Kisah Bumi, Bulan dan Bintang ll Ep. 5 – Tidak Mau Tapi Tidak Tau



Review Ep. 4

“Saya ingin menikahi kamu. Saya ingin kamu menjadi istri kedua saya..”

Bintang shock, dijauhkan hape dari telinganya, memeriksa bahwa kontak yang menelponnya memang kontak Bumi sang atasan di tempatnya bekerja. Bintang segera berlari ke pintu untuk menguncinya, takut ada orang yang mendengar dan berpikir yang bukan-bukan. Tiba-tiba tangan yang memegang hapenya bergetar. 

Jawaban apa yang harus Bintang berikan??


**

Sekian lama Bintang berpikir, entah berapa menit berlalu, sementara telpon Bumi masih terhubung. Bintang terdiam seribu bahasa. Rasanya raganya entah lari kemana. Bukan, bukan karena Bintang bingung menentukan pilihan. Ia bingung bagaimana menyampaikan keputusan itu tanpa ada efek sampingnya.

Pikiran Bintang berkelana segera, nun jauh ke sana tapi entah dimana. Pada putri Roro Jonggrang yang menolak lamaran pangeran Bandung Bondowoso. Putri itu jelas tak mau menikah dengan pembunuh ayahnya dan penjajah negaranya. Tak mungkin cinta tumbuh di antara dendam. Namun ia juga tak berdaya, kala Kerajaan Baka bertekuk lutut di bawah kaki sang Pangeran yang gagah dan sakti itu.

Akhirnya dengan penuh harap, Putri Roro Jonggrang mengajukan syarat berat. Syarat yang sudah ia pikirkan matang-matang dan berpikir bahwa sang Pangeran tak akan mampu memenuhinya. Sayangnya satu hal yang belum dipikir oleh sang putri dan juga merupakan kesalahan terbesarnya adalah, bahwa dia tidak mengenal siapa sebenarnya sang pangeran.

“Kalo bapak serius, silakan langsung datang pada orang tua saya saja besok.” Bintang pikir ia telah menolak dengan baik. Ia bukan penduduk kota S, jadi Bumi tidak akan menemukan orang tua atau bahkan satupun kerabatnya di kota ini. Bintang berasal dari kota M yang sepi, masih harus melewati sebuah hutan untuk ke sana. Tapi seperti Roro Jonggrang, Bintang sebenarnya tidak mengenal siapa dan apa yang bisa dilakukan oleh Bumi.

Usia Bintang masih 19 tahun, tak ada rencana pernikahan di benaknya, bahkan jika yang datang melamar adalah seorang perjaka (singgle). Terlebih, tidak terbersit sedikitpun bila pria yang akan melamar adalah Bumi. Seorang pria yang ia hormati tidak lebih dari seorang atasan, dan kebaikan istrinya yang telah membuat ia terpesona, membuatnya tidak memiliki alasan untuk menerima. Pikirannya penuh dengan prasangka bahwa Bulan mungkin akan tersakiti. Bintang takut kehilangan pekerjaan bila menolak, tapi ia lebih takut menyakiti wanita baik-baik seperti Bulan.

“Oh, ayolah.. memangnya apa salahku sampai tak bisa tidur, bukankah pak Bumi yang memulai?” Malam harinya Bintang tak bisa tidur hingga menjelang pagi, yang membuatnya mau tak mau tidur kembali setelah subuh. Tak pelak ia harus pula merapel sarapan dan makan siang. Untung hari ini adalah hari libur kerja.

Hati Bintang berharap bahwa Bumi berbohong tentang lamaran itu, atau minimal tidak serius. Tapi Bumi tidaklah memiliki kepribadian itu. Akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan hal tersebut pada orang tuanya.

“Bapak sama ibu mau ke tetangga. Mau rewang. Itu loh anaknya Mbok Lasemi menikah. Kan temen SD-mu dulu.” Jawab ayah Bintang di seberang sana setelah Bintang mengucap salam dan menanyakan kabar.

“Barakallah. Alhamdulillah. Sampaikan salam saya ya pak buat Nining, semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah.”

“Iyaa.. nikahnya minggu depan, kalo bisa kamu pulang, supaya bisa hadir juga.”

“InsyaAllah Bintang usahakan pakk..”

“Ada apa nduk?” Tanya ayah Bintang sekali lagi.

“Gini loh pak,, kemarin itu.. bla bla bla..” Bintang berusaha menceritakan dengan sedetil mungkin, juga tentang ketakutan dan harapannya. “Bintang takut kalo Bintang nolak nanti dipecat, tapi Bintang ga siap untuk nikah, apalagi jadi istri kedua. Jadi kalo pak Bumi ke rumah, tolong bapak tolak yaa..”

“Oalahh.. iyowes gampang nduk.. kayanya bossmu itu bercanda. Lah ngapain nikah lagi kalo sudah punya istri. Ga usah direken –dipedulikan- mungkin itu becandanya orang kota.”

Bintang lega bahwa ayahnya mau bekerjasama, meskipun ia merasa sedikit resah dengan pendapat ayahnya. Ia tahu, Bumi bukan orang yang akan bercanda tentang hal ini.

**

Ayah Bintang masih santai ketika menceritakan perihal telpon Bintang pada istrinya. Namun keadaan itu berlangsung sejenak sebelum seorang tamu berdiri di depan pintu rumah mereka : Bumi Ahmad Maliki.

Orang tua Bintang merasa gugup, dengan kedatangan tiba-tiba dari atasan anaknya. Dimana pekerjaan Bintang selama setahun terakhir juga ikut menyokong kebutuhan mereka di desa. Dan Bumi kini berada di rumah mereka sebagai pria yang akan meminta putri mereka.

“Nama saya Bumi Ahmad Maliki. Saya memang atasan di tempat Bintang bekerja. Mungkin Bintang sudah menceritakan maksud kedatangan saya. Saya datang untuk melamar putri bapak menjadi istri kedua saya.” Kata Bumi setelah merasa cukup berbasa-basi.

