Napak Tilas 212


// Napak Tilas 212 //

Tak dapat dielakkan, 212 kali ini memiliki banyak makna bagi siapa saja. Ada yang ketakutan hingga sembarang menuduhnya makar. Ada yang menganggapnya sebagai peluang bisnis, kesempatan mengenalkan produknya kepada ummat yang datang dari segala penjuru dunia.

Mungkin, ada pula yang merasa diuntungkan secara politik. Tapi yang jelas bagi saya, ini adalah moment Bela Kalimat Tauhid, Bela Islam, Bela Agama. 😍😘

Gegara 212 kali ini ada beberapa hal yang baru pertama kali saya lakukan. Yah, orang bilang memang akan selalu ada hal untuk pertama kalinya kan..

Pertama kalinya saya safar dengan waktu terlama. Meskipun tak selama menunggu datangnya cintamuu.. (Ooppss, tolong ini disensor, ditulis pas ngantuk2 gmn gituu 😁).

Perjalanan Jember-Jakarta memakan waktu lebih dari 20 jam cukup membuat jumpalitan bertingkah di dalam kereta. Untung ada yang menemani.. 😋

Pertama kalinya juga, jalan kaki terjauh setelah jalan kaki terakhir kali ketika pelajaran olahraga zaman masih imut dulu.. 😂

Jalan kaki dari stasiun pasar senen menuju Monas yang mengharu-biru. #Eyaaa
Berasa napak tilas sepanjang jalan kenangan. Ada banyak moment yang terekam, terutama moment ketika melirik babang-babang penjual makanan, diliat doang tapi gak dibeli. Hehe

Eh bukan ding, tapi bagaimana kami dan orang lain yang tidak pernah bertemu atau saling mengenal tiba2 berbaur menuju tujuan yang sama. Sebuah moment persatuan yang jarang sekali terjadi di dunia selain ibadah haji. Setuju kan gaess?? Haha

Yah meskipun sayang tidak bisa merangsek lebih dekat ke Monas karena memang kami datang kesiangan.

Sayang sekali selama aksi berlangsung internet tidak bisa digunakan. Alhasil, batal nyamperin temen-temen revowriter 😁😊. Tapi tak apalah, meskipun kita tak berjumpa, tapi hati kita terpaut ke Masjid, eh ke persatuan ummat 😊

Pertama kalinya juga saya naik commuter line. Kereta cepat satu ini udah berasa mirip ama yang ada di drama2 Korea sana, kecuali bagian harus "sumpel-sumpelan" nya. Sebenernya agak bikin risih karena laki-laki dan perempuan campur. Baru tahu kalo ada gerbong khusus wanita setelah masuk 😅, begini deh ya pentingnya berilmu sebelum beramal. Cieee.. 😊

Pada akhirnya 212 juga bermakna bagi dunia. Suatu pesan bagi dunia, bahwa Islam bisa bersatu tanpa memandang perbedaan harakah, organisasi, mazhab, kalangan, negara, suku dan bangsa. 8 juta orang bro!! Islam bersatu tak kan terkalahkan!! Semangat melanjutkan perjuangan hingga tegaknya hukum Allah!!

Nb. (1) Ketika acara telah selesai senang melihat banyak foto-foto tentang indahnya momen 212 ini, berseliweran di media sosial menutup media2 mainstream yang tetiba hilang sinyal.

02 Des 18
Ditulis di dalam kereta menuju Purwokerto.

Artikel ini bisa dibaca pula di https://www.helmiyatulhidayati.com/2018/12/napak-tilas-212.html?m=1

#ReuniAkbar212 #BelaTauhid212 #Spirit212

Ketidakadilan


#CintaNala
// Ketidakadilan //
Oleh. Helmiyatul Hidayati


Waktu begitu cepat berlalu, seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Nala dan Rani kini telah memasuki babak baru dalam hidupnya sebagai mahasiswi.

“Eh.. eh itu kan si Dani??” Rani menyikut lengan Nala saat mereka sedang asyik makan bakso di kantin.

Rani menoleh sebentar pada orang yang dimaksud, “Dani siapa??”

“Eh itu lohh.. Kejadian ulangan Fisika-nya Pak toto..”

