Kisah Seruni dan Serina – Bag. 1 [ Sampah yang Merasa Berlian ]



Seperti mangga dibelah dua. Serupa tapi tak sama, yang satu akan mendapat biji, satunya tidak, tapi berasal dari tubuh yang sama. Begitulah Seruni dan Serina, dua sahabat yang tak suka makan mangga, apalagi tanpa dikupas. Viral dan istana jelas bukan tujuan mereka. Mereka hanya ingin hidup dengan baik dan tenang.

Lain Seruni, lain pula Serina. Seruni adalah ibu muda yang produktif. Ibu muda yang tak pernah tahu sinar matahari. Keluar dari rumah pada pagi hari, memasukinya kembali ketika hari telah asyik bercumbu dengan sore. Suaminya adalah orang biasa yang hidup di kota lain. Membuat Runi kesepian dan kelelahan karena harus sibuk sendiri. Sibuk menata hati sendiri, dan sibuk mencari nafkah sendiri. Tentu saja, untuk dia dan putranya.

Sementara Serina berbeda, wanita yang masih melajang tanpa kenyang. Jika Seruni lemah, maka Serina adalah wanita yang kuat, baik fisik maupun mental emosinya. Melihat Seruni menangis adalah hal biasa bagi Serina, dan mendengar Serina berbicara tak ubahnya lagu bagi Seruni. Meskipun begitu mereka saling membutuhkan. Rina hidup dan bekerja sendiri, tapi tak pernah merasa kesepian, keberaniannya membuatnya tidak ragu untuk membentak siapapun bila ia kesal. Terkadang ia mengatakan banyak hal yang mainstream. Entah bagaimana ia bisa memiliki Runi sebagai sahabatnya.

Serina tak menikah, ia lelah melihat pernikahan Seruni. Katanya, penuh prahara dan Runi sama sekali tidak (bisa) memperbaiki itu. Ingin rasanya ia meminjamkan jiwa pada Runi agar sedikit saja mau bertindak, bukannya asyik dengan pikiran dan dunianya yang penuh kesibukan. Berusaha menutupi lembaran-lembaran depresi yang semakin menebal.
.
. 
“Apalagi sekarang?” Seru Rina pada Runi, ketika suatu sore ia datang menerobos rumahnya dengan tangisan berderai-derai.

Runi tak segera menjawab, ia menghambur dalam pelukan Rina. Tubuhnya bergetar karena tak bisa berhenti menangis. Rina mulai berpikir untuk memberinya paracetamol dosis tinggi, karena suhu tubuh Runi tak ubahnya sedang demam tinggi.

“Dia bilang akan melepasku.” Suara Runi tersendat-sendat. Rina tak segera menjawab. Dipapahnya Runi di Sofa, agar mereka tenang berbicara.

“Aku sudah menduga.” Hanya itu jawaban Rina. Dengan santai seakan tanpa belas kasihan. Ciri khasnya. Rina kemudian sibuk, mencari tissue hingga membuat teh hangat. Diangsurkannya mereka pada Runi, tapi Runi hanya menerima tissue, menyeka air matanya yang turun tanpa henti. Sementara teh hangat itu setia menjadi penonton mereka hingga didekap dingin.

“Apa yang harus kulakukan?” Kali ini Runi bertanya, matanya penuh harap, seakan Rina akan memberikan solusi yang bisa menyenangkan pihak A hingga Z.

“Tidak ada. Jika dia melepasmu, kau hanya harus melakukan bagianmu. Pergi.” Tak ada kesedihan dari raut Rina ketika mengatakan itu. Membuat Runi semakin sesenggukan, kini kepalanya mulai pusing. Rina hanya bisa menepuk bahunya.

“Aku tidak mau menjadi janda. Bayiku tidak akan punya sosok ayah.” Lanjut Runi.

Rina mendengus, ada ketidaksabaran di wajahnya, “Lalu apa kau bahagia?”

“Aku akan minta maaf. Aku akan menganggapnya tidak terjadi apa-apa. Aku tidak mau melakukan sesuatu yang begitu dibenci oleh Allah.” Runi tidak menjawab, ia membuat pernyataan. Setelah itu ia berusaha menenangkan diri, kemudian bersiap akan pergi, untuk pulang ke rumah itu. Rina hanya mengamati dengan lelah.

“Aku sudah bilang padamu untuk tidak menikah dengannya. Dia bukan imam yang bisa kau jadikan sandaran. Dia bahkan tidak bisa sholat, tidak memberi tapi malah meminta, tidak berbicara denganmu tapi berbicara apa saja dengan orang lain, menyuruhmu menjadi keluarganya tapi tidak menganggapmu keluarga. Dia tidak peduli denganmu, apakah yang kau lakukan salah atau benar, Dia tidak menganggapmu ibu tapi pembantu. Tidak bisakah kau melihat?” Itu seruan panjang Rina yang pertama hari ini. Runi hanya memandang datar pada Rina, tidak membantah karena semuanya benar. Tapi Runi tetap memutuskan untuk pergi.

“Apa yang dia lakukan saat di tengah malam kau tidur di pos keamanan sambil menggendong bayimu? Dia tidur di kasurnya yang hangat. Apa yang dia lakukan saat bayimu menangis? Dia membentakmu, sementara dia melanjutkan tidurnya. Apa yang dia lakukan saat dia butuh uang? Dia mencarimu, tapi memarahimu ketika kau yang meminta. Apa yang dia katakan ketika dia ditanya tentang pasangannya? Baginya hal seperti itu tidak ada.” Teriak Rina lagi, membuat Runi tercekat.

“Apa dia tahu kau berpuasa hanya demi menghemat pengeluaran? Apa dia tahu kau meminta sepiring nasi pada tetangga hanya untuk membuat bubur untuk bayimu? Apa dia tahu bahwa kau pernah tidak bisa membeli bahkan 1 kg beras? Oh, untung saja waktu itu belum ada beras sachet. Aku pastikan dia pasti akan menyuruhmu membeli itu. Ide itu konyol total!” Rina kini berapi-api, ia sudah tak tahan lagi. Runi berbalik dan memandang Rina dengan sendu.

“Mungkin ada yang salah..” Lirih Runi.

“Apa?” Tanya Rina

“Aku..”

“Setelah aku berbicara panjang lebar, kau bilang kau yang salah? Apa kau seorang pembohong? “ Cerca Rina.

“Aku tidak berbohong, semua yang kau katakan itu benar. Mungkin, aku salah mengira saja.”

“Mengira apa?”

“Aku kira aku berlian, nyatanya aku adalah sampah.”

BLAM! Pintu rumah Rina ditutup dengan keras, dibaliknya Runi berlari dengan masih menangis.


==========================
Jember, 09 Juni 18
Helmiyatul Hidayati




4 comments:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)