Suara Hati Istri : Perempuan Tanpa Islam Bagai Dunia Tanpa Warna

June 18, 2021




Siapa yang greget dengan Sinetron yang lagi viral kemarin? Judulnya Suara Hati Istri (SHI), tayang di Indosiar. Viralnya gegara ada adegan ranjang oleh aktris, namun aktris pemeran, ternyata masih berusia 15 tahun sementara lawan mainnya adalah pria dewasa.


Terlepas dari kontroversi yang ditimbulkan, sinetron Indonesia memang selalu punya jalan cerita bikin greget. Isinya penuh konflik berular-ular tanpa batas episode yang jelas, dan durasinya yang udah mau ngalahin durasi film bioskop. Plot cerita berjalan lambat dan penyelesaian konflik yang serasa tidak ada ujungnya. Karenanya meskipun kisah sinetron diangkat dari kisah nyata, lama-lama cerita akan tampak tidak realistis.

 

Gara-gara SHI saya kemudian riset kecil-kecilan sinetron lain yang biasa tayang di Indosiar, ternyata SHI bukan sinetron pertama yang bercerita tentang rumah tangga poligami atau rumah tangga yang suaminya punya istri lebih dari 1 (satu). SHI sendiri merupakan sinetron yang mengisahkan kisah cinta antara pak Tirta dan istri ketiganya, Zahra.

 

Dan dari sinetron macam beginilah muncul stereotype buruk tentang poligami yang merupakan salah satu ajaran Islam. Stereotype seperti ini bukan tidak mungkin akan berkembang menjadi kebencian bahkan penentangan pada syariat Islam.

 

SHI selain bikin greget, juga bikin melek sebenarnya. Betapa kacaunya kehidupan jika mengabaikan aturan Islam. Betapa sulitnya hidup perempuan tanpa Islam. Even, dalam kehidupan pribadi dan rumah tangga. Berkaca dari sinetron ini ada beberapa hal yang sebenarnya ga perlu terjadi kalo menjadikan Islam sebagai landasan hidup.

 


  • Pertama, tidak boleh ada pernikahan karena keterpaksaan atau ancaman. Dalam SHI, Zahra menikah karena keluarganya terlilit utang kepada Tirta. Tirta memanfaatkan kondisi ini demi bisa menikahi Zahra. Dalam Islam kerido’an mempelai pengantin untuk mengikrarkan ikatan pernikahan adalah sebuah kewajiban.


“Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta musyawarahnya. Demikian seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta ijinnya.” Para Shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimanakah ijinnya?” “Bila ia diam.” Jawab Rasulullah (HR. Bukhori).


  • Kedua, meskipun pada dasarnya menempatkan istri-istri dalam satu rumah tidak mengapa. Istri berhak dan boleh mensyaratkan kepada suami untuk ditempatkan di rumah yang berbeda dengan istri lainnya. Apalagi jika hal itu (menempatkan istri-istri di rumah berbeda) merupakan kebiasaan masyarakat, maka suami tidak boleh menyelisihi hal tsb.


Rasulullah SAW sendiri pun menempatkan istri-istrinya dalam rumah yang berbeda. Dalam SHI, ketiga istri Tirta ditempatkan dalam 1 (satu) rumah. Kan ga ada akhlak ya kalo gini, berani kawin 3x ga berani beli 3 rumah, padahal karakternya udah ala-ala CEO Whattpad. Hihihi


Produser SHI mungkin perlu nonton drama Turki, Kurulus Osman. Ketika Osman melamar Malhoon Hatun sebagai istri keduanya, Malhoon bertanya bagaimana keadilan yang akan diberikan Osman?


Osman menjawab bahwa istri-istrinya akan ditempatkan di tenda (rumah) berbeda, nafkah untuk mereka juga berbeda, orang-orang yang bekerja dengan mereka adalah pilihan mereka sendiri dan masing-masing istri tidak bisa dan tidak boleh saling memberi perintah (artinya tidak ada yang memiliki kedudukan lebih tinggi atau lebih rendah dari lainnya).


  • Ketiga, Suami wajib berbuat ma’ruf kepada istrinya. Salah satunya adalah dengan cara menjaga perasaan wanita. Kalo istrinya 3 orang, ya perasaan 3 orang itu harus dijaga semua. Karena itu suami yang berpoligami tidak boleh menunjukkan kemesraan dengan salah satu istri di depan istrinya yang lain.