=============

(Flashback)

Danu meremas kertas ulangannya dengan geram. Baru saja nilai sempurna di kertas itu telah batal demi hukum. Nilai sempurna ulangan Fisika yang sejatinya ingin ia tunjukkan pada ayahnya, agar ia mendapatkan hadiah berupa sepeda motor baru. Kini, sepeda motor baru hanya menjadi mimpi saja.

“Semua ini gara-gara Dani.” Begitu pikir Danu menyalahkan saudara kembarnya.

Beberapa jam lalu, Pak Toto melaksanakan ulangan dadakan. Sebenarnya tidak bisa juga dibilang dadakan, karena ia sudah pasti akan memberikan ulangan begitu materi dan tugas pertama telah selesai diberikan.

Danu terkenal sebagai anak pintar, soal Fisika mudah sekali baginya. Tapi Dani adalah kebalikannya, ia akan panik setiap kali ujian tiba, apalagi yang bersifat dadakan. Namun pada ulangan Fisika tadi ia berhasil membujuk Danu memberikan contekan. Nilainya yang sempurna malah membuat curiga pak Toto.

“Nilai Dani sama persis dengan Danu kali ini. Hebat.. mudah-mudahan bukan karena nyontek yaa??” kata Pak Toto.

Kelas tiba-tiba berdengung, anak-anak menggumamkan ketidakpercayaan terhadap hasil ulangan Dani dan langsung menuduh dia mencontek pada Danu. Itu membuat Danu salah tingkah.

“Selama tidak ada bukti bahwa Dani mencontek, ya nilai ini benar milik dia.” Kata Pak Toto lagi.

“Nala kan duduk di belakang mereka. Masa kamu ga liat mereka Nal??” Tanya Rani, gadis yang memiliki suara paling keras sekaligus ketua kelas, juga sahabat Nala. Mendapat pertanyaan itu Nala sedikit kaget, sementara Danu menelan ludah pahit.

“Hmm.. Sebenarnya saya melihat kalo Dani mencontek pada Danu pak.. Saya sudah peringatkan mereka tapi mereka tidak mendengar.” Kata Nala disambut gemuruh teman-teman sekelas.

Pak Toto menggeleng-gelengkan kepala, ia mendekati bangku Danu dan Dani untuk mengambil hasil ujian mereka. Biasanya pak Toto akan langsung memberi nilai nol pada anak-anak yang ketahuan mencontek, baik yang meminta atau memberi contekan.

Danu terbayang akan janji ayahnya, bahwa bila ia mendapat nilai sempurna pada setiap ulangan minggu itu, ia akan mendapatkan sepeda motor baru, sebagai ganti sepeda motor lamanya yang dirusak oleh Dani. Namun jika nilainya kali ini berubah menjadi nol maka itu akan kehilangan kesempatan itu. Tanpa sepeda rasanya ia tak bisa kemana-mana.

“Tunggu pak.. ini tidak adil bagi saya. Saya kan bisa mengerjakan semua soal, yang tidak bisa itu Dani, karena itu dia mencontek pekerjaan saya. Seharusnya dia saja yang nilainya jadi nol.” Danu membela diri.

“Tapi memberi contekan dan meminta contekan itu sama-sama perbuatan yang salah. Jadi, memang keduanya harus dihukum.” Kata Panji, si atlet sekolah.

“Benar, kamu pasti tahu kan kalo mencontek itu salah kan? Membiarkan saudaramu mencontek sama saja dengan membiarkan dia melakukan kejahatan. Kalian berdua sama-sama salah.” tambah Maya yang duduk di bangku samping mereka.

“Tolong menolong itu boleh. Tapi hanya dalam kebaikan, seperti dalam firman Allah QS. Al-Maidah ayat 2, Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya’.” Kata Nala kemudian menimpali, yang dijawab anggukan oleh banyak teman mereka.

“INI TIDAK ADIL PAK” seru Danu masih tidak terima.

Pak Toto melangkah perlahan menuju Danu dan memegang pundaknya, “Kamu tahu hukum apa yang tidak adil Danu??”

Pak Toto mengalihkan padangan kepada seluruh kelas, seakan-akan melemparkan pertanyaan itu kepada siapapun yang mau menjawabnya.

