Peran Pena di Dalam Hidup Kita


Peran Pena di Dalam Hidup Kita
.
.
Ketika melihat bayi yang baru lahir, banyak orang akan mengatakan, “Bayi itu seperti kertas yang kosong, maka kitalah (orang tua) yang akan menuliskan ‘sesuatu’ di atasnya.” Entah dari mana sebenarnya kalimat ini berasal, tapi hal ini senada dan pernah juga diucapkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Setiap anak itu dilahirkan di atas fitrah, orangtuanyalah yang menjadikannya Nashrani, Yahudi atau Majusi.” (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabarani)
..
Setelah dewasa (baligh – mukallaf), pena itu berpindah tangan pada diri kita sendiri. Kita mungkin telah menutup lembaran-lembaran kertas dimana orang tua adalah penulisnya. Selanjutnya, kita menulis hidup kita sendiri di lembaran-lembaran berikutnya.


Maka, jika hidup ini seperti lembaran-lembaran yang kosong. Kita adalah pemegang pena-nya. Meskipun tangan yang memegang pena, namun hati dan akal manusialah yang menentukan ke arah mana pena kita akan bergoyang.
..
Bila hati dan akal kita resah, maka goresan pena kita akan menuliskan kesedihan-kesedihan. Pun begitu bila hati dan akal kita dipenuhi oleh pemahaman yang salah, maka yang akan kita tuliskan adalah kesesatan-kesesatan.
..
Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Imam Bukhari dalam sebuah kitabnya, “Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.” Sehingga menjadi suatu kegentingan untuk berilmu sebelum beramal.
Sebelum menulis kita harus tahu apa yang akan kita tulis, dari sudut pandang apa kita akan menulis, untuk siapa kita menulis, dan dari sumber (referensi) apa yang menjadi dasar menulis kita.


Sebelum melakukan suatu perbuatan maka kita harus berilmu. Dengan mendasarkan pada ilmu itulah kita ber-perbuatan. Karena itu, menuntut ilmu (agama) di dalam Islam hukumnya wajib bagi setiap individu.
..
Syarat diterimanya sebuah amal juga karena dua hal : niat yang benar dan cara yang benar. Niat yang benar semata-mata karena Illahi Rabbi dan cara yang benar adalah cara-cara yang diperintahkan oleh sang Maha Pengatur. Cara-cara inilah yang harus diketahui oleh manusia dengan menuntut ilmu.
..
Layaknya benih yang perlu disiram air agar ia tumbuh, mekar dan berbunga. Maka, air untuk menyiram hati dan akal adalah ilmu. Bila hati dan akal telah memiliki ilmu, maka pena kita akan berusaha menari dan menarik kita menuju Jannah yang dirindukan.
..
Dalam perjalanannya, selama menulis memang tidak akan mulus. Ada kalanya pena kita akan patah, sehingga kita harus mengurutnya kembali, atau mungkin komputer kita kehabisan baterai (bila memakai laptop) sehingga kita harus me-recharge dulu. Bisa jadi kita kemudian kehabisan ide, tak tahu lagi apa yang kita tulis. Ada kalanya juga halangan-halangan ini membuat kita kesal dan marah, tidak jarang kemudian merobek kertas atau mungkin hanya mengisi buku dengan coretan-coretan tidak berguna sampai halaman terakhir (mati). Betapa sia-sianya!!
..
Dalam keadaan seperti ini, maka manusia (merasa) berada dalam kondisi yang berat. Manusia tidak akan sanggup menanggungnya, pasrahkan saja pada Allah. Semoga kita menadi manusia yang bisa menulis buku kehidupan kita dengan baik, dengan cara yang Allah mau. Sehingga kita akan mendapat penilaian yang bagus untuk buku itu dan bisa membawa kita berdiri di barisan di depan salah satu pintu Surga. Dan sekali lagi, ini juga butuh ilmu.
..
Jember, 02 Maret 2018
Ditulis oleh Helmiyatul Hidayati sebagai pengingat untuk dirinya sendiri.

8 comments:

  1. Makasi Mbak,, sudah mengingatkan.. ah masyaAlloh gaya tulisannya mbak Helmi udah ngalir dan ngena banget...

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih sudah mampir.. ini juga masih belajar hehe

      Delete
  2. Yang kadang menjadi cobaan seorang penulis adalah ketika mulai dilanda kesibukan dan dilanda rasa malas...

    Karena itu seorang penulis haruslah bisa mengontrol moodnya... �� sekedar share pengalaman dikit dari saya... semoga bermanfaat

    ReplyDelete
  3. ah aku suka banget cara nulis dirimu ;')

    ReplyDelete

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)