TAK ADA YANG ABADI

// TAK ADA YANG ABADI//


Pelan tapi pasti, satu persatu demokrasi semakin menampakkan wajah asli. Tanpa menunggu nanti, topeng suci memperlihatkan jati diri. Tak bisa ditutupi, karena jejak digital merekam dari segala sisi.
Pesta demokrasi yang akan menjelang meniscayakan transaksi di atas keinginan berkuasa. Seperti sebuah lagu populer "Tak ada yang abadi". Transaksi politik meniscayakan "Tak ada musuh abadi, yang ada hanya kepentingan sejati".


Demkokrasi yang dipuja puji, sejatinya adalah sistem cacat sejak lahir. Bahkan penggagasnya sendiri telah memperingatkan kerusakan yang timbul akan sistem cacat ini.
Dengan analogi sederhana, sangat mudah menemukan kerusakan sistem ini. 
Ibarat hendak menuju ke suatu tempat, namun mobil yang ditumpangi sudah di wanti wanti dengan peringatan bahwa mesin, rem dan kopling yang ada di dalam mobil rusak sejak dari pabrik. Masihkah mau menaiki mobil tersebut? Kalau jawabannya ya, yang penting bisa sampai tujuan, berarti siap siap bunuh diri.



Muslim yang cerdas tak perlu banyak bukti untuk meninggalkan sistem cacat ini. Tak perlu mencari alasan lagi siapa yang akan mengisi negara ini jika muslim meninggalkan demokrasi. Dalam Demokrasi tak ada tempat bagi kekuasaan Tuhan. Suara rakyat lebih tinggi di atas kitab suci. Maka, mengkompromikan demokrasi dan Islam adalah sebuah anomali bagi demokrasi itu sendiri.
Kenapa masih ada opsi lain jika Islam sudah terbukti membangkitkan umat ini dan muncul sebagai kekuatan terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Yang memanusiakan manusia. Yang menjadikan rakyat bukan sebagai tumbal dalam mewujudkan ambisi pribadi, namun menempatkannya dalam posisi mulia, sebagai bagian dari ra'in yang wajib di ri'ayah atau di urusi.


Islam satu satunya opsi bagi saya, dan saya yakin juga anda. Karena kita muslim, dan kita percaya, Allah SWT telah menurunkan paket lengkap sistem Pemerintahan Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Perlu keberanian untuk mengakuinya, namun yang penting, perlu iman yang jernih untuk mengambilnya.
Allah SWT berfirman :
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(Qs. AN Nisa : 65)
Mari jernihkan iman kita, agar selamat dunia akhirat.
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ 
أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚوَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.(Qs. An Nur :51)
Wallahu'alam bi shawab

0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)