SKY CASTLE : Ketika Orang Tua Korea Tidak Bisa Mengubah Sistem Pendidikan


Tahun 2018 kemarin, ada drama korea yang hits banget. Judulnya Sky Castle, awal dengar judulnya, aku pikir drama ini semacam Arthdal Chronicles yang ceritanya fantasi. Tapi ternyata Sky Castle di sini merujuk pada sebuah pemukiman elite di Korea.


Cerita berpusat pada 4 (empat) keluarga yang begitu terobsesi dengan pendidikan putra-putrinya. Beberapa dari mereka lahir dari keluarga professor, pengacara, dokter dari generasi ke generasi. Sehingga seperti menjadi “kewajiban” bagi sang anak untuk bisa mencapai profesi yang sama.

Sayangnya tantangan pendidikan di Korea tidak seindah drama korea yang seringkali melejit hingga ke mancanegara. Tak heran bila di sana sering dijumpai fakta mengenai pelajar yang bunuh diri, tersebab tekanan dan tuntutan prestasi tinggi hingga rasanya tak masuk akal, baik dari sistem maupun dari orang tuanya. Tentu saja ini kemudian diperparah karena tak semua memiliki “keimanan” seperti dalam keimanan Islam.

Kapitalisme menemukan banyak celah untuk hidup di dalam negeri ginseng ini. Salah satu hal yang digambarkan dalam drama SKY CASTLE ini adalah bagaimana obsesi bisa menjadi objek industri.


SINOPSIS

**
Han Seo Jin berusaha keras agar putrinya, Kang Yeh Suh masuk fakultas kedokteran UNS (Universitas Negeri Seoul). Ia melakukan banyak cara untuk membujuk seorang tetangga yang berhasil “membimbing” putranya masuk ke sana. Hal inilah yang mengantarkan ia bertemu dengan seorang tutor (semacam guru les) bernama Ny. Kim.

Ny. Kim tampak profesional, genius dan bertekad membuat Kang Yeh Suh diterima di fakultas kedokteran UNS, dan ia dibayar ribuan dollar untuk itu.

Kang Yeh Suh pun mulai menampakkan prestasi yang semakin baik, ia mulai mengalahkan pesaingnya di sekolah, Kim Hye Na. Bersamaan dengan ini masalah pun bermunculan, yang membuat Han Seo Jin maju-mundur mempertahankan Ny. Kim.

**
Sementara itu di keluarga lain, No Seung He harus ‘melindungi’ kedua putra kembarnya dari obsesi suaminya yang ingin mereka belajar keras hampir setiap waktu dengan cara yang tidak menyenangkan.

Ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa anak tertua mereka, Cha Se Ri menipu mereka. Putri mereka itu yang mereka anggap telah menjadi mahasiswa Harvard ternyata tidak pernah datang ke sana untuk kuliah. Ia bahkan menghabiskan semua uang kuliah yang dikirim ayahnya untuk pergi ke club.

**
Jin Jin Hee kepayahan setengah mati menghadapi anak semata wayangnya, Woo So Han yang kurang antusias dalam belajar, sama seperti Kang Ye Bin, adik Kang Yeh Suh. Ia (awalnya) mengekor pada Han Seo Jin karena menganguminya sebelum ia menemukan fakta bahwa Han Seo Jin selama ini menyembunyikan identitasnya yang ternyata berasal dari keluarga miskin.

**
Lee So Im adalah satu-satunya ibu normal di antara mereka, yang tidak terobsesi dengan prestasi Hwang Woo Joo (anaknya juga emang udah genius, jadi ga perlu ikut les dengan Ny. Kim dia udah pinter. Hehe). Ia juga kurang setuju dengan pendidikan privat yang kebanyakan “dikejar-kejar” oleh ibu-ibu yang lainnya. Lee So Im membebaskan putranya untuk mengikuti kelas (tambahan) yang dia suka.

**
Satu persatu fakta yang melingkupi mereka saling terkait dan menjadi konflik. Kim Myung Joo, tetangga yang berhasil membimbing anaknya, Park Young Jae masuk ke Fakultas Kedokteran UNS tiba-tiba ditemukan mati bunuh diri, sementara putranya menghilang entah kemana, dan Park Soo Chang mengundurkan diri dari jabatan tinggi di rumah sakit kemudian mengasingkan diri. Ternyata tragedi keluarga ini berkaitan dengan Ny. Kim.

Lee So Im sendiri, ternyata adalah teman SMA Han Seo Jin, dialah yang mengungkap identitas asli Han Seo Jin yang merupakan anak penjual –seperti- darah beku di pasar. Padahal selama ini Han Seo Jin mengaku kepada semua orang bahwa dia putri chaebol dan memiliki kakak seorang direktur bank dunia, orang tuanya menghabiskan masa tua di Australia. Fakta yang selama ini hanya diketahui oleh suami dan mertuanya itupun akhirnya menyebar ke seluruh Sky Castle, bahkan membuat Kang Yeh Suh Shock.