Nala kemudian berbicara, “Hukum buatan manusia pak, tidak sempurna seperti hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah. Sehingga banyak terjadi ketidakadilan selama manusia tidak berpegang pada hukum Allah.”

Pak Toto mengangguk dan sekali lagi mengedarkan pandangan pada anak didiknya yang lain.

“Misalnya guru honorer Baiq Nuril di Mataram yang merekam pembicaraan mesum atasannya dihukum 6 (enam) bulan penjara dan denda 500jt rupiah dan dianggap melanggar UU ITE. Padahal dia adalah korban pelecehan seksual.” Sahut Rani lagi.

“Dan hukuman untuk penista agama yang membakar bendera Tauhid hanya kurungan penjara 10 hari dan denda 2rb rupiah pak. Itu ga adil, hukuman kok setara bayar parkir. Hukuman seharusnya membuat jera dan menebus dosa.” Tambah Panji.

Pak Toto mengangguk-angguk, kemudian meraih kertas ulangan Danu dan Dani. Mencoret angka 100 yang tertera di atasnya kemudian menggantinya dengan nol.

“Oke, jam pelajaran sudah selesai, kalian silakan pulang.”

Bel berbunyi, suasana kelas pun hening dengan cepat. Semua anak kembali ke rumahnya masing-masing dengan cerita yang berbeda hari ini.

==========

(Back To)

“Udah inget sekarang neng?” Tanya Rani lagi.

Nala akan menjawab ketika tiba-tiba orang yang mereka maksud sudah duduk di depan mereka.

“Hai Dani..” sapa Rani.

“Aku kuliah di fakultas hukum..” kata Dani.

“Ga ada yang tanya..” sahut Rani.

“Aku cuma kasih tahu Nala..”

Rani dan Nala melongo. Sementara Dani dengan acuh beranjak dari situ, meninggalkan dua gadis itu dalam pikiran penuh teka-teki.

===============

(The End)

===============

#storychallenge
#story02
#proyekrevo8
#revowriter8
#gemesda
#gerakanmedsosuntukdakwah


Pendidikan Ideal : Memerdekakan atau Memenjarakan??



Sekolah adalah istilah yang tidak asing untuk manusia zaman now. Karena semua orang pasti sekolah, sekalipun tidak sampai lulus sempurna, atau paling tidak memiliki keinginan untuk sekolah. Bahkan banyak drama televisi yang mengambil setting masa-masa sekolah. (Nyambung ga sih??)
.

