Katanya Cinta, Tapi Kok Kamu Gitu Sih??


Normalnya, ibu pasti mencintai anaknya. Kalo ada yang tidak, fix ga usah dibahas.


Pernah ketemu kan ama temen, tetiba kalo cerita tentang anaknya ngalir gitu aja. "Anakku kemarin ujian, tapi dia ketiduran, jadi ga belajar. Alhamdulillah dia ga remidi." Bla bla bla.

Jangan salah, kadang saya pun begitu. Bangga terhadap anak saya. Meskipun "behind the scene" di rumah membuat saya sering mengerutkan dahi atau tetiba pengin ngelumpar jumroh 😁🤭

Yah namanya juga cinta, pasti yang baik2 yg kita ceritain. Kecuali ketika kita ingin mencari solusi. Misalnya, "Anakku rembes, gmn ya caranya biar dia ga rembes lg?" Nah, ini tanya ama temen, kali aja dia punya resep jitu tentang mengatasi 'pe-rembes-an' pada anak.

Masa iya ada ibu cinta anaknya terus bangga dia rembes? Jangan2 ntar begini, "Anak saya rembes. Kenapa ya? Apa jangan2 salah milih bapak?" Nah loh!!

Jangan-jangan malah si bapak yang marah2 sama istri karena ngebiarin anaknya rembes.

Cinta seorang ibu pastilah akan memberikan yang terbaik bagi sang buah hati. Termasuk penjagaan yang terbaik pula. Penjagaan terhadap kemanan, makanan, pendidikan, pakaian, badan dsb. Ye kan??


Normalnya (lagi), sebagai umat muslim, sejahil-jahilnya manusia terhadap agama. Seharusnya memiliki cinta pada Allah dan Rasull lebih dari cinta ibu kepada anaknya. Sekalipun sekedar lisan, tidak sampai ke hati atau setuju penerapan syariat Islam Kaffah. Minimal akan berhati-hati sekali lidahnya ketika bicara tentang Rasulullah.

Jadi, sekalipun seorang muslim tidak melaksanakan rukun Islam selain syahadat, harusnya dia ga pernah berpikiran untuk membanding-bandingkan bahkan mengolok2 bentuk fisik Rasulullah. Apalagi kalo ngomongnya pake ilmu kira-kira bukan ilmu muthawatir. Saya curiga, orang2 begitu terlalu lama hidup dalam tempurung kura-kura 😐

Makanya seorang muslim sekalipun tidak pernah bertemu dengan Rasulullah atau membaca hadits tentang segala keindahan pada diri Rasulullah normalnya tidak akan menganggap bahwa Rasulullah itu sama dengan kebanyakan manusia, apalagi dengan mengatakan Rasulullah masa kecilnya rembes. Seperti anak-anak zaman sekarang.

Bukankah Muhammad bin Abdullah lah pria yang ia sebut dalam syahadatnya?? Yang kemudian menjadikan ia sebagai muslim, predikat paling mulia sejagat raya. Terlepas setelah itu ia melaksanakan syariat yang dibawa oleh beliau atau tidak.

Tau lah ya maksud saya? Anak-anak zaman sekarang berada dalam perlindungan ibunya, yang bisa jadi ada keluputan dalam penjagaannya. Tapi Rasulullah memiliki penjagaan terbaik sepanjang masa : Allah SWT.

Udah deh mak.. ngaku aja pasti ketika ada orang mu(?)afiq yg mengolok2 Rasulullah yg mulia pada geleng2 kepala kan? Kok bisa ada manusia spesies begitu? Dilihat dari sudut pandang manapun bertentangan dengan teori bahwa cinta haruslah memberikan yang terbaik.

Katanya cinta, tapi kok kamu gitu sih??

Jember, 7 des 19

Nb. Sebagian dari kesempurnaan iman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah mengimani bahwa Allah ta'ala menjadikan penciptaan tubuhnya yang mulia dengan bentuk yang tak pernah dilihat sebelumnya atau sesudahnya pada penciptaan manusia.

Dalil lengkapnya bisa dibaca di Pak Muwafiq, Sampeyan Ngaji Nang Endi?

