Hakikat Cinta



Suatu ketika seorang teman pernah mengatakan begini, “Ada seorang istri yang sangat sabar, ketika suaminya berjudi, dia sabar. Ketika suaminya berlaku kasar, dia sabar. Ketika suaminya melalaikan tanggung jawab dari memberi nafkah, dia sabar. Namun ketika suaminya menikah lagi, dia tidak bersabar. Padahal suami menikah lagi (poligami) bukanlah perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, sementara berjudi, berlaku kasar pada istri dan tidak memberi nafkah adalah perbuatan-perbuatan suami yang melanggar perintah Allah.”


Saya tidak ingin mengatakan bahwa semua suami bisa dan boleh berpoligami. Terkadang banyak pula yang takut pada kewajiban setelah memutuskan untuk berpoligami, yaitu memberikan keadilan. Kalau kata ustad Khalid Basalamah bilang, “Poligami adalah bab tertinggi dalam pernikahan, ibaratnya orang mau mendirikan perusahaan cabang, perusahaan pertama harus stabil dulu, baru bisa membangun yang baru. Kalau yang pertama aja udah kacau balau, bagaimana bisa membangun yang lain? Ga mungkin.”

Memang keadilan suami dalam poligami adalah tentang nafkah dan giliran malam. Sementara cinta atau kecenderungan di dalam hati tak boleh ditampakkan, agar tak membuat wanita berlinang air mata. Namun, karena wanita ingin dimengerti (baca sambil nyanyi ya), ia memiliki naluri kasih sayang dan ingin dicintai juga. Saya sendiri yakin dan percaya bahwa rumah tangga tidak bisa dibangun tanpa adanya cinta. Dan saling mencintai seharusnya adalah konsekuensi dari sebuah pernikahan. Dan konsekuensi dari mencintai adalah merindukan dan keinginan saling menjaga.

Cinta yang tidak bisa dimengerti oleh orang lain bahwa pria baik-baik seharusnya tidak bisa mencintai wanita lain selain kekasih hatinya yang satu orang itu. Persepsi ini berasal dari banyak sumber yang tidak kredibel, namun selalu dipakai oleh kebanyakan manusia. Terkadang saya juga masih berpikir begini. 


Dalam novel romantika, cinta diartikan ketika pria tidak bisa memikirkan siapa pun kecuali wanita yang ia telah jatuh cinta kepadanya.
Dalam drama India cinta seorang pria diartikan dengan terpakunya ia pada sang pujaan hati, dengan diiringi musik syahdu dan penari gemulai.
Dalam drama korea, gambaran pria jatuh cinta, seakan-akan salju turun tiba-tiba dari langit dan waktu berhenti sejenak ketika kaki sang kekasih melangkah.
Dalam drama ala barat, jatuh cintanya seorang pria digambarkan dengan perjuangannya mempertahankan yang terkasih apapun dan bagaimanapun caranya.

Begitulah, terlalu banyak bila digambarkan dengan kata-kata, kebanyakan dari kita mungkin bakal bilang itu romantis. Tapi, hakikat cinta di dalam Islam tidak begitu. Cinta hakiki di dalam Islam tak menggantungkan harapan pada manusia. Seperti yang pernah seorang Khalifah katakan, “Aku sudah pernah merasakan kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia.” (Ali Bin Abi Thalib)

Mencintai artinya berharap. Ini hanya boleh dilakukan kepada Sang Maha Pencipta alias mencintai ya karena Allah. Maksudnya, mencintai karena ia (pasangan kita) bertakwa kepada-Nya dan membenci bila ia melakukan pelanggaran hukum syara’ atau kezholiman. Cintailah seseorang karena ia melakukan apa yang dicintai oleh Allah SWT.

Tulisan ini bukan berarti menandakan bahwa saya bermudah-mudahan dan telah merasa kuat (sebagai praktisi poligami –istri kedua-). Karena sejatinya ketenangan manusia dalam menghadapi emosi (baik cinta atau cemburu) itu naik turun. Menulis bagi saya adalah menasihati diri sendiri. Semoga saya ingat ini ketika tak lagi mampu berkata-kata atau kala lelah tak lagi mampu mengalihkan rasa.

Jember, 21 Mei 18
Helmiyatul Hidayati

#CatatanRamadan05
#RamadanBaper
#RamadanPenuhPerjuangan
#InspirasiRamadan
#RamadhanBersamaRevowriter

0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)