Road To SPI 212 : Bag 1 Menjadikan Anak Berprinsip

Road To SPI 212 : Bag 1
Menjadikan Anak Berprinsip
.
Bunda, masih ingat ga ketika kita umur 8 tahun? Umur segitu kita mungkin kelas 2 SD. Masih cute banget itu, sekarang juga masih cute lah, mamah muda yang cute. J
.
Generasi yang jadi mamah muda di tahun-tahun ini, biasanya adalah generasi yang lahir di akhir tahun 80-90-an. Generasi kita ini biasanya disebut generasi Y. Pada masa kita masih cute alias masih SD, kegiatan kita kala itu pasti masih berkisar antara bermain dan belajar. Eh, belajarnya kadang-kadang sih.
.
Anak-anak dari generasi Y, biasanya lahir di tahun akhir 90-an sampai tahun 2000-an, suka di sebut Generasi Z.
.
Beda dua generasi ini, beda pembahasan. Karena generasi Y sudah berada pada usia matang ketika teknologi informasi berkembang dengan sangat pesat seperti sekarang ini, generasi Y lebih ‘siap’ menghadapi ‘luber’nya informasi masa kini.
.
Berbeda dengan generasi Z, mereka masih sangat muda saat ini, cenderung untuk tidak siap, apalagi kalau tanpa pendampingan, atau dengan pendampingan yang salah. Kelar hidup loe! Haha
.
Tontonan marabahaya banyak merajalela, dari televisi hingga youtube. Tontonan ‘tidak sehat’ macam begitu mempengaruhi sisi biologis dan psikologis anak, menjadikan anak lebih cepat dewasa dan mendadak ‘drama queen’.
.
Jadi, jangan heran kalo kita sering jumpai anak SD sudah pacaran, cium-ciuman, sudah manggil papa-mama. Ntar kalo putus jadi janda-duda kali ya.
.
Lebih parah lagi, kids jaman now yang agak besaran, di sekolah senior, bahkan ada yang hamil di luar nikah dan melahirkan. Yuk kita geleng-geleng kepala berjamaah. Serem iihh..
.
Fenomena ini bukan tanpa alasan loh bund, itu karena anak tidak memiliki prinsip yang ditanam sejak kecil.
.
Ada sebuah cerita menarik dari seorang ibunda di komunitas kami (Masyarakat Tanpa Riba) mengenai putrinya. Bunda bernama Yuli (Sidomampir, KSW#34) ini memiliki Aisha yang berusia 8 tahun. Perbincangan menarik terjadi tatkala ia bermain bersama temannya, teman Aisha MENANYAKAN SIAPA KEKASIH AISHA?
.
Bayangin ya, cewek umur 8 tahun ngerumpinya udah tentang pria idaman hati. Beda kan ama kita dulu saat berada di umur yang sama? Saat itu kita mungkin ngerumpiin soal kertas binder yang warna-warni.
.
Tapi begitulah, karena beda generasi tadi. But, gimana Aisha menjawabnya? “Pacaran itu ga boleh. Bolehnya kalau udah nikah. Kita itu tugasnya belajar. Urusan nikahnya nanti ama siapa, itu mah kalo udah gede. Ummiku udah mintain sama Allah suami buat aku.”
.
Aisha ini contoh anak yang berprinsip. Orang tuanya berpikir bahwa penanaman prinsip sejak dini adalah sangat penting. Karena kelak mereka akan tumbuh besar, menghadapi ujian yang lebih, bertemu dengan lebih banyak teman, berbeda didikan, gaya hidup dan berbeda segalanya. Andai tidak punya prinsip, maka anak kita akan terwarnai oleh lingkungannya, BUKAN mewarnai lingkungannya. Dan itulah sebetul-betulnya bahaya.


Orang tua harus berpikir keras untuk mencari pola penanaman prinsip ini agar anak memahaminya dengan baik. But, it’s not easy job, it’s a big project. Dan tidak bisa jadi kerja sampingan.
.
Maka, wajib bagi orang tua untuk mencari ilmu ‘parenting’. Kalau di antara kamu masih ada yang bilang. “Ini anak saya, saya paling tahu bagaimana mendidiknya!” maka seseungguhnya kamulah orang tua yang perlu lebih banyak belajar.
.
Itu prinsip.
.
So, Yuk ikutan SPI (SmartParent Institute) di Jember, 02 Desember 2017.
.
Nb : Foto berikut adalah foto Aisha, sudah mendapat ijin orangtuanya 
.

0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)