Tapi pernah terbayang ga sih, sekolah sebenarnya buat apa?? Di Indonesia normalnya orang sekolah selama 12 tahun. Dari SD sampai SMA. Selanjutnya terserah mau apa, kuliah, bekerja atau menikah. Salah satu atau ketiganya juga sah. Kamu yang mana nih??
.
Suatu sudut pandang baru tentang pendidikan saya dapatkan ketika mengikuti sebuah Talkshow yang diadakan oleh komunitas Masyarakat Tanpa Riba Jember kurang lebih tanggal 28 Agustus 2018 kemarin (lama amat baru ditulis yakk). Dimana pada waktu itu pembicaranya adalah Prof. Daniel M. Rosyid PhD, M. RINA.
.
Menurut pemaparan dosen ITS ini, pendidikan urusannya adalah membangun jiwa merdeka. Dimana hal ini bukan merupakan tujuan pendidikan sekuler zaman sekarang. Sampe sini ada yang baper ga sih??
.
Pendidikan zaman now memiliki visi dan misi kurang lebih menciptakan jiwa-jiwa yang memiliki daya saing, berjiwa mulia dengan iman dan takwa. Meskipun terdengar indah dan sejuk di hati, sebenarnya karakter-karakter ini hanya menyiapkan buruh atau pekerja yang bergaya hidup utang.
.
Pendidikan (zaman now) tak lebih seperti bisnis. Sun Tzu pernah berkata bahwa bisnis adalah perang. Sementara kita tahu perang adalah bisnis paling bagus. Coba saja kita lihat sejarah negara kita, Belanda awalnya datang untuk berbisnis rempah-rempah, sebelum akhirnya berubah untuk menjajah.
.
Penjajahan dan perang itu masih berlanjut hingga sekarang, meskipun tak lagi dengan senjata dan bukan Belanda atau Jepang yang menjajah. Perang ini bernama PROXY WAR yaitu suatu perang ketika lawan kekuatan menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti berkelahi satu sama lain secara langsung (wikipedia) alias penjajahan tidak secara terbuka.
.
Dan persekolahan merupakan instrumen proxy war yang paling berbahaya. Kurikulum sebagai alat pengendalinya. Akhirnya output persekolahan adalah masyarakat yang siap menjadi buruh terampil dan patuh. Bukan untuk mencerdaskan apalagi membebaskan.
.
Manusia yang terlalu lama bersekolah cenderung bergantung pada sekolah untuk belajar. Persekolahan akhirnya diam-diam mentransformasikan kebutuhan belajar masyarakat menjadi keinginan bersekolah. Di sinilah kita kemudian bisa menemui fenomena, sekolah untuk anak hanya merupakan kepanjangan ego orang tua, bahkan hingga menjadi status sosial. Sekolah favorit atau ‘bergengsi’ menjadi incaran para orang tua demi terjaganya harga diri.
.
Secara perlahan (oleh persekolahan), KEBUTUHAN (NEEDS) diubah menjadi KEINGINAN (WANTS) lalu menjadi PERMINTAAN (DEMANDS). Pada saat inilah, ketika keinginan tersistem, mendominasi kebutuhan, manusia dan atau pemerintah akan jatuh pada perangkap utang/riba.
.
Ketergantungan manusia pada sekolah akhirnya menjadi tidak ada bedanya dengan ketergantungan pada utang. Dan BANK adalah lembaga yang berbahaya karena hidup dari UTANG. Atau dengan kata lain kita bersekolah untuk menghidupi BANK.
.
Apakah ini bisa disebut jiwa merdeka?? TIDAK.
.
Nge-RIBA-nget kan??
.
Maka jangan heran, bila sering kali kita merancukan kompetensi dengan ijazah (tidak ada ijazah, tidak ada skill/kemampuan, tidak bisa bekerja dst); keamanan dengan pistol (memiliki pistol merasa bisa memiliki keamanan); kesehatan dengan rumah sakit (membeli kesehatan di rumah sakit) dsb.
.
Karakter yang jujur, amanah, peduli, cerdas tidak bisa tumbuh dalam jiwa yang terjajah. Padahal kemerdekaan adalah hak alamiah dari Allah SWT alias fitrah. Pendidikan sejatinya adalah untuk mengembalikan jiwa merdeka yang dirampas oleh lingkungan yang menjajah. Pembangunan seharusnya adalah perluasan kemerdekaan bukan pengurangan. Dan belajar adalah kegiatan untuk memupuk jiwa yang merdeka.
.
Jember, 03 Nov 2018
Helmiyatul Hidayati

Kenapa Tidak Bersegera Hijrah??


Walau kesadaran umat akan hijrah meningkat, dakwah bertebaran bak hujan yang jatuh dimana-mana, komunitas hijrah berkembang pesat dan ustad beken makin kenceng baik suara dan popularitasnya. Tetap saja tidak semua manusia menerima ini : ajakan hijrah untuk kembali pada yang fitrah. Apalagi kalau bukan menyeru pada Islam.

Semua orang ingin berubah menjadi lebih baik. Tidak dipungkiri itu. baik rizkinya, baik keluarganya, temannya, jabatannya dll. Tapi tak semua orang beruntung bisa menundukkan akal dan egonya untuk kembali kepada Sang Maha Pencipta.

Hijrah memang bukan hanya soal urusan tampilan saja, menuntut ilmu adalah salah satu poin penting dalam bagian ini. Tanpanya maka tersesat adalah suatu kepastian.  Hijrah pun bisa jadi sia-sia. Hijrah itu ga cukup hanya semangat aja sist.. Ah, tragis benar bila itu terjadi!