“Maksud nak Bumi.. Poligami??” tanya ayah Bintang memastikan. Dan Bumi mengiyakan dengan mantap tanpa keraguan. Ia pun kemudian menjelaskan tentang keluarganya, termasuk istri dan anak-anaknya.

“Begini.. Bintang itu masih kecil.. masih belum bisa apa-apa, ga cocok kayanya jadi istri nak Bumi ini. Jauh sekali kalo dibandingkan dengan Nak Bulan. Usia kalian terpaut 21 tahun, duh dia masih sangat kekanak-kanakan.” Ayah Bintang berusaha menolak secara halus sesuai dengan permintaan putrinya.

“Saya tidak masalah dengan itu. Justru itulah tugas saya nanti sebagai suami, mendidik istrinya.” 

Lama mereka berbicara, tapi sepertinya tekad Bumi tak bisa dihancurkan. Orang tua Bintang mulai bingung dan akhirnya mengajukan permintaan yang diharapkan tidak akan sanggup dilakukan oleh Bumi.

“Kami sebagai orang tua hanya berharap yang terbaik buat anak kami. Poligami lebih kompleks dari rumah tangga biasa. Dalam poligami tidak hanya anak kami yang akan menjadi istri nak Bumi, tapi ada wanita lain juga. Kalo nak Bumi serius, saya ingin istri pertama nak Bumi yang melamar Bintang. Supaya kami yakin bahwa dia nanti akan baik-baik saja.”

Bumi diam sejenak sebelum akhirnya menjawab mantap, “Kami akan datang lagi minggu depan.”

**

Seminggu berlalu begitu lambat bagi Bintang. Ia berusaha mati-matian menghindar dari Bumi dan Bulan. Bahkan dengan sengaja ia bolos bekerja selama beberapa hari. Namun ketakutan Bintang benar-benar terjadi. Minggu itu ketika Bintang pulang untuk menghadiri pernikahan teman masa kecilnya. Bumi dan Bulan telah datang di rumahnya.

Sebenarnya, ketika ayahnya menceritakan perihal kedatangan Bumi pada waktu yang lalu, Bintang tau bahwa mereka akan memenuhi permintaan ayahnya. Sejujurnya Bintang sangat terharu ketika Bulan datang untuk melamarnya menjadi adik madunya. Sempat terbersit takut menolak dalam hatinya, mengingat sebuah hadits yang pernah ia baca, “Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi)

Tapi ketidaksiapan Bintang mengalahkan segalanya. Kemarin dia menolak dengan “halus” karena tak tahu caranya, sekarang Bintang tau bahwa cara terbaik menolak lamaran mereka adalah mengatakannya secara langsung.

“Saya menolak lamaran ini. Saya belum ingin menikah, apalagi menjadi istri kedua. Saya tidak akan sanggup menjalaninya. Maafkan saya.” Kata Bintang akhirnya dengan tegas.

Bumi dan Bulan akhirnya pulang bersama awan. Awan kelabu yang bergelayut karena penolakan. Bintang tak membuka sesi diskusi. Ia sudah kebingungan dan ketakutan setengah mati. 

Pada hari itu, meski Nining bahagia karena pernikahannya. Bumi, Bulan dan Bintang sama-sama kehilangan semangat ketika menatap hujan.

Bersambung..

Kisah Bumi, Bulan dan Bintang ll Ep. 4 – Telpon Kejutan


Rumah Langit. Begitulah kebanyakan orang menyebut kediaman Bumi dan Bulan. Mudah menemukan lokasinya karena strategis dan semua orang di kawasan itu mengenal keluarga Bumi dengan baik. Rumah yang terlihat ramah itu, siapa yang tahu pemiliknya sedang membicarakan sesuatu yang serius.


Bulan menghampiri suaminya yang sedang bersiap tidur.

“Ayah.. Ada apa dengan Bintang?” tanya Bulan tiba-tiba. Sontak membuat Bumi terbangun, memandang istrinya antara kaget dan takjub. “Kita udah menikah 13 tahun. Liat ayah sama kaya liat telapak tangan ibu.” Bulan menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.

Bumi dengan lembut mulai mengelus-elus rambut istri yang telah memberikannya 2 (dua) orang anak tersebut. “Gimana menurut ibu? Bisa ya?”

“Allah bilang boleh. Masa ibu bilang ga? Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” [An-Nisaa’/4: 3].

“Kita bersama udah 13 tahun lamanya. Ibu tahu bagaimana ayah. Ibu tahu kalo ayah mampu. Ibu percaya ayah bisa berpoligami dengan baik. Kalo ayah merasa ini saatnya, ibu akan mendukung ayah.”

“Terima kasih bu, karena sudah percaya dengan ayah. Kamu memang istri terbaik di dunia. Bidadari surga.” Bumi memeluk istrinya dengan haru.

“Hanya saja karena kami wanita. Mungkin ada kalanya kami lalai menjadi istri yang baik untuk ayah. Ibu harap, ayah perluas sabar dan ikhlas untuk menghadapi kami nanti. Bagaimanapun ibu juga wanita dengan segala kefitrohannya.” Kata Bulan sambil menahan mata yang mulai berkaca-kaca.

Bagi Bulan pembahasan poligami bukanlah hal yang aneh. Dia dan suaminya telah mengenal sejak masih muda melalui guru-guru mereka. Sebagai sesama anak pesantren, Islam telah dekat dengan mereka.

Sejak awal menikah pembahasan ini pun telah dibawa Bumi dalam rumah tangga mereka, dengan tetap memperhatikan bagaimana perasaan Bulan. Bulan bersyukur karena itu. Tanpa terasa 13 tahun sudah berlalu, mereka bersama mengarungi bahtera rumah tangga. Dan kini angin sedang berubah arah di atas Rumah Langit.

