Belajar Public Speaking Bersama TJI Untuk Berbagi Lebih Berani




Menulis dan berbicara bagi saya adalah dua hal yang berbeda. Persamaan keduanya, mereka adalah aktivitas yang sama-sama sulit. Menulis adalah hal yang sulit, berbicara lebih sulit lagi. Buktinya, orang bisa saja ‘salah tangkap’ maksud kita ketika kita berbicara. Hal lebih sulit lagi akan terjadi bila yang salah tangkap adalah orang terkasih. Bawaannya pasti bakal baper. #Eh


Lily Walters, seorang public speaker dari US sono pernah mengatakan, “Kesuksesan sebuah presentasi tidak dinilai berdasarkan pengetahuan yang disampaikan oleh pembicara, tetapi pada apa yang diterima atau ditangkap oleh audience.”

Presentasi bukan hanya cerita soal berbicara di depan umum, di dalam forum khusus ala-ala seminar. Ketika kita berbicara dengan orang lain, bahkan secara personal, itu adalah bentuk mini dari presentasi.

Menilai bahwa PENTING belajar berkomunikasi apalagi di depan umum, atau yang biasa kita kenal dengan public speaking. Maka, saya memberanikan diri untuk mengikuti Two Days Workshop Public Speaking For Moms bersama Kak Prita HW dan Mbak Faiqotul Himmah. Mereka adalah dua kolaborasi super yang sering malang melintang dalam dunia per-public speaking-an. Beda sama saya yang apa atuh.


Pada hari pertama (19/05), ketika acara perkenalan dengan menggambar jari, saya menyampaikan pengalaman public speaking zaman dahulu kala. Iya sih, pernah siaran radio, pernah jadi MC pas pensi kelulusan, pernah jadi humas yang kerjaannya cari sponsor, pernah jadi penyuluh kecamatan, pernah pidato di hadapan seluruh isi sekolah. Eh ternyata, masa remaja saya produktif yess.. hehe

Tapi nih tapi, semua serasa menghilang bagai debu yang tertiup angin. Entah kemana angin membawanya pergi. Jejaknya tak pernah terlihat lagi. Kalo sekarang di suruh beraktivitas seperti itu lagi, mending saya tutup mata. Jangankan mengulang semua itu, berbicara dengan orang lain saja rasanya butuh perjuangan panjang tiada tara, sambil komat-kamit baca doa. Huft..

Tapi, terkadang kita rindu untuk berbagi, bahkan bila itu sekedar rasa di hati atau pikiran di kepala. Karena memang sifat dasar manusia adalah lemah, terbatas dan membutuhkan orang lain.

Pernah merasa seperti ada batu raksasa menghantam hati setiap hari? Begitu sesak dan tersiksa. Sakit tapi tak ada luka. Begitulah rasanya jika ingin berbagi tapi tak bisa karena berbagai alasan seperti merasa ketakutan atau tak percaya diri. Berbagi dengan orang lain itu perlu, selain mengadu kepada Allah tentunya.


Etapi, judul workshopnya adalah public speaking NOT personal speaking, abaikan pembahasan yang nyeleneh. Haha
Di sesi pertama dengan Kak Prita, untuk menjadi seorang public speaker yang powerfull, harus memiliki karisma saat berbicara. Tips supaya berkarisma ini antara lain penampilan yang nyaman dan natural, sesuai dengan tema acara; percaya diri; jangan setengah-setengah bila mengeluarkan suara; santai; menguasai materi 200%; mengenali audience; berinteraksi dengan audience; dan memberikan gambaran kata-kata dengan perumpaan atau storry telling.

Selain itu ada metode yang bisa dipakai supaya seorang public speaker bisa menarik perhatian misalnya, mengeluarkan emosi dengan ekspresi; sesekali menyelipkan humor, games, yel-yel; mengisi jeda dengan kata penghubung; menggunakan body langguage dengan sesuai; bila perlu membawa alat bantu; melakukan improvisasi; dan memberikan gambaran kata-kata dengan perumpaan atau storry telling.

Pada sesi kedua, Mbak Faiq, seorang Daiyah dan Mompreneur memberikan tips kece untuk lebih percaya diri. Menurutnya, percaya diri bisa dibentuk bila menguasai konten dan suasana; mengenali audience; penampilan yang nyaman dan natural; sarana yang mendukung. Dan jangan lupakan hal yang paling penting yakni berdoa.

Kecemasan bisa saja terjadi pada masa sebelum, sesudah atau pada masa kita berkomunikasi. Untuk mengatasinya maka perlu dikenali dulu penyebabnya; merilekskan diri; memupuk rasa optimis; niatkan ikhlas Lillah; dan jangan lupakan untuk berlatih.


Pada hari kedua (20/5), masing-masing peserta workshop diberi kesempatan untuk tampil sebagai motivational speaker. Ada banyak cerita hebat yang dibagi oleh teman-teman. Ada yang menceritakan tetang hidroponik, kisahnya dalam mendidik anak, kisahnya dalam meraih pendidikan tinggi dsb.

Saya sendiri mengisahkan tentang rumah tangga poligami. Rumah tangga yang saya jalani sekarang. Dimana saya berperan sebagai istri kedua. Banyak orang salah paham dengan para pria berpoligami. Prasangka orang, seorang suami menikah lagi karena ada yang “kurang” dari istri pertamanya. Entah tidak bisa punya anak, tidak cantik atau sudah tua dll

Tapi kakak madu saya tidak begitu, dia cantik dan masih muda juga, dan telah memiliki 2 (dua) orang anak. Dan dialah yang merayu saya untuk menjadi adik madunya. Kisah ini seperti sinetron ya, tapi memang begitulah kenyataannya. Kisah lain di skip aja. Ooppss..

Back to the topic, tidak berharap sih, bisa seperti kak Prita atau mbak Faiq yang sudah tidak diragukan lagi kemampuan speakingnya. Bisa mengatasi kecemasan, ketakutan atau tidak percaya diri itu sudah cukup. J

Jember, 20 Mei 18
Helmiyatul Hidayati

2 comments:

  1. wahhh, fotonya bagus2 nih. Dirimu bisa public speaking kok Mi, kemaren sdh runtut urutannya :) Nah benang merah membaca dan menulis adl bisa bikin story line yg sistematis utk sebuah cerita :)

    ReplyDelete

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)