Kim Hye Na yang merupakan “musuh” Kang Yeh Suh ternyata adalah anak kandung ayahnya dari kekasihnya di masa lalu. Dia masuk ke rumah Kang Joon Sang dengan tujuan mendapatkan cinta ayahnya setelah ibunya meninggal karena sakit. Namun kemudian ia tewas dibunuh.

Kematian Kim Hye Na, membuat Hwang Woo Joo menjadi tersangka. Lee So Im berusaha keras membebaskan anaknya hingga sebuah fakta baru kemudian terungkap, bahwa Ny. Kim selama ini membuat Kang Yeh Suh “pintar” dengan cara curang, yakni selalu memberikan Kang Yeh Suh tes dengan soal-soal ujian yang dicuri. Kim Hye Na – lah yang bisa mengendus skandal ini yang berujung pada kematiannya.

Han Seo Jin menjadi kunci dalam membersihkan nama Hwang Woo Joo, namun dengan resiko putrinya dikeluarkan dari sekolah (karena berarti mengakui bahwa Kang Yeh Suh selama ini mengerjakan tes dengan ujian yang dicuri).

Sebagai endingnya, No Seung He berhasil mengalahkan suaminya dalam menentukan “cara belajar” bagi anak kembarnya. Dan akhirnya semua menerima kenyataan bahwa Cha Se Ri ingin menjadi pengusaha yang memiliki dan mengelola Club Malam (duh kok milihnya usaha beginian yakk..). Anak-anaknya belajar bersama Kang Yeh Suh yang telah dikeluarkan dari sekolah.

Jin Jin Hee akhirnya bisa “nyantai” menghadapi kemalasan Woo So Han dalam menghadiri kelas tambahan. Pandangannya berubah, dia hanya ingin anaknya hidup bahagia dan sehat tanpa tekanan.

Sementara Hwang Woo Joo, karena merasa kehilangan Kim Hye Na memutuskan untuk keluar dari sekolah dan menjelajahi dunia (enak bener hidupmu nakk..)

SISI LAIN

Tingkat kompetisi dalam dunia pendidikan Korea adalah hal biasa. Di sana merupakan pemandangan biasa bila anak sekolah masih belum pulang ke rumahnya ketika malam tiba karena masih harus mengikuti kelas tambahan ini dan itu. Tak ayal, angka bunuh diri pada umur remaja di negara ini tinggi, bahkan berita bunuh diri merupakan hal yang biasa di sana. Mirisnya lagi, data menunjukkan bahwa anak SD di sana pun tidak luput dari bunuh diri.

Sistem pendidikan sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) yang banyak “dianut” oleh berbagai negara (eh semua negara di dunia kali ya, termasuk Indonesia) kebanyakan selalu berakhir tragis. Moral remaja semakin ambruk dan tak punya jati diri. Selain membuat orang tua dan anak tertekan menghadapinya.

Khususnya di Indonesia, liberalisasi pendidikan “menimbulkan” kurikulum kaku (terpaku dengan pendidikan yang  menghasilkan individu yang hanya mampu menguasai satu bidang saja) dan tenaga pendidik yang tidak kompeten, sehingga terbentuk pendidikan yang hanya terpusat di sekolah dan tercipta dikotomi antara ilmu pengetahuan (sains) dengan agama. Padahal seharusnya di dalam sistem pendidikan Islam, agama harus masuk dalam setiap aspek pendidikan, baik guru, operasi pendidikan dan kurikulumnya.

Berbeda dengan pendidikan sekuler yang hanya membentuk manusia siap kerja (hanya menonjolkan aspek pengembangan intelektualnya saja –parsial-). Pendidikan Islam bekonsep integral (kully). Hal ini bertujuan untuk membentuk dan mewujudkan individu yang mengenal dirinya sebagai Abdullah dan Khalifah yang tujuan hidupnya adalah beribadah kepada Allah seperti yang telah difirmankan dalam QS. Adz-Dzariyat: 56 (hidayatullah.com).

Output dari sistem pendidikan Islam seharusnya adalah kelahiran para intelektual-intelektual muda yang selain menguasai ilmu pengetahuan juga membuatnya semakin taat kepada Allah SWT. Karena itu adalah hal yang biasa bila dahulu –pada masa kejayaan Islam- dokter, pakar matematika, ahli kimia juga merupakan ulama yang paham ilmu fiqh, tafsir Al-Qur’an dll.

Indonesia, dengan pendidikan karakternya sekarang memang masih mempertahankan pelajaran agama namun tidak terintegrasi dengan seluruh sistem pendidikan (akibat sekuler tadi) dan bisa kita lihat hasilnya adalah generasi yang tidak karu-karuan. Tentu saja keadaan ini akan semakin parah bila mata pelajaran agama dihapus, seperti wacana yang belum lama ini muncul. Maka, hanya sistem pendidikan Islam yang bisa menjawab tantangan pendidikan masa kini, baik di Indonesia maupun dunia.

Wallahu a’lam..


4 comments:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)