**

Setiap pagi di BJT ada briefing. Dipimpin oleh Bumi sendiri bila ia tidak sedang ada agenda ke luar kota. Briefing ini bertujuan untuk menampung “uneg-uneg” karyawan seputar pekerjaan dan motivasi agar kegiatan hari itu berjalan lancar.

“Sebelum kita awali briefing dan pekerjaan kita hari ini. Mari kita awali dengan doa agar Allah memberikan berkah dan ridho atas jerih payah kita dalam menafkahi keluarga. Dibuka dengan bacaan Al Fatihah.. (dst)” kata Bumi.

Bintang yang berdiri di bagian kiri bersama karyawati lainnya selalu siap dengan buku di tangan untuk mencatat hasil briefing setiap hari. Yang nantinya ia melaporkannya secara tertulis sebelum jam istirahat. Biasanya Bumi akan menulis “komentar” atas hasil briefing yang kemudian dikirimkan ke masing-masing kepala bagian.

“Besok saya akan keluar kota untuk beberapa hari. Segala koordinasi nanti akan dipegang oleh Pak Riski yaa..” kata Bumi mengakhiri briefing pagi itu. semua orang kemudian kembali ke posnya masing-masing.

Karena banyaknya pekerjaan, Bintang menyelesaikan laporannya lebih lama. Hampir mendekati jam makan siang ia baru masuk ke ruangan Bumi. Dan di sana telah ada Bulan yang menyuapi Bumi makan siang.

“Maaf pak Bumi dan mbak Bulan, saya kembali nanti setelah selesai jam istirahat saja.” Kata Bintang yang benar-benar merasa canggung. Namun di luar dugaan, Bulan malah menyuruhnya untuk duduk menunggu karena Bumi sudah hampir selesai.

“Kamu mau ngasih laporan briefing?” tanya Bulan. Bintang menjawab dengan lirih. “Tunggu bentar yah, nanti kita keluar bareng, sekalian aku pulang.”

Begitu adegan selesai, Bintang langsung keluar. Mukanya merah seperti kepiting rebus. Meskipun kebersamaan mereka bertebaran dimana-mana, tapi mimpi apa Bintang semalam sampai berada di ruangan bersama mereka. Bintang seketika merasa seperti ‘obat nyamuk’ saja.

Bumi tersenyum melihat salah tingkah Bintang. Tapi melihat senyum itu, hati Bulan seperti tertusuk belati dingin. Bumi yang melihat perubahan istrinya segera menyadari apa yang terjadi. Segera ia memeluk dang mengecup kening istrinya.

“Ibuu.. Ibu tau kan bahwa ayah cinta banget sama ibu?..” Bumi meredakan cemburu Bulan dengan lembut. Bulan bersyukur suaminya tidak menanggapinya dengan meledek dan meledak, karena sebenarnya ialah yang meminta Bintang menunggui mereka. Mungkin bila ia bukan Bumi, pasti akan menyalahkannya dan menyuruh menanggung ‘akibat’nya sendiri, tanpa bersusah payah menenangkan. Ya dengan kata lain ialah yang sengaja membuat Bintang salah tingkah untuk meledek suaminya. Ah, wanita memang rumit.

Dan pergaulilah istrimu dengan (akhlak yang) baik. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allâh menjadikan padanya kebaikan yang banyak [An-Nisâ’/4:19]

**

Lusa keesokan harinya, tidak ada Bumi di kantor, suasana pun menjadi santai. Memang alamiah hampir semua karyawan dimana saja akan lebih rileks bila tak ada atasan, namun di BJT bukan karena Bumi menakutkan, tapi karena rasa sungkan padanya.

Bintang saja sudah berkeliling ke banyak divisi hanya untuk menyapa pada teman-teman wanitanya atau sekedar untuk ‘mencicipi’ camilan yang dibawa oleh mereka. Ketika ia kembali ke ruangannya, ia tidak percaya bahwa Bumi telah menelponnya sebanyak 5x.

“Eh, baru kali ini pak Bumi telpon? Tumben.” Bintang tidak merasa itu adalah telpon penting, karena ia memang tidak pernah berkomunikasi dengan atasannya tersebut lewat HP. Jam pulang telah dekat, segera saja ia membersihkan meja dan berkemas-kemas. Saat itulah Hp-nya berdering kembali. Dari Bumi. Refleks Bintang pun mengangkatnya.

“Bintang.. Hmm.. Begini saya menelpon kamu kali ini karena saya ingin mengutarakan sesuatu. Alasan saya karena ini memang diperbolehkan dalam agama kita. Dan istri saya tidak keberatan pula. Saya rasa kita bisa bersama-sama membangun keluarga yang sakinah.. bla bla bla.”

Bintang merasa seperti mendengar suara alien berbicara dalam bahasa asing. Otaknya tiba-tiba tidak mampu menangkap maksud Bumi. Apakah Bumi sedang bicara pernikahan?? Siapa dengan siapa?

“Pak.. Bisa anda lebih simple mengatakannya? Dengan Bahasa Indonesia yang sederhana?” Bintang memotong “ceramah” Bumi seakan-akan ia lupa bahwa Bumi adalah atasannya.

“Saya ingin menikahi kamu. Saya ingin kamu menjadi istri kedua saya..”

Bintang shock, dijauhkan hape dari telinganya, memeriksa bahwa kontak yang menelponnya memang kontak Bumi sang atasan di tempatnya bekerja. Bintang segera berlari ke pintu untuk menguncinya, takut ada orang yang mendengar dan berpikir yang bukan-bukan. Tiba-tiba tangan yang memegang hapenya bergetar.

Jawaban apa yang harus Bintang berikan??

Bersambung..

Kunci Kebahagiaan




Kebahagiaan adalah sesuatu yang diinginkan oleh setiap orang. Namun tak banyak yang tau arti kebahagiaan itu sendiri. Kesalahan pemberian makna bisa jadi akan membuat manusia salah pula dalam mengambil langkah guna menggapai impian.


