PEy2019Part7 #Day08
Dia yang Tak Bisa Diajak Kompromi
Oleh. Helmiyatul Hidayati


Dahulu kala. Entah berapa puluh tahun yang lalu. Saya pernah mengalami naik kereta api yang penuh sesak oleh penumpang. Suasana bising dan sampah berserakan. Pedagang asongan sibuk seliweran menawarkan dagangan 😮

Sekarang sudah jauh berbeda. Naik kereta api murah dan nyaman bisa dinikmati dengan santai kaya di pantai. Perjalanan 2,5 jam Jember-Rogojampi bisa disambi dengan internetan atau tidur lelap walau sebentar. Terlebih lagi, tiket hanya seharga 8.000 perak. Camilan yang dibawa jadi lebih mehong 😅

Yang tidak berubah adalah tak ada kompromi dengan jadwal. Begitu kereta sudah berangkat, tak ada yang bisa menghentikan keputusannya untuk pergi, #eh keberangkatannya.

Awal tahun lalu saya pernah mengalami ini. Ketika akan kembali ke Jember setelah liburan di PMI (Pondok Mertua Indah). Mungkin keterlambatan saya hanya kurang dari 1 menit. Saya sdh di depan ketika keretanya mulai bergerak pelan, tapi pintu telah ditutup. Dan kereta tak bisa dihentikan, juga tak akan menunggu kita.

Bapak mertua saya yang hebat dan baik seperti anaknya 😍🤭🤭 mencoba 'mengejarkan' kereta ke stasiun terdekat. Tapi kami tetap kalah berpacu dengan kendaraan besi bak ular tersebut.

Akhirnya saya memutuskan beli tiket untuk keberangkatan kereta selanjutnya. Kereta berbeda, dengan tarif berbeda, lebih mahal dari camilan yang dibawa 😊. Tapi mau bagaimana lagi, kereta yang meninggalkan saya tak bisa diajak kompromi.

Hal itu memberi saya pelajaran, betapa pentingnya untuk tidak melalaikan waktu. Supaya tidak ketinggalan kereta lagi. Untunglah kali ini yang ketinggalan itu adalah jadwal kereta. Masih bisa beli tiket baru agar tetap bisa sampai tujuan.

Tapi bagaimana bila itu jadwal kematian? Bisakah kita bilang pada malaikat Izrail agar ikut jadwal kematian selanjutnya saja??

"Oh, BIG NO!! Emang saya ini Goblin yang bisa diajak kompromi. Kamu kebanyakan nonton drama korea sih!"

Mungkin begitu kali ya jawaban sang Malaikat Pencabut Nyawa.

Yap, jadwal kematian berbeda ya bu ama jadwal kereta. Meskipun sama-sama tak bisa dikompromi, tapi ketingggalan jadwal kereta masih memiliki kesempatan untuk bertaubat, eh beli tiket baru.

Tapi kalo jadwal kematian kita sudah tiba. Bahkan bersembunyi di lubang semut pun, malaikat akan tetap menemukan kita.

Kalo jadwal kematian sudah tiba, bahkan jubah gaib Harry Potter pun tak akan bisa membantu kita menundanya. Hey, itu artinya Allah sudah menyuruh kita pulang! Bukan karena waktunya tidur (selamanya), tapi untuk mempertanggung jawabkan apa yang sudah kita lakukan selama (menunggu) di dunia. Berat mak!!

Lebih berat lagi bila yang kita lakukan selama (menunggu) jadwal kematian diisi dengan banyak kelalaian terhadap perintah-perintah Allah.

Diberikan kewajiban oleh Allah, malah sibuk dengan yang mubah-mubah, sampai yang wajib terlantarkan.

Diberi kekuasaan tidak untuk menegakkan hukum Allah. Amboi.. lalai benar..


