Kisah Bumi, Bulan dan Bintang ll Ep. 6 – Menghindar


Bintang serasa menjadi tikus yang dikejar-kejar oleh kucing kelaparan. Bukan karena ia benar-benar dikejar, tapi karena begitu besarnya usaha yang dia lakukan untuk menghindari atasan yang sudah melamarnya menjadi istri kedua dan istrinya yang masih suka membuka komunikasi.


Ya, bayangkan saja bila kau adalah karyawati yang begitu bergantung dengan pekerjaanmu, sementara kau baru menolak lamaran dari pria yang setiap bulan memberi gaji.

“Mbak Aci.. kalo kutawarin mutasi kerja gimana?” Tanya Bintang pada salah seorang rekan kerjanya. “Mbak Aci kan lagi hamil tua tuh, sementara kerjaan mbak Aci jadi admin sales kan kadang harus ikut supervisor ke lapangan. Kalo akhir bulan lembur mulu demi kejar target. Kasian deh aku liatnya..”

“Ya maulah Bin kalo ada lowongan. Kenapa? Kamu tau ada posisi yang pas buat aku ga? Kan kamu sekertarisnya pak Bumi, gercep kalo informasi beginian.” Jawab Aci.

“Ada mbak. Gantiin aku yah.. mbak Aci jadi sekretaris pak Bumi, aku jadi admin sales.”

“Lah kenapa? Bukannya posisimu udah enak?”

Bintang menelan ludah, berharap alasannya ‘diterima’ oleh Aci. “Hmm.. Banyak sih mbak alasannya. Lagi di titik jenuh juga, kan biasa karyawan kaya kita mah. Ya kasian juga ama mbak Aci yang lagi hamil tua. Terus sebenarnya juga pengin dapet bonus sales gede, biar bisa buat beli sepeda motor. Kalo mbak Aci kan udah ada tuh, ada suamik pula. Hehe Gimana mbak Aci? Mau lah yaa..”

“Hmm.. aku sih mau aja Bin. Tapi pak Bumi-nya setuju apa gak?” Aci bertanya balik tanpa menaruh curiga.

“Gampang dah..”

Selesai perbincangan makan siang itu, dengan cepat Bintang menulis surat permohonan mutasi dengan diplomatis. Mengajukan Aci sebagai sekretaris dan mengajukan dirinya sendiri sebagai admin sales. Sengaja ia tambahi “alasan pribadi” dalam surat tersebut agar Bumi mengerti bahwa dirinya benar-benar tidak nyaman berhubungan langsung dengannya meskipun itu adalah hubungan pekerjaan. Tidak setelah penolakan yang sudah ia berikan.

Bumi jelas memahami surat permohonan mutasi itu dengan baik. Dan ia juga memahami betapa Bintang merasa tidak enak dalam kondisinya yang saat ini. Sehingga surat itu langsung disetujui pada sore yang sama. Dalam diam dan tanpa kata. 

“Eh, mutasi aktif mulai besok. Ya ampun kok bisa cepet banget ya? Bukannya kita baru ngobrol tadi siang ya? Aku malah ga siap Bin..” seru Aci tiba-tiba menyerbu ke ruangan Bintang.

“Ihh mbak Aci udah di ACC kok malah bilang ga siap? Gimana dong? Kali aja ini rezeki dedek bayi mbak. Kerjaan kita itu mirip kok, Cuma beda ‘lahan’ aja. Lagian jobdesk kita kan udah tersistem semua SOP-nya,  apalagi mbak Aci senior, main program kaya pegang gadget dah. Hihi” Kata Bintang berusaha menyemangati. Tentu saja, ia tidak ingin rencananya “menghindar” menjadi gagal.

**

“Yah, kok bukan Bintang yang di ruangan sebelah? Kata mbak Aci, dia mutasi ama Bintang ya?” Tanya Bulan ketika siang itu ia berkunjung seperti biasa ke kantor suaminya.

“Iya bu, Bintang sendiri yang mengajukan mutasi..” jawab Bumi.

Bulan meringis, ia mengerti posisi Bintang, pasti merasa tak nyaman. “Mungkin kita yang terburu-buru ke Bintangnya Yah.. Dia blm kepikiran untuk nikah, tapi udah ditawarin jadi istri kedua. Oleh bossnya lagi,”

“Ibu ga cemburu?”

“Cemburu lah.. Sampe rasanya pengin lempar sendok nih ke ayah..”