Kebahagiaan sejati hanya akan digapai bila setiap manusia mengenali dirinya sendiri sebagai hamba Allah. 

Karena itu bisa dikatakan bahwa dengan mengenal siapa sejatinya diri kita, maka kita akan mengenal siapa Pencipta kita. Inilah kunci kebahagiaan.


Allah mengeluarkan kita dari rahim ibu kita, dalam keadaan alpha akan ilmu. Belum mengenal apapun. Tapi kemudian Allah beri perangkat-perangkat untuk mengenal jati diri kita. Allah beri akal untuk berpikir. Allah beri penglihatan, pendengaran, hati agar kita bersyukur.

Hari ini tidak lepas dari Kisah Ibrahim AS. Keimanan dan ketakwaan beliau seharusnya mampu menjadi teladan agar kita menyadari jati diri kita, Abdullah.

Ditinggalkannya Hajar dan Ismail di padang nan gersang tanpa adanya tanda-tanda kehidupan. Tetap tak membuatnya memiliki alasan untuk melanggar perintah-Nya.

Bunda Hajar pun mengenal hakikat dirinya dan mengenal diri suaminya. Maka ketika Hajar bertanya, "Apakah ini perintah Allah?" Kemudian Nabi Ibrahim pun mengiyakan.

"Kalau ini perintah Allah, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami." kata Siti Hajar.

Di bukit Tsaniyah Ibrahim memanjatkan doa, "Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim: 38).

Ketika akhirnya Ibrahim kembali berkumpul dengan Ibunda Hajar dan Ismail. Allah memberi perintah untuk menyembelih putra kesayangannya tsb. Sedih tentu saja, tapi takwa di atas segalanya. Dan Allah selalu akan memberi pertolongan di waktu yang tepat.

Maka, kita mengenal ibadah kurban di hari raya Idul Adha.

Begitulah seharusnya. Ketika diberikan sebuah perintah atau larangan, maka langkah hamba hanya sami'na wa atho'na.

Kisah Bumi, Bulan dan Bintang Ep. 3 – Kipas Angin


#Day10 #RevowriterWritingChallenge

Kisah Bumi, Bulan dan Bintang
Ep. 3 – Kipas Angin

“Kenapa sih kita jadi bahas kipas angin?” Seru Bintang yang merasa kesal karena Salsa kali ini mengungkit-ungkit tentang kipas angin. Meskipun tak ingin percaya, tapi ia merasa Salsa curiga kepadanya.


Sudah hampir 6 (enam) purnama ketika Bintang dan Salsa akhirnya diterima bekerja di PT. BJT. Bintang sebagai sekretaris pimpinan dan Salsa sebagai administrasi supervisor pemasaran.

Perdebatan hari ini bermula ketika beberapa hari yang lalu pak Bumi memberikan fasilitas kipas angin di ruangan Bintang. Salsa langsung menuduh Bintang ada “affair.”

“Ngomong tuh jangan ngaco. Kami atasan dan bawahan. Meskipun aku ga sebaik Aura Kasih. Tapi aku ga bakal ngelakuin hal kaya gitu (affair). Pak Bumi emang orang baik, itu udah cukup jadi alasan kenapa bisa ada kipas angin di ruanganku.” Dalih Bintang.

Salsa meringis, “Masalahnya cuma kamu yang dapet. Padahal ruangan lain juga panas. Coba deh pikir..”

“Kamu pikir orang kaya pak Bumi mau sama aku meskipun aku goda? Liat dia kaya apa. Aura Kasih versi cowok. Hidupnya lurus rus. Dan istrinya super sempurna, shalihah dan cantik. Aku dan mbak Bulan itu kayak hitam dan putih. Jelas??”

Salsa terdiam, bagaimanapun apa yang disampaikan Bintang adalah logika. Hanya saja tetap saja itu terasa tidak masuk akal baginya. Ketika Salsa pergi dari kamarnya, Bintang meneteskan air mata.

**

Bintang yakin seluruh kantor tau akan “kipas angin” ini, terkadang ia merasa was-was. Tapi ternyata tidak juga. Tidak ada yang berpikiran negatif seperti Salsa. Bahkan Mbak Bulan, yang dipikir Bintang juga tau tentang hal ini juga tidak memberikan komentar apa-apa. Apalagi seminggu kemudian akhirnya semua ruangan pun diberi fasilitas yang sama.

“Ah, mungkin Salsa aja yang lebay.” Bisik Bintang pada dirinya sendiri.

Melihat Bumi dan Bulan, Bintang merasa bahwa memang seharusnya kekuasaan itu dekat dengan Islam dan hanya dipegang oleh orang Islam, karena itu akan berpengaruh pada kebijakan yang akan diambil untuk mengatur siapa-siapa yang berada di bawah kepemimpinannya. PT BJT jelas adalah perusahaan yang berbeda dari yang lainnya. Mungkin di kota S, tak ada pimpinan yang begitu peduli dengan agama, akhlak dan ibadah karyawannya kecuali Bumi dan Bulan.

Bumi selalu mengajak karyawannya untuk sholat berjamaah dan mengikuti kajian. Bulan dengan sengaja mengatur jadwal untuk memberi kajian bagi karyawan-karyawan perempuan di kantor suaminya, yang ternyata tidak hanya di BJT. Dan Bintang menjadi salah satu orang yang tidak pernah melewatkan kesempatan itu. Bukan hanya karena dipaksa dan diabsen oleh Aura Kasih. Namun ada keinginan dirinya untuk berubah ke arah yang lebih baik, dan ia menyakini bahwa Islam adalah satu-satunya jalan kebenaran.

Pernah suatu ketika, Bintang kedapatan makan siang berdua dengan staff laki-laki di pantri. Sebenarnya tidak sengaja, karena Bintang terlambat makan siang. Bumi datang menegur mereka, “Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaithan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua.” (HR. Ahmad)

Sejak kejadian itu, Bumi ‘sedikit’ merenovasi kantornya. Tempat parkir diperluas, namun sebagiannya dijadikan pantri khusus laki-laki. Sementara pantri di dalam kantor, dijadikan pantri khusus karyawan perempuan.