Saya mencoba menyelami samudera, eh bukan.. Menyelami berbagai alasan yang sering kali diutarakan beberapa orang yang tidak menyegerakan hijrah, padahal banyak orang yang datang untuk menawarkan kebaikan ini. Kebaikan yang belum tentu semua orang berkesempatan melakukannya. Bisa jadi karena belum bertemu dengan teman yang akan menguatkannya dalam hijrah atau bisa jadi telah dipanggil Sang Maha Kuasa bahkan sebelum memiliki niat untuk hijrah. Amboy, tragis triple!!

Ada yang berasalan tentang usia, “Ah kamu masih muda, saya sudah hampir 40 tahun. Ga kuat kalo harus kesana-kemari untuk kajian. Di internet juga banyak ustad pinter yang ceramah bla bla bla..”

Padahal usia 40 tahun itu masih usia produktif, bahkan Rasulullah SAW diangkat menjadi nabi ketika berada pada usia tersebut. Coba bayangkan, bila nabi menolak ketika disuruh menyampaikan risalah tuhan hanya karena merasa telah tua. Hari ini, kita mungkin masih berada di zaman jahiliyah. Meskipun zaman sekarang juga masih jahiliyah (modern). Oooppsss...

Nyatanya juga, di antara kami, ada juga nenek-nenek yang tetap mengkaji, bahkan rajin datang ke kajian, kritis pula. Kita yang muda malah saling mengernyitkan alis pada diri sendiri di pojokan. Hihi

Ada yang beralasan ini semua tentang masalah teknis, tak ada kendaraan yang bisa support datang ke majelis ilmu atau tak ada yang bisa jadi ojek. Tapi ketika ditawari kajian kelompok di rumah atau diberi bantuan ‘jemputan’ oleh teman tetap saja tidak mengubahnya ingin mengkaji sebagai bagian dari proses hijrah yang dia gembar-gemborkan.

Katanya hijrah extreme, tapi mengkaji ilmu masih ga extreme. Ga nyambung jek.. #Peace

Alasan ekonomi juga sering kali menjadi alasan ‘batal’ berhijrah, yang singgle bilang harus berjuang untuk hidupnya, yang sudah berkeluarga bilang harus ikut menjadi pejuang keluarga, karena kejamnya dunia terkadang hanya bisa dihadapi dengan segepok uang.

Padahal tidak sedikit singgle fighter di keluarganya juga menjadi fighter yang disegani di dunia dakwah. Tidak sedikit orang yang ‘tidak beruntung’ secara finansial bersinar ketika mereka hijrah. Lagipula, Allah sebenarnya ga pernah ngasih harga tiket masuk bagi hambanya yang ingin bertaubat bukan??

Jadi, sebenarnya tidak mengkaji itu bukan karena merasa sudah tua, fisik tidak kuat, ekonomi lemah, miskin waktu dsb. Tapi bisa jadi hanya mengikuti trend atau bukan karena Allah sebagai niatnya.

Kalo kata salah satu coach saya, “Ketika di pikiran seorang manusia hanya ada palu, maka dia akan menyelesaikan permasalahan apapun dengan palu itu. Padahal sejatinya, perkakas selain palu juga banyak. Mau makan ga pake sendok, tapi pake palu. Sepeda motor rusak, bukannya diperbaiki tapi pake palu dst.”

Ketika manusia fokus dengan sesuatu, terutama kelemahannya, maka dia akan sulit melihat kesempatan-kesempatan lebih baik lain yang banyak disediakan sebagai pilihan dari Allah SWT.

Mudah-mudahan kita ga begitu yaa.. Aamiin..

