Kisah Seruni dan Serina – Bag. 2 [ Uluran Tangan yang Mengubah Nasib ]



Kisah Seruni dan Serina – Bag. 2
[ Uluran Tangan yang Mengubah Nasib ]

Bila reinkarnasi itu ada, Runi akan beranggapan bahwa di kehidupan sebelumnya dia adalah ratu kerajaan yang kejam. Tersebab ia mengalami banyak sial sekarang. Rumah tangga dan pekerjaan mapannya ia lepas, kini ia tak ubahnya janda pengangguran yang tak bisa bergerak, bak penulis tanpa pena.

Sebuah gelengan kepala untungnya masih mampu mengembalikan akal sehatnya. Mencegah dari ketidakwarasan yang barusan akan menerjangnya. Bukan karena sial ia tak mendapat pekerjaan baru, tapi memang lapangan pekerjaan begitu sulit di dapat. Kuota pribumi makin rapat, sayangnya pekerja asing makin padat. Di negerinya, di mana kemaksiatan tak pernah senyap.

Hampir sebulan Runi mencari pekerjaan baru, sayang belum bertemu jodohnya. Rina menjadi tempat ia menopang hidup, bersama putra semata wayangnya, yang tak mengerti betapa kejamnya dunia.

Benarlah bila ada yang mengatakan bahwa sesuatu akan terasa lebih berharga ketika ia menghilang dari pandangan, meluncur dari genggaman. Runi menyadari betapa pekerjaannya berharga ketika ia menganggur atau betapa berarti keluarganya sekalipun ia menderita.

“Lalu apa kau menyesal?” Pertanyaan yang meluncur dari bibir Rina di suatu petang. Kala lelah membekap keduanya tanpa ampun. Yah, menghadapi dunia itu tak mudah Nyonya!

Runi menggelengkan kepalanya. Bukan karena ia senang, tapi bohong rasanya bila tak tersungkur di saat seperti ini. Diceraikan suami melalui telepon, kehilangan pekerjaan dan menanggung seorang anak sendirian. Bahkan menutup mata pun, belum sanggup menghentikan derasnya air mata.

“Aku. Tak akan kembali pada yang kutinggalkan.” Runi menjawab dengan harapan tekad. Agar membantu kakinya melangkah maju, membuat matanya menatap ke depan.

Menanti memang tak mudah, juga tak enak, ibarat makanan, ini seperti merasakan pedas level setan. Dan Runi tidak tahan makanan pedas, bisa bolak-balik berak di kamar mandi seharian. Semakin berlalunya waktu, uangnya pun semakin menipis, tergerus keharusan bertahan hidup. Dalam batin, Runi bertekad, ia tak akan menunggu apapun dan siapapun lagi di dalam hidupnya.

Runi berseloroh, ia akan menerima pekerjaan apapun yang datang padanya sekalipun menjadi pembantu rumah tangga. Ia hampir menyerah, 8 tahun lalu ijazah SMA-nya bisa menembus perusahaan multinasional, sekarang menjadi office girl di perkantoran saja rasanya tak laku. Ia tak menyangka selembar kertas yang menandakan seseorang telah sarjana kini menentukan apakah ia bisa mencari makan atau tidak. Terbit penyesalan Runi, kenapa ia dulu berhenti kuliah demi pria yang akhirnya mencampakkannya.

Meledak ledekan Rina di telinganya, Runi menjadi asisten rumah tangga seperti membaca ketikan pada kertas buram yang telah dicolek rinai hujan. Selama hidupnya ia hanya tahu tentang mengetik, bukan tentang rumah tangga.

“Karena itu, aku harus putar balik sangat jauh bukan?” Runi mendesah. Petang yang semakin dingin tak menyurutkan kakinya menuju balkon, mengintip keriuhan yang masih belum surut di bangunan seberang jalan.
“Mereka adalah orang yang paling suka ikut campur urusan orang lain dan selalu mengulurkan tangan kepada siapa saja.” Rina mengeluarkan suara seakan-akan tahu bahwa Runi ingin bertanya siapa dan sedang apa orang-orang di seberang. “Mereka menyebut itu dakwah.” Rina menyambung perkataannya dengan sinis.

“Jika kau tidak suka pada mereka, maka mereka pasti benar-benar baik.”

Rina berdecih dan melotot pada sahabatnya. Runi hanya tersenyum dan mendesah pelan.

“Ada sesuatu yang salah di dalam hidupku. Aku ingin tahu apa itu, agar bisa memperbaiki masa depan.” Kata Runi.

Agak lama hening, hingga akhirnya Runi pun berkata kembali, “Jika seseorang mengulurkan tangannya padamu, kau harus menerimanya, maka nasibmu akan berubah.” Rina memandang Runi tidak mengerti.

“Aku.. akan mengambil tangan mereka. Aku ingin tahu nasibku yang mana yang akan berubah. Aku akan menyeberang Rina..” Runi menatap ke seberang, seakan menandai bahwa esok ia akan berada di sana.
*
*
*
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d/13:11].



5 comments:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)