Ketika Salsa cuti, Bintang pernah “ngojek” dengan staff laki-laki sesama karyawan untuk mengantarnya pulang. Bumi yang melihatnya pun mencegah dan tidak memperbolehkan. 

“Pada dasarnya kehidupan laki-laki dan perempuan itu terpisah kecuali ada udzur syar’i seperti muamalah, pendidikan dan pengobatan. Boleh seorang perempuan berboncengan dengan laki-laki bukan mahram jika kendaraannya memiliki pembatas tetap.” Kata Bumi.

Sejak saat itu, Bumi menambah inventaris perusahaan 1 (buah) sepeda motor untuk bebas digunakan dan dipinjam oleh karyawan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Di BJT pun karyawan tidak ada yang boleh pacaran. Bila kedapatan akan dikeluarkan alias di-PHK.

Bintang bersyukur bahwa boss di tempatnya bekerja (dan istrinya) adalah orang yang paham bagaimana seharusnya memimpin. Sehingga Bintang yang tidak tahu dipaksa menjadi tahu, dari yang tidak baik, dipaksa menjadi baik. Bahkan kini pakaian Bintang mulai berubah. Aura Kasih tidak segan lagi memberikan khimar dan jilbab untuknya, bahkan terkadang sengaja membelikan yang baru sebagai hadiah.

Ah, seandainya pemimpin seperti inilah yang juga memimpin negeri ini, yang menjadikan syariat-Nya sebagai poros membuat kebijakan. Maka peradaban Islam yang gemilang itu akan memeluk segenap negeri. 😇😇

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendeustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkanperbuatannya.” (QS. Al-A’raf : 96)

Bersambung..

=======
=======

Yeay.. akhirnya 3B is back 🤭🤭
Mayan buat ngisi challenge ya kan.. kali ini saya mau nantang Julak Farah deh (krn 1 grup di WS 🤣) buat nulis tentang poligami #eh tentang kepemimpinan di dalam Islam.. 😘😘

Jangan lupa kalo cape ngebor ke beranda saya. Bisa cek www.helmiyatulhidayati.com untuk baca kisah mereka 😉😉

Gabbar is Back : Bukan Pahlawan Kesiangan Tapi Islam yang Akan Menyelamatkan

Gabbar is Back merupakan film India kedua yang aku review setelah RAID di sini. Sebenarnya kedua film ini memiliki benang merah yang sama : korupsi atau penggelapan uang. Bedanya (masih versi aku), di film Gabbar is Back mengungkap korupsi di departemen kepolisian dan kolektor (aku rasa ini sebutan untuk para perwakilan rakyat), sementara film RAID adalah tentang penggelapan pajak oleh penguasa sekaligus pengusaha. Selain kalo Gabbar is Back adalah fiksi dan RAID diangkat dari kisah nyata.


Film Gabbar is Back yang diproduksi tahun 2015 ini merupakan film aksi, jadi kita akan melihat banyak adegan perkelahian. Beda ya dengan film RAID yang lebih menampilkan strategi dan permainan kata sebagai senjata.

Kalo soal aktor dan aktris ga usah ditanya ya, generasi Boomer, X dan Y pasti ga asing, paling tidak dengan pemeran utamanya.


SINOPSIS


Sepuluh orang kolektor diculik dan salah seorangnya ditemukan meninggal dengan cara digantung. Bersama dengan mayatnya ada setumpuk dokumen yang merupakan bukti suap, korupsi atau kriminalnya. Gabbar menyatakan bertanggung jawab terhadap kejadian ini. Namun polisi, media dan rakyat tidak ada yang mengetahui siapa sejatinya Gabbar.

Di kepolisian, semua bingung menemukan cara untuk menangkap Gabbar, namun tidak ada yang mempedulikan polisi “trainee” Sadhuram yang akhirnya menemukan kaitan Gabbar dengan Universitas Nasional.

Sementara di Universitas Nasional sendiri ada seorang profesor bernama Aditya yang memiliki reputasi hebat. Dia cerdas, kuat dan pandai berkelahi. Banyak mahasiswa yang kagum kepadanya. Dan memang dialah sejatinya yang berperan sebagai Gabbar atau yang memberi hukuman mati bagi para koruptor.

Suatu ketika Aditya bertemu dengan Shruti hingga pada pristiwa ia harus mengantar Shruti ke rumah sakit Patil. Di rumah sakit itu Aditya merasa marah melihat praktek tidak manusiawi yang dilakukan oleh dokter dan manajemennya untuk memeras pasien. Adegan tentang kecurangan rumah sakit ini banyak ditemukan di youtube. Ceritanya, demi meraup keuntungan yang banyak, bahkan pasien yang sudah mati pun diberi pengobatan agar keluarga pasien membayar biaya lebih banyak.

Ketika “kecurangan” rumah sakit ini menyebar di media, massa berdemo hingga menyebabkan Vijay Patil, sang pemilik rumah sakit meninggal. Ayahnya Digvijay Patil kembali untuk membalas dendam atas kematian anaknya. Dan sekali lagi ia berhadapan dengan Aditya.

Film ini berakhir dengan kematian Digvijay Patil di tangan Gabbar/Aditya. Untuk selanjutnya Aditya pun menyerahkan diri ke polisi dengan diiringi oleh “ketidakrelaan” mahasiswa dan rakyat. Itu karena orang-orang yang dibunuh oleh Gabbar adalah orang-orang yang membuat rakyat menderita akibat korupsi atau pembuat kebijakan yang merugikan rakyat.


SISI LAIN


Sebenarnya India tidak seindah film-filmnya. Negara yang pernah dipimpin Sultan Jalaludin Akbar ini merupakan salah satu negara terkorup di Asia. Sekitar 62% warganya mengaku pernah atau harus memberikan uang pelicin agar mendapat pelayanan umum. 70 % diantaranya adalah memberi sogokan pada jajaran kepolisian. Seperti kata Gabbar di dalam film, Suap seperti sesembahan”

Bagaimana di Indonesia? Sama aja. Korupsi merajalela.