Jember, 23 Oktober 2018
Helmiyatul Hidayati

#GerakanMedsosuntukDakwah
#Dakwahtakmeluluceramah
#Statusmupahalamu
#GeMesDa

Antara M dan R




Antara M dan R
.
.
Adik trainee (ceileh sebutan rada K-Pop yess, buat adik-adik kuliahan yang ikutan ngaji) bila ditanya seperti apa kriteria cowok yang diinginkan oleh mereka untuk menjadi suami, mereka akan menjawab 3 (tiga) hal : tampan, mapan dan sholih. Langsung aja saya nyeletuk, “Berharap Lee Min Ho jadi muslim yaa??” Hehe
.
Jawaban mereka adalah jawaban komplit spesial pake telor, bahkan kalo disuruh memberi penilaian, maka jawaban mereka mendapat skor 99 dari 100. Yah, di dunia ini tak ada yang sempurna bukan? Biarlah nilai 100 milik Sang Maha Sempurna saja.
.
Sebenarnya, kebanyakan wanita memiliki jawaban yang hampir sama, terutama di bagian mapan dan tampannya, sementara bagian sholih bisa saja berganti menjadi baik, perhatian, penyayang, penyabar dsb.
.
Tidak ada yang salah dengan harapan wanita yang seperti itu. Berharap seorang pria yang akan memiliki mereka adalah adalah yang bisa menopang hidupnya, menyenangkan hati dan pandangannya, juga menentramkan hidupnya. Sejatinya, ini adalah bagian dari ikhtiar mereka untuk mempertahankan hidup dan memperbaiki keturunan. Bahkan, terlepas dia itu seorang muslimah ataupun bukan.
.
Lalu, bagaimana nasib pria tidak tampan dan tidak kaya? Jawaban seperti ini memang terasa mengintimidasi pria, karena tidak semua rezeki manusia itu sama. Ada yang banyak, ada yang sedikit. Meskipun begitu tak lantas kita memberi cap materialistis pada wanita yang menginginkan pria mapan dan tampan sebagai pasangan hidupnya.
.
Seorang muslimah yang baik bila diminta hanya menyebutkan 2 (dua) kriteria saja yang boleh dipilih, maka mereka pasti akan membuang (tidak lagi memilih) antara mapan dan tampan. Bahkan jika harus memilih 1 (satu) saja, pasti kriteria pria ‘sholih’ akan menjadi yang terakhir bertahan.
Dalam sebuah hadits berbunyi, Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung. –Dan ini berlaku pula bagi wanita ketika memilih pria-
.
Dalam hadits yang lain disebutkan, “Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian
ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.”
(HR. Tirmidzi)
Jadi, hendaknya memang memilih pasangan yang diridhai agama dan akhlaknya, bukan harta dan atau tampangnya.
.
Sebenarnya pria pun berharap bisa memiliki wanita yang cantik dan seksi, ahli mengurus anak dan keluarga serta pintar mengurus rumah dan keuangan (kurang lebihnya seperti ini, tidak bisa menemukan kata yang lebih ringkas).
.
Keinginan laki-laki yang seperti itu tidak salah. namun, di dunia ini tak ada wanita yang benar-benar sempurna, karena itu Islam pun memberi pengaturan agar memilih wanita shalihah sebagai pendamping hidup. Allah berfirman, Sebab itu maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)…” [An-Nisaa : 34]
.
Jadi, tidak masalah bagaimana kriteria calon pria dan wanita yang ingin dijadikan pasangan hidup. Selama itu tidak melanggar perintah Allah maka itu sah-sah saja. Rumah tangga tidak bisa dibangun tanpa cinta, untuk itu perlu kecenderungan hati dari kedua belah pihak. Karena harapannya pernikahan adalah sekali untuk seumur hidup.
.
.
Jember, 15 Sept 2018
Helmiyatul Hidayati

Antara Orbit Planet dan Kalamullah



Setiap perbuatan selalu ada tujuannya. Manusia melakukan segala sesuatu untuk memenuhi kepentingan dan potensi kehidupannya. Potensi fisik dan nalurinya. Secara kasar, visi dan misi manusia di bumi ini adalah untuk bertahan hidup dari hari ke hari. Hingga tiba ajalnya nanti.
.
Namun orang beriman memiliki gaya bertahan hidup yang ‘tidak biasa’, karena ada pelibatan Sang Maha Kuasa dalam segala tindak tanduknya. Diawalilah segala perbuatan atau amal itu dengan niat mengingat bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban atas segalanya.
.
Selayaknya hidup manusia pun memiliki orbit dan hanya berjalan melalui orbit itu. Termasuk dalam urusan memenuhi teriakan perut, juga hasrat ini dan itu. Bila tidak, maka tak ubahnya seperti tata surya yang melenceng ke sana ke mari hingga akhirnya hancur tak punya bentuk diri. Kisah kehidupan pun hanya soal tentang kemenangan bagi yang terkuat. Kuat dan besar hartanya, kekuasaan hingga kelicikannya.


