Rumput Tetangga Lebih Hijau dari Rumput Sendiri

Sumber Foto : Islampos


Manusia itu aneh. Iya.. kamu dan aku adalah salah satunya. Kebanyakan dari kita selalu melihat ke atas tapi enggan melihat ke bawah.

Ada yang bilang “manusia bukan malaikat yang selalu benar, bukan pula setan yang selalu salah, ia adalah manusia yang bisa benar, namun juga bisa salah.” Saat kita merasa benar, sudahkah kita menyadari bahwa kesalahan kitapun tak kalah banyak. Namun begitu, kitapun selalu jatuh dalam perselisihan yang menyebabkan air mata berderai-derai. Tak jarang iman pun tergerus kerasnya kehidupan.

Tak jarang pula ada yang ‘selingkuh’ dari tuhan. Ketika sholat kau menyembah-Nya, selayaknya Dia memang adalah tempat bersandar. Namun ketika hantaman ujian menghadang, kepanikan membuatmu kalang-kabut tak karuan hingga tak melihat ke arah mana lagi kau berjalan, kemana disandarkan lelah dan letih yang membahana.

Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri artinya apa yang dimiliki oleh orang lain, biasanya terlihat lebih indah (lebih baik) dari apa yang kita miliki. Bahkan termasuk dalam urusan ujian kehidupan. Seseorang akan menganggap ujiannya jauh lebih berat daripada ujian orang lain dst. Endingnya : dunia ini tidak adil, tuhan itu tidak adil.

Padahal Allah tidak akan pernah salah menakar. Juga tak akan pernah salah menukar. Baik itu nikmat maupun ujian.

Kawan.. kuberi tahu kau tentang suatu ujian, yang mungkin bila ia sampai padamu, kau bisa jadi tak menginginkan hidup lagi. Bisa jadi kau akan mensyukuri sekedar diberi ujian kemiskinan atau cinta yang rumit.

Saudarimu di Palestine, Samah Zuheir Mubaarak, gadis penghafal Al-Qur’an berusia 16 tahun ditembak mati oleh zionis kejam Israel.

Jika ia adalah kamu, jika ia adalah putrimu, jika ia adalah adikmu, jika ia adalah istrimu, jika ia adalah ibumu. Masihkah kau keluhkan hal lain kecuali meratapinya??

“Samah Mubaarak, umurnya 16 tahun. Ya 16 tahun. 10 hari sebelumnya dia telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya. Dengan telah hafal seluruh Al-Qur’an (kitabullah) dan dia mendapat hadiah berangkat ibadah umrah. Maka 10 hari ia berumrah di Baitullah Al-Haram. Lalu ia pulang ke kampung halamannya di Ramallah, Palestine.

Lalu pada saat ia pulang sekolah, ia harus melewati salah satu pos pemeriksaan Yahudi. Dia diminta paksa untuk melepas cadarnya, namun ia menolak. Tak ingin lepas cadar di depan tentara zionis ini. Maka tentara ini melepaskan tembakannya ke tubuh remaja ini hingga ia tergeletak di atas tanah dan gugur syahid.

Peristiwa ini baru kemarin. Namun saya ragu, 1.5 milyar muslim hari ini sudah tahu bahwa ada remaja putri penghafal Qur’an, umurnya masih 16 tahun telah dibunuh oleh keturunan kera dan babi kemarin. Hingga tergeletak syahid, jatuh ke atas tanah dan jatuh bersamanya sisa-sisa kemuliaan kita. Saat remaja ini jatuh, jatuh bersamanya kemuliaan umat ini.

Laa haula wala quwwata illa billah. Demi Allah, kita hanya bisa membacakan Alfatihah untuk sisa-sisa ini. Demi Allah, kita tinggal takbirkan 4x untuk apa yang tersisa ini. Hanya itu. headline berita kita, di cetak, elektronik dan TV si fulan menang, si fulan kalah tanpa tahu bahwa masjid Al-Aqsha kemarin kehilangan seorang remaja bercadar.

Ia kembali ke Allah SWT, mengadukan kita kepada Allah SWT. Ia kembali ke sisi Allah SWT, mengadukan para penguasa kita, ia kembali ke sisi Allah SWT, mengadukan pasukan bersenjata kita. Karena mereka semua akan menghadap Allah SWT dan remaja ini dengan keadaan darahnya yang mengalir menuntut para penguasa dan pasukan ini, yang membiarkan darahnya tumpah dan cadarnya dilepas dengan zalim dan tanpa haq.” (Mahmud Hasanat – Da’i Gaza)

Dan setiap harinya, selalu ada syuhada yang mengadukan kita ke hadapan Allah SWT. Tak terhitung berapa banyak saudara kita yang sedang menunggu untuk bertemu kita dan menuntut kita.
Sementara di sini apa yang kita lakukan? Hanya bergelut dengan masalah pribadi yang tak kunjung habis, bahkan untuk sekedar memperbaiki diri pun tak pernah finish. Berangkat kajian saja masih meringis.

Kita masih begitu sibuk dengan komentar orang lain, sementara setiap hari para syuhada yang gugur berkomentar tentang kita yang diam di hadapan Sang Maha Kuasa.

Sekali lagi, Jika ia adalah kamu, jika ia adalah putrimu, jika ia adalah adikmu, jika ia adalah istrimu, jika ia adalah ibumu. Masihkah kau keluhkan hal lain kecuali meratapinya??

Jember, 04 Jan 19
Helmiyatul Hidayati




0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)