Selandia Baru dan ‘Efek Kupu-kupu’nya



Lebih dari seminggu lalu, umat Islam berduka, khususnya umat Islam di Selandia Baru. Memang sudah berlalu, tapi kisah ini tidak akan bisa dilupakan. Sejarah telah mencatatnya.

Di hari yang baik itu (Jumat), di tempat yang baik itu (masjid), iblis laknat dalam bentuk manusia menjadikan nyawa manusia tak ubahnya benda yang tak berharga. Pembunuhan tidak berperikemanusiaan itu bahkan ditayangkan secara “live” di media sosial. Lebih gila daripada orang gila yang tidak bisa disembuhkan!

Kita berduka, amarah membuncah. Namun di balik semua itu pastilah ada berkah.

Bila Edward Norton Lorenz memakai istilah “Efek Kupu-kupu” (Butterfly Effects) untuk merujuk pada sebuah pemikiran bahwa sebuah kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil, secara teori dapat menghasilkan badai Tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Hal ini maksudnya, perubahan kecil pada suatu tempat dalam suatu sistem (tak linear) dapat mengakibatkan perubahan besar di tempat lain (wikipedia).

Di Selandia Baru sendiri, agama Islam merupakan agama minoritas. Kebanyakan adalah para imigran di antara imigran lainnya.


Selandia Baru, karena panorama alam yang indah dan menakjubkan, selain menjadi pilihan tempat shooting berbagai film box office dunia, juga menjadi rumah multikultural bagi banyak orang termasuk bagi populasi muslim.

Ketika 50 (lima puluh) orang meninggal dengan tidak adil karena gagal pahamnya segelintir teroris akan Islam, karena Islamofobia yang menjangkiti mereka. Pada saat itulah efek kupu-kupu mulai berjalan. Perbedaanya, efek kupu-kupu kali ini bukan menghasilkan kekacauan. Dengan izin Allah, efek yang terjadi adalah semakin meluasnya cahaya Islam.

Tidak lama setelah Brentont Tarrant dan kroni membantai puluhan muslim di dua masjid Selandia Baru, ayat suci dibacakan di parlemen, pusat kekuasaan Selandia Baru, yang mungkin saja, ini adalah awal kekuasaan Islam.

Kumandang suara adzan, yang oleh ibu Sukmawati di Indonesia dianggap tak lebih indah dari kidung ibu, dikumandangkan dan disiarkan secara langsung oleh televisi nasional dan disiarkan ke seluruh dunia. Suatu hal yang tidak biasa terjadi sebelumnya. Bagaimana seruan yang menggetarkan jiwa itu dengan mudah masuk ke telinga-telinga manusia yang bahkan mungkin tidak mengerti apa maknanya.

Khutbah Jum’at dihadiri oleh ribuan muslim di Selandia Baru, layaknya shalat hari raya Idul Fitri. Penguasanya (PM Jacinda Ardern) hadir di kala itu dan membacakan hadits baginda Rasulullah SAW, “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]. Suatu hal yang mungkin tidak akan pernah dia lakukan seumur hidupnya, dan semoga Allah menunjukinya jalan Islam.


Seketika Selandia Baru juga ‘terserang’ demam mode baru, ketika wanita-wanita mereka berlomba-lomba memakai hijab. Siapa yang akan tahu solidaritas itu akan membawa siapapun di antara mereka tertunjuki pada jalan Islam.

Orang-orang kafir yang tak ada permusuhan dengan muslim atau yang bersih hati dan pikirannya berbondong-bondong datang ke masjid, berbela sungkawa atau menjadi ‘pelindung dadakan’ bagi tetangga muslimnya. Bunga bertebaran dari hati-hati yang tulus. Karena keindahan Islam begitu susah untuk dinafikkan.

Tidak hanya di Selandia Baru, efek samping dari teror ini menular hingga berbagai belahan dunia dalam waktu yang singkat.

Di Australia, seorang remaja tiba-tiba mendunia ketika melempar telur ke kepala Anning, senator rasis yang justru menyalahkan muslim sebagai penyebab terjadinya pembataian di Christchurch, Selandia Baru. Will Connolly menjadi ‘pahlawan muslim’ yang mendapat julukan “egg boy”

Mungkin kisah ini akan berlalu, tapi perubahan jelas saja sedang terjadi. Ada hati-hati yang tertunjuki pada jalan Islam. Ada yang kembali pulang pada Islam. Ada kaki-kaki yang mulai melangkah lagi ke masjid. Ada rasa-rasa penasaran pada Islam. Ada persatuan ummat (ukhuwah) yang sedang dimulai dari simpul yang lain.

Mungkin kisah ini akan berlalu, tapi benih-benih yang dihasilkan dari kisah ini akan terus tumbuh dan berkembang. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.”  (QS. 9:32).

Jember, 27 Mar 19
Helmiyatul Hidayati

Nb. Foto diambil di Masjid Ali - Australia



#Gemesda 
#GerakanMedsosUntukDakwah #DakwahTakMeluluCeramah
#Revowriter 
#WCWH6 
#MenyalaBersamaRevowriter 
#Blogger 
#BloggerIdeologis 
#StopIslamofobia



0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)