Anak adalah Mesin Perekam. Sudahkah Kita Mengawasi?


Beberapa hari yang lalu, saat lelah mendekap di sore hari, ingin rasanya merebahkan tubuh di atas tumpukan bahan empuk yang disebut kasur. Apalagi dapet rejeki, anak semata wayang bermain di luar rumah bersama teman-teman barunya. Anak tetangga.

.
Namun tak sampai 1 (satu) jam, anak lanang tiba-tiba datang sambil menangis meraung-raung. “Gunting.. gunting.. aku mau gunting..” begitu katanya. Teranglah naluri ke-emak-an saya menyala, seperti alarm kebakaran yang baru saja mengendus asap kebakaran.
.
Oh tidak, bukan berarti saya melarang anak saya berdekatan dengan gunting. Gunting baginya adalah salah satu mainan, digunakan untuk menggunting kertas lipat. Tentunya dia bisa saya percaya dengan alat satu itu setelah melalui serangkaian tes dan pengawasan. #Eyaaa
.
Namun kali itu, saya tak yakin, gunting itu akan digunakan untuk bermain. Bicaranya tidak jelas ketika ia menangis. Karena ia termasuk anak dengan gharizah baqo’ (naluri mempertahankan diri) yang tinggi, maka sesuai tips para bunda kece yang saya kenal, menghadapinya harus dengan memberikan nau’ (kasih sayang) yang tinggi pula.
.
Setelah dia dibujuk-bujuk, dirayu, dipeluk dan dicium, akhirnya pria kecil saya pun berbicara, bahwa teman-teman barunya mengatakan hal-hal yang membuat dia takut. Dia bilang, bahwa teman-teman itu akan memotong-motongnya (membunuh) sehingga ia ingin mempertahankan diri dengan gunting.
.
“Astaghfirullah, kasihan mereka kak, mungkin mereka ga tahu kalo mereka mengatakan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah.” Kata saya mencoba menenangkan, tentu saja aslinya kata-kata saya lebih panjang nan lebar. Masih menjelaskan bahwa perbuatan seperti itu akan berat pertanggungjawabannya saat di akhirat, termasuk salah satu dosa besar yang tidak akan diampuni, persidangan di sana berat dsb. Entah dia mengerti atau tidak, karena ia tidak menggeleng, tidak juga mengangguk.
.
Pada akhirnya ia pun tidak keluar rumah lagi, kembali bermain dengan kertas lipat dan legonya. Sambil sesekali mengganggu saya yang sedang mengawasinya sambil tiduran. Haha


Ketika mendengar ceritanya ingin sekali saya mendatangi anak-anak itu, sayangnya mereka sudah tidak ada dan anak saya juga ga tahu mereka anak dari tetangga mana, karena kami termasuk baru di perumahan yang kami tempati. Akhirnya biarlah menguap di dalam hati saja.
.
Namun, hal inipun menjadi pemikiran saya, bukan karena ini terjadi pada anak saya. Tapi bagaimana kata-kata kasar seperti itu bisa keluar dari mulut anak-anak yang belum baligh. Darimana mereka mendapat maklumat seperti itu? apakah orang tua mereka tahu? Dsb.
.
‘Ah, itu kan hanya kata-kata bercanda, anak kecil ga tahu apa-apa.’
.
Ish, saya benci dengan pembelaan seperti ini. Jika setiap kesalahan disepelekan karena alasan ketidaktahuan, lalu dimanakah urgensi menuntut ilmu? Apa pentingnya pendidikan yang selalu digadang-gadang dan dikejar-kejar? Bahkan di dalam Islam menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban bagi individu.
.
Anak-anak belajar di rumah, bersama guru utamanya, orang tua terutama ibunya. Adalah salah bila menganggap pendidikan atau menuntut ilmu bagi anak dianggap telah dilakukan ketika seorang anak mulai masuk ke sebuah lembaga pendidikan (Mulai dari tingkat PAUD hingga universitas).
.
Supaya anak menjadi tahu maka dia harus belajar di madrasah pertamanya, dan untuk bisa menjadi pendidik bagi anak, madrasah tersebut harus menuntut ilmu dan mengkaji. Di sinilah letak urgensi menuntut ilmu. Bila madrasah berjalan dengan baik, maka seharusnya anak-anak sudah tahu mana perkataan yang baik dan mana yang menyakiti.
.
Anak-anak mudah belajar, layaknya mesin perekam yang tak pernah OFF. Terkadang mereka bisa menghafal hanya karena mendengar, bagus ingatannya akan janji manis orang dewasa. Karena itu penting sekali bagi orang tua yang merawatnya untuk memperhatikan apa yang anak kita dengar dan  dilihat oleh mereka.