Film Gabbar is Back sejatinya adalah gambaran kecil betapa gagalnya sistem pemerintahan demokrasi sehingga praktek korupsi menjamur. Akibatnya bisa dirasakan oleh banyak rakyat : kemelaratan.

Gabbar is Back juga menjual mimpi-mimpi, bahwa sebuah negara akan damai tanpa korupsi bila tak ada koruptor, karena itu Gabbar membunuh mereka. Dan agar terlaksana kehidupan seperti itu maka butuh manusia-manusia seperti Gabbar yang akan “memusnahkan” koruptor yang kemudian akan diganti dengan orang-orang baik. Padahal hal seperti ini hanya ada dalam dunia ilusi. Kenapa? Pertama, penyebab korupsi adalah sistemik, tidak bisa disolusi oleh seorang pahlawan kesiangan. Kedua, karena Gabbar hanya ada dalam drama.

Sistem pemerintahan yang dipakai banyak negara, termasuk India dan Indonesia adalah demokrasi yang membutuhkan biaya tinggi. Membuat siapa saja yang mengejar kekuasaan harus merogoh kocek yang tidak sedikit untuk kampanye dan “mahar” politik. Belum lagi, karena demokrasi lahir akibat paham sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan) yang mendarah-daging, menjadi perwakilan rakyat dianggap hanya profesi yang merupakan lahan basah dan sumber mengeruk keuntungan.

Di dalam Islam, korupsi sama dengan pencurian yang memiliki sanksi tegas dengan dipotong tangan. Berbeda dengan sekuler, prinsip hidup seorang muslim adalah selalu merasa diawasi oleh Allah (muroqobah). Ketakwaannya sejalan dengan ketakutannya melakukan pelanggaran hukum syara, termasuk korupsi. Sehingga perwakilan rakyat akan menganggap bahwa jabatan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Bahkan segala jalan menuju korupsi pun akan ditutup, seperti sistem pendidikan Islam yang akan melahirkan manusia-manusia bertakwa dan siap menjadi pemimpin yang melaksanakan hukum syariah. Sistem ekonomi Islam yang menyejahterakan, juga ditutupnya banyak pemikiran-pemikiran asing dan sumber liberalisasi.

Dengan begitu, bukan pahlawan kesiangan yang bisa menyelamatkan dunia ini, tapi Islam yang Rahmatan Lil Alamin.

Wallahu a’lam..

Kisah Bumi, Bulan dan Bintang II Ep. 2 – Dejavu



Ali mencintai Fatimah dalam diam dan doa. Dititipkannya gundah gulana hatinya pada Sang Khalik kala Abu Bakar, sahabat Rasul yang mulia melamar wanita idamannya. Begitu pula kala Umar Bin Khattab, sahabat Rasul yang perkasa juga ikut melamar Fatimah. Secercah harapan bersemi kala semua lamaran itu ditolak.


Diri yang miskin menjadikannya tak banyak berharap. Namun tatkala Abu Bakar mengingatkan Ali bahwa bagi Allah dan Rasullnya, dunia dan seisinya hanyalah debu-debu bertebaran belaka. Maka Ali segera mengambil sikap melamar Fatimah. Hingga kemudian Allah menyatukan mereka dalam ikatan yang suci hingga ke Jannah-Nya.


**
**

Biasanya wanita menjadi sensitif bila jadwal bulanannya datang. Tapi untuk dua bulan terakhir ini, Bintang tak perlu menunggu waktu bulanannya, ia menjadi sensitif karena tak kunjung ada yang tertarik dengan lamaran pekerjaannya. Hidup di dalam sistem ekonomi yang bernadi kapitalis salah satu akibatnya adalah susah mencari pekerjaan.

Di rumah kost mereka, kini temannya hanya Salsa. Maya telah sibuk dengan keluarganya. Sementara Aura Kasih telah pindah ke kota J untuk kuliahnya. Saat jenuh yang dilakukan Bintang adalah berselancar di dunia maya, dengan tak tentu arah.

Tapi Alhamdulillah, ia masih sering ‘kepentok’ dengan tulisan-tulisan bergizi Aura Kasih. Tampaknya kini ia bersinar dengan dunia dakwah yang ia pilih. Bintang tak pernah membayangkan bagaimana sibuknya dia di sana. Setidaknya hari ini, dia tersenyum ketika membaca tulisan Aura Kasih tentang kisah cinta Ali Bin Thalib dan Fatimah.

“Brak..”
Sekali lagi Salsa mendobrak pintu dengan tiba-tiba. Oh, tolong pula ingatkan Bintang agar ia tak lupa mengunci pintu.

“Bintang.. barusan PT. Bumi Jaya Trading telpon aku buat interview minggu depan. Kamu ingat kan perusahaan distributor Farmasi yang ada di Jln Cinta, yang gede itu lohh.. Kita naruh lamaran di sana.” Seru Salsa dengan muka berbinar.

Bintang ingat bahwa hampir semua perusahaan di Jln Cinta sudah ia masukin lamaran, tanpa ia tahu apakah di sana sedang ada lowongan atau tidak. Ia berharap salah satunya akan ‘jatuh hati’ dengan surat lamaran pekerjaannya. Meskipun terkadang harapan tak sesuai dengan kenyataan.

Sebenarnya hati Bintang mencelos, kenapa Salsa yang dapat panggilan, sementara dia tidak. Tapi ia berusaha “calm” dan mengingat-ngingat salah satu petuah Aura Kasih.

“Tiap makhluk Allah sudah dijamin rizkinya di dunia, bahkan hewan melata sekali. Rizki baru terputus ketika ia mati. Apapun yang diberikan Allah itu adalah yang terbaik bagi hamba-Nya. Kamu mungkin tak tahu, tapi Allah Maha Mengetahui.”

