Meluruskan Kesalahpahaman Kakak-kakak Feminis Indonesia




Bulan maret kemarin media dibintangi oleh berita perjuangan kakak-kakak feminis Indonesia. Keberadaan dan suara tuntutan mereka patut diapresiasi, pertanda bahwa ada kepedulian mereka pada nasib perempuan. Nasib kite-kite. 

Sudah tahu kan, hukum yang berlaku di dunia ini adalah hukum rimba, yang kuat berkuasa, yang lemah berputus asa. Dimana-mana berita dipenuhi oleh ketidaksedapan keadaan hidup. Banyak mengiris hati, membawa derita sembilu.

Ada perempuan yang tega mengaborsi kandungannya, istri dibunuh oleh suami, kekasih dibunuh pacarnya, TKW yang dibunuh atau dilecehkan majikannya. Belum lagi berita pemerkosaan dimana-mana. Duh penuh deh daftar tragis perempuan masa kini.

Dari dulu, cerita pedih soal wanita sudah ada. Di Arab sono, bayi perempuan dikubur hidup-hidup, seorang lelaki bisa beristri sampe puluhan. Di India, ada budaya Sathi, kalo suami mati, istri harus ikut membakar diri. Belum di masa romawi kuno, dimana perempuan tak lebih dari barang komoditas dagangan saja. Aih, jadi cewek, kok ga ada enak-enaknya yess..

Zaman sekarang sebenarnya tetap seperti itu, ekploitasi pada perempuan itu masih sangat ada. Hanya bentuknya saja yang berubah. Perempuan masih dianggap “berharga” jika dia bisa memiliki materi, terutama bila bisa menyumbang pendapatan negara. Wanita tidak lagi dijaja di pasar, tapi di media. Wanita mungkin tidak lagi dipasung di rumah, tapi jiwanya terpasung pada kehidupan dunia fana ini. Intinya, zaman old dan zaman now, nasib perempuan ga ada enaknya.


Ketragisan nasib perempuan ini dipandang oleh kakak-kakak feminis merupakan akibat dari terjadinya ketimpangan kesetaraan gender. Karena banyaknya beredar laki-laki arogan yang suka bermain-main dengan kekuasaannya. Entah itu kekuasaan di pemerintahan, publik atau bahkan di rumah.

Nah, sayangnya itu pemikiran orang-orang yang belum bisa melihat lebih jauh dan lebih luas tentang akar suatu permasalahan atau orang-orang yang mainnya kurang jauh. Ketidak adilan dan ketragisan nasib perempuan ternyata tidak terjadi di masa peradaban Islam.

Inilah yang coba saya katakan pada adik-adik mahasiswi di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) di Jember, ketika mereka mengundang saya untuk memberi kajian tentang “Feminisme dalam Pandangan Islam” pada 29/03 kemarin.

Pada masa keemasan Islam, tidak ada sejarah yang menuliskan ada perempuan yang upahnya tidak manusiawi karena sangat rendahnya, atau kisah tentang perempuan yang dibunuh secara tragis setelah diperkosa beramai-ramai. Atau mungkin kisah bak sinetron tentang istri-istri dalam rumah tangga poligami yang berusaha saling membunuh. Ah, kaya drama korea Saeguk saja.. hihi

Salah juga, bila wanita itu dibatasi pendidikannya dibandingkan laki-laki. Wanita di dalam Islam memiliki kewajiban yang sama dalam menuntut ilmu. Salah juga, bila wanita di dalam Islam itu tidak boleh bekerja, bahkan jadi pengusaha juga bisa dan boleh. Seperti teman saya, mbak Fitri, seorang bidan profesional yang berbaik hati meluangkan waktunya untuk membagi ilmu hebat tentang bagaimana wanita memiliki fitrah agung dan layak menjadi #HappyMuslimah, dalam kajian hari itu.

Posisi perempuan di dalam Islam sudah tinggi dan mulia, tidak berada di posisi yang direndahkan hingga harus diperjuangkan untuk dinaikkan dalam aksi-aksi kesetaraan gender oleh kakak-kakak feminis Indonesia. Masih maraknya ketidaknyamanan pada perempuan pada zaman sekarang, tidak lain dan tidak bukan karena sistem liberal kapitalistik yang diterapkan dan mencampakkan Islam sebagai ideologi hidup yang mengatur kehidupan. Bila Islam diterapkan dalam segala bidang secara komprehensif, maka kakak-kakak feminis itupun tidak akan memiliki celah untuk mengkritisi apa-apa lagi. :) 

Jember, 13 April 2018
Helmiyatul Hidayati

0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)