Pelangi Memang Indah, Tapi Ia Hanya Sesaat



Temans, hari ini bagimu tanggal berapa??

Tepat Sabtu 8 Juni 19 ini bagi saya adalah hari ke-5 di bulan Syawal dalam kalender Islam. Yups, saya sudah berhari raya Selasa 04 Juni kemarin. Bagi yang berhari raya Idul Fitri keesokan harinya, maka hari ini masih tanggal 4 Syawal.

Bukan pertama kalinya pristiwa seperti ini terjadi (perbedaan tanggal hari raya), bahkan ini juga menjadi perbincangan hangat layaknya tiket pesawat yang melambung bak roket. Tapi itu membuat saya bersyukur suami saya kerja dan dakwahnya di luar negeri, tiket pesawat tidak ada perubahan. Setidaknya jauh lebih murah dari penerbangan domestik yang per tiket bisa sampai lebih dari 21 jeti. He he he..

Sekilas terlihat sepele dan tak ada masalah. Apalagi kalo ada yang bilang ‘perbedaan itu indah seperti warna pelangi.’ Namun terkadang kita lupa, bahwa pelangi hanya muncul sesaat sebelum ia menghilang. Ditambah lagi dengan banyaknya dalil yang dikeluarkan. Merasa hujahnya paling kuat, atau malah merasa yang paling taat pada ulil amri, merasa paling Indonesia.

Pada Selasa pagi, tulisan saya tentang idul fitri sudah bergerilya di grup WA, wajar dong kan udah hari raya. Tapi ada juga nih yang komen, “Kalo saya taat pemerintah mbak, jadi hari rayanya baru besok.”

Eh, seakan-akan saya pemberontak apa, padahal saya juga salah satu penyumbang pajak dan aktif tipis-tipis memuhasabahi penguasa.

Coba bayangkan bila perbedaan ini terletak dalam sebuah keluarga. Suami sudah membatalkan puasa pada hari Selasa, sementara istri masih berpuasa. Keesokan harinya ketika suami puasa Syawal, istri haram berpuasa. Dengan dalih saling menghargai pilihan masing-masing, memang terlihat tak ada masalah.

Tapi bukankah lebih baik bila suami dan istri sama-sama berangkat Shalat Ied ke masjid, makan bersama di hari raya yang sama dll. Iya kan??

Kebanyakan orang terjebak pada 2 (dua) pilihan yang sebenarnya tidak pas. Saya pernah menuliskan ini dalam bentuk analogi. Misalkan ada seorang gadis yang dilamar oleh 2 (dua) orang pemuda, pemuda pertama memiliki jabatan mentereng tapi koruptor, pemuda kedua mengandalkan hidup dengan kekuatan alias preman kasar. Manakah yang lebih di pilih??

Kebanyakan orang mungkin akan berpikir akan mengambil yang paling sedikit mudharatnya, misal si Preman, kali aja karena Cinta suatu saat nanti dia akan berubah.

Padahal selalu ada pilihan ketiga, yaitu pria yang baik akhlak dan agamanya, sesuai dengan tuntunan Allah dalam memilih pendamping hidup. Tapi kalo ga nemu cowok begini gimana? Masa iya ga nikah-nikah, padahal jomblo itu kegentingan yang memaksa. Haha

Bila sampai pada posisi ini, maka pentinglah untuk piknik lebih jauh dan ngopi lebih kentel. Pria yang baik akhlak dan agamanya tidak bisa dicari di tempat yang buruk, juga tidak akan memilih pendamping hidup yang buruk. Semuanya (SISTEM) harus dirubah, baik tempat pencarian maupun pribadi yang menginginkan si shalih/shalihah sebagai pasangan halal, sampai di akhirat pun kekal.

Sama dengan menanggapi banyak perbedaan. Termasuk perbedaan penetepan hari raya. Setiap negara jadi berbeda salah satunya karena mengambil metode rukyat hilal yang berbeda-beda. Menandakan bahwa TERITORIAL itu adalah akar masalahnya. Teritorial inilah yang kita sebut sekat nasionalisme.

Padahal, umat Islam itu harusnya satu, sama seperti bulan yang juga hanya satu dan mathla’ yang juga cuma satu. Kamu juga cuma satu di hatiku. #Eh

Solusi yang bisa diambil dalam keadaan ini adalah membuat kesepakatan bersama untuk mengambil metode yang sama. Tapi mungkin ini sulit, karena sudah tersekat-sekat nasionalisme itu tadi.

Solusi lainnya adalah dengan adanya satu Khalifah di tengah-tengah ummat. Tidak hanya akan menghapus perbedaan awal dan akhir Ramadan, namun juga mempersatukan ummat Islam seluruh dunia, tidak ada batas nasionalisme dan perpecahan karena masalah mazhab atau furu’ (cabang).

Semoga tahun ini adalah tahun terakhir tanpa adanya Khalifah yaa.. Bukan hanya agar bisa hari raya bersama, tapi juga agar saudara-saudara kita yang tidak bisa berhari raya karena konflik juga merasakan manisnya hari kemenangan.

Happy Ramadan. Mohon maaf lahir dan batin..






0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)