Hijab Adalah Pilihan??


Selain hijrah, trend sekarang adalah pakaian syar'i. Gamis (Jilbab) dan Khimar menjadi barang yg lazim dijual di lapak online maupun offline.

Terlepas dari orang yang menggunakannya karena ketaatan atau karena mengikuti trend saja. Kebanyakan orang ketika mendengar kata "pakaian syar'i" / "baju syar'i" akan tergambar di benaknya berupa gamis (jilbab - yang menjulur ke seluruh tubuh) dan khimar (kerudung yang lebar-lebar menutup dada atau bahkan lebih).

Sementara bagi yang masih belum berupa pakaian di atas (misal celana ketat dan kaos tapi berkerudung) tidak akan disebut berhijab syar'i.

Juga bagi yang hanya menggunakan jilbab dan khimar di waktu2 tertentu, misal hanya saat pergi ke kajian, kondangan, ke masjid namun berpakaian 'biasa' (tetap berhijab) di luar waktu-waktu tertentu tsb, tidak jarang orang pun akan mengatakan kurang lebih seperti ini, "Eh syar'i-nya kalo ngaji aja bla bla bla"


Seakan-akan mau syar'i atau tidak itu pilihan, dan menyesuaikan situasi, kondisi, toleransi, pandangan dan jangkauan. #Apasih 😂

Padahal lawan kata syar'i (taat pada hukum Allah -dalam hal ini soal hijab-) adalah maksiat loh 😳

Dalam hal apapun, bila itu berkaitan dengan hukum syara' termasuk soal berpakaian bagi muslimah akan mendapat pertentangan kaum pemikir liberal bin sekuleris kolaborasi dengan mbak feminis yang sama sekali ga manis.

Dihembuskanlah opini lembut nan syahdu,
"Hijabin dulu hatinya, baru badannya.."
"Suka-suka aku mau pake hijab atau ga, ini kan hidupku.. bla bla bla.."
"Munafik tuh pake hijab tp kelakuan bejat. Mending gue, ga berhijab tapi jujur ga nusuk dr belakang bla bla bla.."
Dan sederet narasi racun berbalut madu lainnya.

Setan memang paling jago dalam memainkan propaganda. Manipulasinya lebih halus daripada sutra, lebih lembut dari bangsa lelembut. Perlahan-lahan diciptakan narasi yang menggeser-geser banyak sekali hukum perbuatan di dalam Islam.

Tengok saja LGBT, sesuatu hal yang haram kini mulai minta ‘dibolehkan’ dengan alasan hak asasi manusia, seakan-akan yang menentang LGBT tidak menghargai hak asasi manusia, dengan kata lain jelas-jelas menunjuk (monodong) syariat Islam yang jelas-jelas mengharamkan LGBT.

Pun soal hijab, akhirnya ia pun mulai digeser-geser hukumnya. Kewajiban yang datangnya dari Allah untuk muslimah ini kini mulai menjadi ‘pilihan’ (mubah). Mau berhijab silakan, mau tidak berhijab silakan. Mau berhijab sesuai tuntunan Rasul silakan, mau berhijab sesuai tutorial online juga silakan.

Intinya, Freedom is Everything.


Sombong, menjadi salah penyebab hal ini terjadi. Sombong bukan hanya soal merendahkan orang lain, namun juga tidak mengakui kebenaran bahwa manusia tidak lebih dari seorang hamba (budak) ciptaan Allah SWT. Dimana taat, tunduk dan patuh pada-Nya adalah suatu keharusan.

Manusia yang sombong tidak mau mengakui bahwa dirinya lemah, terbatas dan bergantung kepada sesuatu yang lain. Tidak mau mengakui bahwa manusia itu hidup butuh Allah dan butuh pengaturan Allah. Termasuk dalam soal berpakaian.

Bahkan manusia yang sombong tidak menyadari bahwa dia tidak mengenal dirinya sendiri, karena dia tidak bisa menciptakan dirinya sendiri. Yang mengenal kita tentu saja adalah Dzat yang sama yang menciptakan kita, karena itu segala pengaturan darinya adalah yang paling sesuai dengan kita. Termasuk soal berpakaian.

Tapi, ada juga sih yang berpendapat bahwa hijab untuk muslimah itu adalah pilihan. Dan saya setuju dengan Syekh satu ini. Simak deh.. J





0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)