43 comments:

  1. Aku berpikir sebelum membaca. Banyak menimbulkan tanya sebelum ku selesaikan semuanya.

    Tapi, setelah ditelaah semua. Memang tak sepantasnya kita saling mengolok. Saling menjelekkan. Kita hidup berdampingan terasa damai kok. Bener kan? Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar kak, bahkan ada bahasan sendiri tentang cinta kepada sesama muslim dan kafir dzimmi. ada adab sebelum kita berilmu, ada ilmu sebelum kita beramal. namun mengolok2 nabi adalah perkara lain. ini sudah masuk ranah akidah.. sehingga bahkan yang punya ilmu setinggi langit pun tidak pantas untuk melakukan itu.. dan ada kewajiban lain dari umat Islam yaitu bernahi munkar, mencegah kerusakan. mengolok2 Rasul termasuk kerusakan akidah.. makanya tidak boleh dibiarkan..

      Delete
  2. Ini yang kasus kemarin ya Mak? Aku belum sempet ngikutin sih, cuma denger suami cerita. Tapi udah diklarifikasi lagi ya katanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. klarifikasi tapi ga ada dalilnya, dan ga bertaubat mak. karena ini menyangkut ranah keimanan (akidah) harusnya dia bertaubat..

      Delete
  3. Ini yg lagi rame dibahas... hmmm, semiga semuanya bisa tuntas selesai tanpa harus ribut berkepanjangan ya ... mau baca link sebelumnya dulu... biar jelas permasalahannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak.. setelah itu baca link artikel yang saya sebutin di bawah yaa.. biar ga salah paham :)

      Delete
  4. Kalau udah mengolok-olok apalagi Yang disebut Itu' Nabi kok rasanya....
    Jadi sedih deh.

    ReplyDelete
  5. Aku no komen ya soal ini, takut membahas masalah agama krn di Indonesia masih sensitif. Apalagi aku seorang non muslim, hehe

    ReplyDelete
  6. Aku sempet ngikutin di twitter dan FB ttg kasus ini. Menyayangkan aja sih, apapun alasannya. Aku termasuk sefaham, sebaiknya engga usah membandingkan apalagi bernada mengolok ke siapa pun. Lebih² Rasulullah saw...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo kita peribadi yang diolok2 bolehlah kita sabar, soalnya kita juga ga sempurna dan ga banyak jasanya hidup di dunia. tapi kalo nabi yang diolok2 udah beda kasus lagi..

      Delete
  7. Aku tambah bingung baca komentarnya sebab tidak tahu kasus yang sedang dibahas disini. Ada yang bersedia ngasih tahu biar saya nyambung berpikirnya, hehe.

    Tapi pesannya sampai kok soal jangan mengolok-olok. Sebab saya paham menjadi orang yang sering sakit hati karena diolok-olok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi, yang diolok2 itu Nabi Muhammad SAW. Padahal salah satu kesempurnaan iman seorang muslim itu adalah memuliakan nabinya. Solusi, si pengolok tidak cukup dengan minta maaf tapi bertaubat, tp ga dia lakukan. Maka ummat lain yang mencintai nabi pun geram, termasuk saya, makanya saya tulis deh..

      Delete
  8. Ini sedang membahas kasusnya yai muwafiq ya?

    ReplyDelete
  9. Jujur aku nggak tau tau ini bahas kasus apa krn belum pernah dengar juga. menurutku kalo soal mendidik anak penting juga memang soalnakhlak jadi gak kebablasan apalgi sampe mengolok Rasulullah. Bahkan mengolok agama lain menurut saya pun gak elok ya. Kan untukku agamaku dan untukmu agamamu. Saling respect aja sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe si pengolok nabi membandingkan masa kecil nabi sama seperti masa kecil anak2 zaman now yang dia lihat rembes. padahal ada banyak dalil muthawatir yang menyatakan mengenai keindahan Rasulullah SAW. di situlah dia salahnya, membahas sesuatu tapi ga ada ilmunya. apalagi ini menyangkut akidah..

      Delete
  10. Waktu sekolah dan kuliah selalu ingat pesan ini, bahwa ketika kita menunjuk orang lain dengan satu telunjuk, sesungguhnya ada 4 jari lainnya mengarah ke kita. Jadi, jangan sekali pun mengolok orang lain, sebab hal yg buruk pun kelak akan berpulang ke kita.

