Kisah Bumi, Bulan dan Bintang ll Ep. 5 – Tidak Mau Tapi Tidak Tau



Review Ep. 4

“Saya ingin menikahi kamu. Saya ingin kamu menjadi istri kedua saya..”

Bintang shock, dijauhkan hape dari telinganya, memeriksa bahwa kontak yang menelponnya memang kontak Bumi sang atasan di tempatnya bekerja. Bintang segera berlari ke pintu untuk menguncinya, takut ada orang yang mendengar dan berpikir yang bukan-bukan. Tiba-tiba tangan yang memegang hapenya bergetar. 

Jawaban apa yang harus Bintang berikan??


**

Sekian lama Bintang berpikir, entah berapa menit berlalu, sementara telpon Bumi masih terhubung. Bintang terdiam seribu bahasa. Rasanya raganya entah lari kemana. Bukan, bukan karena Bintang bingung menentukan pilihan. Ia bingung bagaimana menyampaikan keputusan itu tanpa ada efek sampingnya.

Pikiran Bintang berkelana segera, nun jauh ke sana tapi entah dimana. Pada putri Roro Jonggrang yang menolak lamaran pangeran Bandung Bondowoso. Putri itu jelas tak mau menikah dengan pembunuh ayahnya dan penjajah negaranya. Tak mungkin cinta tumbuh di antara dendam. Namun ia juga tak berdaya, kala Kerajaan Baka bertekuk lutut di bawah kaki sang Pangeran yang gagah dan sakti itu.

Akhirnya dengan penuh harap, Putri Roro Jonggrang mengajukan syarat berat. Syarat yang sudah ia pikirkan matang-matang dan berpikir bahwa sang Pangeran tak akan mampu memenuhinya. Sayangnya satu hal yang belum dipikir oleh sang putri dan juga merupakan kesalahan terbesarnya adalah, bahwa dia tidak mengenal siapa sebenarnya sang pangeran.

“Kalo bapak serius, silakan langsung datang pada orang tua saya saja besok.” Bintang pikir ia telah menolak dengan baik. Ia bukan penduduk kota S, jadi Bumi tidak akan menemukan orang tua atau bahkan satupun kerabatnya di kota ini. Bintang berasal dari kota M yang sepi, masih harus melewati sebuah hutan untuk ke sana. Tapi seperti Roro Jonggrang, Bintang sebenarnya tidak mengenal siapa dan apa yang bisa dilakukan oleh Bumi.

Usia Bintang masih 19 tahun, tak ada rencana pernikahan di benaknya, bahkan jika yang datang melamar adalah seorang perjaka (singgle). Terlebih, tidak terbersit sedikitpun bila pria yang akan melamar adalah Bumi. Seorang pria yang ia hormati tidak lebih dari seorang atasan, dan kebaikan istrinya yang telah membuat ia terpesona, membuatnya tidak memiliki alasan untuk menerima. Pikirannya penuh dengan prasangka bahwa Bulan mungkin akan tersakiti. Bintang takut kehilangan pekerjaan bila menolak, tapi ia lebih takut menyakiti wanita baik-baik seperti Bulan.

“Oh, ayolah.. memangnya apa salahku sampai tak bisa tidur, bukankah pak Bumi yang memulai?” Malam harinya Bintang tak bisa tidur hingga menjelang pagi, yang membuatnya mau tak mau tidur kembali setelah subuh. Tak pelak ia harus pula merapel sarapan dan makan siang. Untung hari ini adalah hari libur kerja.

Hati Bintang berharap bahwa Bumi berbohong tentang lamaran itu, atau minimal tidak serius. Tapi Bumi tidaklah memiliki kepribadian itu. Akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan hal tersebut pada orang tuanya.

“Bapak sama ibu mau ke tetangga. Mau rewang. Itu loh anaknya Mbok Lasemi menikah. Kan temen SD-mu dulu.” Jawab ayah Bintang di seberang sana setelah Bintang mengucap salam dan menanyakan kabar.

“Barakallah. Alhamdulillah. Sampaikan salam saya ya pak buat Nining, semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah.”

“Iyaa.. nikahnya minggu depan, kalo bisa kamu pulang, supaya bisa hadir juga.”

“InsyaAllah Bintang usahakan pakk..”

“Ada apa nduk?” Tanya ayah Bintang sekali lagi.

“Gini loh pak,, kemarin itu.. bla bla bla..” Bintang berusaha menceritakan dengan sedetil mungkin, juga tentang ketakutan dan harapannya. “Bintang takut kalo Bintang nolak nanti dipecat, tapi Bintang ga siap untuk nikah, apalagi jadi istri kedua. Jadi kalo pak Bumi ke rumah, tolong bapak tolak yaa..”

