Sultan Agung : Raja Islam di Jawa yang Menarik Perhatian Khalifah




Suatu ketika, kala rindu melanda. Rindu nonton drama kolosal Indonesia maksudnya hehe. Saya bertamu ke rumah Youtube dan mencarinya. Di posisi teratas muncullah film ini. Judul aslinya “Sultan Agung : Tahta, Perjuangan dan Cinta.


Sejujurnya sampai 30 menit pertama saya nonton drama ini, tidak ada aktor atau aktris yang saya kenal. Satu-satunya nama yang saya kenal di film ini yakni nama sutradaranya : Hanung Bramantyo. Haha

Bahkan di 1 (satu) jam pertama, saya juga tidak mendapatkan kesan yang saya kira dan saya inginkan. Karena di dalam kepala saya, Sultan Agung adalah penguasa yang memimpin kerajaan Islam, maka saya pikir film ini pun bernuansa religi. Ternyata tidak pemirsa. Ga usah saya sebutkan rinci kenapa ya, ntar saya dibully. Lagipula tulisan ini tidak untuk membahas itu kok. Hehe

Satu-satunya hal religi di dalam film ini (menurut saya) hanya ada di narasi di akhir film ini yang menyatakan hubungan Khalifah Murad IV dengan Sultan Agung. Yups, sebaris kalimat yang hanya muncul tak lebih dari 5  detik itulah moment “religi”-nya.


SINOPSIS
Sejak kecil RM Rangsang (nama kecil Sultan Agung) sudah dikirim mondok ke padepokan. Di padepokan inilah dia bertemu dengan Nimas Lembayung (tokoh fiksi) dan jatuh cinta. Padepokan ala dulu tidak hanya mengajarkan agama tapi juga dipadu dengan ilmu bela diri.

RM Rangsang, di sana menjadi pemuda yang tampan, gagah, cekatan, pintar sehingga menjadi favorit banyak orang.

Hingga suatu ketika ia harus kembali ke Mataram untuk menggantikan ayahnya yang wafat. Pada saat itu identitasnya sebagai pangeran terungkap yang membuat Lembayung patah hati, namun bersedia mendukung RM Rangsang agar menjadi raja yang hebat dengan caranya sendiri.

RM Rangsang naik tahta dan menikahi putri Adipati Lembang yang menjadi permaisyurinya. Dalam masa pemerintahannya, Sultan Agung sangat tegas penolakannya pada VOC. Ia bersikukuh merebut Batavia meskipun banyak yang memberikan pendapat bahwa itu bukan ide yang bagus. Pada serangan yang terakhir,  Gubernur jenderal VOC yaitu J.P. Coen meninggal karena wabah kolera karena pasukan Mataram mengotori sungai Ciliwung.

Meskipun mengalami kekalahan, penyerangan Mataram ke Batavia di sinyalir menjadi “pemicu” perjuangan-perjuangan lain untuk melawan penjajahan.


SISI LAIN
Ketika Sultan Agung memerintah, Mataram Islam sedang menghadapi tantangan karena kedatangan imperialis dari barat. Dimana Indonesia dijadikan arena perang salib yakni antara Katolik Portugis di Malaka VS Protestan Belanda (VOC) di Batavia. Perang ini terjadi dalam rangka memperebutkan rempah-rempah dan daerah jajahan.

Eropa pada masa itu tidak memiliki komoditi yang bisa ditukar dengan barang dagangan dari Asia dan Afrika. Sehingga untuk mendapatkan rempah-rempah mereka menggunakan jalan perang.

Kapal-kapal VOC berangkat dari pelabuhan Eropa sebagai kapal yang kosong. Untuk mengurangi oleng di tengah samudera, mereka mengisinya dengan batu. Apabila telah sampai di pelabuhan Nusantara Indonesia, batu dibuang dan diganti dengan muatan barang hasil perampokan.

Sultan Agung (1613-1645 M) berusaha membebaskan Batavia dari cengkeraman VOC. Bersama dengan Dipati OekOer dari Tatar Ukur melancarakan serangan ke Batavia pada tahun 1628-1629 M. Serangan ini sebenarnya menjadikan banyak serdadu Belanda ditawan di Yogyakarta. Cukup membuat sibuk J. P Coen. Sayangnya perlawanan Sultan Agung tidak berlanjut karena putranya, Amngkurat I berbalik bekerjasama dengan VOC (Sumber : API SEJARAH 1).

Narasi terakhir dari film ini berbunyi, “Gelar dari Sultan Murad IV yang diwakilkan SYARIF Mekah, Zaid Ibnu Muhsin Al Hasyimi telah mengukuhkan sosok RM Rangsang menjadi khalifatullah panotogomo yang kelak menjadi gelar Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogjokarto Hadiningrat (Yogyakarta)”

Pada tahun 1640, Sultan Agung Hanyakrakusuma, penguasa ketiga Kerajaan Sultan Mataram di Jawa, mengirimkan utusan kepada Sultan Turki Utsmani yang ketika itu dijabat oleh Murad IV, yang kemudian utusan ini – menurut suatu cerita – hanya bisa sampai di Makkah dan kemudian diwakili oleh Zaid bin Muhsin Al-Hasyimi, seorang Syarif Makkah di bawah Turki Utsmani saat itu.

Sultan Agung dari Mataram diberikan gelar “Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram Jawi” yang dengan gelar ini mengukuhkan Sultan Agung sebagai satu ikatan dengan Daulah Utsmaniyah untuk kemudian memberikan satu arahan peradaban bagi masyarakat di nusantara (salimafillah.com).

Nah begitulah, sebenarnya sejak zaman dahulu kala. Indonesia memiliki hubungan erat dengan Kekhilafahan. namun anehnya, zaman sekarang banyak yang menolak Khilafah dan menganggapnya sebagai sistem asing yang diimport. Bahkan hingga menolak bendera tauhid yang menjadi "ciri khas" kekhilafahan. Mungkin kalo Sultan Agung masih hidup, beliau akan memberi titah, "Keluar kamu dari Mataram.."

Haha



0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)