Kata-kata yang meluncur dari teman-teman anak saya itu bisa jadi karena ia pernah mendapat maklumat (informasi) yang salah, yang dengan mudah bisa dilihat dan didengar dengan sangat mudah di zaman ini. Orang tuanya terpana akan kecanggihan teknologi, namun kemudian anaknya menjadi korban teknologi.
.
Sebuah hadits berbunyi, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
.
Sungguh perkara mengucapkan perkataan yang ahsan (baik) adalah perkara penting, apalagi kalau mengaku beriman. Hal ini perlu ditanamkan sejak kecil, jauh sebelum baligh.
.
Imam Syafi’i telah menjadi mufti dan berhak mengeluarkan fatwa ketika berumur 15 tahun. Jangan sampai anak-anak kita hanya bisa bermain tik tok dan berharap viral di usia itu. Betapa kemunduran itu nampak begitu nyata.
.
Maka, jangan remehkan tentang mengajarkan perkataan yang baik dan benar kepada anak kita. Standarnya harus jelas berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, supaya kelak tidak “mencla-mencle” ketika harus menghadapi berbagai warna kehidupan yang melukis dunia. Supaya ia bisa melukis dunia dengan keindahan Islam.
.
Kalau kata Batik Madrim,“Seorang ksatria itu tidak mencla-mencle, pagi merah, siang hijau, sore kuning.”
Duh jangan ya, kalau belum baligh saja kita tak bisa mengawasi, memperhatikan dan mendidik mengenai perkataan dan akhlak yang baik, membuatnya serampangan mengeluarkan kata-kata. Maka pilihan mereka di masa depan pun kemungkinan besar pasti lebih nyeleneh lagi. Jangan-jangan suka main sikat sama saudara sendiri hanya karena berbeda pandangan dan pilihan. Alamakk.. Apa kata dunia???
.
Jangan sampai stok calon pemimpin dunia berkurang karena lalainya kita memperhatikan apa saja yang direkam oleh anak-anak.
.
.
Jember, 05 Jul 18
Helmiyatul Hidayati

12 comments:

  1. Ya Allah, ngeri banget anak kecil dah berani ngancam bunuh orango duhhh semoga mbak tabah yaa...

    ReplyDelete
  2. keluarga memang sumber pendidikan anak terbaik, jangan sampai mudah terpengaruh hal buruk dari luar.

    ReplyDelete
  3. Duh ngeriii, kadang nggak habis pikir ya kok bisa anak kecil ngomong seperti itu, apakah mungkin karena tontonan tv atau apa ya.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah ya mbak ada komunikasi baik antara anak dan orang tua. Betapa pentingnya komunikasi itu.

    ReplyDelete
  5. anak2 yg ga biasa main sama Radit ya brarti? Iyap, sekarang memang ortu sdh lbh menyerahkan pendidikan ke sekolah yg notabene juga ga bisa diandalkan. Semoga banyak yg baca tulisan ini ya, barakallahu

    ReplyDelete
  6. susah ya mbak buat mendidik anak? ketika keliru maka bisa berimbas ke anak juga ya.

    ReplyDelete

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)