“Baiklah, aku masih hidup, itu artinya aku masih memiliki jatah rizki. Apa yang harus kucemsakan?” Kata Bintang di dalam hatinya. Bintang asyik dengan pikirannya sendiri, hingga ia bahkan tidak sadar, kalo Salsa sudah keluar dari kamarnya. Ketika ia mencoba tidur kembali, hanphonenya berdering.

“Senin, tanggal 05 Agustus 2019 datanglah untuk interview di PT Bumi Jaya Trading, Jln. Cinta No. 140-143 pukul 09.00 pagi.”

Begitulah inti telepon itu. Pelak, membuat Bintang bersorak. Dengan segera ia membalas Salsa, mendobrak pintu kamarnya, seperti yang seringkali Salsa lakukan padanya.

**

Ternyata ada 5 (lima) orang yang di interview. Bintang mendapat giliran pertama, sementara Salsa dapat giliran terakhir.

“Begitu satu orang sudah keluar, yang lain segera masuk aja sesuai urutan.” Begitu intruksi seorang karyawan yang sedari tadi jadi ‘pemandu’ mereka. Meski gugup, Bintang menekadkan akan memberikan yang terbaik dalam wawancara ini.

Pertama membuka pintu, Bintang merasakan Dejavu. Mimpi 2 (bulan lalu) serasa berputar kembali di depan matanya. Kini, ia menatap punggung seorang pria yang sedang berdiri di balik mejanya. Lama Bintang tertegun, sampai ia lupa mengucapkan salam.

“Bintang Alika? Saya Bumi. Silakan duduk.” Suara itu akhirnya mengembalikan Bintang ke dunia nyata.

Wawancara berjalan lancar, meskipun sedikit aneh. Pertanyaan Bumi kebanyakan adalah tentang latar belakang Bintang. Berapa saudara Bintang? Orang tua apakah masih hidup dan tinggal dimana? Berapa bulan sekali mudik ke kampung halaman? Dsb.

“Ayah.. Ibu bawa makan siang..” Seorang wanita tiba-tiba masuk. Membuat Bintang refleks menoleh. Seketika mengingatkan ia pada Aura Kasih. Wanita dengan jilbab dan kerudung lebar itu tampak cantik dan anggun. Mendengar sapaannya, tahulah Bintang bahwa wanita yang baru saja masuk adalah istri Bumi.

“Eh, ada calon karyawan baru ya?”

“Iya Bu..” Jawab Bintang dengan canggung. Bintang merasa pipinya memerah ketika istri Bumi dengan takzim mencium tangan dan kening suaminya, padahal ia masih ada di ruangan itu.

“Memangnya sejak kapan istri saya melahirkan kamu? Namanya Bulan. Lain kali kalo kamu ketemu dengan istri saya lagi, harus manggil mbak Bulan.” Kata Bumi. Meski bingung dan tidak mengerti, Bintang mengangguk saja.

Sementara Bulan memandang suaminya penuh arti.

**

Bintang tak langsung pulang karena menunggu Salsa. Selama masa tunggu ia tak tahan untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi ketika diwawancara pada Aura Kasih.

“Aku merasa rumah tangga mereka sempurna. So sweet banget deh. Ahh itulah cinta yaa.” Ketik Bintang mengakhiri ceritanya lewat whatsapp.

Tak lama Aura Kasih pun menjawab, “Bukan Cinta. Tapi Iman. Itu lebih tinggi dari cinta.”
Meski singkat, jawaban itu ia baca berulang-ulang kali. Ia mengerti maksud Aura Kasih. Dan entah kenapa jawaban itu membuatnya bahagia.

“Loh belum pulang?” Bulan tiba-tiba datang menyapa.

“Eh, mbak Bulan.. saya lagi nunggu teman masih interview di dalam.” Bulan mengangguk-angguk. Lama hening di antara mereka karena tidak ada yang tahu harus mengobrol apa.

“Bintang ya? Apakah punya cowok?” tanya Bulan.

“Ha? Saya ga pernah pacaran.” Meskipun Bintang tidak se-“radikal” Aura Kasih, tapi baginya pacaran adalah hal yang tidak mau dia lakukan. “Saya lebih menginginkan pekerjaan sekarang daripada seseorang yang disebut pacar.” Lanjut Bintang.

Bulan tersenyum dan kemudian pamit. Bintang menatap kepergiannya dari belakang. Tiba-tiba ia merasa malu dengan apa yang dia pakai hari ini. Celana jeans, kemeja panjang dan kerudung yang tidak seberapa lebar. Ia kemudian mengingat-ingat bahwa di lemarinya hanya memiliki 1 (satu) set jilbab dan khimar, dan hanya dia pakai untuk kondangan.

Tapi, hati Bintang yang terusik kala itu adalah pintu terbukanya sebuah lembaran baru dalam hidupnya.

Bersambung..





Kisah Bumi, Bulan dan Bintang ll Ep. 1 – Takdir



“Brak..” Salsa masuk ke kamar kost Bintang tanpa mengetuk pintu, membuat si empu merengut. Dia yang sedang berusaha berdandan menjadi kesal dan kaget, lipstik di tangannya jatuh dengan lembut. Namun meski begitu, Salsa malah terkikik dan langsung tiduran di atas kasur Bintang.


“Wah udah siap aja..” kata Bintang, seketika kesalnya telah hilang.

“Iyalah.. Aku kan ga kaya kamu, ga pake dandan..” sahut Salsa.

“Ihh.. ini kan nikahan temen, masa ga ada persiapan..”

Suasana hening sejenak, Salsa tampak berpikir. “Eh beneran si Maya itu ga bunting duluan? Kita kan baru lulus SMA masak langsung nikah?”

“Husshh.. punya mulut itu dijaga.. dia nikah karena dijodohin, dia kan udah cerita jauh-jauh bulan sebelum kita lulus. Lagian tipe orang kaya Maya ga mungkin lah MBA. Dia kan ‘murid’nya Aura Kasih.”