“Oalahh.. iyowes gampang nduk.. kayanya bossmu itu bercanda. Lah ngapain nikah lagi kalo sudah punya istri. Ga usah direken –dipedulikan- mungkin itu becandanya orang kota.”

Bintang lega bahwa ayahnya mau bekerjasama, meskipun ia merasa sedikit resah dengan pendapat ayahnya. Ia tahu, Bumi bukan orang yang akan bercanda tentang hal ini.

**

Ayah Bintang masih santai ketika menceritakan perihal telpon Bintang pada istrinya. Namun keadaan itu berlangsung sejenak sebelum seorang tamu berdiri di depan pintu rumah mereka : Bumi Ahmad Maliki.

Orang tua Bintang merasa gugup, dengan kedatangan tiba-tiba dari atasan anaknya. Dimana pekerjaan Bintang selama setahun terakhir juga ikut menyokong kebutuhan mereka di desa. Dan Bumi kini berada di rumah mereka sebagai pria yang akan meminta putri mereka.

“Nama saya Bumi Ahmad Maliki. Saya memang atasan di tempat Bintang bekerja. Mungkin Bintang sudah menceritakan maksud kedatangan saya. Saya datang untuk melamar putri bapak menjadi istri kedua saya.” Kata Bumi setelah merasa cukup berbasa-basi.

“Maksud nak Bumi.. Poligami??” tanya ayah Bintang memastikan. Dan Bumi mengiyakan dengan mantap tanpa keraguan. Ia pun kemudian menjelaskan tentang keluarganya, termasuk istri dan anak-anaknya.

“Begini.. Bintang itu masih kecil.. masih belum bisa apa-apa, ga cocok kayanya jadi istri nak Bumi ini. Jauh sekali kalo dibandingkan dengan Nak Bulan. Usia kalian terpaut 21 tahun, duh dia masih sangat kekanak-kanakan.” Ayah Bintang berusaha menolak secara halus sesuai dengan permintaan putrinya.

“Saya tidak masalah dengan itu. Justru itulah tugas saya nanti sebagai suami, mendidik istrinya.” 

Lama mereka berbicara, tapi sepertinya tekad Bumi tak bisa dihancurkan. Orang tua Bintang mulai bingung dan akhirnya mengajukan permintaan yang diharapkan tidak akan sanggup dilakukan oleh Bumi.

“Kami sebagai orang tua hanya berharap yang terbaik buat anak kami. Poligami lebih kompleks dari rumah tangga biasa. Dalam poligami tidak hanya anak kami yang akan menjadi istri nak Bumi, tapi ada wanita lain juga. Kalo nak Bumi serius, saya ingin istri pertama nak Bumi yang melamar Bintang. Supaya kami yakin bahwa dia nanti akan baik-baik saja.”

Bumi diam sejenak sebelum akhirnya menjawab mantap, “Kami akan datang lagi minggu depan.”

**

Seminggu berlalu begitu lambat bagi Bintang. Ia berusaha mati-matian menghindar dari Bumi dan Bulan. Bahkan dengan sengaja ia bolos bekerja selama beberapa hari. Namun ketakutan Bintang benar-benar terjadi. Minggu itu ketika Bintang pulang untuk menghadiri pernikahan teman masa kecilnya. Bumi dan Bulan telah datang di rumahnya.

Sebenarnya, ketika ayahnya menceritakan perihal kedatangan Bumi pada waktu yang lalu, Bintang tau bahwa mereka akan memenuhi permintaan ayahnya. Sejujurnya Bintang sangat terharu ketika Bulan datang untuk melamarnya menjadi adik madunya. Sempat terbersit takut menolak dalam hatinya, mengingat sebuah hadits yang pernah ia baca, “Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi)

Tapi ketidaksiapan Bintang mengalahkan segalanya. Kemarin dia menolak dengan “halus” karena tak tahu caranya, sekarang Bintang tau bahwa cara terbaik menolak lamaran mereka adalah mengatakannya secara langsung.

“Saya menolak lamaran ini. Saya belum ingin menikah, apalagi menjadi istri kedua. Saya tidak akan sanggup menjalaninya. Maafkan saya.” Kata Bintang akhirnya dengan tegas.

Bumi dan Bulan akhirnya pulang bersama awan. Awan kelabu yang bergelayut karena penolakan. Bintang tak membuka sesi diskusi. Ia sudah kebingungan dan ketakutan setengah mati. 

Pada hari itu, meski Nining bahagia karena pernikahannya. Bumi, Bulan dan Bintang sama-sama kehilangan semangat ketika menatap hujan.

Bersambung..

0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)