Semoga aku dan kamu ga begitu yaa.. Aamiin.. 😊

Sejarah yang Hilang


#Refleksi3Maret1924
Sejarah yang Hilang
Oleh Helmiyatul Hidayati

Masih ingat momen 212 akhir tahun 2018 kemarin? Aksi super massa dan super damai itu senyap pemberitaan. Hanya TVOne saja kala itu, media nasional yang rasanya masih memiliki akal sehat. Hingga tak salah juga kalau Rocky Gerung menyebutkan bahwa sedang ada upaya penggelapan sejarah.

Berbicara soal penggelapan sejarah. 3 Maret 1924 mengingatkan kembali betapa banyak umat yang menjadi korban penggelapan sejarah.

Tidak percaya? Coba saja generasi X, Y, Z hingga generasi milenial periksa buku pelajaran sejarah masing-masing. Adakah ditulis tentang 3 Maret 1924?? Padahal kita membahas sangat banyak tentang Revolusi Industri.

3 Maret 1924 adalah hari naas hilangnya Khilafah. Namun akibat penggelapan sejarah, bahkan hingga detik ini masih banyak orang yang belum tahu apa itu Khilafah. Masih banyak pula yang menentang Khilafah. Padahal Khilafah itu ajaran Islam.

Penggelapan sejarah itu terjadi dengan pelabelan penuh manipulasi pada Khilafah. Stigma negatif melekat pada Khilafah, disebutlah ia sumber perpecahan, penyebab perang, intoleran, radikal, anarkis bla bla bla.

Belum cukup sampai di situ, bahkan umat atau sekelompok umat yang menyeru penegakan Khilafah seringkali mengalami diskriminasi-persekusi. Tanda betapa butanya banyak orang akan Khilafah yang sesungguhnya.

Khilafah adalah satu kepemimpinan yang menyatukan dunia Islam berlandaskan syariat Islam. Sejarah telah mencatat bahwa Khilafah telah berdiri selama 13 abad dan menguasai 2/3 dunia hingga akhirnya runtuh 95 tahun lalu.

Banyak kegemilangan yang tercatat selama masa kejayaan Islam. Salah satu yang terkenal adalah di masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, dimana rasanya rakyat tak ada yang miskin. Berbeda dengan zaman sekarang, dimana bahkan 1 (satu) negara bisa mengalami krisis kelaparan parah.

Khalifah Umar Bin Khattab tercatat memberikan guru gaji yang sangat tinggi. 

Penemuan-penemuan besar banyak terjadu di dunia Islam. Al-Khawarismi penemu algoritma. Maryam Asturlabi penemu kompas (navigasi).

Az-Zahrawi mengarang sebuah buku tentang ilmu bedah yang berjudul at-Tashrif Liman Ajiza an Ta'lif. Buku ini dijadikan dasar-dasar ilmu bedah di Eropa hingga 5 abad lamanya antara abad ke-12 hingga abad ke -16.

Bahkan selama Khilafah berdiri, kriminalitas atau kejahatan yang terjadi bisa dihitung dengan jari tiap tahunnya (sangat sedikit sekali). Berbeda dengan kehidupan di sistem kapitalisme, dimana bahkan kejahatan per hari sudah tak terhitung jumlahnya.

Tapi sekali lagi, karena sejarah yang 'hilang' jarang sekali orang mengenal nama-nama atau fakta-fakta tsb. Seakan-akan Khilafah (dibuat) tidak ada beserta sederet kegemilangannya. 

Untuk apa? Untuk mengubur bukti, agar kita menganggapnya sebagai mimpi di siang bolong. Dan melanjutkan tidur, sementara musuh sedang menyedot darah kita.

#MenolakLupa bahwa #KhilafahAjaranIslam

Sekian dan terima kasih. #SelamatMalam 😊

#Revowriter #WCWH6 #MenyalaBersamaRevowriter #OPEy2019Part6 #Day07 #SosmedForDakwah #Gemesda #GerakanMedsosUntukDakwah #DakwahTakMeluluCeramah