Maka, hancurlah segala teori romantika dunia yang berbunyi, “semua sah dalam hal perang maupun cinta”, nyatanya teori itu yang membuat dunia kacau balau. Ibarat tata surya bila tak punya orbit edar, maka semuanya akan berbenturan dan meledak tak tentu arah.
. .
Kita selalu berharap perubahan, juga berusaha melakukan perubahan. Tak lain dan tak bukan untuk hidup yang lebih baik –nyaman-. Namun terkadang banyak terlupa bahwa hidup tak sekedar tentang di sini atau bahkan tentang kita. Ada Sang Pencipta yang menanti di ujung hidup kita.
Dari zaman dahulu kala, manusia selalu ingin hijrah –pindah- dan memang selalu berpindah. Hari yang sibuk akan berakhir, kemudian berpindah ke hari sibuk di keesokan harinya. Masalah akan selesai, kemudian akan berpindah ke masalah lainnya. Di dalam semua itu ada ujian untuk meneguhkan, ada musibah untuk mengingatkan serta ada azab untuk membinasakan.
. . Sembilan planet di dunia ini, teratur di orbitnya bak tentara yang berbaris rapi dengan arahan dari sang panglima. Keteraturan pun tercipta, menunjukkan keagungan bagi orang-orang yang berpikir cemerlang. Mudah-mudahan itu adalah kamu dan aku. .
Pada dasarnya hidup ini adalah kisah tentang perjalanan kita dalam memenuhi potensi kehidupan kita sendiri. Tentang bagaimana menjaga agar kita bisa makan setiap hari, tentang bagaimana hasrat kita bisa terpenuhi dengan baik sekali, meskipun seringkali kita sering gigit jari. Karena itu Sang Pengatur Segala, sejatinya memberikan orbit bagi manusia, yaitu Kalamullah dan Sunnah. Hanya dengan tetap berjalan di orbit itu hidup manusia akan mengalami keteraturan. Terlebih, tidak merusak semesta yang membuat Sang Pemilik tak akan suka.
Satu dari sembilan planet itu, manusia berdesakan di bumi. Iya, termasuk aku, dirimu, dia dan mereka. Kita bertentangan tak tentu arah layaknya planet yang kehilangan orbitnya. Seakan-akan ada serangan dari negara Api. Menunggu ledakan atau peperangan terjadi. Ah, sungguh tak enak di hati!!
. . Maka, cacatlah jiwa manusia bila ia tak mau berjalan pada orbit yang telah ditentukan. Kesombongan menggelegak saja yang memenuhinya bila merasa mampu membuat orbit sendiri. Sementara keterbatasan melekat padanya, dan kebutuhan pada yang lain adalah kepastian. .
.
Lalu, bila planet tanpa orbit bisa hancur, maka manusia tanpa orbit akan hancur di hari pembalasan. Itulah hari dimana aku tak mengenalmu, kau pun tak mengenalku. Hubungan di Bumi serasa tak pernah ada sekalipun kita dekat bak jari-jari. . Ah saudari, mari kita kembali ke orbit kita saja.. . Jember, 10 Sept 18 Helmiyatul Hidayati
#GerakanMedsosUntukDakwah
#OPEy
#OnePostingEveryDay
#OPEyDay01
#Revowriter8
#Revowriter

Kisah Seruni dan Serina – Bag. 2 [ Uluran Tangan yang Mengubah Nasib ]



Kisah Seruni dan Serina – Bag. 2
[ Uluran Tangan yang Mengubah Nasib ]

Bila reinkarnasi itu ada, Runi akan beranggapan bahwa di kehidupan sebelumnya dia adalah ratu kerajaan yang kejam. Tersebab ia mengalami banyak sial sekarang. Rumah tangga dan pekerjaan mapannya ia lepas, kini ia tak ubahnya janda pengangguran yang tak bisa bergerak, bak penulis tanpa pena.

Sebuah gelengan kepala untungnya masih mampu mengembalikan akal sehatnya. Mencegah dari ketidakwarasan yang barusan akan menerjangnya. Bukan karena sial ia tak mendapat pekerjaan baru, tapi memang lapangan pekerjaan begitu sulit di dapat. Kuota pribumi makin rapat, sayangnya pekerja asing makin padat. Di negerinya, di mana kemaksiatan tak pernah senyap.

