Ramadan : Momen Menggapai Takwa Hakiki




Ramadan hampir tiba, begitu dekat di pelupuk mata, alias tinggal beberapa hari lagi. Tapi apa sih persiapan kita menyambut Ramadan? Jangan-jangan kita hanya akan menganggap momen ini akan berlalu begitu saja, hanya saja kali ini ditambah dengan kegiatan-kegiatan berbeda.

Yang biasanya sarapan dan makan siang, kali ini selama sebulan ditiadakan. Yang biasanya malam hari berleha-leha di rumah, (sesekali) ke masjid untuk tarawih. Yang biasanya tidak bangun di sepertiga malam, kali ini bangun untuk ‘sarapan’. Yang biasanya jam dinner tak tentu, kali ini selama sebulan teratur begitu adzan Maghrib dikumandangkan.

Banyak yang memahami bahwa puasa di bulan Ramadan itu wajib. Tapi sedikit yang memahami makna di balik perintah puasa Ramadan. Jangan salah, ketidakpahaman inilah yang banyak membuat kita ‘gagal paham’ betapa makna Ramadan lebih istimewa daripada si doi yang dinanti-nanti. #Eh

Sama, banyak pula yang mengetahui bahwa perintah puasa Ramadan disebutkan dalam QS. Al-Baqarah 183 yang artinya, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.”

Tapi, tidak banyak yang tahu apa arti makna takwa (hakiki) dalam ayat tersebut. Bagi yang ketemu saya hari Ahad tanggal 28 April di Cafe FoodGasm  dalam acara kopdar #2 Info Muslimah Jember kemarin, mungkin sudah tahu jawabannya, apa yang dimaksud dengan ketakwaan hakiki. Tapi buat yang ga datang ke sana, ya udah baca tulisan ini aja. Haha


Semua tahu bahwa arti takwa itu adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa perintah-Nya bukan hanya tentang sholat, zakat, haji dan ibadah mahdoh lainnya.

Dalam acara dimana saya sendiri sebagai MC-nya (uhuk.. uhuk..), pemateri pertama, ustazah Wardah Abeedah menyampaikan bahwa paling tidak ada 3 (aspek) dalam hidup manusia dimana Allah memberi pengaturan (berupa perintah-perintah) yang (seharusnya) dilaksanakan tanpa tapi dan tanpa nanti oleh manusia. Bahasa kerennya sami’na wa atho’na. Hehe

First, aspek yang mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Di sini nih ada pengaturan tentang ibadah mahdoh tadi. Ga bisa dong, kalo kita mau sholat sembarangan semisal bisa sholat tanpa wudhu dsb, udah pasti ibadahnya salah. Tata cara sholat harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Kalo salah bisa ga sah, tidak dilaksanakan sama aja bunuh diri dini.

Second, aspek yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Di sini ada pengaturan kenapa kita mesti punya akhlak yang baik, jadi akhwat yang manis, biar ga meringis menghadapi carut-marutnya dunia. Termasuk juga pengaturan tentang apa yang kita makan, dan apa yang kita pakai. Gitu yess..

Third, aspek yang mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain. Yah, namanya hidup ga bisa sendiri, kebayang gitu ga ada aturan yang mengatur manusia yang bejibun itu? yang ada kacau balau jadinya. Bukan aturan manusia yang seharusnya menjadi standar, karena manusia akalnya pun standar. Tapi pengaturan-Nya lah yang sempurna yang seharusnya diterapkan. Di aspek ini mengatur bagaimana seharusnya manusia bertransaksi (sistem ekonomi), berinteraksi (sistem pergaulan), edukasi (sistem pendidikan), bernegara (sistem pemerintahan), mengadili (sistem peradilan) de el el

Ga asyiknya tuh, aspek pertama dan kedua bisa aja kita lakukan, karena dalam jangkauan yang bisa kita usahakan sendiri. Etapi kalo aspek ketiga baru bisa terlaksana bila ada institusi negara yang mendukungnya. Dimana negara seperti ini runtuh pada tanggal 03 Maret 1924. Hiks..

Sampe sini, kebayang kan bagaimana susahnya kita mau bertakwa?? Mungkin ini yang sering orang bilang, masuk surga itu butuh usaha..

Nah, Ramadan itu sebenernya adalah sebaik-baik momen untuk mencapai takwa yang hakiki. Emang ga mudah, apalagi kalo jomblo (sendirian), berat.. kamu ga akan kuat. Makanya yuk berjamaah. Perlu peran keluarga dan juga negara. Hal ini disampaikan oleh ustazah Lailin Nadhifah pada sesi kedua.

Pemateri kedua yang kerap dipanggil mbak Nadz ini juga menyampaikan bahwa ujian berat yang suka bikin ga kuat itu justru pada pasca Ramadan. Bakal istiqomah ga ya? Bakal tetap dalam ketaatan ga ya?? Keluarga bakal makin samara ga ya??


Padahal selain bulan penuh berkah, dimana pahala amalan kebaikan dijadikan berlipat-lipat, dosa yang dibuat di bulan Ramadan juga akan dihitung berlipat-lipat. Ih, ngeri kan guys..

Dengan mengingat dosa berlipat-lipat yang tak sedikit itu, kemudian selalu alias senantiasa takwa, terus dan selamanya takwa, serta mengingat bahwa kehidupan dunia ini adalah fana. Maka di situlah akan diraih makna takwa yang hakiki.

Suatu negeri yang bertakwa pastilah akan menorehkan sejarah emas, bukan hanya kepada muslim, namun juga non-muslim. Mereka dibiarkan tetap dengan agamanya, keyakinan dan ibadah ritualnya, tempat ibadah mereka tidak dihancurkan. Syaratnya mereka menjadi ahlu dzimmah, tunduk kepada pemerintah dan hukum Islam serta membayar jizyah. Mereka dibiarkan beribadah, menikah, bercerai, makan, minum dan berpakaian sesuai dengan ajaran agama mereka.

Tuh kan..

Jadi, Ramadan kali ini siap meraih takwa hakiki dengan sepenuh hati? Jangan lupa tuntutlah ilmu (syar’i) untuk menyirami hati. Happy Ramadan..





0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)