Kisah Bumi, Bulan dan Bintang II Ep. 2 – Dejavu



Ali mencintai Fatimah dalam diam dan doa. Dititipkannya gundah gulana hatinya pada Sang Khalik kala Abu Bakar, sahabat Rasul yang mulia melamar wanita idamannya. Begitu pula kala Umar Bin Khattab, sahabat Rasul yang perkasa juga ikut melamar Fatimah. Secercah harapan bersemi kala semua lamaran itu ditolak.


Diri yang miskin menjadikannya tak banyak berharap. Namun tatkala Abu Bakar mengingatkan Ali bahwa bagi Allah dan Rasullnya, dunia dan seisinya hanyalah debu-debu bertebaran belaka. Maka Ali segera mengambil sikap melamar Fatimah. Hingga kemudian Allah menyatukan mereka dalam ikatan yang suci hingga ke Jannah-Nya.


**
**

Biasanya wanita menjadi sensitif bila jadwal bulanannya datang. Tapi untuk dua bulan terakhir ini, Bintang tak perlu menunggu waktu bulanannya, ia menjadi sensitif karena tak kunjung ada yang tertarik dengan lamaran pekerjaannya. Hidup di dalam sistem ekonomi yang bernadi kapitalis salah satu akibatnya adalah susah mencari pekerjaan.

Di rumah kost mereka, kini temannya hanya Salsa. Maya telah sibuk dengan keluarganya. Sementara Aura Kasih telah pindah ke kota J untuk kuliahnya. Saat jenuh yang dilakukan Bintang adalah berselancar di dunia maya, dengan tak tentu arah.

Tapi Alhamdulillah, ia masih sering ‘kepentok’ dengan tulisan-tulisan bergizi Aura Kasih. Tampaknya kini ia bersinar dengan dunia dakwah yang ia pilih. Bintang tak pernah membayangkan bagaimana sibuknya dia di sana. Setidaknya hari ini, dia tersenyum ketika membaca tulisan Aura Kasih tentang kisah cinta Ali Bin Thalib dan Fatimah.

“Brak..”
Sekali lagi Salsa mendobrak pintu dengan tiba-tiba. Oh, tolong pula ingatkan Bintang agar ia tak lupa mengunci pintu.

“Bintang.. barusan PT. Bumi Jaya Trading telpon aku buat interview minggu depan. Kamu ingat kan perusahaan distributor Farmasi yang ada di Jln Cinta, yang gede itu lohh.. Kita naruh lamaran di sana.” Seru Salsa dengan muka berbinar.

Bintang ingat bahwa hampir semua perusahaan di Jln Cinta sudah ia masukin lamaran, tanpa ia tahu apakah di sana sedang ada lowongan atau tidak. Ia berharap salah satunya akan ‘jatuh hati’ dengan surat lamaran pekerjaannya. Meskipun terkadang harapan tak sesuai dengan kenyataan.

Sebenarnya hati Bintang mencelos, kenapa Salsa yang dapat panggilan, sementara dia tidak. Tapi ia berusaha “calm” dan mengingat-ngingat salah satu petuah Aura Kasih.

“Tiap makhluk Allah sudah dijamin rizkinya di dunia, bahkan hewan melata sekali. Rizki baru terputus ketika ia mati. Apapun yang diberikan Allah itu adalah yang terbaik bagi hamba-Nya. Kamu mungkin tak tahu, tapi Allah Maha Mengetahui.”

“Baiklah, aku masih hidup, itu artinya aku masih memiliki jatah rizki. Apa yang harus kucemsakan?” Kata Bintang di dalam hatinya. Bintang asyik dengan pikirannya sendiri, hingga ia bahkan tidak sadar, kalo Salsa sudah keluar dari kamarnya. Ketika ia mencoba tidur kembali, hanphonenya berdering.

“Senin, tanggal 05 Agustus 2019 datanglah untuk interview di PT Bumi Jaya Trading, Jln. Cinta No. 140-143 pukul 09.00 pagi.”

Begitulah inti telepon itu. Pelak, membuat Bintang bersorak. Dengan segera ia membalas Salsa, mendobrak pintu kamarnya, seperti yang seringkali Salsa lakukan padanya.