Hampir sebulan Runi mencari pekerjaan baru, sayang belum bertemu jodohnya. Rina menjadi tempat ia menopang hidup, bersama putra semata wayangnya, yang tak mengerti betapa kejamnya dunia.

Benarlah bila ada yang mengatakan bahwa sesuatu akan terasa lebih berharga ketika ia menghilang dari pandangan, meluncur dari genggaman. Runi menyadari betapa pekerjaannya berharga ketika ia menganggur atau betapa berarti keluarganya sekalipun ia menderita.

“Lalu apa kau menyesal?” Pertanyaan yang meluncur dari bibir Rina di suatu petang. Kala lelah membekap keduanya tanpa ampun. Yah, menghadapi dunia itu tak mudah Nyonya!

Runi menggelengkan kepalanya. Bukan karena ia senang, tapi bohong rasanya bila tak tersungkur di saat seperti ini. Diceraikan suami melalui telepon, kehilangan pekerjaan dan menanggung seorang anak sendirian. Bahkan menutup mata pun, belum sanggup menghentikan derasnya air mata.

“Aku. Tak akan kembali pada yang kutinggalkan.” Runi menjawab dengan harapan tekad. Agar membantu kakinya melangkah maju, membuat matanya menatap ke depan.

Menanti memang tak mudah, juga tak enak, ibarat makanan, ini seperti merasakan pedas level setan. Dan Runi tidak tahan makanan pedas, bisa bolak-balik berak di kamar mandi seharian. Semakin berlalunya waktu, uangnya pun semakin menipis, tergerus keharusan bertahan hidup. Dalam batin, Runi bertekad, ia tak akan menunggu apapun dan siapapun lagi di dalam hidupnya.

Runi berseloroh, ia akan menerima pekerjaan apapun yang datang padanya sekalipun menjadi pembantu rumah tangga. Ia hampir menyerah, 8 tahun lalu ijazah SMA-nya bisa menembus perusahaan multinasional, sekarang menjadi office girl di perkantoran saja rasanya tak laku. Ia tak menyangka selembar kertas yang menandakan seseorang telah sarjana kini menentukan apakah ia bisa mencari makan atau tidak. Terbit penyesalan Runi, kenapa ia dulu berhenti kuliah demi pria yang akhirnya mencampakkannya.

Meledak ledekan Rina di telinganya, Runi menjadi asisten rumah tangga seperti membaca ketikan pada kertas buram yang telah dicolek rinai hujan. Selama hidupnya ia hanya tahu tentang mengetik, bukan tentang rumah tangga.

“Karena itu, aku harus putar balik sangat jauh bukan?” Runi mendesah. Petang yang semakin dingin tak menyurutkan kakinya menuju balkon, mengintip keriuhan yang masih belum surut di bangunan seberang jalan.
“Mereka adalah orang yang paling suka ikut campur urusan orang lain dan selalu mengulurkan tangan kepada siapa saja.” Rina mengeluarkan suara seakan-akan tahu bahwa Runi ingin bertanya siapa dan sedang apa orang-orang di seberang. “Mereka menyebut itu dakwah.” Rina menyambung perkataannya dengan sinis.

“Jika kau tidak suka pada mereka, maka mereka pasti benar-benar baik.”

Rina berdecih dan melotot pada sahabatnya. Runi hanya tersenyum dan mendesah pelan.

“Ada sesuatu yang salah di dalam hidupku. Aku ingin tahu apa itu, agar bisa memperbaiki masa depan.” Kata Runi.

Agak lama hening, hingga akhirnya Runi pun berkata kembali, “Jika seseorang mengulurkan tangannya padamu, kau harus menerimanya, maka nasibmu akan berubah.” Rina memandang Runi tidak mengerti.

“Aku.. akan mengambil tangan mereka. Aku ingin tahu nasibku yang mana yang akan berubah. Aku akan menyeberang Rina..” Runi menatap ke seberang, seakan menandai bahwa esok ia akan berada di sana.
*
*
*
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d/13:11].