    ReplyDelete
  11. Semoga semua bisa mendudukan diri, merendah dan bisa terseleaikan semuanya dengan baik. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga bisa selesai dengan baik sesuai dengan yang diperintahkan-Nya

      Delete
  12. Ngasuh anak itu unik ya mbak,, kadang didampingi bener² ya kok rasanya sama aja hasilnya dg gak didampingi, hihi.. Kaya anak saya yg SD kemaren pas ujian ktnya ga usah diajarin belajar eh ternyata beneran bs malah..

    ReplyDelete
  13. ini mau nyindir kasus yang aktual itu yak hehe
    aku no komen soal itunya

    tapi soal cinta ke anak, memang unik sekali

    ReplyDelete
  14. Siapakah yg berani membandingkan bentuk fisik rosulullah?? Naudzubillah..

    ReplyDelete
  15. Huehehe aku enggak paham ini yang dimaksud siapakah mbak? Semua yang komentar bilang "kasus itu" kasus yang mana, ya? sepertinya aku ketinggalan berita nih hehehe. Tapi memang soal mengolok aku enggak suka ih apalagi yang dioloknya Rasalullah SAW. Keterlaluan banget lha itu mah

    ReplyDelete
  16. Hahahaha, aku salah duga. Tadinya pas baca judulnya kirain untuk dua sejoli gitu deh. Tahunya cinta ibu dan anak. Cinta sepanjang masa dan pamrih

    ReplyDelete
    Replies
    1. maksud tulisan saya, cinta ibu dan anak memang cinta sepanjang masa dan tanpa pamrih. tapi cinta kita kepada Rasulullah SAW melebihi cinta seorang ibu pada anaknya, jadi seharusnya kita memuliakan Rasul bukan mengoloknya.. begitu kak..

      Delete
  17. Saya memilih untuk tidak berkomentar lebih jauh. Saya menghormati beliau yang saya duga kepadanya artikel ini ditujukan.
    Sebagaimana saya pernah memilih untuk tidak berkomentar mengenai seorang pemuda yang mengaku ustaz dan menyebut Rasulullah sesat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. di dalam Islam ada kewajiban individu untuk berdakwah spt dalam hadits "Bila kamu melihat suatu kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, bila tidak bisa, maka cegahlah dengan lisanmu. bila tidak bisa maka cegahlah di dalam hati, namun itulah selemah-lemahnya iman."

      Saya tidak punya kekuasaan (tangan) untuk mencegah orang menista nabi, tapi saya punya lisan (tulisan) untuk melakukannya. mudah2-an ini menjadi hujjah saya di akhirat kelak. karena diamnya seseorang terhadap kemungkaran juga akan dimintai pertanggungjawaban..

      Delete
  18. aduh aku roaming. bentar deh bentar beneran nanya Rembes tuh apa sih maksudnyaa???

    ReplyDelete
  19. Wah, ini kasus yang lagi ramai itu ya Mbak. Saya gak bisa berkomentar banyak, tapi kalau memang cinta agaknya kita akan memilih kata-kata yang tepat agar tidak menyakiti hati yang kita cintai itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah dan cinta kepada Allah dan Rasull itu di atas segalanya..

      Delete
  20. Saya bingung karena tidak mengenal arti rembes dalam bahasa Indonesia. Juga tidak tahu apa yang terjadi karena pembahasannya mengenai sesuatu di luar pengetahuan saya.
    Akan tetapi, saya tidak suka pembandingan, apalagi menyangkut Rasulullah.
    Saya bukan ibu yang baik dan hebat, merasa banyak kurangnya.

    ReplyDelete
  21. Yg namanya mengolok-olok ya emang gak perlu dilakukan sih. Ngapain juga? Sudahlah, Indonesia lebih cantik tanpa harus berkonflik

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul.. karena itu penista perlu dihukum, supaya tidak semakin bermunculan..

      Delete
  22. Oh, tentang pendakwah yang mungkin niatnya biar lucu ya? Supaya nggak garing dan banyak orang ketawa... Aduh saya susah komen nih, karena bisa penuh ini kolom komentarnya, hehe...
    Sesuatu kalau berlebihan maka akan hilang apa yang sebenarnya mau disampaikan. Dan sesuatu yang tidak pada tempatnya akan membahayakan bagi penyampainya.

    ReplyDelete

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)