Gabbar is Back : Bukan Pahlawan Kesiangan Tapi Islam yang Akan Menyelamatkan

Gabbar is Back merupakan film India kedua yang aku review setelah RAID di sini. Sebenarnya kedua film ini memiliki benang merah yang sama : korupsi atau penggelapan uang. Bedanya (masih versi aku), di film Gabbar is Back mengungkap korupsi di departemen kepolisian dan kolektor (aku rasa ini sebutan untuk para perwakilan rakyat), sementara film RAID adalah tentang penggelapan pajak oleh penguasa sekaligus pengusaha. Selain kalo Gabbar is Back adalah fiksi dan RAID diangkat dari kisah nyata.


Film Gabbar is Back yang diproduksi tahun 2015 ini merupakan film aksi, jadi kita akan melihat banyak adegan perkelahian. Beda ya dengan film RAID yang lebih menampilkan strategi dan permainan kata sebagai senjata.

Kalo soal aktor dan aktris ga usah ditanya ya, generasi Boomer, X dan Y pasti ga asing, paling tidak dengan pemeran utamanya.


SINOPSIS


Sepuluh orang kolektor diculik dan salah seorangnya ditemukan meninggal dengan cara digantung. Bersama dengan mayatnya ada setumpuk dokumen yang merupakan bukti suap, korupsi atau kriminalnya. Gabbar menyatakan bertanggung jawab terhadap kejadian ini. Namun polisi, media dan rakyat tidak ada yang mengetahui siapa sejatinya Gabbar.

Di kepolisian, semua bingung menemukan cara untuk menangkap Gabbar, namun tidak ada yang mempedulikan polisi “trainee” Sadhuram yang akhirnya menemukan kaitan Gabbar dengan Universitas Nasional.

Sementara di Universitas Nasional sendiri ada seorang profesor bernama Aditya yang memiliki reputasi hebat. Dia cerdas, kuat dan pandai berkelahi. Banyak mahasiswa yang kagum kepadanya. Dan memang dialah sejatinya yang berperan sebagai Gabbar atau yang memberi hukuman mati bagi para koruptor.

Suatu ketika Aditya bertemu dengan Shruti hingga pada pristiwa ia harus mengantar Shruti ke rumah sakit Patil. Di rumah sakit itu Aditya merasa marah melihat praktek tidak manusiawi yang dilakukan oleh dokter dan manajemennya untuk memeras pasien. Adegan tentang kecurangan rumah sakit ini banyak ditemukan di youtube. Ceritanya, demi meraup keuntungan yang banyak, bahkan pasien yang sudah mati pun diberi pengobatan agar keluarga pasien membayar biaya lebih banyak.

Ketika “kecurangan” rumah sakit ini menyebar di media, massa berdemo hingga menyebabkan Vijay Patil, sang pemilik rumah sakit meninggal. Ayahnya Digvijay Patil kembali untuk membalas dendam atas kematian anaknya. Dan sekali lagi ia berhadapan dengan Aditya.

Film ini berakhir dengan kematian Digvijay Patil di tangan Gabbar/Aditya. Untuk selanjutnya Aditya pun menyerahkan diri ke polisi dengan diiringi oleh “ketidakrelaan” mahasiswa dan rakyat. Itu karena orang-orang yang dibunuh oleh Gabbar adalah orang-orang yang membuat rakyat menderita akibat korupsi atau pembuat kebijakan yang merugikan rakyat.


SISI LAIN


Sebenarnya India tidak seindah film-filmnya. Negara yang pernah dipimpin Sultan Jalaludin Akbar ini merupakan salah satu negara terkorup di Asia. Sekitar 62% warganya mengaku pernah atau harus memberikan uang pelicin agar mendapat pelayanan umum. 70 % diantaranya adalah memberi sogokan pada jajaran kepolisian. Seperti kata Gabbar di dalam film, Suap seperti sesembahan”

Bagaimana di Indonesia? Sama aja. Korupsi merajalela.

Film Gabbar is Back sejatinya adalah gambaran kecil betapa gagalnya sistem pemerintahan demokrasi sehingga praktek korupsi menjamur. Akibatnya bisa dirasakan oleh banyak rakyat : kemelaratan.

Gabbar is Back juga menjual mimpi-mimpi, bahwa sebuah negara akan damai tanpa korupsi bila tak ada koruptor, karena itu Gabbar membunuh mereka. Dan agar terlaksana kehidupan seperti itu maka butuh manusia-manusia seperti Gabbar yang akan “memusnahkan” koruptor yang kemudian akan diganti dengan orang-orang baik. Padahal hal seperti ini hanya ada dalam dunia ilusi. Kenapa? Pertama, penyebab korupsi adalah sistemik, tidak bisa disolusi oleh seorang pahlawan kesiangan. Kedua, karena Gabbar hanya ada dalam drama.

Sistem pemerintahan yang dipakai banyak negara, termasuk India dan Indonesia adalah demokrasi yang membutuhkan biaya tinggi. Membuat siapa saja yang mengejar kekuasaan harus merogoh kocek yang tidak sedikit untuk kampanye dan “mahar” politik. Belum lagi, karena demokrasi lahir akibat paham sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan) yang mendarah-daging, menjadi perwakilan rakyat dianggap hanya profesi yang merupakan lahan basah dan sumber mengeruk keuntungan.

Di dalam Islam, korupsi sama dengan pencurian yang memiliki sanksi tegas dengan dipotong tangan. Berbeda dengan sekuler, prinsip hidup seorang muslim adalah selalu merasa diawasi oleh Allah (muroqobah). Ketakwaannya sejalan dengan ketakutannya melakukan pelanggaran hukum syara, termasuk korupsi. Sehingga perwakilan rakyat akan menganggap bahwa jabatan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Bahkan segala jalan menuju korupsi pun akan ditutup, seperti sistem pendidikan Islam yang akan melahirkan manusia-manusia bertakwa dan siap menjadi pemimpin yang melaksanakan hukum syariah. Sistem ekonomi Islam yang menyejahterakan, juga ditutupnya banyak pemikiran-pemikiran asing dan sumber liberalisasi.

Dengan begitu, bukan pahlawan kesiangan yang bisa menyelamatkan dunia ini, tapi Islam yang Rahmatan Lil Alamin.

Wallahu a’lam..

0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)