SISI LAIN AAC II

SISI LAIN AAC II
Oleh : Sari Muhartini

Agak lama gak lagi menjamah novel besutan Kang Abik. Terbetot untuk beli novel ini, walau jadi gak update dari launchingnya, sebabnya karena heboh pemberitaan keluarnya film (dibuat) fenomenal akhir 2017 lalu. Kepo memancing baca.

Seolah jadi latah nasional, promo filmnya menggila kalau gak dikatakan lebay, sederet tokoh nasional memberi testimoni, utama tokoh2 agama.

Mengukuhkan, bahwa novel ini memang sarat nilai agama yang membangun jiwa. Semakin lengkap, dengan kata pengantar dari Waketum MUI. Belumlah lagi, para pemain yang terjun, bukan pemain biasa.

Bagaimana tidak menjual, bukan?

Saya belum tonton filmnya. (Mau nyetriming belum ada link yang keluar...😂). Tapi, saya jadi 'merasa', dibanting pikiran ke 10 tahun lalu. Saat booming AAC 1. Saat jaman abu putih.

Apa akan terjadi keluar dari ekspektasi juga? Saya yang lebih menikmati suguhan tulisan dibanding ditransformasi ke format film layar lebar. Agak jomplang menikmati 2 suguhan berformat beda kala itu.

Whatever, kali ini saya hanya ingin mengomentari novelnya.

Hmmm...apa idealisme penulis bisa bergeser, walau sekian inci ya? Sama semisal kalau kita mencermati musisi2 kritis yang kesangarannya melempem. Entah hal apa yang terjadi, entah apa yang memicu, saya merasa menemukan pergeseran rotasi dari idealisme Kang Abik dalam novel kali ini. Ada aroma kemoderatan cukup kental. Walau disisipkan meloncat-loncat di beberapa bab.

Saya agak kecewa. Selaku orang awam yang belajar tentang bagaimana Islam ideologis. Mendapati pemikiran Kang Abik yang jadi agak elastis. Bahkan sampai ada ungkapan tersurat mengkritik halus pejuang Khilafah, agak tendensius ke personifikasi gerakan yang dipersekusi pemerintah dengan perppu ormas beberapa waktu lalu.

Misal, kalimat:

"Seorang jamaah berwajah arab dengan sangat menggebu-gebu memberikan tanggapan apa yang disampaikan syaikh dan dengan sangat simpel ia mengatakan, 'Semua itu solusinya adalah dengan menegakan Khilafah.'

Sang syaikh hanya tersenyum dan berkata,'Tanpa bermaksud meremehkan apa yang engkau katakan, tolong renungkan baik2! Bagaimana kalian akan menegakan Khilafah, sedangkan kalian menyatukan hari raya Idul Fitri saja tidak bisa.'"

Bagaimana kita menanggapi 2 paragraf di atas? Rancu! Ya, sensasi itu yang saya rasakan. Seolah framing Fahri sebagai muslim muda intelektual jadi gagal karena hal ini. Apa Kang Abik kurang piknik literasi atau keliru menyimpulkan referensi hingga menganalogikan demikian, maaf, dangkal?

Seolah Fahri, tokoh sentral di dalamnya, amnesia, jika perkara hari raya itu diputuskan atas adanya fungsi Khalifah. Fiuh.

Lainnya, saya menerima misal alur penceritaan berisi pesan moral toleransi keagaaman, dimana sosok Fahri over total membantu tetangganya dari penganut agama lain. Narasinya agak terpaksa bisa diterima.

Sehingga saya pikir, kenapa sampai demikian heboh penayangan film AAC 2, bisa jadi membawa spirit, "Toleransi&Kebhinekaan". Tepat di moment akhir tahun, dimana kaum muslim banyak yang terpeleset, latah, bertasyabuh dalam perayaan agama lain.

Pihak rumah produksi agak aneh kalau tak memahami fakta-fakta ini. Mustahil tak ada spirit membenamkan ide ini ke khalayak.

Tapi, saya harus adil. Hal intrinsik lainnya cemerlang dinikmati dalam novel ini. Yang paling demikian kuat ada pada penyuguhan aspek latar. Ciri khas Kang Abik. Selain menyisipkan kenasionalan, dunia pesantren, dan romantisme tentu saja.

Satu pelajaran ke depan, bahwa aliran persepsi anak kandung sekulerisasi bisa juga menjelaga pada karya sastra. Novel, film, dan sebagainya.

Liberalisme pemikiran. Patut kita waspada.

Bagi kita, perlu untuk tidak lugu menikmati suguhan karya. Tidak karena mengikuti trend kekinian, menelan mentah-mentah apa yang jadi tontonan atau bacaan.

Tercatat 5 kali saya kecolongan membaca karya dari sekian penulis, namun isi tulisannya terpapar hal berbahaya. Beruntung filter pemahaman telah lebih dulu terpasang di benak saya. Hingga bisa memilah dan memilih mana yang memang layak dikatakan membangun atau meruntuhkan jiwa.

Bagaimana dengan mereka yang polos? Disitu saya merasa miris dada.

~ Membaca bukan sekedar menongkrongi susunan kalimat. Lebih dari itu, bisakah membelek ide terselubung di dalamnya? ~

Sukabumi, 17 Januari 2017
Sari Muhartini

#KompakNulis
#OPEy
#RabuLiteracy
#Setoran1

0 komentar:

Selamat datang! Berikan komentar yang nyaman dan semoga harimu menyenangkan :)