Perlu dipahami, cemburu adalah sifat fitrah wanita. Kalo laki-laki ga paham soal hal dasar ini saja, ga usah sok-sokan mau poligami dah. Jangankan sama perempuan lain, istri aja kadang cemburu kalo suami lebih sibuk ama kerja dan hobi. Ya tak mak?


Dalam SHI, ada adegan Zahra keluar dari kamar mandi sambil memakai handuk di kepala habis keramas. Istri yang lain pasti bisa nebak dia habis ngapain dengan suaminya, yang akhirnya menimbulkan cemburu dan dendam. Juga ada adegan romantis Tirta dan Zahra di dalam rumah, dimana istri lainnya bisa melihat. Itulah mengapa lebih baik tiap istri ditempatkan di rumah yang berbeda.


  • Keempat, hutang uang harus dibayar dengan uang juga. Dalam SHI, Tirta memanfaatkan kondisi keluarga Zahra yang punya utang banyak kepadanya, kalo Zahra menjadi istrinya maka dia akan mengangkat derajat keluarga Zahra dan ga perlu mikirin utang.


Mungkin hal seperti ini biasa terjadi ya di masyarakat? Padahal di dalam Islam, utang itu punya pengaturan sendiri, termasuk bagaimana dan besarnya membayar. Karena kalo salah bisa jatuh riba, yang salah satu dosa riba itu seperti anak laki-laki berzina dengan ibunya sendiri.


Kalo utang uang dibayar dengan pernikahan, maka ini jelas salah. Itu utang apa perdagangan manusia?


  • Kelima, tidak boleh ada pernikahan tanpa persetujuan walinya. Jadi, dalam SHI, sebenarnya bapaknya Zahra itu ga rela Zahra menikah dulu, karena tahu Zahra pengin jadi dokter, ia menyatakan siap jadi budak Tirta, kerja ga digaji seumur hidupnya asalkan Tirta tidak menikahi Zahra.


Itu artinya wali tidak menyetujui pernikahan Zahra. Ingat ya wali itu beda ama penghulu. Dan yang berhak menikahkan itu wali bukan penghulu. Kalo selama ini kita lihat penghulu yang menikahkan, bisa jadi itu karena wali-nya meminta untuk diwakilkan.


”Tidaklah sah suatu pernikahan kecuali dengan adanya wali.”(HR. Ahmad)


  • Keenam, wanita bukan tulang punggung keluarga. Beban nafkah ada di pundak laki-laki, sementara perempuan berada dalam tanggungan walinya. Bila (semua) walinya tidak mampu maka hak nafkahnya ada di tangan negara.


Ketika ayah Zahra sakit, ia berusaha bekerja dengan berjualan camilan yang hasilnya tidak seberapa, padahal ia harus membayar biaya sekolah, biaya hidup dan biaya rumah sakit. Dimana seharusnya di dalam Islam, pendidikan, kesehatan dan keamanan adalah hal dasar yang harus dipenuhi oleh negara. Dan kebutuhan pokok harus didapatkan oleh rakyat dengan akses yang mudah baik secara kuantiti, kualiti dan harga yang terjangkau atau bahkan gratis.


Seandainya hal ini dipenuhi oleh negara, maka Zahra dan keluarganya tidak perlu berutang ke Tirta. Zahra juga tidak perlu mencemaskan pendidikannya. Ia bisa sekolah setinggi yang ia mau, menjadi dokter atau profesor, Islam akan membuka peluang itu untuknya. Zahra juga bisa melaporkan tindakan Tirta ke Syurthoh atau Khalifah sekalian, biar kapok..




KESIMPULAN


Sinetron masih punya animo yang tinggi di tengah masyarakat. Banyaknya sinetron dengan tema kekacauan rumah tangga sekarang bisa jadi adalah gambaran masyarakat yang ada. Baik individu, masyarakat hingga negara perlu berbenah, sehingga sama-sama tidak menimbulkan bias pada suatu pemahaman, apalagi bila itu pemahaman Islam.


Sebagai salah satu media komunikasi, sinetron memegang peranan penting. Sampai tulisan ini dibuat, SHI memang dihentikan penayangannya. Namun memungkinkan sekali akan ada sinetron-sinetron lain yang sejenis meski tak serupa, yang penuh konflik tanpa batas dan sayangnya meskipun kisahnya menyinggung salah satu ajaran Islam seperti poligami, namun tidak ditampakkan solusinya secara adil.


Mari adil, jangan hanya menimbulkan stereotype buruk pada Islam, tapi lihatlah bahwa hanya Islam yang mampu mengatur kehidupan dan membawa rahmat bagi semesta alam.

You Might Also Like

0 comments

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)