Wani Piro?

Wani Piro?



Neng cantik kesayangan abang
Gunung kan ku daki
Lautan kan ku sebrangi
Hutan kan ku telusuri
Jurang pun kan ku lompati
Demi eneng..

Kan ku petik bintang²
Kan ku paketkan rembulan
Kan ku seret pelangi ke hadapan
Kan ku punguti butiran hujan
Buat eneng..

🎩 Mau ya neng?
👒... Mau apa bang?
🎩Jadi ibu buat anak² abang kelak, ya neng? ♥️
👒.... (dijawab singkat sambil nyengir) WANI PIRO? 🤑 *eaaaa

Rupanya gombalannya kagak mempan. Si abang lantas tak sadarkan diri karena siyooook, si eneng rupanya matre, UUD (ujung²nya duit) deeh...

Penonton langsung komen : ya eyya laaah, hari gini getooh. Beras mahal. Cabe mahal. Masuk kamar kecilpun bayar. Eh, tetiba mau lamar cewe gretongan modal gombalan. Eit daah, hellooow.. Situ waras?

Asli pedes bingit tuh komen yak? Nyesek! Apakah sudah tidak ada lagi yang menghargai sebuah ketulusan? Atau memang benar kalau saat ini uang adalah segala.

Yup, kamu kudu sadar ya. Hari ini, kita hidup dalam kungkungan kapitalisme. Asas manfaat nampak mendominasi. Syahwat akan materi, uang dan harta menjadi obsesi.

Tak terkecuali pada ajang pemilihan wakil rakyat. Para calon pun kudu menyiapkan sejumlah mahar agar nanti bisa disunting dan memperoleh dukungan. Mimpi namanya, jika berharap menang tanpa dukungan. Dan tiadalah dukungan tanpa lembaran² nominal.

Maklum sajalah, sistem demokrasi memang mahal. Dari mulai biaya kampanye, biaya untuk tim suskes, biaya untuk saksi dan mahar politik.

Bagaimana kalau Caleg gak mau bayar? Seperti saat mau masuk rumah, tiba², pintu ditutup. Jedug. Yang ada kepala benjol deh. Dan gak bisa masuk. Konyol.

Anehnya, tetep aja ada yang gak kapok. Maju terus pantang mundur lah, demi nyai namanya jg. Eh maksudnya demi bisa dapat kursi.

Dalam demokrasi, jika tanpa duit,
khayali namanya. Siap² sawah, rumah, sertifikat, BPKB semua akan digadai agar maharnya cukup. Karena politik 'wani piro' sudah kadung diaminkan. Dianggap kesepakatan. Jalan tengah. Saling menguntungkan. Suatu kewajaran.

Tapi buat orang yang mau mikir. Hal itu sungguh menjengkelkan. Memberikan sejumlah mahar, dianggapnya sebagai modal. Yang kelak setelah menjabat harus dapat dikembalikan tentunya plus keuntungan. Akhirnya bermunculan lah mafia kebijakan. Menyalahgunakan kekuasaan agar dipenghujung masa jabatan, tidak alami kerugian. Mahar kembali dengan sejumlah keuntungan. Rakyat lagi yang jadi korban pengkhianatan.

Mau sampe kapan orang yang beriman betah berlama² dalam kemaksiatan? Dagelan 5 tahunan. Menyaksikan lomba yang penuh kecurangan?

Mahar oh mahar, jadi bikin lapar. 🍱🍹

Shafa/19/1/2018
#OPEy H5
#KompakNulis

0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)