**

Ternyata ada 5 (lima) orang yang di interview. Bintang mendapat giliran pertama, sementara Salsa dapat giliran terakhir.

“Begitu satu orang sudah keluar, yang lain segera masuk aja sesuai urutan.” Begitu intruksi seorang karyawan yang sedari tadi jadi ‘pemandu’ mereka. Meski gugup, Bintang menekadkan akan memberikan yang terbaik dalam wawancara ini.

Pertama membuka pintu, Bintang merasakan Dejavu. Mimpi 2 (bulan lalu) serasa berputar kembali di depan matanya. Kini, ia menatap punggung seorang pria yang sedang berdiri di balik mejanya. Lama Bintang tertegun, sampai ia lupa mengucapkan salam.

“Bintang Alika? Saya Bumi. Silakan duduk.” Suara itu akhirnya mengembalikan Bintang ke dunia nyata.

Wawancara berjalan lancar, meskipun sedikit aneh. Pertanyaan Bumi kebanyakan adalah tentang latar belakang Bintang. Berapa saudara Bintang? Orang tua apakah masih hidup dan tinggal dimana? Berapa bulan sekali mudik ke kampung halaman? Dsb.

“Ayah.. Ibu bawa makan siang..” Seorang wanita tiba-tiba masuk. Membuat Bintang refleks menoleh. Seketika mengingatkan ia pada Aura Kasih. Wanita dengan jilbab dan kerudung lebar itu tampak cantik dan anggun. Mendengar sapaannya, tahulah Bintang bahwa wanita yang baru saja masuk adalah istri Bumi.

“Eh, ada calon karyawan baru ya?”

“Iya Bu..” Jawab Bintang dengan canggung. Bintang merasa pipinya memerah ketika istri Bumi dengan takzim mencium tangan dan kening suaminya, padahal ia masih ada di ruangan itu.

“Memangnya sejak kapan istri saya melahirkan kamu? Namanya Bulan. Lain kali kalo kamu ketemu dengan istri saya lagi, harus manggil mbak Bulan.” Kata Bumi. Meski bingung dan tidak mengerti, Bintang mengangguk saja.

Sementara Bulan memandang suaminya penuh arti.

**

Bintang tak langsung pulang karena menunggu Salsa. Selama masa tunggu ia tak tahan untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi ketika diwawancara pada Aura Kasih.

“Aku merasa rumah tangga mereka sempurna. So sweet banget deh. Ahh itulah cinta yaa.” Ketik Bintang mengakhiri ceritanya lewat whatsapp.

Tak lama Aura Kasih pun menjawab, “Bukan Cinta. Tapi Iman. Itu lebih tinggi dari cinta.”
Meski singkat, jawaban itu ia baca berulang-ulang kali. Ia mengerti maksud Aura Kasih. Dan entah kenapa jawaban itu membuatnya bahagia.

“Loh belum pulang?” Bulan tiba-tiba datang menyapa.

“Eh, mbak Bulan.. saya lagi nunggu teman masih interview di dalam.” Bulan mengangguk-angguk. Lama hening di antara mereka karena tidak ada yang tahu harus mengobrol apa.

“Bintang ya? Apakah punya cowok?” tanya Bulan.

“Ha? Saya ga pernah pacaran.” Meskipun Bintang tidak se-“radikal” Aura Kasih, tapi baginya pacaran adalah hal yang tidak mau dia lakukan. “Saya lebih menginginkan pekerjaan sekarang daripada seseorang yang disebut pacar.” Lanjut Bintang.

Bulan tersenyum dan kemudian pamit. Bintang menatap kepergiannya dari belakang. Tiba-tiba ia merasa malu dengan apa yang dia pakai hari ini. Celana jeans, kemeja panjang dan kerudung yang tidak seberapa lebar. Ia kemudian mengingat-ingat bahwa di lemarinya hanya memiliki 1 (satu) set jilbab dan khimar, dan hanya dia pakai untuk kondangan.

Tapi, hati Bintang yang terusik kala itu adalah pintu terbukanya sebuah lembaran baru dalam hidupnya.

Bersambung..





0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)