Ketika Harus Lockdown Karena Corona

Memakai masker salah satu upaya membentengi diri dari Corona.

Maksud lockdown sebenarnya mengunci setiap akses keluar dan masuk. Kalo di Jember mungkin lebih tepatnya disebut social distancing karena yang libur adalah anak sekolah tingkatan SD s/d SMA. Itupun yang sedang ujian ada yang tetap masuk. Anak-anak kuliah dan kantor-kantor usaha tetap masuk, pelayanan publik tetap ada yang buka. Bedanya sekarang di kantor-kantor itu ada botol hand sanitizer besar sebagai fasilitas untuk karyawan 😁 

.
Heboh corona bagi saya berefek waspada (atau panik? 😂). Awalnya di rumah merasa cukup cuci tangan pake air keran, atau wudhu tiap kali sholat. Kemarin untuk pertama kali saya beli hand wash 🤣 tapi akhirnya kebanyakan cuci tangan malah membuat tangan jadi panas.
.
Awalnya saya suka beli pisang karena anak bujang suka pisang goreng, kemarin saya membeli pisang dengan tujuan mencegah diri dari corona, setelah lihat sebuah video yg menjelaskan bahwa ilmuwan Australia menemukan kandungan pisang bagus untuk imunitas terhadap covid-19 ini. Sekali menyelam, 2-3 pulau terlampaui kan? 😅
.
Tapi, ada juga yang santuy menghadapi heboh corona. Salah satunya tukang sayur langganan. Dia bilang, "Kalo saya libur, anak saya terus makan apa bu?" Katanya ketika saya tanya kenapa kok malah 'berkeliaran' padahal harusnya lockdown di rumah selama 2 (dua) minggu. Ya, meskipun kalo dia beneran ikutan lockdown, saya belanja kebutuhan sehari-hari kemana dong?? 🤔😌
.
Iya, susah memang menerapkan lockdown sekalipun ada wabah mematikan yang menyerang. Terutama di negeri ini. Kenapa? Karena rakyat terbiasa mengurus dirinya sendiri, alias auto pilot. Maka hidup dan mati kita tergantung kerja kita. Sekalipun kita harusnya di lockdown alias bertapa di rumah.
.
Saya bayangkan, mungkin pandemi semacam zombie dalam drama the Walking Dead saja yang akan membuat rakyat mau lockdown dengan sendirinya. Itupun kalo tidak sibuk mempertahankan diri. Ooppss..
.
Nyatanya, bahkan ada yang memanfaatkan lockdown 2 (dua) minggu ke depan sebagai liburan dan tempat-tempat wisata tetap gencar promosi namun dengan jaminan penyediaan hand sanitizer. Serius, ini saya pernah dapet WA begini dari sebuah resto dan homestay cukup terkenal di Jember. Katanya, "Hotel bebas corona." Hihi 😁

Sumber : DI's Way

Idealnya bagaimana kalo suatu kawasan atau negeri harus benar-benar lockdown karena ada pandemi? Ya, seharusnya negara dalam hal ini bisa dijadikan sandaran. Karena negara adalah garda terdepan dalam melindungi rakyatnya. Bukankah Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)
.
Negara juga harus sangat amat tegas dalam mengawal "penutupan" kantor-kantor usaha yang tidak bergerak di bidang pokok kebutuhan ummat. Misal rumah sakit dan distributor farmasi tetap buka, karena dibutuhkan dalam menunjang kesehatan masyarakat. Namun tak perlulah pabrik dan distributor es krim ikut buka. Kalau perlu negara menanggung kerugian yang terjadi akibat ditutupnya perusahaan sementara. Hehe 😎
.
Begitu juga dengan pusat pelayanan publik, misalnya ada kompensasi keterlambatan mengurus SIM, KTP dll selama proses lockdown.
.
Tak lupa, yang paling penting adalah melarang yang berada di dalam negeri untuk keluar dan orang asing untuk masuk ke dalam negeri. Karena walaupun lockdown berlaku dengan baik, kalo orang asing masih bisa seliweran keluar-masuk, sia-sia lockdown ini.
.
Lalu, timbul pertanyaan besar, berarti butuh biaya besar ya untuk lockdown? Dan berapa kerugian yang akan timbul akibat lockdown?
.
Pastinya pertanyaan ini muncul, terutama pada orang atau penguasa yang otaknya udah dijejali dengan kapitalis. Perhitungan untung-rugi jadi kalah dengan hidup-mati rakyat. Miris!! Padahal sejatinya tugas negara lah untuk mengurus rakyatnya, jangan sampai karena Corona jadi tepar apalagi terkapar. “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)
.
Sistem kapitalis melahirkan pemimpin yang berkarakter dealer (pedagang), bukan berkarakter leader (pemimpin). Karena itu penerapan lockdown hanya sebagai himbauan bukan sebagai peraturan (kewajiban). Tentu saja bagi banyak kalangan hal ini dengan mudah tidak diindahkan dengan alasan dan kepentingan masing-masing. Dalam hal ini negara harus menjembatani kepetingan-kepentingan itu, misal penyediaan pangan bagi yang tidak mampu.
.
Itulah kenapa kita butuh menerapkan sistem Islam. Karena standar perbuatan di dalam Islam bukan perhitungan untung-rugi tapi halal-haram yang berupa hukum-hukum syariat. Amr bin Ash adalah contoh pemimpin yang sukses memberikan contoh dalam penanganan wabah ketika ia memimpin Syam. Sejarah kesuksesannya tidak lepas dari fakta bahwa, pada masa itu dunia dipimpin oleh Khilafah, sistem pemerintahan Islam yang mengayomi dan terniat mengatasi wabah.
.
Semoga Allah melindungi kita dan kaum muslimin. Dan semoga corona segera berlalu..
.
.
Jember, 19 Mar 2020

3 comments:

  1. Memang serba susah ya Mbak, saya melihat sebuah tayangan di televisi, pekerja harian banyak yang menjerit, tapi memang semuanya serba sulit, belum lagi oknum-oknum yang mencari keuntungan di situasi seperti sekarang ini

    ReplyDelete
  2. Tapi saat ini menerapkan social distancing juga tidak memiliki efek yang drastis untuk mengurangi... sementsra lock down... banyak.yg harus dipersiapkan dan kekhawatiran.. nah sebagai rakyat bingung harus bagaimana ya... 😭😭

    ReplyDelete
  3. imbas yang merasakan kalau lockdown adalah mereka yang biasa bekerja di lapangan dengan berjualan, seperti yang disebut di awal tadi.
    kayak pasar tanjung yang dibuka hanya beberapa jam saja, ada beberapa penjual yang cerita juga kalo sampe di lockdown ya ga bisa makan anak-anaknya.

    ReplyDelete

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)