RADIKAL




Banyak orang keki dengar kata Radikal. Apa pasal? Karena kata itu sekarang identik dengan banyak hal berkonotasi negatif, gandengannya pada serem, seperti terorisme, kekerasan, bom dll. Dari yang tua hingga muda, dari yang pinter hingga yang ga tahu apa-apa, dan dari rakyat kecil hingga segelintir rakyat dengan jabatan tinggi tak kalah kebagian keki dan grogi dengan kata ini. Bahkan sampe ada yang bikin program-program DERADIKALISASI.

Ada apa dengan cinta? Eh salah, ada apa dengan radikal?


Sebenarnya, Radikal adalah kata yang memiliki sifat netral. So, awalnya dia bukan sesuatu yang jahat. Asal katanya adalah bahasa latin yang diambil dari kata radix yang berarti akar. Bagi yang pernah sekolah di Farmasi macam saya, pasti tak asing dengan istilah ini, di lab Farmakognosi ini adalah makanan sehari-hari: mengindentifikasi simpilisia semacam Catharanthi Radix (Akar Tapak Dara), Deridis Radix (Akar Tuba), Ipecacuanhae Radix (Akar Muntah), Valerianae Radix (Akar Valerian) dll.

Duh namanya bikin rindu masa SMA dan seperti merapal mantra yaa.. Meskipun saya sudah lupa semua pelajaran itu. Tapi intinya radix itu memiliki makna akar.

Kembali di masa sekarang, KBBI pun memberikan kurang lebih 3 (tiga) makna yang (menurut saya) sejalan dengan kata asalnya (Bahasa latin > akar) yaitu :

1.       Secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip)
2.       Amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan)
3.       Maju dalam berpikir dan bertindak.

Istilah radikal adalah segala sesuatu yang sifatnya (1) mendasar sampai ke akar-akarnya atau sampai kepada hal yang prinsip. Hal ini dapat juga diartikan sebagai  (3) sifat maju dalam hal pola pikir atau tindakan.

Jadi, kalau radikal kemudian ditempel dengan Islam, maka pengertiannya menjadi: orang Islam yang melaksanakan ajaran agamanya sesuai prinsip ajaran Islam secara menyeluruh (sampai ke akar-akarnya). Tidak hanya ikut-ikutan atau sekedar identitas di kartu pengenal (Islam KTP). Islam radikal juga berarti adalah orang-orang Islam yang memiliki kemajuan dalam berpikir dan melakukan tindakan.

Makna kedua, cocok dalam bidang politik. Dalam hal ini radikal diartikan sebagai sikap keras dalam menuntut perubahan, apakah itu perubahan dalam pemerintahan atau perubahan undang-undang. Jadi, politisi atau siapapun yang menentang suatu kebijakan pemerintah dan menolak dengan keras suatu kebijakan pemerintah, maka politisi itu bisa disebut Radikal. Tanpa memandang ia bawa-bawa Islam apa tidak.


Radikal dalam filsafat memiliki pengertian proses berpikir kompleks sampai ke akar-akarnya, sampai ke esensi, hakikat atau subtansi yang dipikirkan. (Ali Mudhofir : 2001)

Radikal dalam sejarah memiliki pengertian kelompok yang langsung mencari ke akar masalah, mempertanyakan segalanya, mengamati masalah secara keseluruhan dan kemudian membalikkan semua hal demi mencapai peradaban dan keadilan yang lebih baik. (Muhidin M. Dahlan : 2000)

Radikal kini memiliki pesan negatif tidak lepas dari pengaruh media yang seringkali menggunakan kata radikal ketika memberitakan berita-berita kekerasan sehingga secara otomatis kita pun memaknai radikal secara negatif pula.

Padahal kata radikal bermakna negatif hanya dalam bidang kesehatan saja : radikal bebas. Pengertian radikal bebas adalah molekul dengan elektron tidak berpasangan. Dalam pencarian mereka untuk menemukan elektron lain, mereka sangat reaktif dan menyebabkan kerusakan pada molekul sekitarnya.


Asap rokok; polusi udara; radiasi UV; pestisida; obat-obatan; olahraga berlebihan; radiasi; autoksidasi; oksidasi enzimatik dan respiratory burst adalah contoh 10 radikal bebas berbahaya di sekitar kita.


Henry Kissinger, politisi senior US, mantan Asisten President AS untuk urusan Keamanan Nasional tahun 1969-1975, pada November 2004 di koran Hindustan Times pernah menuliskan, “What we call terrorism in the United States but which is really the uprising of Radical Islam against the Secular World on behalf of reestablishing a sort of Caliphate.” (Apa yang dinamakan terorisme di Amerika sebenarnya adalah kebangkitan Islam Radikal terhadap dunia sekuler dan demokratis atas pendirian kembali semacam kekhalifahan).

Jadi, istilah radikal menjadi kejam macam sekarang ini sebenarnya adalah bentuk kepanikan pihak tertentu. George W. Bush  pernah mengatakan dalam pidatonya, “Either with us, or with terrorist.”
Pernyataan maksa ini memberikan pengertian, yang tidak sejalan dengan Paman Sam, berarti dia teroris. Kan ga mikir banget! Haha

Celakanya, banyak orang, bahkan muslim pun termakan oleh narasi ini. Jadilah kita takut-takut sendiri pada istilah radikal. Ketakutan itu mulai menyasar berbagai lini, tak terkecuali di kampus, menyerang mahasiswa, pula dosen. Mahasiswa diawasi, dosen di-nonaktivasi. Sehingga pantaslah bila ada yang mengatakan, “Kalau yang dimaksud Radikal adalah semangat para mahasiswa untuk mengkaji Islam, mengamalkan Islam, dan memperjuangkan Islam. Maka berarti kita sedang mengkhawatirkan sesuatu hal yang POSITIF.”

Padahal radikal itu maksudnya ramah, terdidik dan berakal. Dan cowok radikalis romantis itu adalah cowok idaman yang manis. #Loh

Jember, 22 Jun 18
Helmiyatul Hidayati









4 comments:

  1. Wih, baru tahu maksud sebenar-benarnya kata radikal di sini..

    ReplyDelete
  2. Tapi kalau radikal secara pemikiran bagaimana mengontrolnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan saya memang soal pemikiran mas. karena radikal memang tidak ada kaitannya dengan kekerasan. dari pemikiran akan membuat pemahaman dan tindakan akan berdasarkan pemahaman. :)
      Kalo beneran "radikal" ya bagus aja kan.. hehehe asal ga abal-abal.

      Delete

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)