Salsa manggut-manggut. Tampak berpikir sekali lagi, ekspresinya lucu ketika ia sedang merasa rumit, membuat Bintang tersenyum geli.

Salsa, Bintang dan Aura Kasih bukan penduduk kota S, mereka berasal dari kota M, merantau untuk menempuh pendidikan SMA. Beda dengan Maya, ia lahir, menikah dan menetap di kota S. Latar belakang mereka berbeda-beda namun mereka adalah sahabat karib.

Salsa, Bintang dan Maya berasal dari keluarga yang tidak jauh berbeda, tidak kaya meski juga tidak melarat, yang jelas keadaan keluarga mereka tidak memungkinkan mereka untuk melanjutkan kuliah.

“Orang kaya aku, kamu dan Maya, ketika lulus SMA cuma punya 2 (dua) pilihan. Kalo tidak bekerja ya menikah. Nah si Maya jodohnya datang lebih cepat dari kita. Karena itu dia nikah.” Kata Bintang.

“Hehe iya sih.. kita mah jangan mimpi buat kuliah ya.. “ Jawab Salsa sambil menggaruk kepalanya.
“Eh tapi kamu pilih apa? Bekerja atau menikah? Apa dua-duanya?”

Bintang berpikir sejenak, tidak pernah terlintas di benaknya ingin menikah muda. Sebenarnya ia telah membuat rencana, hanya akan bekerja setahun setelah lulus SMA, bertekad mengumpulkan uang agar bisa kuliah.

“Nikah itu ga gampang kali. Zaman sekarang susah cari cowo dengan high quality.” Akhirnya hanya jawaban itu yang muncul dari Bintang.

“Emang kamu pengin cowok kaya apa buat jadi suami?”

“Oww.. dia harus tampan, mapan, sholih, berjiwa pemimpin, penyayang sama anak dan keluarga, agamanya jempol.. terus..”

“STOP!! Jangan ngayal deh Bin, cowok kaya gitu ga ada kecuali kalo dia udah punya istri. Kamu mau dinikahi oleh pria yang sudah beristri??” kata Salsa tiba-tiba.

“Eh maksudmu poligami?” Bintang otomatis mencubit pipi Salsa dengan gemas dan keras membuat Salsa meringis meskipun masih sempat tertawa. Kelakuan mereka baru berhenti ketika Aura Kasih datang.

Aura Kasih adalah sahabat mereka juga. Bedanya Aura Kasih sudah dipastikan akan melanjutkan kuliah, ke fakultas kedokteran lagi. Aura Kasih sahabat Bintang berbeda 180 derajat dengan artis Aura Kasih. Aura Kasih yang ini selain memiliki kecerdasan, ia juga memiliki kepribadian yang religius,

“Kalian rame loh, aku sampe denger..” kata Aura Kasih.

“Iya.. kamarmu kan di sebelah.” Timpal Bintang.

Salsa segera berdiri ketika berhasil lepas dari jerat Bintang. “Auraaa.. ini loh Bintang sukanya ama cowok yang udah punya istri.” Salsa mengeluarkan jurus merajuk, namun langsung dipelototin oleh Bintang, Salsa kemudian kabur dengan alasan mencari teman-temannya yang lain.

“Jangan dengerin Ra. Masa iya aku suka sama pria beristri??” kata Bintang.

“Eh emang ada yang salah? Pria beristri itu udah teruji karena udah berpengalaman membina rumah tangga. Kamu kemakan konsep mbak-mbak feminis sih, yang katanya setia itu harus ama satu wanita..” jawab Aura, Bintang setika kaget. Tidak mungkin kan Aura Kasih yang dikenal dengan kepribadian dan kehidupannya yang lurus berbicara seperti itu.

“Tapi pria beristri itu haruslah suamimu juga. Kalo bukan ya DOSA..” tambah Aura.

“Yee.. ujung-ujungnya poligami lagi..”

**

Jodoh adalah takdir, mutlak adalah kekuasaan Allah. Ketika Allah berkehendak, bertanya pun kita ta ada hak. Ketika jodoh telah tiba, mau lari sejauh apapun pasti akan tertangkap juga. Baik dia itu pria beristri maupun pria yang singgle. Sebaliknya mau seberapa sukapun kita dengan seseorang, bila Allah tak berkehendak, kita tak akan bersama dengannya.

Untuk hal-hal yang berada pada area yang dikuasai Allah, tak ada hisab untuk itu. Jadi jangan pusingkan itu. Tapi yang harus dipikirkan manusia adalah nizham (peraturan) apa yang dipilihnya terhadap pristiwa atau perbuatan yang berasal dari dirinya atau menimpanya karena kehendaknya sendiri. Apakah dia akan memilih peraturan yang sudah Allah tetapkan atau peraturan selain dari Allah.

Kalaupun jodoh yang datang adalah pria beristri, pastikan berjodoh dengan cara yang benar, bukan dengan menikung istrinya. Bukankah Allah sudah menetapkan untuk mencari pasangan yang diridhoi akhlak dan agamanya? Yakinlah, bagi pria sholih, poligami itu juga bukan hal yang mudah.

**

Bintang terjaga dari mimpinya di tengah malam. Namun kesadarannya membawa ia terngiang-ngiat akan “petuah” Aura Kasih kemarin. Tentang takdir dan jodoh. Ahh.. dan poligami juga.

Segera ia nyalakan lampu, tertegun di meja belajar mengingat mimpinya barusan. “Apa aku bermimpi menatap punggung seorang pria di sebuah ruangan?”

Bintang menggelengkan kepalanya, ia menata kembali surat-surat lamaran kerja yang ada di meja belajarnya. Ia hitung kembali jumlahnya tidak kurang dari 10 (sepuluh). Besok, ia akan berusaha mendapatkan pekerjaan. 

Bersambung..