“Dosa loh bu ama suami gitu..”

“Iyaa.. “ Jawab Bulan sambil menampakkan muka cemberut, Bumi menowel pipi istrinya dengan lembut, mengajaknya bercanda agar tersenyum. 

“Yah, apa harus Bintang? Gimana kalo ayah cari kandidat lain, yang lebih siap. Anak pondokan ustaz Amir mungkin..” tanya Bulan lagi.

“Duh tunggu dulu deh bun, ayah baru patah hati nih habis ditolak, luka blm sembuh, masa sudah disuruh cari lagi..”

“Ayahhhh.. “ Bulan berusaha mencubit-cubit perut suaminya, mukanya merah karena cemburu dan kesal dengan candaan Bumi. Bulan baru berhenti ketika Bumi memeluknya, menyuruh Bulan diam dan hanya mendengar suara detak jantung mereka masing-masing. Sama-sama berdetak tak menentu.

**

Setelah mutasi pekerjaannya berhasil, Bintang sukses tidak berhubungan secara langsung dengan Bumi. Meskipun tubuhnya lelah, tapi hatinya sedikit merasa nyaman. Ia tidak perlu berdiri di depan sendiri ketika briefing pagi. Ia ada di belakang bersama admin sales lainnya dan mengobrol dengan berbisik-bisik seperti murid yang tidak memperhatikan pelajaran dari gurunya.

Nyatanya meski Bintang telah “berhasil” menghindari Bumi di kantor, ia masih “tertangkap” oleh Bulan di luar kantor. Seperti saat ini ketika ia ternyata telah makan siang bersama, mengisi jam istirahat di kantornya.

“Kamuu.. pasti merasa kaget dan ga nyaman ya? Setelah kami datang ke rumah kamu kemarin?” tanya Bulan. Bintang merasa heran kenapa hal itu harus ditanyakan karena sebenarnya itu sudah jelas. Namun Bintang tetap mengangguk dengan lemah untuk mengiyakan.

“Maafin kita yaa.. tapi sungguh kami ga main-main kok.. Mas Bumi ingin membangun sebuah keluarga poligami yang sesuai dengan Islam.....”

“Mbak Bulan apa ga cemburu?? Suami ingin menikah lagi?” Tanya Bintang memotong pembicaraan Bulan. Sementara yang ditanya sedikit terhenyak, adakah wanita yang tidak cemburu, bila suaminya menikah lagi? Tidak. Cemburu itu fitrah, maka Bulan pun mengakui betapa cemburunya dia. Membuat hati Bintang mencelos, karena merasa telah membuat Bulan sakit (cemburu).

“Menurut kamu Mas Bumi itu gmn? Mas Bumi bukan tipe kamu ya? Karena itu kamu menolak lamaran kami. Kamu ingin suami seperti apa?” pertanyaan Bulan seperti kereta api.

Bintang bingung dengan pertanyaan itu, selama ini ia tidak pernah menganggap Bumi lebih dari atasannya. “Pak Bumi atasan yang baik, semua karyawan bertahan separuh alasannya pasti karena memiliki atasan seperti pak Bumi. Tapi itu tidak ada hubungannya dengan suami seperti apa yang saya inginkan. Saya hanyaa....”

“Gimana kalo kamu, mbak jodohkan dengan sepupu mbak? insyaAllah dia adalah tipe suami idaman..” Bintang melongo mendengar pernyataan Bulan, apalagi dibarengi dengan ditunjukkan foto seorang lelaki kepadanya. Bintang yang tidak menduga, hanya bisa menggelengkan kepala sebagai ekspresi terbaik yang bisa ia lakukan di depan Bulan. 

“Sepupu mbak baik, tapi belum ‘teruji’ jadi suami dan ayah. Kalo mas Bumi itu seorang ayah yang penyayang. Meski sibuk, selalu berusaha berperan dalam urusan anak-anak kami. Beliau punya cita-cita memiliki banyak anak. Tapi saat ini Allah baru kasih kami dua. Alhamdulillah.. semoga ada rezeki dari istrinya yang lain untuk kami.. bla bla bla..” Bulan bercerita tentang suaminya tanpa Bintang bisa beranjak.

Semakin banyak Bintang mendengar, semakin terasa ada yang berbeda di hatinya. Hingga tanpa sadar ia ingin Bulan terus berbicara tentang Bumi. Dan itu membuat Bintang takut..

Bintang.. apakah mungkin berubah pikiran??

Bersambung..

0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)